Tangisan Tengah Malam

Pixabay/Artie_Navarre

Wajah langit malam terlihat manis sekaligus sendu saat purnama seperti ini. Terlebih diiringi oleh desau angin dan suara serangga malam. Di atas hamparan sawah tampak beberapa kunang-kunang hinggap di daun-daun dan beberapa lainnya terbang di atas kali kecil di sisinya.

Tak jauh dari situ, Sarmini  tengah duduk di depan gubuk kayunya, menatapi langit. Janda tua itu hidup sebatang kara di sisa-sisa usia senja. Suami pertamanya meninggal setahun setelah menikah dengannya. Lalu suami kedua meninggal dua tahun setelah menikahinya. Tak jarang ada beberapa warga sekitar menyebutnya sebagai perempuan pembawa sial. Setelah itu dia memutuskan untuk tak menikah lagi hingga sekarang. Kadangkala ia berandai-andai memiliki seorang putri agar bisa menemani sisa hidupnya. Sayangnya dari dua pernikahan itu dia tidak mempunyai seorang anak pun.

Tetes bening tanpa tersadar menggerimis di pipi Sarmini sembari membayangkan hidupnya yang sebatang kara dan kesepian. Beberapa waktu kemudian dia sedikit terkejut dengan suara tangis yang samar didengarnya.

Sarmini lalu mengedarkan pandangan mencari ke sumber suara di sebuah sawah belakang rumahnya. Matanya dapat menangkap ada seorang perempuan berambut panjang, duduk di rerumputan sebelah persawahan, mengenakan pakaian putih dan wajahnya menunduk.

Sarmini mengetahui bahwa yang ia lihat bukanlah manusia, hidungnya dapat mengendus bebauan bunga melati dan aroma pandan. Hanya saja janda tua itu tidak takut dengan hantu atau setan atau apapun itu. Di usia tua sepertinya, dia tidak takut apapun, justru dalam benak terbesit keinginan untuk berbincang dengan hantu perempuan yang dilihatnya.

"Kamu kenapa, Nduk?" Akhirnya Sarmini memutuskan untuk bertanya untuk menjawab rasa penasaran dalam kepalanya.

Hantu perempuan itu menghentikan tangis, lalu menoleh dan menatap tubuh Sarmini dari ujung rambut hingga ujung kaki. 

"Tidak apa-apa. Aku hanya selalu melakukan ini tiap malam," hantu perempuan itu menyadari perempuan tua yang mengajak bicara tidak takut dengannya.

"Tiap malam?" tanya Sarmini.

"Iya tiap malam. Sejak sekitar empat puluh tahun lalu. Hanya saja baru kali ini aku menangis di dekat sawah ini."

"Apakah dulunya kamu adalah manusia?" Sarmini semakin ingin mengetahui banyak hal tentang sosok di hadapannya.

"Entahlah."

"Maksudnya?"

"Aku jadi begini karena ibuku menggugurkanku dari perutnya, jadi aku tak tahu aku tergolong pernah jadi manusia atau tidak." Terdengar kembali isak tangis kecil darinya.

"Bukankah harusnya kamu sudah bisa tenang di alam akhirat?"

"Kau tidak tahu ya, untuk memasuki pintu alam sana aku harus menyebutkan namaku kepada malaikat penjaga. Sementara nama saja aku tidak punya. Aku pun tidak dikubur, hanya dibuang di kali dengan kantong plastik empat puluh tahun yang lalu."

Hantu perempuan itu menangis lebih keras. Sarmini terhenyak, ia ingat kejadian empat puluh tahun lalu. 
.
***

"Lebih baik kamu gugurkan saja janin di perutmu itu," bentak lelaki berperawakan tinggi besar.

"Tapi Mas, kamu kan dulu berjanji ingin menikahiku kalau aku hamil karena peristiwa di rumah kosong malam itu," desak si perempuan.

"Iya, tapi tidak sekarang. Aku belum selesai kuliah. Lagipula apa kata orang-orang kalau tahu anak kepala desa sepertiku menghamili perempuan, bisa rusak nama bapakku," seru si laki-laki.

Lalu suasana menjadi hening, dan tangis mulai deras di mata si perempuan. Si laki-laki matanya merah penuh emosi. 
Malam itu juga mereka ke dukun bayi untuk menggugurkan janin di perut si perempuan. Si perempuan terpaksa menuruti karena tak tahu lagi bagaimana akan merawat seorang anak jika tidak ada laki-laki yang menjadi bapaknya.

Setelah proses menggugurkan kandungan berhasil, si laki-laki membuang janin itu ke sungai bersama dengan dibuangnya harapan kebahagiaan si perempuan. Langit tampak gelap dan penuh petir, hujannya deras. 

***
.
"Apakah kau dibuang di sungai Tlogosari?" tanya Sarmini sambil menahan sesak di dadanya.

Hantu perempuan itu mengangguk. Ia sudah tak menangis, tapi kini Sarmini yang giliran menangis. Sarmini terisak cukup lama.
 
"Kau bilang kau tak punya nama kan?" tanya Sarmini. Hantu perempuan itu mengangguk. 

"Kalau begitu bagaimana kalau kamu kuberi nama Kinasih?" ujar Sarmini lagi.

Hantu perempuan itu tersenyum, mengangguk. Sarmini memeluknya. 

"Kamu mau tinggal denganku di gubuk itu? Menemaniku menghabiskan usia, Kinasih?"

Kinasih tak menjawab, diam beberapa saat, lalu raib bersama dengan tiupan angin setelah sempat tersenyum kecil.

 

*****

#misteriromantis