Patin Mutan

Foto : agromedia

Rama mengernyit ngeri, memandang perubahan gerak-gerik ikan peliharaan ayahnya selama dua minggu ini. Aneh, tak masuk akal. Meski ia tahu bahwa ikan itu omnivora, tetapi tingkahnya sudah benar-benar di luar nalar.

***

Ayah Rama adalah seorang peternak ikan patin. Di halaman depan rumah yang lumayan luas, disulap sang ayah menjadi kolam-kolam patin dengan bahan seadanya. Bermodal kotak kayu dan terpal, sudah cukup menampung untuk budidaya ikan tersebut. 

Namun, akhir-akhir ini patin sering mati mendadak. Bahkan pernah hampir separuh ikan di kolam, mati sebelum hendak dipanen. Apalagi pesanan sudah menanti jauh hari sebelumnya. Pelanggan pun kecewa, tak mau lagi meneruskan urusan kerjanya. Ayahnya begitu stres, hampir frustasi harus kehilangan modal. Ia jadi uring-uringan tak jelas setiap hari. Tentu sasaran empuknya adalah Rama, anak remaja satu-satunya. 

Hingga suatu hari, ayahnya pulang dengan wajah sumringah. Membawa beberapa botol cairan yang entah apa. Katanya, hanya obat penguat imun ikan, agar tak mudah mati. Rama hanya mengangguk, tak mau bertanya lebih, sebab takut dengan perangai orang tua tunggalnya itu. 

Setiap pagi, Rama melihat ayahnya meneteskan cairan itu. Cukup beberapa tetes, sudah membuat patin-patin lebih gesit dari biasa. Memang benar adanya, ikan-ikan itu lebih panjang umur dari sebelumnya. Sang ayah kembali berbahagia, menghubungi para pelanggan lama untuk membuktikan perbedaannya. Bahkan, ia rela tak dibayar dulu, demi menggait kembali kepercayaan mereka. 

Hampir setiap subuh, rumahnya sesak dipenuhi orang. Rama dan ayahnya sampai kewalahan melayani mereka. Pelanggan puas, mereka berkata bahwa daging patin yang sekarang lebih lezat, gurih dan menjadi menu favorit rumah-rumah makan mereka.

Ayahnya semakin bangga dan memperbanyak tetesan obat pada ikan ternaknya. Rama sudah memperingatkannya agar jangan terlalu over memberi cairan itu, takut terjadi hal di luar pengetahuan mereka. Namun, ayahnya tak peduli. Padahal, ia juga tahu bahwa ikan-ikan terlihat lebih ganas dan mengerikan, mirip piranha dengan gigi-gigi tajam. 

***

Pukul tiga pagi. Seperti jadwal tiap harinya, Rama sudah bangun untuk mempersiapkan kebutuhan dagang sang ayah. Ia sudah bersiap dan berjalan gontai ke halaman depan. Langkahnya tiba-tiba terhenti, saat mendengar percakapan ayahnya pada panggilan ponsel. Ayahnya punya pendengaran yang buruk, hingga ia selalu menekan loudspeaker agar lebih jelas dan tak teriak-teriak saat kurang paham. 

"Apa? Bagaimana bisa? Itu tak mungkin!" tanya ayahnya meninggi.

"Benar, Pak. Kami tak bohong, karyawan kami harus kehilangan jari manis dan kelingkingnya. Miris sekali." Suara seseorang di seberang telepon. Rama mulai tertarik dan mendekati ayahnya di kursi teras. Ia menarik kursi untuk duduk,  dan mendengarkan saksama suara telepon, di atas meja bundar sebelah ayahnya. 

"Ikan Bapak terlalu ganas, kami sudah kewalahan untuk pemotongannya. Mohon maaf sekali, kami putuskan tak membeli lagi ikan dari peternakan Bapak." 

Tut ... tut ....
Panggilan ditutup begitu saja, membuat ayah Rama geram menggeretakkan giginya. Tangannya mengepal dan menghantam keras meja. Ia berdiri mendekati kolam, lalu menuangkan seluruh cairan obat ke dalam kolam dengan kesalnya. Lantas, berjalan dongkol memasuki rumah. 

Rama sedikit ngeri, ia melangkah mendekat pada kolam. Memperhatikan pergerakan makhluk yang semakin liar, ia mengambil jarak, seolah ancang-ancang jika terjadi apa-apa. Kepalanya sedikit menunduk dan melongok ke bawah, mencoba memperjelas pandang. Sontak Rama berjingkat, saat seekor ikan sebesar betis pria, mendadak lompat di hadapannya. Ikan itu membuka mulut lebar, menampakkan gerigi runcing, siap menerkam. Beruntung Rama sigap menepis, ikan itu menggelepar di bawah kakinya.

Namun, tak disangka. Ikan itu mensejajarkan tubuh, tak miring seperti ikan tanpa air pada umumnya. Bahkan makhluk itu seolah berjalan meski tanpa kaki. Rama menjerit, ketika ujung kakinya hampir menjadi santapan patin itu. Rama menginjak-injak dan bergelut dengan ikan yang tak menyerah sedikit pun. Betisnya terkena gigitan, Rama mengerang terduduk. Melirik sebuah sekrop di samping, lalu menyambar dan menusukkannya pada mulut ikan yang hampir menyerangnya lagi. Darah segar ikan seketika muncrat ke wajah Rama, ia memejam. Tubuhnya gemetar, napasnya memburu. Perlahan ia mestabilkan pergolakan di dada. Mengembuskan napas lega sebab musuhnya telah mati. 

Ketakutan seketika menghiasi wajah Rama. Ia berdiri memekik, merasakan betisnya telah bersimbah darah. Ia berjalan cepat dengan menggeret kaki. Sesekali melirik kolam penuh ikan aneh itu, tubuhnya bergidik. Seakan tak mau dekat-dekat kolam itu lagi. Ayahnya melongo di depan pintu rumah, saat menatap putranya dipenuhi darah segar. Ia seolah tak percaya, melirik seekor ikan yang menancap pada sekrop miliknya. 

***

Seharian penuh hujan lebat mengguyur Kota Bogor, membuat luapan Sungai Cileungsi berstatus waspada. Daerah sekitar rumah Rama memang rawan banjir, tetapi dalam hitungan jam, air cepat surut. 

Namun, tidak hari itu. Sampai malam hari banjir semakin naik, hingga mencapai lutut orang dewasa. Beruntung rumah Rama berlantai dua, ia dan ayahnya pindah ke atas untuk berlindung. Berharap air segera surut tanpa perlu mengungsi. 

Listrik tiba-tiba padam, membuat suara-suara eluhan manusia di tiap-tiap rumah terdengar bersamaan. Memang, beberapa rumah lain tak banyak yang berlantai dua. Rama berdiri di balkon berjajar dengan ayahnya, menatap keadaan sekeliling. Ia dan ayahnya seolah merasa kasihan kepada tetangga, yang harus berbasah-basah dalam kegelapan. 

Keduanya menoleh ke bawah, saat terdengar suara kecipakan air. Rama terlihat cemas ketika suara itu terdengar semakin keras di halaman rumah Rama. Secepatnya ia mengambil senter dan menyorot pergerakan itu. Ayahnya seketika melotot pada Rama, begitu juga dengan putranya. Keduanya meneguk ludah. Patin-patin itu berenang cepat ke luar kolam dan menyebar memasuki rumah-rumah penduduk. 

Rama dan Ayahnya hanya terdiam, mendengar jeritan menggema dari tiap-tiap penghuni rumah, dalam keremangan malam. 


#sciencefiction

Sidoarjo, Maret 2021