Kembang Teluh Merang

Ilustrasi-google image

Tatap tajamnya saat  mendelik ke arahku, ibarat anak panah yang seketika melesat. Menghunjam tepat di  jantung, namun bukan luka yang tertoreh. Kalimat-kalimat ketus yang kerap dia tujukan untukku. Terdengar merdu di telinga, layaknya lagu bernada cinta. 

 

Mojang priangan berambut lurus legam sebatas pinggang itu, tengah bercengkrama  bersama teman-temannya di bawah pohon. Tawa lepasnya membuat kecantikan yang dia miliki bertambah berkali lipat. Sementara aku hanya mengagumi dari kejauhan. Tampaknya akan selalu seperti itu. Andai saja jeritan ketakutannya tidak memaksaku untuk mendekat.

 

"Terima kasih, ya, Apip. Untung ada kamu …." Dia ternyata mengingat namaku padahal kami belum pernah sekalipun berkenalan. Walaupun berada di kelas yang sama selama beberapa tahun.

 

Binar kedua mata dan senyum tulusnya membuat tempatku berdiri seakan menjauh. Anganku melambung ke angkasa raya. Aku telah menyelamatkan Maniq Mayang dari hewan melata yang sangat ia takuti. Sepertinya dia telah menganggap aku sebagai pahlawan. Artinya, mulai sekarang diriku harus selalu di dekatnya. Agar dapat terus menjaganya.

 

Berkali-kali dia memintaku untuk menjauh. Namun tak pernah benar-benar aku lakukan. Sebab aku paham, dia sebenarnya membutuhkan kehadiranku. Hanya saja, dia sepertinya risih dengan olokan teman-temannya. Mereka cuma iri, seharusnya Maniq sadar akan hal itu.

 

Aku sudah tidak ingin main-main. Niat untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius harus segera diwujudkan. Jangan sampai, Maniq kekasihku keburu dipinang orang. Namun, emak menolak mentah-mentah untuk mengantar melamar gadis pujaan hatiku itu. Dari mulai kesenjangan materi sampai perbandingan fisik dijadikan alasan.

 

"Jangan mimpi, Jang. Kamu mau kita dipermalukan oleh mereka?"

 

Akhirnya, aku mengancam akan bunuh diri dengan cara menenggak racun serangga. Cairan yang biasa digunakan untuk menyemprot brokoli yang tengah emak tanam di kebun peninggalan Bapak.

 

Tentu saja hal ini membuatnya luluh seketika. Emak berjanji akan mengantarku melamar. Kami membawa rombongan menuju rumah kediaman Keluarga Kartasasmita. Seorang tuan tanah kaya raya, ayah dari Maniq Mayang.

 

Sabtu malam ini, tidak kurang dari tujuh belas hantaran kami bawa. Para kerabat yang turut mengantar berbisik-bisik di belakangku. Pasti mereka tak pernah menyangka bahwa emak akan mendapatkan menantu yang cantik jelita dan terpandang.

 

Orang tua Maniq tampak tergesa-gesa menghadang. Menghentikan langkah dari rombongan yang turut serta. Aku yakin mereka akan memberikan sambutan hangat atas kedatangan kami.

 

Suara Pak Karta menggelegar, telunjuknya menuding ke arah emak. Disusul caci maki dari sang istri yang tengah berkacak pinggang. Ditimpali umpatan kasar yang terlontar dari bibir manis Maniq Mayang kekasihku. Ia tak henti menghentakkan kaki.

 

Sejurus kemudian, emak meraung-raung sambil menepuk dada berkali-kali. Rombongan yang kubawa, satu persatu membubarkan diri sambil bersungut-sungut. Sementara aku, masih bergeming. Memilah apakah perkara ini hanya mimpi atau nyata. 

 

Berhari-hari aku melarutkan diri dalam lamunan. Menghindar dari tatap sinis orang-orang. Namun lebih sulit lagi, menyingkir dari repetan emak. Kedua telinga ini sudah bukan lagi memerah. Tak mempan meski aku menutupi dengan kedua telapak tangan.

 

Suara ketukan daun pintu yang sejak tadi terabaikan. Membuatku dengan terpaksa membukanya. Tak percaya dengan pandanganku sendiri. Sosok perempuan yang mati-matian kucoba hapus dari dalam benak. Berdiri beberapa langkah di hadapanku.

 

Maniq Mayang seketika memburu ke arahku. Sunggingan senyum di paras manisnya membuat jantungku berdegub empat kali lebih cepat. Aku yakin dia akan meminta maaf atas sikap dan penolakan keluarganya tempo hari. Seraya berkata bahwa dia berubah pikiran. Lalu memohon agar aku tidak mengurungkan niat untuk menikahinya. 

 

"Apip!" Panggilan merdu yang membuyarkan lamunan, seketika telah membasuh luka kemarin, "Ini undangan …."

 

Pipinya merona. Ternyata tanpa sepengetahuanku, dia sudah mencetak undangan pernikahan untuk kami. Terbayang, namanya terukir indah. Bersanding dengan namaku. 

 

Perlahan kubuka amplop merah berhias ornamen berwarna emas. Menarik isinya dengan begitu hati-hati. Menelisik satu persatu tulisan yang kata demi kata membuat debaran di dadaku kian kencang. 

 

Lalu berhenti seketika. Kala aku membaca sebuah nama, dengan gelar pendidikan berderet di belakangnya. Yang jelas bukanlah namaku. Tetapi milik lelaki bernama Mahendra. Seseorang yang aku ingat selalu membuat Maniq menjauh. Ketika jarak antara kami hampir begitu dekat.

 

Mungkin lebih baik jika saat ini bumi menelanku seketika. Tiba-tiba saja kudengar gelak tawa dari seluruh penghuni jagat raya menggema. Mencemooh kegagalanku sekali lagi. 

 

Tidak! Aku belum kalah. Bapak pernah bilang, lelaki sejati pantang menyerah. Hingga berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Aku bersumpah akan membuat Maniq Mayang mengejar-ngejar diriku.

 

Di tengah malam Jumat Kliwon, aku menghadap Ki Bagja. Seorang tetua kampung yang membuka praktek klenik.

 

"Dupi sakieu cekap, Ki?" Aku menyodorkan tumpukan uang kertas berwarna merah. Masih tersegel rapi dari bank. Hasil panen brokoli yang seharusnya dipakai untuk biaya pernikahan.

 

Lelaki tua dengan rambut, kumis serta janggut panjang berwarna putih itu terkekeh senang. Dia meraup tumpukan uang dengan ke sepuluh jari tangan bersemat batu akik berukuran besar. Lalu mendekatkan ke hidung, guna menghirup dalam-dalam uang kertas cetakan baru yang beraroma khas itu.

 

Kemudian aku membuka sapu tangan putih. Seekor hewan melata kecil berbulu yang senang menggeliat ini tampak hendak melarikan diri. Namun dengan cekatan, dukun kampung itu menangkupnya dengan sebuah cangkir bening. Untuk disandingkan bersama selembar foto kekasihku. 

 

-0-

 

Suasana di gedong kediaman Kartasasmita yang biasa tenang dibuat geger. Bermula dari teriakan putri semata wayangnya yang melihat ulat bulu merayap di gorden jendela kamar. 

 

Setiap hari, makhluk kecil berbulu yang senang mengeliat itu kembali muncul. Melata lincah di atas kasur. Menyusup ke dalam lemari pakaian. Bahkan peralatan makan pun tak luput dijelajahi.

 

Sensasi gatal bercampur panas menjangkiti seluruh tubuh Maniq Mayang. Bilur-bilur bulat kemerahan bermunculan memenuhi permukaan kulitnya. Terutama di bagian wajah, membuat paras cantiknya ternoda. 

 

Setiap malam ia tak pernah lagi pulas terlelap. Jemari lentik  dengan kuku tajamnya terus menggaruk. Meninggalkan parut-parut memerah. Hingga mengalirkan darah. Obat manapun yang diberikan dokter tak mampu menyembuhkan atau sekedar mengurangi penderitaan perempuan muda ini.

 

Sementara pernikahan yang direncakan telah diambang pintu. Namun demi melihat keadaan Maniq, Mahendra malah mengajukan pembatalan pernikahan. Calon istrinya dituding mendapat azab atas suatu dosa besar. Lelaki itu tak mau membawa aib ke dalam keluarganya.

 

Nama besar Keluarga Kartasasmita benar-benar telah tercoreng. Keadaan Maniq Mayang bertambah buruk. Ia kerap berteriak-teriak tanpa sebab. Beberapa kali ia mengacungkan pisau dan hampir melukai diri sendiri.

 

Apip merasa, ini adalah saat yang tepat untuk datang sebagai pahlawan. Dengan langkah tegap dan gagah, ia datang. Lalu berteriak lantang.

 

"Jangan khawatir, Neng Maniq. Kabogoh Akang anu geulis tiada dua. Ada Kang Apip di sini yang siap menikahimu."

 

Maniq Mayang bergegas menemuinya. Tubuhnya hanya berbalut sehelai samping kebat. Sehingga borok yang tersebar di seluruh tubuhnya terlihat jelas. Paras manis yang dahulu menjadi pujaan hampir setiap lelaki. Kini berhias parut-parut bernanah. Aroma tak sedap menguar, tercium tajam meski dari jarak yang lumayan jauh. 

 

Memancing rasa mual lelaki yang mengaku mencintainya tanpa syarat itu. Serta merta Apip menutup hidung, sambil mundur beberapa langkah. Bukan Maniq ini yang ia ingin nikahi. Melainkan  Maniq Mayang, gadis cantik nan sempurna tanpa cela.

 

Tanpa sepatah kata lelaki muda ini berlari menuju rumah Ki Bagja. Menggedor pintu, lalu mendesak agar dukun kampung itu menyembuhkan Maniq. Mencabut teluh merang hileud bulu yang terlanjur dia layangkan untuk Maniq. Tetapi jawaban lelaki tua itu sungguh mengecewakan. Ki Bagja tak dapat menyembuhkan Maniq, ia hanya bisa memindahkan teluh merang itu pada pemberinya.

 

Jawaban yang membuat Apip berpikir hingga tiga, empat kali untuk menarik teluh itu kembali. Dia tak ingin mengalami penderitaan yang sama seperti Maniq. Lelaki ini memilih bersembunyi dari cinta sejatinya.

 

Namun, sosok Maniq Mayang tak henti mengejar ke mana pun Apip berada. Suara lirihnya terdengar setiap saat. Diiringi langkah kaki yang terseret-seret.

 

"Kang Apip … katanya mau nikahin Eneng. Hayu atuh Akang, ini Neng Maniq sudah datang."

 

###

 

*Mojang priangan: Gadis Sunda

*Dupi sakieu cekap?: Apakah ini cukup?

*Gedong: Rumah mewah

*Kabogoh: Kekasih

*Samping kebat: Kain batik panjang

*Teluh merang hileud bulu: Santet ulat bulu

*Kabogoh: Pacar

*Geulis: Cantik

 

#misteriromantis

#aniwijaya0711