Maaf Untuk Ayah

Gambar ayah dan anak : suara.com

 

Terlihat seorang lelaki jangkung tengah berdiri di tengah temaram malam. Tangannya dipegang kuat oleh dua orang bertubuh besar. Tepat di depan lelaki jangkung itu telah berdiri seseorang yang dengan cepat menggerakkan sebilah pisau menghantam tubuh sang lelaki. Terlihat dia terjungkal. Ketiga orang itu meninggalkannya begitu saja.

"Pak, minta tolong berhenti ya!" Pintaku pada sopir taksi yang kutumpangi.

Ku hampiri lelaki itu. Terlihat darah segar mengucur tepat di bagian perut. Wajahnya memar, bibirnya berdarah. Matanya telah menutup sempurna. Wajahnya terasa tidak asing. Dia adalah orang yang sama dengan lelaki yang dua tahun lalu sering kutemui. 

Aku mengantarnya ke rumah sakit terdekat, ia terlihat begitu lemah. Tubuhnya terkulai tak berdaya ketika tempat tidur beroda itu membawanya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Pantas saja mata ini sudah mulai berat. Sebelum meninggalkannya sendiri, aku memberitahukan apa yang terjadi pada lelaki itu pada teman-teman yang ku tahu juga mengenalnya. Setelah mengurus semua, aku bergegas pulang. Setelah kabar yang menimpa lelaki bernama Rado itu tersebar, ponselku tidak berhenti bergetar. Semua orang yang mengenalnya membicarakan atas apa yang terjadi. 

Sebenarnya Ini bukan kali pertama aku melihat kejadian buruk menimpa mas Rado. Bahkan sejak masih di organisasi yang sama. Dia sering sekali terlibat adu mulut atau bahkan terlibat perkelahian ringan karena perbedaan sudut pandang. Namun kurasa ini yang paling parah menimpanya. Laki-laki jangkung itu memang terkenal arogan dan idealis. Namun sering aku melihatnya bertindak reaktif, karena tidak berfikir panjang. Sosoknya dikenal sebagai sosok arogan dan egois. Besok aku dan teman-teman berniat untuk kembali mendatanginya. Sekalian reunian, mengingat semenjak sibuk dengan urusan masing-masing, kami sudah jarang berkumpul.

***

Di tengah dinginnya pagi, aku sudah ada di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Aku masih tidak berniat beranjak, mengingat belum satupun mereka yang kusebut teman datang. Padahal sudah lebih dari setengah jam aku menunggu. 

"Maaf ya menunggu lama," Sapa sintia dengan masih menahan napasnya.

Sambil menyodorkan kursi aku menjawabnya dengan nada rendah, "nggak masalah Sin."

Setelah melepas rindu dengan saling bertukar kabar. Kami membicarakan tentang kejadian yang menimpa mas Rado. Ada kabar yang beredar bahwa orang yang menjadikan mas Rado seperti itu adalah ayahnya sendiri. Penyebabnya adalah perbedaan sudut pandang. Memang hubungan lelaki itu dengan ayahnya tidak pernah baik. Ada jurang dalam yang memisahkan keduanya. 

Hal itu terjadi karena sebuah cerita masa lalu. Mas Rado merasa ayahnya adalah orang paling arogan. Orang yang dia sebut ayah itu telah berhasil menjadikan hidupnya kelam. Ibunya pergi bersama seorang adik perempuan karena arogansi ayah yang disebutnya tidak pernah bisa jadi panutan. 

Aku masih mengingat, dulu dia seringkali tidur di tempat sembarangan. Bahkan sering tidur di tempat yang sebenarnya tidak layak untuk ditiduri. Hanya karena tidak ingin bertemu ayahnya. Lukanya bertambah dalam ketika sang ayah bilang akan hidup bersama wanita lain. Wajar saja dia menjadi sosok arogan. Karena ada kebencian yang terus dia pendam. Itulah kehidupan, kadang pahitnya cerita mampu menjadikan manusia arogan dan mati rasa. Tidak mampu menundukkan ego dan tidak mampu memaafkan.

Setelah kami berkumpul, tibalah kami di sebuah ruangan bercat putih. Kulihat mas Rado terbaring dengan lemahnya. Padahal selama ini aku tak pernah melihatnya selemah ini. Hari ini aku sadar seorang Rado Prawira bisa juga dalam kondisi seperti ini. Maka sekuat-kuatnya makhluk bernama manusia, adakalanya dia akan jatuh juga. 

Namun kondisi mas Rado yang sekarang bukan hanya karena kesalahannya. Dia hanyalah korban derita kehidupan akibat kesalahan sudut pandang. Kondisi itu menjadikannya tidak mampu menundukkan ego. Terus berkemelut dengan dendam yang terus dijaga baranya. Hingga dia sendiri tidak sadar bahwa itu telah menjadikannya seperti manusia tanpa hati, sama seperti ayahnya. 

Selama kami ada di ruangan itu tidak pernah sekalipun mas Rado membuka matanya. Bahkan tidak ada seorangpun yang menunggunya. Sampai akhirnya kami hanya mendoakan dan kemudian beranjak pulang. Namun sebelumnya, aku selipkan sebuah buku berwarna hitam di dekat tangannya. Aku sengaja membawanya agar jadi pelipur hati seorang Rado. Isi buku itu juga telah mengeluarkanku dari derita karena tidak mampu memaafkan. Bukankah tidak memaafkan hanya akan jadi luka bagi pelakunya. Bukan bagi yang tidak dimaafkan. Bukankah yang berjiwa besar adalah dia yang mau memaafkan kesalahan. Sungguh  maaf itu lebih baik dari pada belenggu kekecewaan yang terus dipendam.

***

Setelah kondisinya membaik, dia mengirimiku sebuah pesan panjang. Pesan itu diawali tentang cerita seperti apa ibunya. Ia bercerita selama ini terus dan terus menyalahkan ayahnya. Namun setelah ia membaca buku hitam itu, ada satu pembahasan yang menyentuh hatinya. 

Terkutip pada halaman terakhir, "memaafkan bukan hanya tentang kata aku memaafkanmu. Tapi dia adalah kebesaran jiwa dari seorang manusia. Memaafkan buakanlah perkara yang mudah. Karena itu masalah ego dan hati. Bukankah itu musuh terbesar bagi seorang manusia ? Ya, dibutuhkan kerelaan hati agar bisa berdamai dengan pahitnya masa lalu. Bagaimanapun juga dan dengan alasan apapun seseorang yang membebaskan egonya karena pahitnya cerita, tentu bukan perkara bijak. Dia hanya akan memberi luka kepada dirinya. Kepada hati dan egonya. Maka beranilah memaafkan sepahit apapun ceritamu. Memaafkan adalah langkah awal untuk berdamai dengan masa lalu. Anggaplah semua kepedihan dan cerita kelam adalah kesalahan masa lalu yang ingin ditinggalkan. sebagai pelajaran dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan. Maka, ketika kamu berhasil melakukannya, berbanggalah. Karena berhasil melawan musuh terbesar, yaitu egomu."

Ia mulai merasa lega dan berusaha memaafkan. Karena ia sadar perasaannya selama ini hanya akan membuat luka terus menganga. Dan itu sangat menyakitkan baginya. Saat dia mulai bisa memaafkan, dia mulai mengingat bahwa bukan hanya ayahnya yang arogan. Tapi kedua orang tuanya. Pernah suatu ketika ia lihat ayahnya selalu menunggu kepulangan ibunya, bukan sebaliknya. Sering juga tidak ada siapapun orang di rumah kecuali ia dan adiknya. Seringkali ia mendengar percekcokan dan adu mulut karena perbedaan sudut pandang. Bahkan dari pesannya dia berterimakasih padaku karena telah membukakan matanya. Dan dia menyadari bahwa pembenci tak lebih baik dari yang dibenci.