Clementine, Waktunya Pulang!

Sumber:pikist.com

Ini sungguh sangat mengejutkan. Baru saja lahir ke dunia beberapa menit, Ayah langsung memberiku nama Clementine. Dan, itu menuai protes keras dari Ibu. "Fred, jangan beri nama itu pada bayi kita!" suara Ibu terdengar bergetar.

"Jangan cemas, Anne. Clementine adalah nama yang bagus. Percayalah!" Ayah berusaha menenangkan hati Ibu dengan mendaratkan satu kecupan hangat di keningnya.

"Tapi Fred...."

"Sudahlah, Anne. Lagi pula kita tidak memelihara bebek-bebek, bukan?" Ayah menegaskan. Ibu tidak menyahut. Hanya tangannya yang lembut bergerak sigap memeluk erat tubuh mungilku.

***
Entah apa sebenarnya yang dikhawatirkan oleh Ibu. Sejak pemberian nama itu praktis Ibu bersikap sangat protektif terhadapku. Ia tidak mengizinkan siapa pun, termasuk Ayah membawaku ke luar rumah. Tentu saja perlakuan Ibu ini membuatku tumbuh dan berkembang menjadi anak yang tuntrum. Untunglah Ayah kerap secara sembunyi-sembunyi menggendongku, membawaku berdiri di dekat jendela untuk sekadar menceritakan keadaan alam di luar sana.

"Ada danau kecil yang sangat indah, Clementine. Yang permukaan airnya berkilau saat disentuh matahari."  

Mendengar itu sontak mata bulatku berbinar mewakili hati yang gembira. Tapi kegembiraan itu terpenggal begitu Ibu memergoki kami. Seperti biasa tangan Ibu gegas meraih tubuhku lalu sorot matanya tajam menatap Ayah.

"Berapa kali harus kukatakan ini padamu, Fred? Jangan pengaruhi pikiran anak kita dengan cerita-cerita tentang danau itu!" Ibu berseru marah. Ayah terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.

Begitulah. Hidupku kembali terkurung seperti burung di dalam sangkar. Ibu telah merampas keriangan dan hakku sebagai bocah untuk menikmati keindahan dunia.

Tapi suatu hari, di usia menginjak enam tahun secara tak sengaja aku melihat celah kebebasan itu. Aha! Rupanya Ibu lupa mengunci jendela kamar tidurku.

Diam-diam aku membuka daun jendela yang nyaris tidak pernah terbuka itu. Lalu, hup, dengan sekali hentakan aku sudah berada di luar kamar.  

Alangkah senangnya bisa menikmati kebebasan. Lihatlah! Dadaku mengembang, hidungku kembang kempis menghirup udara segar. Mataku nanar menyapu sekeliling. 

Kubiarkan rasa takjub nenguasai sekujur tubuhku. 

Oh, apakah di sana itu pohon Beringin? Pasti iya! Aku masih ingat betul Ayah sering menunjukkan gambar semirip itu kepadaku.

Sekawanan kupu-kupu beterbangan di sekitarku. Membuatku beralih pandang. Lalu kuputuskan untuk mengejar mereka sebelum hewan-hewan bersayap indah itu berebut hinggap di kelopak bunga-bunga perdu.

Huft. Rasanya nikmat sekali bisa berlari-lari di atas rerumputan. Sungguh, rumput tenyata jauh lebih lembut dan hangat dibanding tempat tidur mewah yang berada di kamarku.

Tak terasa langkahku menggelinding semakin jauh. Hingga terlihatlah danau kecil itu. Danau yang kerap diceritakan Ayah sebelum aku berangkat tidur. Danau yang berkilau saat permukaannya tersentuh cahaya matahari.

***
Aku berlari-lari riang di sepanjang tepi danau. Rasa takjub semakin membuncah manakala tanpa sengaja pandanganku terpuruk pada seseorang. Bocah perempuan seusiaku. Bocah itu tengah sibuk menggiring bebek-bebek piaraannya.

Menggiring bebek-bebek? Oi, bukankah ini sangat menyenangkan?

"Berikan tongkatmu padaku!" aku mendekati bocah perempuan itu. Ia terkejut sejenak. Tapi kemudian tersenyum seraya menyodorkan tongkat penghalau bebek miliknya ke arahku.

"Ambillah! Dan, rasakan sensasi mengejar bebek-bebek nakal!"

Aku tertawa. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan Ibu jika mengetahui apa yang sedang kulakukan saat ini. Ia pasti akan marah besar!

***

Oh my darling
Oh my darling
Oh my darling Clementine
Thou art lost and gone forever
Dreadful sorry, Clementine

Sayup-sayup kudengar Ayah melantunkan lagu itu. Aku tersenyum menyimak lirik-liriknya yang sepertinya sengaja diciptakan untukku.

"Sudahlah Fred. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Biarkan Clementine tenang di alam sana." Ibu menepuk lembut pundak Ayah. Ayah tidak menyahut. Hanya tatapannya kosong terlempar ke sudut yang jauh.

Sementaraitu di tepi danau kecil yang permukaan airnya berkilau tersentuh matahari, seorang bocah perempuan seusiaku berlari-lari riang. Ia sibuk menghalau bebek-bebek piaraannya seraya bicara sendiri. "Kisah Clementine yang tenggelam di danau ini akan terus berulang! Dan, ibu protektif serta ayah bodoh yang tak pandai berenang seperti Fred, akan selalu ada!"

"Clementine! Waktunya pulang!"

Anak perempuan penghalau bebek-bebek nakal itu menoleh sebentar lalu tersenyum lebar sebelum tubuhnya yang kurus menabrak pohon Beringin dan lenyap di dalamnya.


***
Malang, 27 Maret 2021
Lilik Fatimah Azzahra
Terinspirasi dari lagu : Oh my Darling Clementine