Cinta di Balik Jendela

Ilustrasi, oh seram

Cinta di Balik Jendela

Sayup suara angin menerbangkan dedaunan kering di sekitar rumah tua berlantai dua. Rumah yang terletak 200 meter dari rumahku itu sudah tak berpenghuni sejak delapan tahun yang lalu. Ya, rumah yang menyimpan kisah cintaku bersama gadis keturunan Cina bernama Cinta. 

Aku adalah Wira. Pemuda yang kini besar dan mapan karena kerja keras demi bisa melamar Cinta. Namun semua sia-sia karena Cinta yang kudambakan telah pergi tanpa meninggalkan pesan. 

Dari keterangan bapak, kutahu bahwa Cinta bersama papa dan mama serta dua adik perempuannya meninggalkan desa tanpa pamit ke tetangga sekitar. Sebelum kepergian mereka, menurut salah seorang warga, terdengar kegaduhan dan suara tangis entah tersebab apa. Keluarga Ko A Hong yang terkesan tertutup itu seolah menyimpan sejuta misteri.

*** 

Malam yang teramat sunyi membawaku kembali menelusuri masa lalu bersama Cinta. Sejak Sekolah Dasar, gadis mungil itu tampak berbeda dibanding teman-teman di kelasnya. Kulit putih, mata sipit, dan bahasa yang agak kaku. Cinta yang memiliki nama asli Lee Sam Yin itu tergolong anak yang cerdas. Nilainya selalu unggul di sekolah. Meski begitu dia tidak sombong. Dia suka menyanyikan sebuah lagu mandarin untukku. 

Ni wen wo ai ni you dou she
Wo ai ni you ji fen
Wo de xing ye zhen
Wo de ai ye zhen
Yue liang dai biao wo de xing

Dia merasa senang dan nyaman memiliki sahabat sepertiku, hingga suatu hari dia berjanji akan menikahiku, karena aku baik. Senyumku mengembang teringat janjinya kala itu. 

Seiring waktu, ada rasa yang tumbuh di antara aku dan Cinta. Rasa yang tak pernah terucap. Keluarga Ko A Hong tak pernah tahu. Yang dilihatnya, kami adalah sahabat dekat. Dan itu membuat dia  justru merasa senang ada yang mau berteman dan senantiasa menjaga putri sulungnya. 

Setelah hari kelulusan di Sekolah Menengah Atas, konflik mulai menyeruak. Cinta sering menangis menceritakan kondisi keuangan papanya saat itu. Keluarganya terpuruk karena bisnis yang hancur termakan iming-iming tabungan investasi kurang jelas. Parahnya, papa Cinta terbelit banyak hutang. Bahkan desas-desus yang kudengar, kepindahannya ke desa ini untuk menghindari sebagian dept collector. Puncaknya, Ko A Hong memaksa Cinta menikah dengan pengusaha kaya agar semua hutang bisa terlunasi.

"Wira, aku tak mau pulang. Aku ingin di sini bersamamu," ucapnya di suatu malam. Saat itu aku belum bisa berbuat banyak. Hanya membisu, sambil mengelap air matanya yang tak berhenti mengalir. 

"Pulanglah, Non Cinta. Nanti ibu antar Non, ya!" Suara lembut emakku membujuk Cinta agar mau kembali pulang. 

Selang beberapa waktu, aku memutuskan merantau jauh untuk mengumpulkan uang agar bisa membantu keluarga Cinta. Aku tak peduli meski hanya berbekal ijazah SMA.

Saat berpamitan, kulihat Cinta menangis, memintaku mengurungkan niat untuk pergi.

"Jangan tinggalkan aku, Wira. Aku tak punya siapa-siapa di sini."

"Sabar, Cinta. Nanti aku pasti kembali untukmu."

Meski Cinta menahan, aku tetap pergi juga. Semua demi Cinta. 

Tanpa kuketahui, jauh di perantauan justru membuat Cinta semakin terpuruk. Depresi, karena sang papa terus memaksa agar ia menikah demi menyelamatkan keluarga. Sedangkan surat-surat yang kukirim pun tak pernah mendapat balasannya. 

Delapan tahun berlalu. Aku merasa sudah mampu mandiri dari hasil kerja keras. Aku merasa harus kembali untuk menyelamatkan Cintaku. Namun yang kudapati justru kekecewaan. Rumah Cinta sudah lama ditinggalkan. 

"Sudahlah, Le. Doakan saja semoga keadaan Non Cinta dan keluarganya sudah membaik dan bahagia," ucap emak, membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. 

"Iya, Mak. Aamiin." 

Malam kembali berselimut sepi. Aku duduk di teras sendirian sambil memandangi jalanan desa yang tampak lengang. Aku tak bisa tidur, teringat akan Cinta. Dimanakah dia sekarang? 

Sepasang mataku terpaku pada rumah tua yang pernah ditinggali Cinta sekeluarga. Gelap di sana. Entah mengapa, tiba-tiba terbersit keinginan menyambangi rumah yang menyimpan kenanganku bersamanya. Aku berdiri mematung di halaman rumah yang mulai ditumbuhi lumut itu. Ada desiran rindu dalam hatiku. Ada cinta yang belum sempat kuucapkan kala itu. 

Kuhela napas panjang. Semua usaha kerasku serasa sia-sia saat tak bisa menemui Cinta. 

Ah, sudahlah. Cintaku telah pergi, gumamku sendiri.  Namun, saat hendak berbalik meninggalkan halaman rumah Cinta, sesosok bayangan seolah menatapku dari balik jendela kaca di samping rumah. Rasa penasaran membuatku urung melangkah. Aku menoleh ke sekeliling. Tak ada seorang pun yang tampak. Kucoba mendekat ke arah jendela, jantungku berdebar kencang. Ada bekas telapak tangan  manusia di sana. Ada siapakah di dalam? Saat aku mencoba memperhatikan dengan seksama bentuk tangan yang menyerupai tangan wanita itu, sungguh, perlahan sosok wanita muncul di sana. Dia meletakkan tangannya tepat di bekas tangan yang sama di jendela. Tak sadar, kuletakkan tangan kananku dengan posisi yang sama, seolah kami saling bersentuhan. Kulihat senyum itu tak pernah berbeda. Senyum Cinta. 

Sayup-sayup kudengar lantunan lagu cinta,

Ni wen wo ai ni you dou she
Wo ai ni you ji fen
Wo de xing ye zhen
Wo de ai ye zhen
Yue liang dai biao wo de xing

"Cinta ...." aku tersenyum bahagia karena ternyata Cintaku masih di sana. 

Beberapa menit kemudian, senyum Cinta tiba-tiba berubah tangis yang memilukan. Meski tak terdengar dari luar, namun ekspresi wajahnya membuatku merasa berdosa.

"Cinta, kenapa Cinta?" bersamaan dengan itu, bayangan Cinta perlahan menghilang. Aku berlari menuju pintu depan, lalu mendobrak paksa untuk masuk mencari Cintaku. 

Tak sulit bagiku menemukan kamar Cinta yang terletak di samping ruang tamu, tepat dimana dia terlihat olehku tadi, hanya dengan berbekal senter handphone.

"Cinta, kamu dimana?" perlahan kubuka pintu kamar berhias bunga-bunga. Kuedarkan pandang ke seluruh ruangan. Foto kami kala SMA menghias di beberapa dinding di kamar Cinta. Ya, meski berselimut debu dan kotor, aku masih bisa dengan jelas melihatnya. 

Aku melangkah menuju meja belajar di sisi tempat tidur Cinta. Buku-buku tampak berserakan. Kursi pun terbalik tepat di tengah ruangan. Kucoba merapikan benda-benda itu hingga mendapati sebuah buku catatan harian yang begitu kuingat, milik Cinta. 

"Wira, kenapa kamu meninggalkan aku?"
Kehadiran Cinta yang tiba-tiba sungguh mengejutkanku.

"Cinta, aku sayang kamu. Semua kulakukan demi kamu." 

Kugenggam tangannya yang dingin. Sedingin udara malam itu.  

"Aku takut sendirian, Wira. Takut sekali." 
Air mata itu menetes kembali, membuatku perih. Kuraih tubuh mungilnya dalam dekapan. Sejujurnya aku pun menangis, menahan rindu yang selama ini tak tersampaikan. 

"Cinta, maafkan aku. Maafkan aku."

"Jangan pergi lagi, Wira!" ucapnya disertai derai air mata. 

Kulepaskan jaket dan kemudian memakaikan pada Cinta, karena kurasakan semakin lama tubuh itu semakin dingin saja. Malam itu, aku hanyut memeluk rindu bersama Cintaku. 

***

"Wira! Pulang, Le! Kamu ngapain di sini?" Suara ibu mengejutkanku. 

"Kamu ngapain tidur di sini, Le? Semalaman emak mencarimu."

"Maaf, Mak. Aku bertemu Cinta tadi malam."

"Ngaco kamu. Cinta sekeluarga sudah pindah."

"Beneran, Mak. Aku bersama dia semalam."

"Ah, sudahlah, kita pulang! Mandi sana! Sarapan sudah emak siapkan."

Aku mengikuti langkah emak menuju rumah. Buku catatan harian milik Cinta sengaja kubawa untuk kubaca di rumah. Mungkin ada yang belum aku ketahui dan bisa kudapatkan di sana.

Setelah selesai sarapan, aku kembali ke kamar, teringat buku harian Cinta semalam. 

Kubuka lembar demi lembar buku kenangan yang sebelumnya hanya kulihat sampulnya itu. Cinta tak pernah mengijinkanku membuka-buka isinya. Namun kini, aku dengan leluasa memilikinya. Di sana, di lembar-lembar awal kudapati kisah perkenalan hingga kedekatan kami menjelang usia remaja. Entah berapa puluh halaman yang terbaca, membuat senyumku mengembang bahagia. 

Halaman berikutnya aku bersedih, Cinta menuliskan tentang masalah keluarga yang berbuntut paksaan untuk menikah dengan pengusaha kaya. Bukan hanya itu. Papanya tega menyakiti, memukul karena Cinta tak pernah mau menuruti keinginan sang kepala keluarga. Tak terasa aku pun menitikkan air mata, merasakan kepedihan Cinta. 

Lembar-lembar akhir aku semakin tak kuasa menahan sesaknya dada. 

Kamis, 12 Januari 2005

Wira, aku tak sanggup lagi menghadapi rasa sakit yang bertubi-tubi, hampir setiap hari. Aku tak sanggup lagi menghadapi amarah papa. Aku merasa tak mampu memenuhi keinginan papa. 


Wira, maafkan aku yang terus mengharapkanmu pulang. Mengharap bisa bisa bersamamu seperti dulu. 


Wira, apapun yang kulakukan, semua demi cinta.

 
Wira, jangan salahkan aku! Malam ini aku akan mengakhiri penderitaan ini sendiri. 

Cinta

"Tidaaak!" 

Aku beranjak dari kursi, berlari menuju rumah Cinta. Tak kudapati siapa-siapa di sana. Tiba-tiba sebuah ruang kamar mandi di dekat ruang keluarga pintunya terbuka. Rasa penasaran membimbingku ke sana. Benar saja. Ada sebuah pisau kecil di sana, dengan noda hitam yang membeku, entah sudah berapa lama. Ada cangkul dan lembaran kain usang terkoyak. Aku baru sadar, keramik lantai pun bekas dibongkar paksa. Kucoba menggali dengan sekuat tenaga, dan ..., kudapati kerangka manusia yang masih berbalut piyama. Hanya tersisa rambut panjang sebahu yang telah berubah warna. Aku tak pernah bisa lupa bahwa itu rambut milik Cinta. 

 

#misteriromantis