Recasedae

Image source: Gantz Wiki Fandom

 Alam menyongsong kehebatan fajar. Tatkala angkasa gelita ternodai sinar biram, langit tercemari burung-burung hitam, Bayangan pun memelopori pekerjaan muram.

Kerat demi kerat mengontaminasi lingkungan suara, rupa-rupanya diciptakan dari kegiatan di pekarangan suatu rumah, oleh tusukan yang menembus gumpal liat kecokelatan, menyebabkan cabikan melimpah jadi menyerak halaman. Pelaku utama dari semua ini tak lain tak bukan ialah Bayangan, anasir masyarakat kompleks perumahan nan tak pernah angkat tangan melangsungkan pekerjaannya. 

Apa yang Bayangan lakukan? Bukan sesuatu nan penting. Sekadar mengerat, menusuk, dan mencabik tanah lempung.

Bayangan amat gigih, tak kenal berhenti. Jangankan bagi hari ini, kemarin dan kemarinnya lagi, Bayangan terus-menerus berada di pekarangan, bekerja siang-malam. Bahkan para tetangga dan orang sekitar sudah menyuruhnya menyerah, tetapi Bayangan berpantang. Entah sudah berapa lama di sana, yang jelas Bayangan tetap berkukuh.

Sebelum lanjut pekerjaan, Bayangan merehat sejenak. Tak lama waktu berlalu, mentari pagi telah terbit, mencorong hutan serta rumah-rumah. Bayangan masih di pekarangannya, melanjutkan pekerjaan dengan semangat yang berkobar. Entah apa Bayangan berkehendak, yang jelas tekadnya begitu bulat. Tampaknya hasil akan segera terlihat, pekerjaan hampir beres.

Siangnya, masa matahari terik bersinar, Bayangan telah menyelesaikan karyanya. Berupa Patung dari tanah liat, yang memiliki figur tertentu.

Bayangan masih terengah-engah, mengatur pernapasan. Monolog yang terdengar dari suara Bayangan mengatakan, "Mari kita berteman." 

Akan tetapi, Patung menolak, menggeleng seraya tersenyum, lalu tangan tanahnya menunjuk ke arah langit. Di sana, elang putih terbang perlahan memotong tiupan angin, merentangkan sayap dengan tenang, tetapi waspada. Tatkala mangsa telah tertangkap mata, elang itu menukik ke bawah, dalam hitungan detik berhasil mencengkeram makhluk siap makan.

Bayangan mengedikkan kedua bahu, tak mengerti. Bayangan kemudian meluruskan tangan Patung yang awalnya menyilang, menarik dan mengajaknya ke dalam rumah. Di kamar Bayangan, Patung didandani sedemikian rupa sehingga elok lagi bagus, juga dipasangkan gaun biru langit yang terlihat amat cocok dia kenakan.

Setelah itu, Patung dibawa Bayangan ke ruang tengah, makan-makan bersama berupa hidangan ala restoran yang luar biasa mewah. Puas mengisi perut, Bayangan mengajak Patung keluar, ikut berdarmawisata ke taman hiburan. Di sana, mereka menaiki berbagai wahana mengasyikkan, kemudian menyantap hidangan kuliner khas daerah, berikutnya berduaan bersama sampai senja, menyaksikan tenggelamnya matahari di tebing dekat pantai.

Bayangan berlutut, menyematkan cincin rubi ke jari manis Patung. Mendapat kejutan seperti itu, Patung menangis, mengalirkan lempung cair dari kedua sudut netranya. Bayangan mengusap anak sungai yang terbentuk, lalu menggeleng perlahan, menempelkan ujung jari ke mulut Patung. Patung mengangguk paham, menggenggam kedua lengan Bayangan, lantas mengapitnya erat. Keduanya pun berciuman.

Setelah momen bahagia tersebut, sebuah kapal terlihat berlabuh di dermaga, saat Bayangan dan Patung menanti di tebing sembari diterpa semilir malam. Bunyi klakson kapal memecah kesenyapan, lalu muka pun mencium pesisir. Bayangan membawa Patung turun menuju pantai.

Sesampainya di kapal, Bayangan meletakkan Patung yang telah kaku ke dalam kabin, bersama barang-barang lain yang telah ada di dalam sana. Bayangan pula melempar lembar-lembar foto keduanya siang lampau, lalu pakaian cadangan sebanyak dua set, dan kotak cincin yang terbuka. Beres, Bayangan menutup pintu, menuju ruangan lain.

Bayangan berbicara sejenang dengan awak kapal, kemudian merasa senang ketika si lawan bicara membawa sebuah kotak yang mengandung sesuatu. Sejurus, Bayangan berlari keluar seraya membawa isi kotak tersebut, yakni patung wanita yang dilapisi pernis hingga mengilap cantik. 

Bayangan pulang ke rumahnya, menuju bilik sempit yang terletak di pekarangan belakang. Seusai membuka pintu, Bayangan menyalakan lampu ruangan.

Tersibaklah sejumlah patung wanita cantik yang telah dihias dan diperindah hingga menarik pandangan, tertata rapi memenuhi ruang. Bayangan termanifestasi wujud merah, kemudian meletakkan patung yang dia bawa ke tempat kosong, membenarkan posisi hingga tampak sejajar antara patung satu dengan patung yang lain. Bayangan mengeluarkan seringaian semringah. 

Setelah itu, lampu dimatikan. Gelap saja terlihat, pintu membuka, pintu menutup. Kemudian, suara gaduh terdengar dari pekarangan: kerat, tusukan, cabikan.

#misteriromantis

###

Catatan: Recasedae berasal dari anagram Patung (reca) + Bayangan (shadow)

Kudus, 13 Maret 2021