Dua Lelaki di Persimpangan Hati

Ilustrasi

 

Namanya Akh Fathul Islam.
Penulis yang tidak asing sering mengisi beberapa media online. Aku penikmat karyanya sejak belum menikah. Dia pandai membawakan cerita romantika rumah tangga. Setiap membaca tulisannya seperti membaca curahan hati seorang suami yang dimabuk cinta pada istrinya. Asmara halal yang dibalut nilai-nilai ibadah menjadi kisah yang memberi keindahan tersendiri.

Aku mulai membandingkan suamiku dengannya. Dalam hayalanku, sosok Akh Fathul Islam adalah lelaki romantis yang pandai membahagiakan istrinya. Uh ... terkadang rasa cemburu menyeruak. Tak rela ada wanita lain yang memilikinya. Berbeda dengan suamiku, Mas Abdillah. Dia hanyalah pria lugu yang selalu canggung untuk menyentuhku. Kami sering duduk di ranjang bersama, menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa. Dia selalu terjaga jam 02.00 dini hari. Membangunkanku, lalu mendahului berwudlu. Lama sekali dia duduk di atas sajadah. Membiarkanku kembali ke tempat tidur dan mengulang lelap, kemudian membangunkanku lagi beberapa saat sebelum adzan subuh.

Aku bahagia dinikahi oleh pria sholeh yang menjaga ibadahnya. Yang terjaga di sepertiga malam terakhir dan larut dalam munajat. Tetapi aku juga menginginkan kebahagiaan yang lain.  Selama ini, dia terlalu kaku walaupun kami sudah resmi sebagai pasangan yang sah.  Sebagai wanita, tentu saja aku malu untuk memulai. Dalam kegalauan aku membiarkan kehadiran Akh Fathul Islam mengisi kekosongan itu. Meski kami hanya berhubungan melalui media sosial, lama-kelamaan kekagumanku melahirkan hasrat lebih dari sekedar fans.

***

"Begitu mudah, Allah menghinakan orang yang dikehendaki-Nya," celetuk Umi, ketika suatu siang aku berkunjung ke rumah beliau.

"Maksud Umi?"

"Kamu sudah mendengar kasus perselingkuhan yang menyeret istri seorang pemuka agama kemarin itu? Muda, cantik dan berpendidikan. Dia sering mengisi tausiyah di majelis-majelis dan internet. Tetapi siapa yang mengira wanita yang tampak sempurna itu akan berbuat keji? Dia tertangkap basah berzina dengan pria yang lebih muda di sebuah kamar kost. Bukannya Umi su'udzon atau berniat mengghibah. Ini ibrah bagi kita semua. Terutama kamu. Jangan sampai terjerumus pada kesalahan yang sama."

Perkataan Umi membuatku termenung. Benar kata beliau. Perbuatan keji dan mungkar, apalagi melakukannya dalam keadaan berilmu. Itu merupakan kehinaan. Tetapi, apakah hubunganku dengan Akh Fathul Islam juga termasuk berselingkuh? Kami belum pernah bertemu atau melempar obrolan intim. Mungkin aku memang diam-diam menyimpan rasa, tetapi bagaimana dengan dia? Meskipun dia sering menyapaku melalui pesan pribadi, tetapi tak pernah tersirat keinginannya untuk berbuat lebih. Itulah yang membuat akalku memberikan pembenaran bahwa hubungan kami masih dalam batas normal. Bukan perselingkuhan, apalagi perzinahan.

***

"Ukhti Ai, dapatkah kita bertemu?"

"Afwan. Untuk apa?"

"Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sampai kapan kita seperti ini?"

"Seperti apa, Akh?"

"Jujurlah, apa kamu tidak merasakan apapun dalam hatimu? Apa kamu tidak menghendaki diriku?"

Air mataku meleleh. Tak percaya dengan obrolan di pesan pribadi barusan. Aku seperti berdiri di atas dinding Al-A'raf. Di mana surga dan neraka mengapitku begitu dekat. Jiwa yang normal tentu saja memilih surga, tetapi ada iblis yang terus berusaha menumbangkan agar iman terjerembab ke dalam neraka. Neraka yang kulihat saat ini bukanlah api yang menyala-nyala, melainkan taman bunga yang tidak berbeda dengan gambaran surga. Sedangkan iblis merubah penglihatanku akan surga menjadi sebuah gurun yang gersang dan membuatku enggan mendatanginya.

Akh Fathul Islam.
Salahkan jika aku jatuh cinta pada lelaki sholeh dan simpatik itu? Tidak! Ini tidak benar. Aku telah terpesona pada lelaki lain dan melupakan kodratku sebagai wanita bersuami.

"Akh, maafkan aku. Ini sudah terlalu jauh. Aku memang mengagumi dirimu, tetapi ... aku wanita yang telah menikah. Kita sudahi saja semua ini dan kembali meluruskan niat, menulis untuk jihad fii sabilillah. Semoga Allah memberkahimu dan mengampuni kita. Wassalam." Aku menulisnya dengan hati yang hancur.

***

Malam, di ruang kerja Abdillah.

'Pria yang menemukan keberanian'.
Kalimat itu menjadi judul tulisan yang dia terbitkan di blog hari ini. Kemudian, pada akun Akh Fathul Islam dia memilih opsi 'tutup akun'.

"Istriku, maafkan aku telah mempermainkan hatimu," gumamnya. Setelah mematikan komputer, dia berjalan menuju kamar. Menjumpai Aini yang sedang menata tempat tidur, lalu memeluknya dari belakang.

"Aku mencintaimu karena Allah," bisiknya di telinga Aini.

"Aku juga," bergetar Aini membalasnya. Seorang pria telah menemukan keberanian yang selama ini tertahan, dan seorang wanita menemukan arti bahwa tak ada cinta yang lebih manis selain menjaga diri, hati dan kehormatan hanya untuk satu pria yang menjadi suaminya saja.

 

 

Surakarta, 11 Februari 2016.

__________________________

(Terdokumentasi di Grup FB Keluarga Pecinta Sastra
Juara 3 Lomba Cerpen KPS Tema Religi Romantis)