Over Lucky Liquid

Sumber Gambar: Pixabay.com

 

Terik matahari mulai tak bersahabat, tetapi Sandi masih gigih mencari kediaman lelaki yang dirumorkan memiliki larutan khusus untuk menjadikan seseorang cepat kaya. Sandi tergiur setelah mendengar perbincangan warga sekitar rumahnya kemarin sore. Kabarnya, lelaki itu tinggal di Desa Lorkali sehingga hari ini dia memutuskan pergi ke sana untuk menemuinya.

Setelah berulang kali kesasar, akhirnya Sandi bisa memarkirkan motornya di depan rumah bercat cokelat tua. Lelaki bertubuh kurus itu yakin bahwa dia tidak salah rumah. Kata Pak Nagor—tetangganya, rumah lelaki hebat itu memang berwarna cokelat tua dan di sekelilingnya dihiasi berbagai jenis tanaman bunga.

“Permisi, apa ada orang di dalam?” tanyanya sembari merapikan rambut yang sedikit acak-acakan setelah melepas helm.

Tidak lama kemudian seorang lelaki berpakaian serba putih keluar. Dia bergeming di ambang pintu sembari menatap Sandi dengan raut wajah menilai. Lelaki itu menggunakan kacamata bulat sehingga hidungnya yang pesek hampir saja tidak terlihat. Wajah lelaki yang digosipkan hebat itu ternyata tak berkarisma sama sekali. Sebaliknya, kedua sisi pipi dan dagu lelaki itu malah ditumbuhi rambut-rambut kecil yang cukup lebat. Padahal, Sandi yakin usia pemilik rumah itu masih jauh di bawahnya.

“Mengapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan nada rendah. Sangat berbeda dengan penampilannya yang menyeramkan, suara lelaki itu justru terdengar berwibawa. “Silakan masuk,” ajaknya.

Sandi tidak banyak bicara saat itu. Dia hanya menyelisik keadaan sekitar. Rumah yang tidak seberapa luas itu memiliki banyak perabotan yang terbuat dari kayu. Hiasan-hiasan berukuran kecil yang tergantung pada dinding juga merupakan hasil pahatan. Dengan warna yang senada seperti dindingnya, kediaman lelaki berjas putih itu menawarkan nuansa klasik. Sandi senang bisa berada di dalam rumah yang indah itu.

“Silakan duduk!” perintahnya sembari membimbing Sandi untuk duduk di sofa berwarna navy. “Saya Anggara, ada yang bisa dibantu?”

Sandi sedikit gelagapan karena kepergok sedang mengamati seisi rumah Anggara. “Saya sebenarnya ingin meminta bantuan Mas Anggara,” jawabnya tanpa keragu-raguan.

“Apa yang bisa saya bantu untuk Bapak?”

Sandi tampak memutar bola matanya untuk memikirkan kalimat yang paling tepat. Kemudian dia berkata, “Saya dengar Mas Anggara memiliki larutan yang bisa menjadikan seseorang cepat kaya. Jadi apakah rumor itu benar adanya?” Dengan kepala sedikit tertunduk Sandi mengungkapkan apa yang sudah dia dengar dari tetangganya.

Anggara tersenyum simpul, lalu dia menuangkan air putih pada gelas yang sudah terletak di hadapan Sandi. “Sambil diminum dulu, Pak!”

Sandi yang memang ingin mendapatkan larutan yang digadang-gadangkan bisa membawa keberuntungan itu pun menurut. Dia meneguk habis air putih di hadapannya itu tanpa megalihkan tatapannya dari Anggara. Mereka berdua terlibat adu pandang dalam beberapa menit sebelum akhirnya Anggara beranjak menuju ruangan yang pada bagian pintunya terdapat pahatan kayu berisi tulisan ‘Laboratorium’.

Kurang lebih sepuluh menit Anggara berada dalam ruangan itu dan meninggalkan Sandi seorang diri di ruang tamu dengan dada berdebar.

“Apakah saya mengganggumu, Mas?” tanyanya setelah Anggara keluar dari ruangan itu.

Lelaki berkacamata itu menggeleng. “Saya tadi membuat larutan ini,” tuturnya sembari menyodorkan sebotol kecil larutan berwarna biru muda kepada Sandi. Aroma larutan itu berbau menyengat dan sedikit amis. Entah apa saja komposisi yang Anggara berikan untuk mendapatkan larutan tersebut. Sandi bahkan tidak ingin tahu lebih jauh lagi.

“Ini larutan untuk apa?” tanyanya polos.

Anggara kembali duduk di sofa, lalu dia berusaha menjelaskan pelan-pelan. “Saya sudah melakukan percobaan sebanyak puluhan kali pada larutan lucky liquid ini kepada hewan-hewan yang sudah mati.”

“Maksudanya bagaimana?”

Sandi tersenyum. “Saya sudah menyuntikkan larutan ini pada mayat tikus dalam percobaan pertama, dan hasilnya tikus itu hidup kembali. Saya pun kembali mencobanya dengan menggunakan mayat kelinci, dan hasilnya kelinci itu bisa hidup lagi. Tetapi saya yakin larutan ini belum sempurna.”

“Lalu kenapa Mas Anggara memberikannya kepada saya bila larutan ini tidak berfungsi?”

Anggara menggeleng. “Dengarkan dulu penjelasan saya, Pak.” Kemudian Anggara mengambil lagi botol kecil dalam genggaman Sandi. “Setelah gagal pada kelinci, saya menggunakan mayat kucing, lalu yang terakhir adalah kepada beberapa ekor mayat anjing. Pada saat menggunakan anjing sebagai percobaan, larutan ini sama sekali tidak memberikan respons. Kemudian saya menambah lagi takarannya dan mencobanya hingga puluhan kali. Hingga akhirnya anjing terakhir yang saya suntik menggunakan larutan ini berhasil hidup.”

“Lalu bagaimana dengan anjing itu?”

“Dia lari setelah saya suntik menggunakan larutan ini, jadi saya tidak tahu apa yang terjadi kepadanya.”

Sandi semakin bingung dengan semua penjelasan itu. “Lantas apa yang bisa Mas Anggara lakukan hingga beredar rumor bahwa Mas Anggara bisa menjadikan orang cepat kaya?”

Anggara tidak merasa terusik sama sekali saat menerima pertanyaan Sandi. “Karena saya bisa membayar berapa pun yang Pak Sandi inginkan asal Bapak bisa memberikan banyak mayat anjing kepada saya untuk bahan percobaan,” jelasnya tanpa ragu-ragu. “Tapi Pak sandi harus ingat satu hal, ini adalah rahasia yang tidak boleh sampai dibocorkan kepada siapa pun kecuali Pak Sandi siap menerima risikonya,” ancamnya.

“Baiklah, saya akan berusaha untuk memenuhi permintaan itu. Tapi, bolehkan saya meminta larutan itu sekarang?” tanyanya sambil menunjuk botol dalam genggaman Anggara.

“Untuk apa?” tanya Anggara ragu-ragu, perasaannya mulai tidak enak.

“Saya ingin menghidupkan istri saya kembali.”

Anggara tampak bingung, dia tidak tahu apakah larutan hasil karyanya itu akan benar-benar membuat orang yang sudah mati bisa hidup kembali atau tidak. Dia bahkan belum sempat mencobanya pada mayat wanita yang dia simpan di dalam lemari pengawet.

Sayangnya sebelum Anggara memberikan keputusan, Sandi sudah berhasil merebut sebotol larutan berwarna biru muda itu kembali. Lantas, dia pun segera lari meninggalkan kediaman Anggara dan mengendarai motornya menjauh dari rumah cokelat tua itu. Anggara bahkan sudah berteriak untuk menghentikan laju motor Sandi, tetapi usahanya gagal. Dia merasa menyesal karena sudah memercayai orang tak dikenal seperti Sandi. Semestinya dia tidak terburu-buru untuk mengutarakan semuanya dan melakukan seleksi ketat untuk memilih agen mayat anjing.

“Bodoh!” umpatnya kesal. Anggara cemas penelitiannya ini bisa terendus pihak berwajib bila Sandi sampai  menyalahgunakan larutan lucky liquid itu.

*****

Dengan perasaan bahagia Sandi berjalan menembus gelapnya malam untuk menggali makam istrinya. Istrinya yang bernama Mira meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat ingin menyelamatkan Sandi dari sebuah truk yang oleng. Akan tetapi nasib baik tidak berpihak, perempuan berambut panjang itu terpental beberapa meter karena tertabrak truk dan dia mengalami luka parah di sekujur tubuh, termasuk di bagian kepalanya. Dan saat itu juga Mira meninggal di tempat kejadian perkara.

Untuk menebus kesalahannya, malam ini Sandi harus menggali makam Mira dan menyuntikkan larutan lucky liquid itu kepada istrinya. Dia yakin bahwa larutan yang sudah dibuat secara khusus oleh Anggara itu akan berhasil menghidupkan mendiang istrinya. Contoh percobaan pada anjing menjadikannya percaya diri bila larutan keberuntungan itu juga akan bekerja dengan baik pada mayat istrinya.

Malam Jumat Kliwon, seperti yang sudah banyak diceritakan oleh moyangnya bahwa hari yang satu ini sangat sakral untuk berurusan dengan makhluk gaib. Sandi tak gentar untuk mengunjungi TPU Sumelir. Dengan berbekal senter bercahaya redup, cangkul dan karung berukuran jumbo, Sandi menggali kuburan Mira yang sudah dipenuhi rerumputan liar. Kemudian setelah berhasil menggalinya, buru-buru Sandi memasukkan mayat Mira yang sudah mengeluarkan bau menyengat itu dalam karung.

Setelah memastikan tidak ada satu pun orang yang melintas, Sandi segera bertolak menuju gubuknya yang berada di tengah kebun miliknya. Dia berniat untuk mengurus mayat Mira di sana agar bau busuk yang keluar dari tubuh istrinya tidak tercium oleh siapa pun. Gubuk itu sudah difasilitasi dengan tenaga surya. Dia tidak perlu mencemaskan soal penerangan di sana.

Dengan susah payah Sandi menggendong karung berisi mayat istrinya yang sudah basah. Lendir berbau menyengat itu terus merembes, begitu juga dengan hewan melata seperti belatung dan cacing yang mulai bergerak-gerak tak sabaran di dalam karung. Kain kafan yang mendiang istrinya kenakan bahkan sudah compang-camping karena Mira memang sudah dimakamkan hampir empat puluh hari.

“Kita akan bersama lagi, Sayang,” ucapnya pada mayat Mira yang masih dibungkus karung.

Setibanya di gubuk, Sandi segera meletakkan Mira di ranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Dia memperlakukan mayat istrinya dengan lembut. Lelaki bertubuh kurus dan berkulit sawo matang itu bahkan mengalihkan rasa takut dan jijiknya sejak menuju pemakaman. Tak ada yang bisa menandingi rasa bahagianya karena bisa segera menghidupkan istri yang sangat dia cintai.

Sambil menatap tulang tengkorak Mira yang berbalut daging sisa-sisa santapan hewan melata tadi, Sandi merogoh kantong celananya. Dia berhasil mengeluarkan satu set jarum suntik dan juga larutan lucky liquid berwarna biru muda.

“Bersiaplah Mira, kamu akan kembali menatap dunia setelah ini,” gumamnya dengan air mata yang mulai meleleh di pipi. “Aku yakin kamu akan kembali cantik seperti dulu, bersabarlah karena aku akan menyuntikkan larutan ini kepadamu.”

Kemudian, Sandi membuka paksa sisa-sisa kain kafan yang masih membungkus tubuh istrinya. Lantas dia segera mencari bagian daging di tubuh Mira yang ukurannya lebih besar daripada yang lainnya.

“Aku akan menyuntikannya di sini,” ucapnya sembari menyentuh sedikit daging di bagian dada Mira. Tanpa ragu Sandi pun segera menyuntikan larutan itu sebanyak satu mili. Dia menunggu reaksi Mira, tetapi mayat istrinya masih bergeming. Kemudian dia kembali meyuntikannya sebanyak dua mili, dan hasilnya masih tetap sama.

Sandi hampir merasa putus asa hingga akhirnya dia menyuntikkan seluruh larutan lucky liquid itu pada segumpal daging di dada Mira. Sudah tentu cairan itu pun tidak diserap dengan baik oleh mayat berbau busuk itu. Larutan lucky liquid bahkan mengaliri tulang belulang Mira yang masih terjangkau oleh tetesannya.

“Ternyata benar-benar tidak berfungsi,” sesal Sandi, lalu dia terduduk lesu di samping mayat istrinya.

Kemudian, tiba-tiba suara lolongan anjing terdengar melengking. Embusan angin terasa lebih dingin daripada biasanya. Kabut tebal bahkan berputar di depan pintu gubuk, dan Sandi tidak bodoh untuk menangkap keganjilan itu. Dia berdiri dan mendapati istrinya sudah duduk menghadapnya.

“Mira, kamu bangun, Sayang?” tanyanya dengan gembira.

Namun perempuan di hadapannya itu sudah berbeda. Tubuh Mira memang kembali seakan-akan larutan itu maha sempurna untuk membentuk seluruh organ manusia yang sudah mati. Akan tetapi, tatapan Mira dan juga bentuk tubuhnya teramat berbeda. Mira yang kini Sandi lihat sangat mirip dengan sosok kuntilanak merah.

Kedua bola mata Mira memancarkan cahaya kemerahan. Wajah Mira yang memang sudah terkoyak saat dia mengembuskan napas terakhir pun kini terlahir kembali dengan keadaan yang sama. Rona wajahnya tak lagi ayu melainkan dipenuhi lendir berwarna merah pekat yang begitu kental. Rambut panjangnya tergerai dengan lelehan darah di beberapa bagiannya. Bau amis dan busuk bercampur hingga membuat Sandi nyaris kehilangan kesadarannya.

“Kamu Mira istriku, kan?” tanya sandi ragu-ragu sembari mengulurkan tangan untuk merengkuh bahu Mira. Akan tetapi hanya dalam satu kali kedipan, tangan Sandi telah berada dalam genggaman Mira. Perempuan berwajah berlubang itu menautkan gigi runcingnya pada tangan kanan Sandi. Dia mengoyak daging suaminya seperti orang kelaparan.

“Hentikan, Mira! Ini aku suamimu,” rengek Sandi di tengah kesakitannya. Sayangnya Mira tidak peduli. Dia hanya memandang Sandi dengan tatapan tajam dan tidak mau menghentikan kunyahannya sampai akhirnya tubuh Sandi dipenuhi oleh lelehan darah segar. “Mira, apa yang kamu lakukan?” tanya Sandi dengan suara parau sebelum akhirnya dia terpejam tanpa sempat mewujudkan impiannya.

Sedangkan Mira yang sudah berubah menjadi sosok mengerikan itu berjalan lambat. Sorot matanya menyala-nyala dan senyumannya dipenuhi dengan ambisi. Saat keluar gubuk, Mira disambut seekor anjing berwarna hitam yang juga memiliki bola mata berwarna merah menyala. Anjing itu menggondol sebelah lengan yang masih terbungkus kain berwarna putih di mulutnya.

 

#sciencefiction