Sebatang Pohon Tua di Taman Berbunga

Pohon tua (Dok: www.idntimes.com)

Ini adalah lingkaran kehidupan yang harus kujalani. Mulai dari aku lahir, bayi, balita, menjadi anak sekolahan sampai bangku kuliah. Sewaktu sekolah ditanya naik kelas atau tidak. Selepas SMA mau melanjutkan kuliah atau tidak? Setelah kuliah, kapan kamu lulus? Kapan kamu bekerja? Sesudah mapan, kapan kamu menikah? Fase inilah yang terlewatkan dalam hidupku. Aku cenderung menghindari pertemuan keluarga agar bisa lepas dari pertanyaan ini.

“John, sudah waktunya kamu mencari pendamping. Lihat teman-temanmu sudah menimang anak, kamu kapan menikah?"

“Kamu mau dilangkahi lagi?”

Tiga adik perempuanku sudah menikah. Kami 5 bersaudara. Aku anak laki-laki paling tua di rumah ini. Dan besok adik laki-lakiku menikah. Aku tidak peduli ada mitos lelaki yang dilangkahi adik lelakinya akan sulit jodoh. Toh, aku malas memikirkannya.

“Kamu nggak ingin bayi ikut kayak gini, Kak?” kata Indah, adikku. Raut kekahawatiran demikian tampak di muka ibuku. Ibu yang sering mendorongku segera menikah.

Dan sederet pertanyaan yang intinya kapan aku memiliki pasangan hidup.

Aku diam. Dari dulu aku memang alergi dengan perempuan. Aku sangat menghormati ibuku. Aku rela melakukan apa saja untuk ibu, kecuali satu. Menikah.

Umurku tidak muda lagi. Sudah menginjak kepala 5. Keponakanku sudah banyak. Satu-satunya harapan ibu yang belum kupenuhi adalah memberinya menantu. Entah sudah berapa banyak perempuan yang disodorkan di depanku. Saudara jauh, anak sahabatnya, anak kenalannya, dan sebagainya. Aku tetap kokoh dengan pendirianku.

“John, pulang jam berapa? Teman ibu dan anaknya hendak berkunjung ke mari,” kata ibu melalui telepon. Tiga jam berselang, ibu memberitakan hal ini. Mereka mengalami kecelakaan, keduanya meninggal dunia. Setelah kejadian itu, beliau memilih diam.

***

Aku memang sedang merencanakan sesuatu. “Ini, Bu, aku memasang kamera CCTV agar bisa memantau keadaan di rumah sewaktu aku bekerja.” Ibu menggangguk. Aku merasa berdosa ketika mengucapkannya. Ada yang kusembunyikan.

Aku baru saja pulang kantor. Segera aku naik masuk ke kamar. Aku mematikan lampu. Ibu keluar dengan kursi rodanya, wajahnya sumringah. “Bu, perkenalkan...” Aku belum selesai berbicara.

“Ani? Kaukah itu? Kau masih hidup? Di mana kamu bertemu dia, John?” Mata buramnya melihat anak perempuan temannya yang hendak dikenalkan pada John, beberapa bulan yang lalu.

Aku kaget, mengapa ibu mengenalnya? Bahkan namanya sama dengan nama yang aku pikirkan. Apakah ini suatu kebetulan?

“John, aku setuju kau dekat dengan Ani.”

Aku semakin heran.

Aku merasa berdosa dengan kebohongan yang kubuat. Membuat tokoh hologram adalah pekerjaan mudah. Aku pun membuatnya untuk kebahagiaan ibu. Rupanya roh Ani- anak perempuan teman ibuku, telah merasuki tokoh ciptaanku. Tentu aku tidak mengenal, tetapi bisa merasakan kehadirannya di kamarku. Ia bisa memelukku. Membuat hatiku berdebar.  Ani hadir dalam mimpiku, walau aku belum pernah bertemu dengannya. Wangi tubuhnya dapat aku rasakan. Aku bertanya pada ibu seperti apa Ani. Anehnya ibu menyebutkan ciri-ciri yang sama dengan hologram ciptaanku. Sedemikian kuatkah keinginan ibu menjodohkanku dengan Ani?

Bahkan hal itu memengaruhi hubunganku dengan Arthur.

“John, sini dong!” Arthur memanggilku. Kedipan matanya memberi isyarat.

“Bentar, tanggung nih,” kataku. "Aku balas pesan ini dulu.” Tanganku menekan andorid. Aku menggeser bokongku untuk mendekati. Tangannya mencium tanganku. “Maafkan aku cemburu pada Ani.” Ia memelukku erat.

Berdua di kafe ini sangatlah nyaman. Ada private room yang bisa kami gunakan. Aku dan Arthur sering ke sini. Sekadar minum kopi, berbagi cerita, atau berkaraoke.

Bercerita. Bercengkerama.

Ani adalah bayangan. Dia tidak pernah ada di dunia nyata. Aku tetaplah lelaki yang tidak bisa membahagiakan ibuku sampai akhir hayatnya. Pada akhirnya, aku memutuskan Arthur. Sosok Ani telah mengubah pandanganku tentang perempuan.

“Maafkan aku telah membohongimu, Bu.” Kubisikkan kalimat itu pada jasad yang terbujur kaku di depanku.

Ya, itulah diriku. Sebatang pohon tua di taman berbunga. Yang hanya bisa memandangi keindahan dan warna-warni bunga, tanpa bisa merasakan wangi dan indahnya. Ingin kuwujudkan wasiat ibu sebagai penebus dosa. Dapatkah aku mencari dan menemukan sosok seperti Ani sebagai pendamping hidupku?

#misteriromantis