Tragedi Tanjakan Cae dan Misteri Gunung Cakrabuana

Ilustrasi/Ist

Sebanyak 27 orang dari total 63 penumpang dipastikan tewas dalam kecelakaan maut bus pariwisata yang terjun ke jurang di Tanjakan Cae, Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (10/3/2021) pukul 18.30 WIB

Bus yang mengangkut rombongan SMP IT Al Muaa'Wanah Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang setelah melakukan ziarah di Pamijahan Tasikmalaya. Bus bernomor polisi T 7591 TB itu melaju dari arah Pamijahan menuju Wado di mana jalannya menurun.

Tanjakan Cae dikenal sebagai jalur maut karena rawan kecelakaan.

"Tanjakan Cae yang ada di kaki Gunung Cakrabuana merupakan kawasan rawan kecelakaan lalu lintas," ujar Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

Dony juga mengungkapkan, selain jalannya yang terjal, tanjakan itu juga minim penerangan di malam hari. Lantaran itu, dia mengatakan, setiap kendaraan yang lewat di Tanjakan Cae harus berhati-hati.

Saat ini penyebab kecelakaan tengah diselidiki pihak kepolisian dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Secara supramitik, keangkeran Tanjakan Cae bukan hanya karena faktor alam, namun juga adanya pengaruh gaib dari Gunung Cakrabuana.

Gunung setinggi 1721 mdpl itu berbatasan langsung dengan 5 kabupaten yakni Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Majalengka dan Ciamis.

Di Gunung Cakrabuana terdapat makom Prabu Wasesa dan petilasan Pangeran Cakrabuana yang sering dikunjungi para peziarah pengalab berkah maupun yang ingin mendapat kanaikan pangkat dan derajat.

Siapakah Prabu Wasesa? Nama aslinya Prabu Hajiguna Wisesa yang menjadi Kerajaan Sunda Kawali tahun 1333 – 1340. Prabu Wisesa merupakan menantu Prabu Lingga Dewata

Nama Kawali dibadikan dalam dua buah prasasti dari batu yang kini tersimpan di Astana Gede, Ciamis. Dalam prasasti itu tertulis "Mangadeg di Kuta Kawali" atau Bertahta di Kota Kawali di mana keratonnya disebut Surawisesa yang memiliki makna “Dalem Sipawindu Hurip" atau keraton yang memberikan ketenangan hidup.

Artinya, makom yang ada di Gunung Cakrabuana bukan Prabu Surawisesa yang pernah menjadi raja Pajajaran. Surawisesa yang bertahta di Pakuan (kini Bogor) adalah putra Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dari pernikahan dengan Mayang Sunda.  

Sedang Pangeran Cakrabuana adalah nama julukan pendiri Cirebon yakni Walangsungsang atau Mbah Kuwu Sangkan. Dijuluki Cakrabuana karena pernah mengemban jabatan Pangraksabumi di padukuhan Caruban. Cakrabuana berarti orang yang bertugas menjaga bumi.

Pangeran Cakrabuana  juga merupakan anak Prabu Siliwangi dari istri kedua yang bernama Subang Larang. Pangeran Cakrabuana memiliki adik perempuan bernama Rarasantang dan adik laki-laki bernama Raja Sengara alias Kian Santang.

Sejak dahulu, Gunung Cakrabuana atau Gunung Sanghyang Gelung sudah dikeramatkan oleh penduduk setempat. Banyak mistis yang menyelimuti keangkerannya. Salah satunya adalah harimau jadi-jadian. Banyak pendaki gunung yang selalu dingatkan untuk tidak berkemah sembarang tempat.

Keangkeran lain yang masih dipercaya adalah kemunculan kakek bungkuk dengan tongkat hitam. Meski terlihat sudah sangat tua dan jalannya membungkuk, namun jika diganggu akan menjelma menjadi sosok tinggi besar dengan taring tajam. Badannya dipenuhi tebal berwarna hitam kemerahan, termasuk di wajahnya.

Kemarahan kakek bungkuk baru reda setelah pelaku meminta maaf dan membatalkan perndakiannya. Jika tidak, maka akan menemui kendala dalam pendakian.

Wallahu alam bissawab