Kidung Cinta Puteri Mandalika

Pantai Tanjung Aan, Mndalika, Lombok NTB

Aku duduk di atas ayunan dengan tali biru yang digantung di atas sepasang kayu bulat berwarna merah jambu. Laut Tanjung Aan yang biru dan mengalun tenang, tak mampu mengalihkan pikiranku dari gadis berambut hitam berombak sepinggang yang duduk di ayunan sebelahku.

“Kalau kau keberatan, aku akan pindah ke tempat lain,” teriakku mengatasi desau angin dan deburan ombak yang menghantam bukit karang. “Mungkin kau sedang menunggu seseorang?”

“Oh, tidak. Sama sekali tak mengganggu. Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa. Laut sudah seperti rumah buatku, dan pantai adalah halamannya,” sahutnya pelan, terdengar lebih mirip gumaman. Aku pun menghentikan ayunan, menjejak tanah, dan menghadap ke arah gadis itu.

Menurutku dia bukan seorang gadis, tapi bidadari, atau mambang laut! Seumur hidupku, aku belum pernah bertemu gadis secantik dia. Wajahnya begitu proporsional dengan kulit eksotik dan senyumnya yang hangat sanggup melelehkan hati seluruh kaum adam di muka bumi ini.

“Namaku Panji, tapi bukan Panji sang Petualang, walaupun aku suka berpetualang.”

“Namaku Puteri. Puteri Mandalika, karena aku lahir dan besar di daerah sini.”

Kami pun cepat menjadi akrab. Entah kenapa aku merasa begitu dekat padanya dan seperti telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Aku pun menceritakan tujuan utamaku pergi ke Lombok, mengikuti festival Bau Nyale yang akan dilaksanakan di pantai ini minggu depan.

Aku sengaja datang lebih awal, memenuhi undangan Inaq Rose, sahabat ibuku yang tinggal di Desa Pujut dekat lokasi festival Bau Nyale.

“Kenapa kau datang sendirian? Sangat jarang gadis Sasak secantik dirimu masih menjomlo,” ujarku berkelakar.

“Aku pernah nyaris menikah. Kami saling mencintai. Tapi ....” Kata-katanya menggantung di udara. Dadanya yang tertutup tunik berwarna hitam polos khas pakaian gadis suku Sasak terlihat turun naik tak beraturan. Matanya yang bulat mengerjap, lalu memandang nyalang ke arah laut lepas.

Puteri mendesah berat, seperti berusaha melepaskan beban yang memasung paru-parunya. “Kami saling mencintai, tapi ... aku tak bisa memilihnya untuk menjadi suamiku.”

“Orang tuamu tak mengizinkan?”

“Bukan. Saat ia melamarku, tak dinyana banyak pemuda lain, yang tak kalah tampan, semua dari keluarga bangsawan. Aku tak punya alasan apapaun untuk menolak mereka dan memilih pangeranku,” bisiknya kelu. Suaranya menelusup gendang telinga, menyayat hati, seperti tangisan lara ombak yang selalu merindukan pantai, tapi tak pernah bisa bersatu.

“Lalu?”

Ia tak menjawab pertanyaanku. Tubuhnya yang tinggi semampai bangun dari ayunan, berjalan gontai ke tengah ombak yang segera saja menjilati kaki telanjangnya. Rambutnya berkibar menguarkan bau harum laut yang segar.

Gegas, aku segera menyusul dan berdiri di sampingnya. Naluriku sebagai lelaki begitu ingin melindunginya, memeluk bahunya yang ringkih dan mengusap air matanya yang berkilauan seperti mutiara Lombok. Tapi, aku hanya berdiri sejengkal di sampingnya, mengulurkan sapu tangan dan menepuk bahunya.

“Terima kasih, sudah mau mendengarkan kisahku.” Suaranya mengalun lembut, berusaha menyembunyikan kesedihan, dan tersenyum ke arahku.

Aku hanya mengangguk. Sejuta kata-kata yang kusiapkan untuk menghiburnya tertelan kembali, terkalahkan oleh debur aneh yang bertalu-talu di dada.

Sejak saat itu, selama seminggu, kami selalu bertemu menjelang senja. Kami menghabiskan waktu bersama, menyusuri garis pantai Mandalika. Sepertinya aku telah jatuh cinta, bukan hanya pada pantai berpasir putih selembut beledu, laut biru, juga pada sosok Puteri yang ayu bak peri laut yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.

Suatu senja, selepas berjalan-jalan, kami duduk bersisian di atas batu karang, di bukit Mersese. Laut biru di kejauhan telah berubah warna menjadi tembaga. Angin pantai yang dingin menguarkan aroma laut yang wangi dan mistis.

“Hari ini terakhir kali kita ketemu,” bisiknya sambil menyandarkan kepala di bahuku.

Aku berjengit kaget, tak siap dengan kata-kata perpisahan yang ia ucapkan. “Kenapa cepat sekali? Bukankah kau tinggal di daerah sini? Liburanku masih lama, seminggu lagi baru balik ke Jakarta.”

“Besok temui aku di bawah sana, selepas azan subuh berkumandang,” ujarnya sambil menunjuk garis pantai di bawah tebing. Suaranya terdengar bergetar, jauh, seperti berasal dari alam lain. Gadis cantik yang membuatku mabuk kepayang itu berdiri. melangkah pergi dan meninggalkanku yang masih duduk terpaku, seperti terhipnotis.

“Tunggu, Puteri!”

Terlonjak, aku berusaha melepaskan diri dari batu karang yang tiba-tiba terasa hidup dan menjeratku. Kukejar bayangannya yang semakin menjauh. Kurengkuh tubuhnya dan kudekap erat, tak rela untuk melepaskan.

***

Esok harinya, selepas sholat subuh aku berkejaran dengan waktu ke arah pantai, ke tempat di mana kami berjanji untuk bertemu yang terakhir kalinya.

Sejauh mata memandang, tak ada laut, pantai atau pasir putih. Semua telah berubah menjadi lautan manusia. Aku berlarian kesana kemari, menyibak orang-orang yang sedang terbungkuk-bungkuk memegang nyiru dan berbagai perlengkapan lainnya.

“Puteri ... Puteri ....!” Aku berteriak-teriak seperti orang gila, memanggil-manggil namanya. Tiba-tiba, sebuah ombak datang menyibak kerumunan, berkilauan, memantulkan cahaya obor yang dipegang orang-orang. Lidah ombak itu seperti tumpahan ember raksasa, memuntahkan sesuatu yang ia bawa dari kedalaman laut.

Mataku mengerjap. Kulihat tubuh Puteri Mandalika, tipis, tanpa daging, tersenyum ke arahku. Ia berdiri mengambang di atas ribuan cacing laut berwarna-warni yang menggeliat-geliat di pasir pantai.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu semua menjadi gelap. Aku jatuh dalam pelukan Puteri Mandalika yang telah berubah menjadi gundukan cacing-cacing Mandalika Nyale.

 

(Tamat)

Jakarta, 16/03/2021

 

Note:

Terinspirasi dari Legenda Puteri Mandalika Nyale, Lombok, NTB.

Sumber gambar

#misteriromantis