Pesan Terkirim

Ilustrasi (ist)

Langit pagi memuram serupa wajah Yas. Pesan tertulis di WA dengan tangan dan hati teramat berat sejak semalam. Sampai kantuk terasa terkutuk oleh otak yang kusut. Hatinya dilema.

Lebih berat ketimbang ingin beristri dua. Dia diperebutkan manusia dan mantan istrinya yang sudah berada di dimensi berbeda.

Mana dia tahu bahwa akan mengalami jatuh cinta lagi? Di usia empat puluh lebih lanjut tetapi wajah tak ada tanda keriput, mungkin itu yang membuat Kemala begitu terpesona.

Yas membanting hapenya. Tak lama benda itu berbalik ke pelipisnya. Suara seringai amarah memenuhi seisi mobil.

"Iya, Dewi. Iya!! Aku akan membatalkannya."

Amarah Dewi semakin menjadi. Membuat Yas terpejam. 

Mengatur napas. "Iya, aku akan membatalkannya sekarang," Yas berkata lembut.

Hening. Tak ada lagi amarah.

***

Sejak kepergian Dewi, Yas tak pernah menaruh hati pada perempuan mana pun. Sesuai namanya, Andriyas Prasetia, dia memang setia. Tetapi adakah yang tahu kapan hati akan jatuh cinta lagi?

Kemala. Gadis berusia dua puluh lima tahun, anggun, lugu dan berhati luas menghadapi Yas yang berhati dingin.

Dia selalu tersenyum dan menyapa siapa pun. Kepada Yas yang selalu pasang wajah mendung, dia tetap menyapa.

***

Sikap Kemala yang ramah membuat Yas kuwalat. Berbulan-bulan Yas merutuki diri. Kenapa duda bisa jatuh cinta segala? Kan jadi pekewuh sama mantan istri...

Yas berusaha menyimpan rapat perasaannya. Tetapi bayangan Kemala tak lepas dari benaknya.

"Kemala," Yas memanggil Kemala ke ruangannya suatu ketika.

"Iya, Pak."

"Kamu sebenarnya bisa tidak buat kopi?"

"Bisa, Pak. Tadi sudah Bapak minum, kan?"

"Kamu bisa tidak buat kopi?"

"Iya, Pak. Bisa. Ini kan kopi buatan saya."

"Kamu bisa tidak buat kopi di rumah saya?"

"Maksudnya? Di rumah Bapak mau ada acara? Mau disuguh kopi?"

"Bukan. Maksudnya, kamu bisa tidak buat kopi? Untuk saya. Setiap hari."

"Saya setiap hari kan memang menyeduh kopi untuk Bapak."

"Bisa tidak? Bangun tidur saya menikmati kopi buatan kamu?"

Kemala mencoba menerjemahkan.

"Saya ingin setiap bangun dari tidur, saya bisa melihat kamu setiap hari," Yas berucap sambil memejamkan mata dan tangan menutup muka, takut ditertawakan Kemala.

Kemala ternganga. Tidakkah dia salah dengar? Duda berhati dingin dan berwajah mendung dihadapannya ingin melihatnya setiap hari?

Yas mengucapkan maaf berkali-kali.

"Anggap saja saya tidak pernah ngomong apa-apa, ya. Maaf sekali lagi. Abaikan saja," Yas menunduk menahan malu.

"Bapak sungguhan?"

Yas terbelalak. Usia yang terpaut belasan tahun tak membuat Kemala menolaknya. 

Namun siapa sangka itu adalah awal petaka bagi Kemala.

Sejak malam itu tak ada ketenteraman tidur bagi Kemala.

***

Dewi akan selalu mengikuti Kemala. Memberi perhitungan.

Dewi tak akan membiarkan hati Kemala berbunga-bunga. Mulai malam itu Kemala bergidik. 

Suara lengkingan Dewi menggema di seluruh sudut kamarnya. Sampai pindah ke kamar lain, hanya Kemala yang bisa mendengar suara itu.

Ketika dia sedang di kamar mandi, kepalanya terasa seperti dijambak seseorang. Sakit sampai ke ubun-ubun. Lalu terhuyung terbentur bak mandi.

Kecelakaan demi kecelakaan terus menimpa Kemala. Dewi selalu membisikkan amarah di telinga Kemala.

Kemala seperti manusia yang berjalan tanpa keterarahan. Dia selalu merasakan di dalam keramaian meski saat sendirian.

***

Kemala meletakkan kopi di meja kerja Yas. Yas mempersilahkan duduk.

"Jadi, kamu siap dilamar kapan?"

"Saya nurut Bapak saja."

Gelas jatuh seketika. Yas dan Kemala sontak berdiri.

"Pak, saya mohon jangan lanjutkan pembicaraan ini. Saya tidak kuat."

Kemala berlari meninggalkan Yas dengan seribu tanya. Kepalanya seperti mau pecah mengingat apa yang beberapa hari sudah terjadi.

Malam berikutnya. Kemala mendapati kamarnya seperti diamuk.

"Siapa kamu? Kenapa menggangguku? Apa salahku?"

Hanya ada suara amarah. Plakk... pipi Kemala merah seketika.

"Apa salahku sampai kau melukaiku? Ayo bicara," Kemala masih berkata dengan lembut.

Jangan rebut suamiku... 

Ibu Kemala mengetuk pintu. Dewi pergi.

***

Pesan itu masih meninggalkan garis hijau berkedip-kedip. Belum terkirim.

Yas memejamkan mata.

"Apa kau sungguh tak ingin aku hidup bahagia dengannya?" tanya Yas.

Matanya terbuka. Dia mendapati Dewi menggelengkan kepala. Tangannya menggenggam seikat bunga mawar. Bunga yang diminta saat dia hendak menjalani splenektomi.

Wajah Dewi memelas. Yas mengangguk. Mungkin dengan begini, Kemala tidak akan tersakiti lagi.

***

Hape Kemala bergetar. Pesan dari Yas.

"Iya, aku mengerti," Kemala bicara sendiri.

SELESAI

Sragen, 22 Maret 2021
Sembari menginjak-injak punggung Ibu, pukul dua puluh tiga lewat dua puluh tiga