Benarkah Majapahit Runtuh karena Islam?

Ilustrasi/Ist

Penyebab runtuhnya Kerajaaan Majapahit hingga kini masih diperdebatkan. Namun versi yang paling banyak dipahami, Majapahit runtuh setelah mendapat serangan dari Kerajaan Islam Demak Bintoro.

Secara umum dikisahkan dalam serat Dharmagandul., setelah berhasil membangun Kerajaan Demak, Raden Fatah melancarkan serangan ke Kerajaan Majapahit yang masih dikuasai ayahnya, Prabu Brawijaya V alias Bhre Kertabhumi.

Penyebabnya konon karena Brawijaya V menolak memeluk agama Islam, yang saat itu merupakan agama baru di tanah Jawa.

Jika versi ini benar, maka kisah pertemuan Brawijaya dengan Sunan Kalijaga di Blambangan tidak pernah terjadi.

Cerita Radeh Fatah menyerang Majapahit karena ayahnya menolak masuk Islam sangat tidak masuk akal sebagaimana kisah Raden Kian Santang memaksa ayahnya, Prabu Sri Baduga Maharaja, penguasa Kerajaan Pajajaran, memeluk Islam hingga keduanya adu kesaktian di hutan Sancang.

Kedua kisah ini, sangat mungkin, dituturkan untuk tujuan terselubung.

Sebab faktanya Kian Santang tidak pernah menjadi raja di Kerajaan Sunda. Padahal, dalam setiap peperangan di masa lalu, pemenang akan menggantikan posisi pihak yang dikalahkan.

Setelah Sri Baduga atau Prabu Siliwangi moksa, yang menjadi penggantinya adalah Prabu Surawisesa, saudara tiri Kian Santang.

Demikian juga dengan Majapahit. Jika dikatakan Raden Fatah menyerbu Majapahit hingga runtuh, mestinya dia menjadi pengusaha Majapahit. Faktanya, Majapahit tetap berdiri selama Raden Fatah berkuasa di Demak.

Lalu bagaimana kisah sebenarnya?

penelusuran beberapa serat yang ditulis di masa itu, terdapat campur-aduk pengertian antara Bhre Kertabhumi dengan Dyah Ranawijaya. Ada yang menyebut keduanya orang yang sama dan menjadi penguasa terakhir Majapahit.

Tetapi beberapa serat atau kitab lain jelas membedakan keduanya. Bahkan Ranawijaya sebenarnya menantu Brawijaya V. Namun ia menyimpan dendam karena ayahnya,

Suraprabhawa Girindrawardhana, dikalahkan oleh Brawijaya V sehingga harus lari ke Daha dan membuat kerajaan bawahan.

Mengacu pada Prasasti Jiyu, Brawijaya V alias Bhre Kertabhumi wafat setelah penyerangan yang dilakukan oleh menantnya. Dyah Ranawijaya kemudian memindahkan pusat kekuasaan Majapahit ke Daha.

Sementara menurut kronik Tiongkok Ranawijaya menjadi raja Majapahit setelah mengalahkan Bhre Kertabhumi tahun 1478. Pendapat ini diperkuat oleh prasasti Petak yang menyebutkan kalau keluarga Girindrawardhana pernah berperang melawan Majapahit.

Sampai di sini jelaslah, Brawijaya V alias Bhre Kertabhumi tidak dibunuh oleh Raden Fatah, melainkan oleh Ranawiajaya.

Rencana serangan Ranawijaya sebenarnya sudah diberitahukan Raden Fatah dengan mengirim utusan ke Majapahit. Namun oleh para pengkhianat, utusan Raden Fatah ditangkap dan dikabarkan jika Raden Fatah mengirim pasukan untuk menyerbu Majapahit.

Brawijaya yang sudah mendengat kekuatan pasukan Demak, menjadi gusar dan bermaksud meminta bantuan pasukan dari kerajaan di Bali. Namun upayanya berhasil dicegah oleh Sunan Kalijaga. Brawijaya bahkan kembali ke Trowulan, ibu kota Majapahit. Namun tidak lama setelahnya, datang serbuan dari Ranawijaya.

Ranawijaya sadar, sewaktu-waktu Raden Fatah akan menuntut balas. Meski telah memindahkan pusat Kerajaaan Majapahit ke Daha, namun Ranawijaya tidak yakin akan mampu membendung kekuatan Demak. Oleh karena Ranawijaya lantas menjalin kerjasama pertahanan dengan Portugis yang saat itu mulai membangun benteng di Malaka.

Tahta Kerajaan Demak kemudian diserahkan kepada Raden Trenggono, adik Dipati Unus yang masih sangat belia. Di bawah komandonya, pada tahun 1527 pasukan Demak menyerang Daha hingga luluhlantak. Dyah Ranawijaya tewas dalam peperangan sekaligus menandai berakhirnya Kerajaan Majapahit maupun penerusnya.

Hal ini diperkuat dengan adanya serat Babad Sengkala yang menyebut Kerajaan Kadiri atau Daha, runtuh setelah diserang oleh Sultan Trenggono.

Dengan demikian Majapahit runtuh bukan diakibatkan serbuan Raden Fatah karena ayahnya menolak masuk Islam.

Perang Demak dengan sisa-sisa Kerajaan Majapahit juga bukan perang agama, bukan pula tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya, melainkan semata perebuatan kekuasaan di tanah Jawa. Perang semacam ini bukan hal pertama karena sebelumnya penguasa tanah Jawa juga silih berganti antara penganut Hindu dan Budha.

Memahami sejarah secara benar, dan melepas diri dari kebencian atas dasar agama dan suku bangsa adalah modal dasar menuju bangsa besar.