Ketika Korban Perundungan Ingin Membalas Dendam

Cover Novel. Ist: Ikhwanul Halim

 

 The Book of Urban Legends merupakan judul novela karya Ikhwanul Halim,  bertemakan perundungan yang dialami remaja di sebuah sekolah menengah.  Tema ini sebenarnya sudah banyak diolah penulis lain. Namun dibaca dari judul sepertinya menjanjikan  sensasi horor yang cukup menggelitik rasa penasaran. Maka, tanpa banyak pertimbangan saya pun menceburkan diri ke dalam bab demi bab kisah ini. 

Nama para tokoh cerita dijadikan judul bab, sekaligus menandai siapa yang tengah menjadi narator bagi pembaca. Jumlah tokohnya empat, sesuai urutan kacang dimulai dari Bram Osmani, Ivan Purbo, Andre Makatinu, dan Ren Atta. Khusus untuk tokoh Bram, penulis membuat dua bab untuknya. Selain sebagai pembuka kisah, Bram ini karakter yang menjadi inisiator peristiwa yang menimpa mereka semua. Menurut saya, dengan penulisan bab seperti ini membuat alur cerita menjadi cepat dan tidak bertele-tele,  efektif membangun suasana horor. 

Tiga remaja selain Andre, lahir dengan kekurangan pada fisik. Hal tersebut menjadi penyebab perundungan fisik dan verbal. Akhirnya kepasrahan mereka habis, sehingga memutuskan untuk membalas dendam pada para perundung.  Mereka berniat menggunakan kekuatan supranatural. 

Ide bermula dari desas-desus yang didengar oleh Bram, tentang kakak kelas bernama Andre Makatinu. Konon sewaktu masih anak-anak, Andre menemukan sebuah buku kuno yang mengerikan. Buku itu berisi petunjuk  menciptakan makhluk legenda, yang akan melaksanakan apapun keinginan kita.  Namun terjadi hal buruk entah apa, yang mengakhiri hidup adik Andre. 

Berbekal desas-desus itu, tiga sahabat ini mendekati Andre. Mereka minta diajari cara melakukan ritual demi menciptakan makhluk legenda. Namun tak mudah membujuk Andre. Pemuda itu awalnya selalu menghindar, dan bersikap ketus. Butuh waktu berminggu-minggu gangguan privasi sampai Andre menyerah dengan terpaksa. Ia bersedia memberitahukan teori di buku, tapi tidak ingin terlibat praktiknya.

Sayangnya itu tak mungkin terlaksana, karena syarat menciptakan sebuah legenda adalah empat orang yang berkumpul. Lalu dengan caranya sendiri Ren berhasil memprovokasi Andre, sehingga bersedia bergabung menggenapkan jumlah mereka. Dan ritual pun dilakukan. 

Pada bab ketiga yang dinaratori Ivan Purbo, diceritakan makhluk ciptaan mereka berhasil terwujud. Penulis menggunakan bahasa yang filmis, sehingga kengerian ala film horor tercipta dari barisan kalimatnya.


Pada bab keempat narator berganti menjadi Andre Makatinu. Pembaca akan mendapat jawaban, apa sebenarnya yang terjadi di masa kecil Andre? Mengapa adiknya sampai meninggal? Buku kuno apa  yang dipegang oleh Andre? Kilas balik ini menjadi penting sebagai bekal memahami keseluruhan cerita. Sekaligus sebagai argumen peranan tiap-tiap karakter tokoh dalam penciptaan wujud legenda. 


Tempo cerita yang cepat dipurnakan pada bab terakhir. Tokoh Ren Atta mengakhiri kisah ini dengan twist. Jujur saja, menurut saya endingnya kurang greget. Tapi mungkin penulis memilihnya demi menjaga nuansa horor yang sudah terbangun.


Meskipun demikian, ada kesan mendalam tertinggal di benak saya usai menutup novela. Bahwa sejatinya horor yang sebenarnya ada di dalam diri manusia, berasal dari jiwa yang sakit. Jiwa yang kelam akan mencari cara merusak, merongrong, memanfaatkan orang lain. Dari situ akan melahirkan jiwa sakit berikutnya. Persis lingkaran setan. 


Penulis berhasil mengajak saya merenungkan kembali nilai-nilai universal kehidupan, di antaranya kasih sayang terhadap sesama manusia. Umpama nilai universal ini kita jadikan keseharian, tentu tak ada lagi kisah-kisah perundungan berujung nestapa. Salut saya kepada penulis.

Jika ada yang perlu dikritik dari novela ini, itu adalah masalah editing yang masih kurang bersih. Contohnya dalam bab Andre Makatinu, masih dijumpai kesalahan ketik yang mengganggu. Semoga menjadi perbaikan di masa mendatang. 

Akhir kata saya ucapkan selamat membaca! 


Cilacap, 240321