Tamasya ke Masa Lampau

illustrasi Metro 2

Nadya, seorang perempuan berusia 28 tahun sangat suka bertualang. Bahkan ke negeri-negeri jauh nan eksotik seperti Rusia.

Moskwa, 15 Juli 2018.

Pertandingan final antara Perancis dan Kroasia rencananya baru akan dimulai pada pukul 18.00 waktu Moskwa.  Sejak siang Nadya sudah berangkat dan mengembara di stasiun Metro dengan tujuan menuju ke stasiun metro Sportivnaya dimana Stadion Luzhniki berada.

Dari hotel, Nadya memulai perjalanan dengan naik Marshrutka (sejenis angkot) menuju ke Stasiun Metro 1905 Goda. Dari sinilah pengembaraan dimulai. Nadya masuk ke stasiun sambil mengagumi keindahan interior stasiun di Line 7 Metro Moskwa ini. Siang itu, kondisi lumayan ramai namun belum terlalu berdesak-desakan.

Ketika sedang berdiri, tiba-tiba seorang pemuda berwajah Asia Tenggara menegur Nadya dalam Bahasa Rusia dan kemudian memberinya  tempat duduk.  Mereka berdua  sempat berkenalan sebentar dan betapa senangnya Nadya  ketika mengetahui bahwa pemuda itu juga berasal dari Indonesia. Sepintas usianya masih di sekitar 30 tahunan,

Arief,” demikian pemuda itu memperkenalkan namanya dalam waktu sebentar saja keduanya sudah akrab.  Nadya dan Arief  terus bercakap-cakap walau terasa kurang nyaman di dalam gerbong yang lumayan ramai. Nadya  duduk sementara Arief berdiri.

Stasiun Berikut, Taganskaya, “ demikian pengumuman di dalam kereta dalam Bahasa Rusia dan Inggris. Dalam rangka menyambut penyelenggaraan Piala Dunia di Rusia ini, banyak perubahan terjadi di stasiun metro dimana pengumuman dan petunjuk juga sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Sebelumnya pengumuman hanya ada dalam Bahasa Rusia,” kata Arief. Bersamaan dengan pengumuman itu Nadya sadar bahwa seharusnya dia tadi turun di stasiun Kuznetskiy Most yang sudah terlewat dua stasiun. Sontak Nadya berdiri dan berkata harus turun di stasiun Taganskaya untuk kembali ke Stasiun Kunetskiy Most dan pindah menuju Sportivnaya.

Ketika Nadya  turun, Arif juga ikut turun dan berkata ada baiknya Nadya jalan-jalan dulu  sejenak bersamanya menikmati kota Moskwa.  Ada banyak hal yang bisa ditunjukkan kepada Nadya.  Arief juga bercerita bahwa dia sudah cukup lama tinggal di sini.  Nadya mengikuti Arief berjalan di sepanjang koridor yang indah di dalam stasiun Metro Taganskaya sambil mendengarkan cerita tentang dirinya yang pertama kali datang ke Rusia sebagai mahasiswa dan belajar di Moscow State University.

Tidak lama kemudian, Nadya mulai merasa ada yang aneh.  Kalau tadinya stasiun ini tampak ramai, tiba-tiba saja suasana menjadi sangat sepi dan sedikit menyeramkan.  Kalau tadi ada petunjuk dalam Bahasa Inggris, sekarang hanya ada tulisan dalam Aksara Kiril.

“Arief, mengapa begini sepi stasiun ini?”  tanya Nadya sedikit penasaran dan juga cemas.

Arief meminta Nadya  untuk tidak banyak bertanya dan hanya mengikuti dirinya. Melalui lorong-lorong yang terlihat sepi, akhirnya mereka  sampai di sebuah bungker yang cukup luas.  Bungker itu merupakan ruangan bawah tanah dimana terdapat banyak fasilitas seperti ruang meeting dan fasilitas pelengkap lainnya. Mirip sebuah tempat tinggal atau perkantoran di bawah tanah yang lumayan nyaman.

Ini adalah Bungker 42 di dekat Stasiun Taganskaya,” kata Arief.   Arief juga kemudian menambahkan bahwa Bungker ini berada sekitar 18 lantai atau lebih dari 65 meter di bawah tanah.  Bahkan tempat ini juga memiliki fasilitas komando militer bila terjadi perang nuklir. 

Di antara sadar dan tidak, Nadya  kemudian seakan-akan di ajak bertamasya menaiki kereta bawah tanah yang disebut Metro 2. Jaringan kereta ini  terdiri dari beberapa jalur, salah satunya yang disebut jalur D6 menghubungkan Kremlin dan Lapangan terbang militer Vnukuvo. Seandainya Moskwa sudah diserang musuh, Stalin atau para petinggi Soviet dan keluarganya bisa dievakuasi melalui jalur ini.

Dalam perjalanan ini, Nadya merasa bahwa dia berada di masa lalu. Orang-orang yang ikut naik metro, kebanyakan adalah tentara dengan seragam khas Uni Soviet di tahun 1960 an dengan wajah yang kaku dan dingin.  Arief sesekali berinteraksi dengan orang-orang itu, Namun Nadya sekali dianggap tidak ada.

Arief, apa benar saya sekarang berada di tahun 1960-an?,”

“Nadya, kamu saya ajak bertamasya ke tahun 1964.” Jawab Arief santai. 

Arief kemudian mengaku telah membawa atau menculik Nadya dengan mesin waktu ke tahun 1964, atau tepatnya Juli 1964.   Arief menjelaskan bahwa dia adalah salah satu dari ribuan mahasiswa Indonesia yang mendapat bea siswa di era Presiden Sukarno untuk belajar ke Uni Soviet.  Dia belajar teknik sipil untuk pembangunan kereta api bawah tanah dan akhirnya pada tahun 1964 juga diikutkan membantu pembangunan sebagian jalur metro 2 dan bungker bawah tanah.  Pembangunan ini dimulai di era Stalin namun tetap dilanjutkan pada era Kruschev.

Salah seorang temannya, seorang insinyur Rusia juga berhasil menciptakan semacam mesin waktu yang tidak kasat mata. Dengan mesin itulah, Arief berjalan-jalan ke tahun 2018 dan menculik Nadya.

“Lalu Bagaimana saya kembali ke tahun 2018?” Tanya Nadya.

 

7 Maret 2021

#sciencefiction