Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Dibebaskan

Ilustrasi/Ist

Masih ingat Keraton Agung Sejagat yang sempat bikin geger beberapa waktu lalu?

Meski telah diputus bersalah dan divonis penjara, ternyata sejak 15 Maret 2021 lalu pasangan Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) sudah dikeluarkan dari tahanan. Padahal Toto divonis 4 tahun penjara dan Fanni 1 tahun 6 bulan.

Ternyata selama ini Toto dan Fani hanya menjalani masa penahanan, bukan hukuman pemidanaan berdasar vonis. Saat ini Toto dan Fani tengah menunggu putusan kasasi yang diajukan.

Namun karena masa tahanannya selama 110 hari telah berakhir sementara putusan kasasi belum keluar, maka demi hukum, keduanya dibebaskan dari tahanan.

Hal itu dibenarkan oleh Humas Rumah Tahanan (Rutan) Purworejo Akhmad Lutfiyan Aji.

Jika kelak putusan kasasi turun dan ternyata menguatkan putusan pengadilan di bawahnya, maka keduanya akan kembali ditahan untuk menjalani hukuman dipotong masa tahanan.

Mari kita lihat kembali sejak gegernya Keraton Agung Sejagat.  Hal itu diawali dengan muncul foto-foto kegiatan Keraton Agung Sejagat di media sosial. Salah satu adalah acara Wilujengan dan Kirab Budaya pada tanggal 10-12 Januri 2020.

Tersiar kabar Keraton Agung Sejagat memiliki seorang raja yang bernama Totok Santosa Hadiningrat dan permaisuri Dyah Gitarja alias Fani.

Keraton Agung Sejagat memiliki istana yang berada di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah. Mereka mengklaim memiliki ribuan pengikut.

Kekuasaan Keraton Sejagat tidak terbatas hanya di wilayah Purworejo, tapi melebihi Indonesia bahkan seluruh dunia. Totok Santoso menyatakan Keraton Agung Sejagat adalah induk dari seluruh negara di dunia. Selain itu Totok menyebut Keraton Agung Sejagat menjadi wadah terkait konflik yang terjadi di dunia saat ini dan ia adalah Rakai Mataram Agung yang menjadi juru damai dunia.

"Kita umumkan kepada dunia Keraton Agung Sejagat sebagai induk daripada seluruh kingdom state tribune colony atau republik yang ada di dunia ini menyatakan menjadi jondang (kotak) terhadap konflik yang terjadi di seluruh dunia," kata Totok.

Sementara menurut Resi Joyodiningrat, selaku penasihat kerajaan, Keraton Agung Sejagat bukanlah aliran sesat melainkan kelompok kekaisaran dunia yang muncul setelah berakhirnya perjanjian 500 tahun lalu.

Joyodiningrat mengatakan perjanjian tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai pengausa imperium Majapahit terakhir dengan bangsa Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Roma di Malaka pada tahun 1518.

Jika perjanjian tersebut berakhir, menurut Joyodiningrat maka dominasi kekuatan Barat pimpinan Amerika Serikat juga berakhir sehingga  kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya yakni Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit dari Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Keraton Agung Sejagat memiliki sebuah kolam di dekat istana yang disakralkan oleh pengikutnya. Selain itu batu prasasti bertuliskan huruf Jaea yang disebut dengan Prasasti 1 Bumi Mataram. Pada prasasti tersebut terdapat tanda dua telapak kaki di sebelah kiri dan ada simbol di sebelah kanan.

Namun karena dianggap meresahkan dan melakukan penipuan, Totok dan Fani diamankan polisi dan keratonnya dibubarkan. Kini, meski telah bebas, namun keduanya sewaktu-waktu dapat dijebloskan kembali ke penjara jika kasasinya ditolak oleh Mahkamah Agung.