Janji di Malam Ketiga

ilustrasi kursi taman

Semenjak aku ditinggal dan dicampakkan oleh lelaki yang sangat kucintai lebih 3 tahun yang lalu sebenarnya aku mulai dingin, membenci dan bahkan menutup hati untuk makhluk yang bernama lelaki. Walau banyak yang mencoba menggodaku, hatiku tetap tertutup.

Sampai kejadian kemarin malam, di taman ini, secara tidak sengaja aku bertemu dengan Mas Dion, lelaki muda yang tidak terlalu tampan wajahnya, tetapi berbadan tegap dan gagah.  Perkenalan singkat selama sekitar setengah jam itu seakan-akan meluluhkan hatiku yang selama itu beku dan dingin. Benih-benih cinta mulai merekah.  Dan malam ini aku merindukan Mas Dion lagi. Aku sudah berjanji untuk menunggunya di taman ini, di kursi yang sama seperti semalam.

Mas Dion sudah berjanji menemuiku selepas matahari tenggelam. Seperti kemarin ketika aku pertama kali berjumpa dengannya. Kemarin, aku melihat seorang pemuda, duduk sendiri di kursi taman. Dia tampak sedang melamun. Aku berjalan di depannya dan kemudian pura-pura terjatuh. Dia segera bangkit dan membantuku berdiri dan kemudian menawarkan sebotol air mineral kecil.  Kami kemudian berkenalan dan mulai saat itu cintaku bersemi.

Jika Mas Dion sedang berbicara, kuperhatikan wajahnya yang walau biasa tapi lumayan manis. Matanya bulat berbinar, bibirnya menawan dihiasi kumis tipis. Alisnya tebal memesona. Dan kalau tersenyum ada sedikit lesung pipit di pipi yang dihiasi sedikit berewok. Kalau tertawa, terlihat deretan giginya yang putih rapi.  Cara  berbicaranya, tegas serta meyakinkan.  Kutaksir usianya sekitar 27 atau 28 tahun.  Pertemuan pertama harus cepat berakhir ketika  ponselnya  berbunyi dan dia harus pergi karena ada janji.

Malam ini, langit cerah tanpa awan. Bulan mendekati purnama menerangi malam dan bintang gemintang bertebaran seakan-akan mau menjadi saksi pertemuanku yang kedua dengan Mas Dion. Aku duduk sambil merapikan riasan wajah di kursi yang sama. Tepat di sudut taman yang tidak terlalu ramai orang lewat.

Hera, malam ini kamu cantik sekali,” Mas Dion langsung merayu sambil memberikan seikat bunga mawar merah. Aku pura-pura terkejut walau sebenarnya sudah melihat dari kejauhan langkah kakinya yang mantap berderap. Aduh romantisnya lelaki ini.

Mas Dion kemudian duduk di sampingku. Tanpa ditanya, dia kemudian banyak bercerita tentang pekerjaannya sebagai pelaut. Dia bekerja di kapal pesiar dan selama empat tahun ini sudah banyak negeri dan benua yang dikunjunginya. Dia bercerita tentang berlayar di Laut Karibia dan kemudian melintas di Terusan Panama. Bagaimana kapal itu naik turun menyesuaikan level permukaan air yang berbeda di Esclusa de Miraflores di dekat Kota Panama. 

Singkatnya, mendengar cerita Mas Dion di malam kedua, aku bagaikan ikut keliling dunia naik kapal pesiar tempat dia bekerja.  Rupanya dia sekarang sedang cuti pulang kampung ke tanah air selama dua bulan. Selepas cuti ini dia akan berlayar lagi ke Alaska.

Malam kedua ini, aku makin dekat dengan Mas Dion, sambil bercerita dia menggenggam tanganku dengan erat. Rasa hangat mengalir ke tubuhku. Jantungku berdegup makin kencang, kupandang wajahnya yang kini sangat dekat dengan wajahku. Ingin rasanya malam ini tidak pernah berakhir. Ingin rasanya malam ini tidak pernah berakhir. Betapa bahagia berada begitu dekat dengannya.

Tetapi dering ponsel membuat dia kembali harus pamit dengan janji bertemu lagi esok malam di tempat yang sama. Sambil pamit Mas Dion berkata:

“Hera, besok malam giliran kamu yang bercerita!”

Malam ini, aku sudah menunggu di tempat yang sama. Sebelumnya aku sudah berdandan wangi dan memakai gaun tercantik yang kupunya. Gaun putih panjang nan menawan. Rambut panjangku dibiarkan terurai dan sekuntum melati ada di telinga kananku. 

Langit juga tidak kalah cerahnya dengan rembulan yang makin besar walau belum sempurna purnama. Aku duduk di kursi yang sama di pojok taman.  Menanti kekasih pujaan hati, sambil mencoba mencari frasa terbaik untuk bercerita tentang diriku.

Malam ini, Mas Dion muncul sama gagahnya, memakai kaus warna hitam dengan celana jin ketat yang serasi. Di tangannya ada seikat bunga lili warna ungu dengan rona putih. Dengan elegan, dia mencium tanganku sebelum duduk di sampingku sambil mengulang rayuan betapa cantik diriku.

“Cantik, ceritakanlah tentang dirimu,” pinta Mas Dion dengan suaranya yang mendayu.

Kemudian aku mulai bercerita tentang diriku. Aku anak bungsu dua bersaudara. Kakak perempuanku sudah menikah dan ayahku sudah meninggal dunia empat tahun lalu. Aku hanya lulusan SMA, tinggal berdua saja dengan ibu.

“Mas Dion, maukah kamu berjanji akan tetap sayang padaku kalau aku jujur bercerita tentang siapa diriku sebenarnya?” Sebelum melanjutkan kisah, aku sempatkan bertanya padanya. Aku takut dia tidak mau lagi menemuiku di malam-malam berikutnya.

Aku merebahkan kepalaku di dada  bidang Mas Dion sambil melanjutkan kisah. Sambil bercerita, dengan diam-diam kuambil ponsel Mas Dion, dan kumatikan.  Dan kisah kulanjutkan sambil memeluk tubuhnya makin erat. Aku takut kehilangan dirinya.

Aku bekerja di sebuah pasar swalayan di mal tepat di seberang taman ini. Aku gadis yang cantik dan lugu baru berusia 19 tahun ketika berkenalan dengan seorang lelaki yang berusia sekitar 28 tahunan.  Aku memanggilnya Mas Bambang. Dia tampak jauh lebih dewasa dibanding diriku. Dia bekerja di sebuah bank swasta di mal yang sama dengan tempat bekerjaku.

Singkatnya kami mulai pacaran setahun setelah aku bekerja di swalayan itu. Hubunganku kian dekat dengan Mas Bambang. 

Aku berhenti sejenak. Mas Dion tetap mendengarkan dengan setia. Tangannya memelukku kian erat. Kisah terus berlanjut.  Dua tahun berpacaran, aku sudah menyerahkan diriku pada Mas Bambang sampai akhirnya aku hamil. Mas Bambang kemudian menghilang.

Mas Dion kaget, namun dia makin mempererat pelukannya. Dan sambil terisak aku melanjutkan kisah tragis hidupku.  Kudekatkan wajahku ke wajah Mas Dion. Makin dekat dan kian dekat, sambil berbisik:

“Mas Dion, aku tidak mau kamu juga akan meninggalkanku.”

Aku dan Mas Dion bergandengan tangan mesra, meninggalkan taman.  Kami berdua tidak akan berpisah lagi untuk selamanya. Tidak akan ada lagi lelaki yang mencampakkan diriku setelah mereguk kesucianku seperti Mas Bambang dulu. 

Esok pagi, selepas subuh, tukang sapu taman menemukan tubuh mas Dion meninggal dingin di kursi taman. 

14 Maret 2021

#Misteriromantis