Wanampase

canva free

"Wanampase! Wanampase!" teriak dua remaja tanggung sambil berlari terbirit-birit keluar hutan. Satu orang temannya di belakang mengejar dengan susah payah. Tubuh tambunnya membuat dia kesusahan mengatur napas.

"Ada apa kalian lari terbirit-birit seperti dikejar setan?" tanya seorang penduduk desa yang rumahnya berada paling dekat ke arah hutan. Di ujung Desa Hoaulu, Pulau Seram.

"Wanampase!" teriak remaja berambut ikal. Tubuhnya setengah membungkuk, tangannya memegang dada. Mencoba mengatur oksigen yang sedari tadi berebut keluar masuk paru-parunya.

"Sudah tahu mau Magrib, masih juga pergi ke hutan. Ceroboh!" gerutu penduduk desa itu. Dia memanggil istrinya untuk membawakan air minum bagi ketiga remaja bermuka pucat ini.

"Kalian ada perlu apa masuk hutan? Jangan bilang mau uji nyali! Tidak ingat beberapa bulan lalu teman kalian mati karena dilihat wanampase, hah?"

Ketiga remaja itu menunduk ketakutan. Mereka memang sedang bertaruh. Beberapa bulan lalu temannya meninggal tiba-tiba setelah keluar dari hutan. Bisik-bisik terdengar kalau dia bertemu wanampase. Sialnya, bukan dia yang melihat wanampase tapi wanampase yang melihatnya dulu. Akibatnya dia meninggal karena rohnya sudah dimakan makhluk itu.

"Kami mau membuktikan cerita wanampase itu. Kata dokter teman kami meninggal karena serangan jantung."

"Jadi, sudah kau buktikan di hutan tadi? Kau lihat ada kambing atau sapi di sana?" Penduduk desa setengah abad itu terlihat geram. Bukan sekali hal ini terjadi. Anak remaja sok-sokan uji nyali untuk melihat wanampase.

Ketiga remaja tadi menggeleng. Salah satunya yang bertubuh besar angkat bicara.

"Kami hanya mencium bau anyir. Seperti ada pasar ikan tak kelihatan di hutan sana."

Penduduk desa menghela napas. Seperti itulah tanda keberadaan wanampase. Akan tercium bau anyir yang sangat menyengat. Seperti anyir darah atau anyir ikan yang jumlahnya sangat banyak. Membuat mual dan ingin muntah. Ketika kita sedang sibuk mengatasi rasa mual itu, tanpa disadari wanampase sudah berada di sekitar kita. Setan berwujud kambing atau sapi itu tidak akan berbahaya jika kita yang melihatnya duluan. Sebaliknya, jika setan itu yang memergoki kita duluan, maka celaka yang akan kita dapatkan.

Kematian.

Kematian tiba-tiba dan tanpa sebab. Rata-rata diagnosa medis hanya bilang serangan jantung untuk menjelaskan penyebab kematian tersebut. Bagaimana tidak serangan jantung, jika kita kepergok wanampase? Roh kita sudah dimakan dan diambilnya. Meninggalkan ketakutan dan gigil ke tulang-tulang karena selalu membayangkan setan satu itu.

"Kalian pulanglah. Ambil wudu dan salat. Jangan pernah ke hutan lagi kalau tidak benar-benar perlu. Jadikan pelajaran. Anggap kali ini kalian beruntung karena tidak dilihat wanampase. Ingat itu!" kata orang tua itu sambil duduk di kursi bambu miliknya.

Sepeninggal ketiga remaja tadi, orang tua itu memandang jauh hingga ke pinggir hutan. Seolah ada seseorang yang sedang menatapnya balik dari balik pepohonan. Kepalanya mengangguk-angguk, seperti memberi pertanda bahwa semua baik-baik saja dan bisa diatasi.

=*=

"Apa kita perlu membunuh tiga anak remaja itu?" tanya salah satu makhluk yang berdiri di tepi hutan. Menatap ke arah tiga remaja yang berlari terbirit-birit menjauhi mereka.

"Tidak perlu. Kita lihat apa Pak Tua bisa diandalkan."

"Kamu terlalu percaya pada manusia. Padahal kamu tahu mereka gampang sekali berkhianat. Jangan sampai rahasia kita terbongkar karena kepercayaan kamu itu."

Makhluk di sebelahnya menoleh, cahaya perak berpendar dari sekujur tubuhnya. Dia sedang memperlihatkan dominansinya. 

"Kamu tidak boleh meragukan kepercayaanku! Sudah ribuan tahun aku di muka bumi dan rahasia ini tetap aman terjaga!" Gelegar suaranya hanya bisa di dengar sesama mereka. Bagi manusia, gelegar itu seperti desauan angin yang puncak-puncak pohon.

"Maafkan aku, aku hanya mengingatkan," katanya sambil menekuk keempat kakinya. Tanduk kambingnya tertunduk, tanda mohon pengampunan. Cahaya biru berpendar dari tubuh makhluk berwujud kambing itu. Biru, kasta terendah dalam kehidupan mereka.

Makhluk yang lebih mulia memadamkan cahayanya. Dia memandang lagi ke arah orang tua yang terlihat sedang menasihati ketiga remaja tadi.

"Kamu tidak salah, manusia memang makhluk pengkhianat dan egois. Lihat saja keruntuhan demi keruntuhan yang terjadi dari abad ke abad. Semua karena keegoisan mereka dan sifat tamak mereka yang tak pernah terpuaskan. Mereka tidak patuh pada pimpinan, selalu ingin merasa di atas dan merasa benar sendiri dengan pendapatnya. Bahkan saat ini, manusia-manusia pintar sedang berlomba-lomba menciptakan cara mengalahkan kematian. Hah, mereka tidak tahu jika benih mereka kita semai di bumi dan sudah di atur hanya bisa hidup sampai puluhan tahun saja? Sombong sekali mereka mau menyaingi kemampuan hidup kita, pencipta mereka."

"Jadi itu alasanmu mempercayakan rahasia kita pada orang tua itu?" tanyanya sambil memandang lelaki yang kini duduk sendirian.

"Manusia butuh ketakutan untuk membuat mereka lebih patuh. Lelaki itu juga. Dia pasti patuh karena masih sayang pada nyawanya dan dia tahu siapa kita. Lagi pula, umur dan daya ingat mereka terbatas. Mereka akan mati sebelum bisa meyakinkan orang tentang kita."

"Kita bisa membunuh orang-orang yang mendekati laboratorium kita. Kita tidak butuh lelaki yang hampir pikun itu."

"Secepatnya harus kita perbaiki sistem pelindung. Jangan sampai manusia sok tahu itu memergoki bangunan aneh di hutan ini. Dan kamu ... bunuh mereka yang sudah melihat laboratorium kita tanpa sengaja. Sisanya biar lelaki tua itu yang bekerja." Pandangannya menangkap kode yang dibuat lelaki tua. 

Mengangguk-angguk, tanda masalah bisa teratasi tanpa harus ada kematian.

Tugas kedua makhluk bercahaya itu di bumi masih lama sebelum bisa pulang ke galaksi mereka nun jauh di angkasa sana. Bumi adalah tempat mereka bereksperimen dan menumbuhkan satu ras yang disebut manusia. Karena kecanggihan teknologi, kehidupan di galaksi mereka sangat membosankan. Sehingga setiap koloni yang terdiri dari beberpa makhluk, mencari planet-planet untuk mereka jadikan mainan. 

Dan mereka menjadi Tuhan bagi penghuni planet itu.

-Batam, 080321-

#sciencefiction