Sosok Menakutkan

Tokoh Dalam Cerita

Derap langkah Ano terdengar memasuki kamarku, tanpa ditanya dia berbicara dengan gaya khasnya sedikit cadel. "Kak, tetangga baru kita wajahnya seram banget, deh! Ada jahitan luka di kening. Belum lagi kepalanya hanya ditumbuhi beberapa helai rambut, hiiii ... aku langsung kabur, saat orang itu berteriak memanggil." Mata bundar Ano berkedip-kedip. Pipi gembilnya bergerak-gerak saat bercerita. Gemas, aku pun meraih tubuhnya.

"Anooo, kamu jangan gitu! Nanti, kalau ketahuan Papa bisa dimarahin. Papa enggak suka kalau kita berbicara kasar tentang orang lain," ucapku memelankan suara.

Ano mengangguk, lalu mencium pipiku seraya berkata, "Iya Kak jangan bilang-bilang Papa, ya, aku tadi cuma merasa takut saja."

"Ya, sudah. Sekarang mandi, lalu makan malam. Tadi Kakak sudah menggoreng telur kesukaanmu. Sebentar lagi Papa juga pulang kerja, kamu enggak mau 'kan kalau nanti dimarahin karena tubuh kotor begitu?" Aku mengambil handuk dan menyerahkan kepada adik satu-satunya. Sosok yang paling kusayang selain Papa pastinya. Mendengar perintahku, Ano segera menjalankannya tetap dengan gaya kanak-kanaknya, memberi hormat sambil berucap, "Siap Bos!"

Penasaran dengan tetangga baru, aku mengintip dari balkon. Benar saja seorang pria tinggi besar dengan penampilan mengerikan, memandang ke arah rumah. Untung saja dia tidak melihatku yang mengawasinya karena terhalang pot bunga. 

Tak lama kemudian mobil memasuki garasi. Papa datang bersama Tante Yuni, Papa bilang itu adalah teman kantornya, tetapi aneh. Dia sering diperlakukan istimewa dan aku tidak menyukainya. Di mataku wanita itu bagai monster yang siap menerkam, saat ada kesempatan.

"Ronan!" Aku buru-buru menuruni anak tangga, saat Papa memanggilku.

"Iya, Pa." Mataku menatap tajam ke arah Tante Yuni. Mesra menggelayut manja di bahu Papa.

"Ano, mana? Ini, ada donat kesukaan kalian.  Tante Yuni yang membelikannya." Papa memberikan kantong berisikan makanan dari merek terkenal, setelah mengucap terima kasih aku kembali ke atas.

"Asyiiik, Donat!" seru Ano. Langsung menyambar kantong yang berada di genggamanku.

"Pakai, baju dulu, No! Dingin," ucapku seraya melemparkan piyama biru ke arah Ano.

Ketika menikmati donat yang memang sangat lezat, aku dan Ano dikagetkan dengan kedatangan Papa ke dalam kamar. Ano langsung menghambur ke pelukan Papa.

"Pa, besok hari Minggu, berenang, yuk! Sudah lama kita enggak jalan-jalan, semenjak Mama dipanggil Tuhan." Ada rasa teriris di hati mendengar ucapan Ano. Apalagi saat Papa menjawab tidak bisa dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal yang sebenarnya akan pergi dengan Tante Yuni. Papa kemudian menggendong Ano dan menggandeng tanganku menuju ruang tengah.

Tante Yuni sudah menunggu. Duduk di atas kursi, bibirnya yang selalu dipoles gincu merah membuatnya terlihat seperti Vampir. Aku bergidik ngeri membayangkan jika itu benar adanya.

Papa menarik napas panjang, kemudian berkata, "Ronan, Ano. Kalian sudah kenal sana Tante Yuni 'kan?" Aku dan Ano mengangguk. "Papa akan menikah dengan Tante Yuni, agar kalian mempunyai Mama lagi."

"Aku enggak mau punya Mama baru! Papa tidak boleh menikah dengan Tante Yuni!" Ano berteriak, melepaskan diri dari gendongan Papa dan berlari ke kamarnya.

"Sama! Ronan juga enggak mau Tante Yuni jadi istri Papa." Aku pun menyusul Ano. Sempat kulihat kesedihan di wajah Papa, sedangkan rahang Tante Yuni mengeras.

Ketika aku berusaha meredakan tangis Ano. Terdengar pertengkaran. Tampaknya Papa membatalkan rencana pernikahannya. Tante Yuni berteriak histeris, disusul suara letusan pistol. Aku yang awalnya ingin melihat Keadaan segera mengunci pintu kamar. 

"Ronan, buka pintunya!" Suara Tante Yuni menyuruhku, setelah mengetahui pintu terkunci. Aku tak menjawab, memeluk Ano yang ketakutan seperti halnya diriku.

Aku mengajak Ano keluar lewat balkon saat gedoran di pintu semakin kencang. Dengan mudah kami bisa turun ke bawah. Sempat mengintip ke dalam rumah kulihat tubuh Papa bersimbah darah. Ano berteriak ketakutan melihat keadaan tersebut. Suara langkah Tante Yuni mulai menuruni tangga berusaha menangkap kami.

Napasku tersengal menghindari kejaran Tante Yuni. Apalagi sambil menggendong Ano di punggung. Tak kuat lagi, aku terjatuh.

Baru saja hendak bangun, tangan kekar meraih tubuhku dan Ano mengajak bersembunyi di balik pohon besar.

"Kalian, tunggu di sini. Wanita itu sangat berbahaya," ucap laki-laki mengerikan--tetangga baruku--kemudian mengendap-endap menuju arah rumahku.

Aku dan Ano semakin erat berpelukan tatkala suara senjata api terdengar. Bukan sekali, tetapi berulang kali disusul sirene Ambulance dan mobil Petugas Keamanan bersahutan memecah keheningan malam.

"Anak-anak keluarlah! Sudah aman." Aku merasa lega, saat laki-laki itu bersama beberapa orang berseragam muncul di hadapan.

Merasa takut dan bingung, aku tetap tak bergeming meringkuk bersama Ano di balik pohon.

"Jangan takut! Wanita jahat itu sudah tertangkap. Papa kalian juga selamat dan sudah dibawa ke rumah sakit." Laki-laki itu, juga menjelaskan bahwa dirinya adalah detektif yang bertugas menyelidiki pembunuhan satu keluarga. Semua mengarah pada Tante Yuni. Psycopath yang mengincar pria single parent untuk dinikahi, lalu dikuasai hartanya.