Bukan Roro Mendut

Sumber gambar, Pinterest

Secangkir cairan pekat mengepulkan uap dengan aroma yang begitu harum. 

"Kopi buatanmu memang paling joss, Ndis." 

Seorang pemuda berperawakan tinggi besar, menikmati aroma minuman berkafein yang baru saja disodorkan Gendis. Lalu menyeruputnya perlahan. Gadis berwajah manis itu hanya tersenyum sekilas. Dia sudah terbiasa dengan pujian semacam itu. Hampir semua pria yang sudah pernah mampir di warungnya mengatakan hal serupa.

Dengan kulit kuning langsat, tubuh ramping, dan wajah ayu, Gendis menjadi gadis yang sempurna untuk disebut kembang desa. Jadi tak heran jika warungnya tak pernah sepi pengunjung. Bahkan Hartadi, pria yang menjabat sebagai lurah di dusun Ndaru, turut kepincut dengan pesonanya. Kerapkali pria yang konon beristri dua itu terlihat betah berlama-lama ngopi di warung Gendis. 

Hari itu lagi-lagi Hartadi mampir ke warung Gendis. Karena jabatannya di desa, warga jadi terpaksa segan pada Hartadi. Begitu pria itu memasuki warung, para pelanggan di sana seperti paham harus bagaimana. Satu persatu mulai pergi. Dan sekarang hanya ada Gendis dan pria berusia lima puluh tahun itu di dalam warung. 

"Cah ayu, buatkan aku kopi seperti biasanya!" pinta Hartadi. 

Gendis tak banyak bicara, tangannya mulai memasukkan bubuk kopi dan sedikit gula ke dalam cangkir, menyeduh, kemudian menyodorkannya pada Hartadi. 

"Terimakasih, Cah ayu." 

Hartadi sedikit meremas tangan Gendis yang lembut dengan sengaja saat gadis itu menyodorkan cangkir. 

"Ngapunten, Pak, jangan seperti ini!" cegah Gendis dengan suara gemetar. 

"Nggak usah takut, Nduk! Aku cuma mau melamarmu untuk jadi istriku." 

"Ngapunten, Pak, tapi saya sudah punya calon suami. Kami akan menikah bulan depan," jelas Gendis. 

Gendis merutuk dalam hati. Bagaimana bisa seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya itu mau menjadikannya istri, yang ke-tiga pula. Selama ini dia bersikap sopan pada Hartadi hanya supaya warungnya bisa tetap beroperasi. Meskipun sejak awal Gendis paham gelagat tak menyenangkan dari pria itu. Namun kali ini tindakan Hartadi mulai melewati batas. Gendis tak mau lagi berdiam diri. 

Hartadi murka dengan penolakan Gendis. Terdengar suara kepalan tangan beradu dengan meja kayu dari dalam warung. Sumpah serapah keluar dari mulut pria itu. 

Gendis tak gentar. Gadis itu hanya bergeming, sembari merapal doa dalam hati. Ekor matanya tetap waspada, berjaga kalau-kalau pria yang sedang dihadapinya bertindak kasar. Tapi ternyata Hartadi bergegas mangkat dari warung.

*****

Dengan napas terengah-engah, Gendis bersama Abimanyu--sang kekasih--menghentikan langkah kaki setelah merasa aman dari kejaran beberapa orang yang tak dikenal. Keduanya berpeluh keringat. Entah seberapa jauh mereka telah berlari. Sepertinya saat ini mereka berada di desa tetangga. Sepasang kekasih itu dikelilingi pohon-pohon jati yang menjulang. 

Abimanyu duduk di tanah sambil menyelonjorkan kakinya yang jenjang. Pemuda berhidung mancung itu masih mengatur napas yang belum beraturan. Punggungnya disandarkan pada sebuah batang pohon jati. Gendis mengikuti. Kepalanya disandarkan pada dada bidang sang kekasih. Netranya mulai membasah karena merasa cemas.

"Jangan takut, Ndis, kita pasti bisa pergi dari kejaran mereka dengan selamat," hibur Abimanyu menenangkan hati kekasihnya. 

Gendis berusaha tersenyum meskipun diliputi ketakutan. Dia teringat perkataan Kang Parto--salah satu pelanggan di warungnya--bahwa pak Lurah Hartadi adalah orang yang akan menempuh segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pria itu tak akan segan-segan menyelakai orang yang akan menghalangi kemauannya. Dengan jabatan dan harta berlimpah, pria paruh baya itu sering bertindak semena-mena.

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kita, Kang?" tanya Gendis. 

"Apapun yang terjadi, aku akan berusaha melindungimu. Kamu ingat kisah tentang Roro Mendut dan Pronocitro?"

Gendis mengangguk. Siapa yang tak ingat kisah legendaris itu. Kisah cinta sepasang kekasih yang begitu tragis, karena penguasa yang lalim. Gendis mulai mencerna pertanyaan Abimanyu. Jika dipikir-pikir apa yang dialaminya saat ini hampir mirip dengan kisah Roro Mendut. Dia jadi teringat bagaimana Pronocitro kehilangan nyawa di tangan Tumenggung Wiroguno. 

"Aku tak mau kisah kita berakhir tragis seperti mereka, Ndis," lanjut Abimanyu. 

"Aku pun tak mau, Kang."

"Karena itu berjanjilah, jika sesuatu terjadi padaku, jangan melakukan hal yang sama seperti Roro Mendut!" pinta Abimanyu. 

Air mata Gendis mengalir tanpa bisa ditahan saat mendengar perkataan Abimanyu. Hatinya tidak bersedia menerima permintaan itu. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa cintanya. 

"Kamu harus hidup bahagia apapun yang terjadi. Aku tahu mereka sebenarnya hanya mengincarku," kata Abimanyu lagi. 

"Lalu aku harus bagaimana?" 

Belum sempat Abimanyu menjawab pertanyaan Gendis, sekelompok orang bertopeng berjumlah tujuh orang sudah muncul di hadapan mereka. 

"Larilah sejauh mungkin, Ndis, cari tempat yang aman. Aku akan menghadapi mereka!" perintah Abimanyu dengan suara lantang.

Abimanyu bangkit dari duduknya, dan mulai memasang kuda-kuda. Matanya awas mengamati gerak-gerik lawan. Sayangnya Abimanyu bukan pendekar yang hebat, namun dia ingin berusaha melindungi Gendis sekuat tenaga. Gendis bergerak agak menjauh dari kekasihnya itu, namun tak sanggup berlari. 

Tiba-tiba seorang dari kelompok bertopeng itu melayangkan pukulan di dada Abimanyu. Lalu yang satu lagi meninju pipinya yang sebelah kiri. Abimanyu berhasil jadi bulan-bulanan mereka bertujuh. 

"Ayo lari, Kang!" jerit Gendis. 

Namun terlambat untuk melarikan diri. Tubuh Abimanyu limbung. Sekujur badannya penuh memar dan cairan pekat berwarna merah gelap. Salah satu dari orang-orang bertopeng itu menikam dada Abimanyu dengan sebilah pisau. 

"Tidak!" Gendis histeris melihat kekasihnya dalam keadaan meregang nyawa. 

Sekelompok orang-orang bertopeng itu lantas angkat kaki. Entah siapa mereka. Namun Gendis bisa menerka bahwa mereka adalah orang-orang suruhan Hartadi. 

Gendis menggenggam tangan Abimanyu yang penuh darah. Bulir-bulir bening yang mengalir di pipi semakin menderas. Dia tak sanggup melihat orang yang dicintainya mengalami penderitaan sedemikian rupa. Abimanyu pun mengembuskan napas terakhir.

*****

Sepekan sudah Gendis berduka atas kematian Abimanyu. Sore itu Gendis duduk di bangku panjang yang ada di teras rumah. Hari-harinya mulai dihabiskan dengan melamun dan menangisi kepergian sang belahan jiwa. 

Suara mesin sepeda motor yang berhenti di depan rumah, membuyarkan lamunan Gendis. Hartadi turun dari kuda besi yang dikendarainya. Gendis menatap tajam, seolah menunjukkan kemarahan.

"Mau apa, Njenengan, ke sini?" tanya Gendis dengan ketus. 

Hartadi tertawa lebar. Lalu duduk di samping gadis yang dipujanya. Mencoba merayu Gendis sekali lagi. Namun yang dirayu bukannya luluh, malah berani menunjukkan amarah. 

"Njenengan, kan dalang dari pengeroyokan yang menimpa saya dan Abimanyu!" tuduh Gendis. 

"Apa buktimu menuduhku seperti itu. Hah!" gertak Hartadi.

"Saya bersumpah akan mengungkap kebenaran ini. Lihat saja nanti!" 

Gendis lalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Hartadi yang masih saja mengoceh karena tak terima dengan tuduhan terhadapnya. Dengan geram pria berpakaian dinas itu pun akhirnya pergi dari kediaman Gendis. 

Senja mulai beranjak, berganti gelap. Tangan kanan Gendis menggenggam sebilah pisau yang tampak tajam. Pikirannya menerawang kosong. Merasa putus asa.  Diangkatnya pisau itu mendekati dada. Tiba-tiba angin berembus kencang. Gendis mendapati sosok Abimanyu yang berwajah pucat berhadapan beberapa meter darinya. Kekasihnya itu tampak murung dan begitu sedih. 

"Astaghfirullah," gumam Gendis. 

Seketika Gendis menyadarkan diri dari kekhilafannya. Gadis itu teringat akan janji yang dipinta sang kekasih. Netranya membasah lalu jatuh tak tertahan. Gendis ingat, tak boleh seperti Roro Mendut yang mati bunuh diri dengan tragis. Dia harus bahagia seperti permintaan Abimanyu. Lagipula dia sudah bersumpah untuk mengungkap kebenaran akan apa yang terjadi. 

Tangan Gendis terasa lemas, pisau dalam genggaman terjatuh di lantai. Menimbulkan suara dentingan dalam senyapnya malam. Raut Abimanyu perlahan tampak bahagia. Gendis bisa melihat wajah kekasihnya itu tersenyum, lalu perlahan menghilang ditelan gelap. 

#misteriromantis

Ngapunten: Mohon maaf
Njenengan: Anda