Dua, Dwi dan Eka

https://www.pexels.com/@dima-valkov-1186343

Di usia dua puluh enam, baru Riza ketahui bahwa ia memiliki saudara kembar. Ibu angkatnya berkata di sela bincang sore mereka berdua di halaman rumah sakit seperti biasa. Wanita berkepala enam itu membawa Riza pada sebuah cerita pilu seperempat abad silam. Tentang seorang perempuan usia enam belas yang menjadi janda di usia begitu belia.

“Waktu itu, kamu begitu kecil dalam gendongan ibumu. Ia masih sangat muda, tidak tamat SMP dan memilih menikah saja karena dipaksa orang tua. Baru setahun menikah, ibumu ditinggal bapakmu menikah lagi. Jadilah ibumu yang masih begitu muda itu bingung bagaimana membesarkan kedua putranya, yang mana saudara kembarmu gizi buruk, jadilah Mami bawa kamu ke kota dan membesarkan kamu sampai sekarang,” ujar Mami sembari menatap kosong pada horizon, seolah refleksi ingatan itu diputar pada layar tak terbatas itu.

“Sudah, Mi. Mami fokus sama kesehatan Mami aja,” balas Riza. Pria itu menyimpan guratan kesedihan di wajahnya. Maminya akan menjalani operasi pengangkatan ginjal, salah satu ginjalnya sudah tidak dapat berfungsi lagi. Dan, menurut perkataan dokter, nyawa maminya mungkin akan terancam karena operasi tersebut mengingat usianya yang tak lagi muda.

“Kamu harus pulang ke asalmu, Nak. Sudah tidak ada yang bisa kamu lakukan di sini.”

Maminya pasti merujuk juga pada harta benda mereka yang terkuras habis demi pengobatan selama ini. Satu-satunya kafe milik mereka yang dijadikan sumber penghasilan pun tidak mampu menutupi utang-utang mereka selama ini.

“Mami….”

Tatapan maminya terakhir kali itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi Riza setelahnya. Operasi yang dijalani minggu kemarin membawa wanita itu pada mode tidur panjang. Maminya koma dan belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Tepat saat itulah papinya memberikan izin bagi sang putra untuk pulang ke kampung halaman.

“Bagaimana bisa Papi menyebut itu pulang padahal di sinilah rumahku! Rumahku adalan Papi dan Mami, bukan desa terpencil di mana aku sangat asing dengan tempat itu!”

“Nak, turutilah saja pesan terakhir mamimu. Nanti, kalau semisalnya keadaan mamimu sudah membaik, kamu boleh kembali ke sini, ya?” Papinya adalah orang yang muram, kemungkinan besar sudah menyiapkan hati jika sewaktu-waktu ditinggal Mami untuk selamanya.

Pada akhirnya pun Riza berangkat menuju tanah kelahirannya dengan disaksikan tatapan melepas Papi. Mungkinkah pria itu bermaksud hidup sendiri saja jika Mami sudah meninggal? Mengingat selama ini, ia dan Mami sudah membuat Riza bekerja keras membayar semua tagihan rumah sakit itu? Riza sendiri dengan kerelaan hati yang besar melakukan semua itu tanpa paksaan. Sebagai balas budi atas apa seluruh kebaikan kedua orang tua angkatnya. Maka, ketika meninggalkan kota dan lambaian tangan papinya, Riza berharap agar perjalanan menuju desa itu tidak berlangsung lama.

***

Orang-orang mengagumi bagaimana gunungan batu itu dapat ditumbuhi pohon dan diolah menjadi sawah. Riza sendiri tidak dapat menahan kekagumannya ketika melintasi pegunungan berbatu yang menjulang tinggi. Di kanan kiri jalan yang ia lalui, monyet-monyet bergelantungan pada dahan pohon tanpa gangguan manusia. Di daerah pegunungan batu yang dikelilingi monyet inilah ibu kandungnya tinggal dan menua. Ah, menua apanya. Wanita yang melahirkan Riza itu pasti masih di awal usia empat puluhan, mungkin masih muda.

Seorang pria yang Riza taksir sekitar di akhir usia tiga puluhan menuntun ke sebuah rumah paling besar di desa. Di sanalah seorang wanita yang tampak berisi dan kaya menyambut kedatangan Riza. Wanita yang harusnya dipanggil ibu. Orang-orang menyebutnya Bude Mas, tak mengherankan karena di kedua pergelangan tangannya digelantungi gelang emas berlapis-lapis. Pun juga di leher dan jari-jarinya.

“Ini Riza, ya? Ya ampun… kamu sudah besar ya, Nak? Mami apa kabar?” Tentu saja pertanyaan itu dijawab seadanya dengan raut wajah mendung. Ibu kandungnya pun merasakan kesedihan yang sama.

“Ah, Mami adalah orang paling baik yang pernah Ibu kenal. Kalau bukan karena beliau, Ibu tidak akan ada di posisi ini. Setelah mengadopsimu, ia memberikan Ibu sejumlah uang untuk membuka usaha jual beli sapi dan memperbaiki rumah ini. Ibu merasa sangat sedih tidak dapat menengoknya.” Ibu mengelus pundak Riza lembut, yang mana masih menyisakan kesan tidak nyaman bagi pria dewasa itu.

“Ah, sebelum ke sini, Mami pernah menyebut tentang saudara kembar. Sekarang dia ada di mana?”

Riza bergantian membawa mendung ke wajah ibu kandungnya. “Dia meninggal, Nak. Kakakmu meninggal tak lama setelah rumah ini dibangun. Ibu dan suami baru Ibu merasa sangat kehilangannya.”

Suami yang disebut ibunya adalah pria yang mengantar Riza tadi. Pria yang tampak memiliki dunia sendiri dan enggan berbaur dengan lingkungan sosial. Riza baru mengetahui juga bahwa selama mereka berdua menikah, ibu kandungnya sudah dua kali mengalami keguguran dan satu-satunya anak yang berhasil tumbuh hingga dewasa sedang menempuh pendidikan di Semarang. Seorang putri cantik bernama Ratih.

“Sudah sedih-sedihnya, sekarang Ibu antar kamu ke kamar, ya.” Ibu memimpin langkah menuntun putranya ke kamar di sudut rumah bergaya joglo itu. Namun, Riza yang mengekori langkah sang ibu merasakan sesuatu ikut membuntuti mereka. Sesuatu yang kecil dan berjalan tanpa suara.

“Ah, Riza… Ibu lupa tanya. Kamu nggak bawa barang-barang mahal, ‘kan? Orang-orang di desa tetangga bilang mereka habis kemalingan.” Ibunya kembali bertanya dan segera memasang wajah curiga ketika melihat putra kandungnya tampak berkeringat dingin. “Kamu kenapa, Nak?”

“Cuma agak capek abis perjalan, Bu. Makanya Riza mau langsung tidur aja,” kilah Riza. Sementara ia berkata demikian, punggungnya terasa lebih berat dari biasa. Seolah sedang menggendong sesuatu.

***

Orang-orang desa pada umunya memiliki kebiasaan sosialiasi yang baik daripada orang perkotaan. Semenjak kedatangan Riza, orang-orang tak ada yang tak mengenalinya sebagai anak Bude Mas yang kembali dari kota. Riza sendiri tipe ekstrovert yang banyak mengobrol. Malam kedua di desa, ia sudah bia mengakrabi suasana desa yang hangat. Pria dewasa dan pemuda banyak mengobrol dengan camilan seadanya dan rokok lintingan, sebuah hal baru bagi si pria kota. Namun, ketika pembicaraan tentang kasus kehilangan itu datang, suasana hangat sebelumnya luntur. Tergantikan dengan hawa dingin yang berembus entah dari mana.

“Mana mungkin uang dengan jumlah banyak seperti itu hilang semua dan hanya menyisakan uang-uang kecil kalau bukan karena dicuri tuyul?”

“Tapi… ada juga yang kehilangan barang. Padahal udah direkam kamera pengawas tapi sosoknya tidak ada, kameranya juga rusak ketika barang itu melayang. Kalau bukan ulah setan, lalu apa?”

Obrolan itu semakin intens dan tegang, beberapa kali mereka saling bertukar kesaksian untuk sesuatu di luar nalar manusia. Tuyul dan setan. Obrolan itu mendominasi hingga terpaksa bubar karena jadwal ronda keliling. Riza diantar pulang oleh pemuda yang lain walaupun sudah izin akan pulang lebih lambat. Ibu dan suaminya pasti belum kembali dari acara di desa tetangga. Begitu menginjakkan kaki di rumah, punggung Riza kembali berat seolah digelayuti sesuatu dan akan terasa sakit jika hanya berdiam diri. Maka, ia pun memilih bersiap tidur kendati jam tidurnya tidak seawal ini.

Anak kembar cenderung memiliki ikatan batin yang kuat, bahkan ada ilmuan yang bilang bahwa mereka dapat berbagi ingatan dan memiliki intuisi yang sama. Berbagi ingatan, berbagi ingatan, berbagi ingatan, berbagi ingatan.

Suara-suara itu muncul di mimpi Riza, tapi… apakah itu benar mimpi? Suara-suara itu seolah berada di ambang sadar tak tidak sadarnya. Ia menggeleng, berusaha mengusir gangguan karena suara yang entah berasal dari mana itu. Namun, ketika Riza membuka mata, ia segera disapa dengan kegelapan. Padahal ketika merebahkan diri di sofa tadi, semua terang benderang.

Sebuah tawa anak lelaki bergerak di belakang punggung Riza, lantas bergerak lambat ke sisi lain, lalu entah bagaimana ceritanya tempo tawa itu menjadi sangat cepat, memantul-mantul di dinding dan mengelilingi kepala Riza seperti telinganya disumpal dengan earphone yang memutar suara sama berulang kali. Ketika suara tersebut tidak terdengar lagi lalu tiba-tiba saja senyap, debaran jantung tak terkendali Riza menggema di memenuhi kegelapan.

Adik.

Sebuah suara berbisik di telinga Riza, bersamaan dengan itu ruangan kembali terang benderang dan Riza menyadari ia tidak sendirian di sana. Seorang anak lelaki berwajah tua dan berkulit pucat dengan kepala plontos, berdiri tidak jauh dari Riza. Lalu tanpa sempat Riza menyadari, anak lelaki itu melompat ke arah Riza dengan gigi-giginya yang tajam menancapi leher pria itu. Lalu segalanya menjadi gelap lagi.

***

Anak kembar cenderung memiliki ikatan batin yang kuat, bahkan ada ilmuan yang bilang bahwa mereka dapat berbagi ingatan dan memiliki intuisi yang sama. Berbagi ingatan.

Lalu entah bagaimana Riza memiliki ingatan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Tentang masa lalu dan masa sekarang. Ia dibawa pada versi lebih muda ibu kandungnya yang menangis bersama suami barunya.

“Mas, kalau Eka tidak bisa bertahan hidup bagaimana? Lihat tubuhnya makin kurus dan ia semakin susah bernapas.”

Pria yang tampak pendiam itu tidak banyak bicara, tetapi ia segera menyeret ibu kandungnya ke sebuah pinggiran desa. Riza khawatir jika sebenarnya kakak kembarnya tidak meninggal karena gizi buruk tetapi dibunuh oleh mereka berdua. Namun, ingatan itu segera menyangkal dugaan Riza. Di tengah lebatnya hutan yang disebut-sebut angker itu, sebuah gubuk kecil berdiri. Di dalam sana jauh dengan bayangan gubuk tua. Peralatan listrik memadai, tabung-tabung kecil di meja, lalu tabung-tabung air besar yang terisi hewan-hewan dalam wujud aneh. Babi berkaki dan bertangan seperti manusia, ular berkepala monyet berambut, dan banyak hal aneh yang membuat Riza mual.

“Kita masukkan dia di sini.”

“Mas!”

“Dia mungkin bisa hidup lebih lama walaupun nantinya tidak bisa tumbuh dengan normal. Kamu sangat menyayangi Eka melebihi Dwi sampai-sampai menjual Dwi untuk pengobatan Eka bukan? Kalau kamu sudah sejauh itu, kenapa tidak mencoba cara lain lagi yang lebih kejam?”

Dwi… nama di masa lalu yang sudah tergantikan menjadi Riza. Ia dijual? Bukan diadopsi seperti yang dikatakan Mami? Tega sekali ibunya berbuat demikian, bahkan kepada anak kandungnya sendiri. Namun, siapa sangka jika balita dalam gendongan ibunya betul-betul dimasukkan ke dalam sana dan perlahan tumbuh kendati tidak sesempurna anak manusia pada umumnya. Di tahun-tahun selanjutnya, tabung di sebelah Eka bertambah dengan janin lebih kecil, lalu janin lain pula yang tumbuh tidak seperti manusia normal. Lebih seperti gumpalan daging merah muda tanpa wajah dan kulit.

Eka memiliki tubuh mendekati manusia, sedangkan dua makhluk lain lebih buruk lagi, tetapi mereka bisa berdiri dan berlarian seperti anak-anak kecil. Mereka akan menjadi sangat semringah ketika tiba waktunya menyusui. Ibunya sangat bahagia ketika anak-anaknya bergantian menyusu sementara suaminya menggedong putri mereka yang sehat dan masih bayi.

“Kita kehabisan uang untuk memenuhi tabung-tabung itu dengan larutan kehidupan. Kita harus menghasilkan banyak uang untuk membuat suntikan yang bisa membuat mereka hidup dalam waktu lama,” ujar suami ibunya.

“Tapi kita tidak punya uang. Apa yang harus kita lakukan, Mas? Aku tidak ingin mereka meninggal?”

“Eka yang paling sehat di antara yang lain, kita bisa memanfaatkannya untuk itu.”

Sebuah suntikan dimasukkan tubuh Eka dan ia pun menjadi transparan. Dari situlah Eka mulai mencuri dan mengambil barang-barang orang di dalam kota maupun luar kota, yang ke depannya uang hasil curian mereka digunakan untuk menciptakan suntikan kehidupan sementara dua makhluk merah muda itu masih mengambang di dalam tabung air.

Lalu, di sanalah ingatan itu berakhir. Bersamaan dengan Eka yang menampakkan wujudnya di depan Riza.

Adik, Kakak sudah tidak tahan. Kakak senang kamu kembali, karena Kakak akhirnya punya seseorang untuk membawa Kakak keluar dari lingkaran setan Ibu dan Ayah.

“Tapi, Ibu….”

Kakak sudah membuat rem mobil mereka blong dan mereka pasti sudah mati sekarang. Laboratorium ayah pun sudah Kakak bakar.

“Kenapa baru sekarang, Kak?”

Karena Kakak menunggumu….

“Kalau semisalnya Kakak ikut denganku ke kota, apa kata keluargaku di sana?”

Kakak akan menjadi transparan dan melindungi keluargamu dalam diam. Selain itu, Kakak sudah mendapatkan suntikan kehidupan buatan Ayah yang baru saja jadi. Ini bisa kamu berikan pada ibumu yang sekarang.

Sebuah suntik berwarna biru berkilauan diserahkan di telapak tangan Riza. Dengan begitu, dia sudah tidak bisa berkutik. Paginya, Riza memesan satu tiket bus menuju Jakarta. Ia hanya memesan satu kursi, tetapi kakaknya duduk di bahu Riza seolah itu adalah tempat duduk terbaik. Maminya belum melaksanakan operasi dan kondisinya masih stabil. Ketika bus itu telah berangkat ke Jakarta, televisi menayangkan berita kecelakaan sepasang suami istri yang mobilnya dipenuhi barang curian. Keduanya tewas di tempat.

Tidak ada rasa kehilangan, karena Riza tidak memiliki ikatan batin dengan ibunya. Namun, dengan Eka… Riza pun bisa menebak bahwa kakaknya memang mendambakan kebebasan ini.

END

Wonogiri 8 Maret 2021

#sciencefiction