Yandere

Pinterest

Keluarga Alvian tinggal di rumah batu putih yang besar dengan tiang-tiang putih di depan, di puncak halaman berumput di lereng curam. Taman bunga membentang di sepanjang rumah di kedua sisi tiang-tiang itu. Rumput di kaki bukit ke arah jalan tampak rata dan terpotong rapi, serta pepohonan tinggi yang  anggun.

Hari sangat indah, cerah. Karina memutuskan untuk menikmati pemandangan luar di sekitar halaman muka. Ia mendorong kursi roda Niko Alvian-suaminya keluar di depan bunga-bunga. Lalu ia membawa kursi lipat untuk dirinya sendiri dari garasi besar di belakang. Niko mengalami kecelakaan sejak satu tahun lalu yang menyebabkannya tidak bisa berjalan lagi. Tadinya ia adalah pria yang periang. Dengan rambut hitam pendek yang tertata rapi, mata coklat terang, dan juga senyum yang memesona. Namun semenjak di fonis lumpuh ia jadi jarang tersenyum. Padahal dulu ia hobi olahraga, sekarang dunianya seolah terhenti, hidupnya bagai terperangkap di kursi roda. 

Karina berharap menghabiskan waktu dengan Niko akan membuat pria itu gembira meski sebentar. Dengan mata setengah terpicing memandang matahari, Karina duduk di kursi lipatnya dan mendudukkan Tabi di pangkuannya. Tabi adalah boneka kayu yang bisa di gerakkan dan di isi dengan suara perut. Boneka yang biasa di gunakan untuk pentas. 

"Aku belum begitu mahir," ia mengaku pada Niko. "Aku baru saja mendapatkan Tabi dan sebenarnya belum banyak waktu untuk berlatih satu adegan pun dengannya."

Karina meraba-raba ke balik punggung boneka sampai menemukan alat pengontrol mulut dan mata. Ia membuka tutup mulut tersebut beberapa kali mengetesnya. 

"Aku agak gugup," katanya lagi pada Niko, Ia berdeham.

"Kenapa gugup?" Tanya Niko, menjadi gelisah di kursi rodanya. "Kan hanya ada kita berdua, aku senang jika kamu bisa menghiburku, aku pasti akan langsung bisa tertawa."

Karina menarik kedua sudut bibirnya tersenyum, ia senang ternyata Niko juga tampak antusias. "Oke kalo gitu," ujarnya, kemudian menoleh pada boneka Tabi.  "Apa kabarmu hari ini Tabi?"

"We bip--we bib," Karin membuat Tabi menjawab. 

"Dia ngomong apa?" Tanya Niko.

"Itu artinya, ada kodok di tenggorokanku." Tabi menjawab menggunakan suara Karina. 

Lelucon yang terdengar garing tapi Niko akhirnya tertawa. 

Karina pun makin bersemangat untuk menemukan lelucon-lelucon lain yang terlintas spontan di kepalanya. 

"Sayang, kamu sangat lucu, aku senang kamu menghiburku." Puji Niko pada Karina. "Lakukan lagi." Desaknya tak sabar. 

"Kamu juga lucu." Karina menjawab menggunakan boneka Tabi. Suaranya terdengar di buat cempreng dan Niko menyukainya. 

Karina berpaling dari Tabi, seruan dari arah rumah mengalihkan perhatiannya. 

"Nona... Ada telepon buat anda!" Seorang wanita paruh baya memanggil dari depan pintu. Itu adalah bibi Eni kepala asisten rumah tangga mereka. 

Karina beranjak. "Aku akan segera kembali," katanya pada Niko. Di telentangkannya Tabi di atas rumput.

"Tunggu!" Suara Niko membuat langkah Karina terhenti. "Katakan, apa kamu mencintaiku?" Tanyanya tiba-tiba yang membuat Karina sedikit keheranan. 

"Hei... Kenapa tiba-tiba bicara begitu?" Karina bertanya balik sambil menatap kedua manik mata Niko yang berwarna coklat terang. Mencoba mencari jawaban di dalam sana. Apa ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak aman sekarang?

"Tolong jawab saja, kamu tahu kan, aku Yandere?" 

"Haha... Ya aku tahu, aku tidak keberatan jika kamu posesif dan cemburuan. Tentu saja aku mencintaimu Niko, apapun keadaan mu." Karina hanya berusaha menanggapinya dengan santai. Namun hati Niko seolah masih berkabut. Kosong dan kelam, mungkin karena keadaanya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya sering berpikir berlebihan. 

"Kamu tidak ada pria lain kan selain aku?"

Deg!

Hati Karina mendadak  beku. Seperti baru saja di siram es dari gunung eferest. "Kamu mencurigaiku?"

"Tidak, bukan begitu, lupakan." 

"Oke, Niko, nanti kita bicarakan lagi soal ini. Aku akan mengangkat teleponku dulu." 

Niko hanya mengangguk dengan raut gelisah dan melepas kepergian Karin melangkah memasuki rumah. 

Karina hendak kembali menemui Niko di luar, dan betapa terkejutnya ia ketika ia melihat kursi roda Niko sudah tidak ada, di susul dengan jeritan pria itu yang sudah nampak menuruni bukit berumput menuju jalan raya. "Tolong aku!" 

Niko mencoba menggapai apapun, tapi tak bisa, kursi rodanya meluncur semakin kencang.

Dengan teriakan Niko di telinganya, tanpa pikir panjang Karina segera melompat menuruni bukit curam berumput mengejar pria itu. 

Ia mendengar ban mobil berdencit sebelum ia melihat Van biru menderu di jalanan.

Apakah Van biru tadi menabrak kursi roda Niko?

Pandangan Karin mendadak kabur karena ngeri. Tapi sekarang ia melihat Niko terlontar dari kursi roda, melayang ke trotoar. Jeritan Niko berhenti. Sekarang sunyi sekali. Niko tak bergerak.

Dalam keadaan setengah sadar, sayup-sayup Karina melihat boneka Tabi seolah sedang menyeringai dari atas sana.

"Apa kamu yang melakukannya? Sudah ku bilang jangan cemburu padanya. Dia suamiku, dasar Yandere. Aku benci kamu!" 

 

Tamat 

#romantismisteri