Satu Gadis dan Sepuluh Ribu Buddha

Illustrasi patung Buddha hongkongextras.com

Agustus 2019

Ini adalah perjalanan bisnisku yang ke sekian kalinya ke kawasan Provinsi Guangdong dan sekitarnya di Tiongkok. Setelah tiga malam di Guangzhou dan mampir semalam di Shenzhen, aku melewati perbatasan di Lo Wu menuju Hong Kong. Selepas pemeriksaan imigrasi, aku naik MTR East Rail Line. Rencana awal menginap di Causeway Bay dan nanti bisa bikin reservasi hotel melalui gadget sambil naik MTR.

Dari Lo Wu, sudah beberapa stasiun yang dilewati: Sheng Shui,  Fan Ling, Tai Wo,  dan Tai Po Market.  Tiba-tiba saja aku ingin sekali menginap di kawasan New Territories yang relatif tenang dan nyaman jauh dari kebisingan Hongkong Island.  Akhirnya aku membuat reservasi di Regal Riverside Hotel yang letaknya tidak jauh dari Stasiun MTR Sha Tin.   Di Stasiun Sha Tin aku turun dan kemudian naik taksi ke hotel,

Taksi melewati jembatan di atas Sungai Shing Mun dan tidak lama kemudian sampai di Hotel. Tidaklah mengapa aku tinggal di sini walau besok aku harus bertemu beberapa klien di Hong Kong Island dan Tsim Sha Tsui.  Bonusnya sore ini bisa aku habiskan waktu berjalan-jalan di sekitar kawasan Sha TIn. Melihat lagi tempat-tempat penuh kenangan yang barang kali sudah banyak berubah setelah puluhan tahun tidak kujenguk.

Setelah cek in dan sejenak beristirahat, aku menyiapkan celana pendek dan sepatu ket. Aku siap berjalan kaki mencari keringat dengan tujuan utama menuju ke Ten Thousand Buddhas Monastery yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Namun perjalanan akan cukup menguras tenaga karena harus naik bukit dengan ratusan anak tangga.

Aku meninggalkan hotel, menyeberang jalan dan menyusuri Sungai Shing Mun yang tenang dan bersih airnya. Menyeberang jembatan dan terus menuju ke arah bukit dimana kelenteng tua itu berada. Di kaki bukit ini aku ingat pernah membeli jagung rebus seharga ‘Lokman’ atau enam Dolar yang kebetulan nama temanku.   Sekarang suasananya sudah sangat berbeda. Jalan setapaknya tampak jauh lebih rapi karena berupa tangga beton yang lebih nyaman. 

Ratusan patung Buddha seukuran manusia berwarna kuning emas berbaris rapi menyambut diriku,  Sore itu, tidak terlalu banyak orang yang naik,  tampaknya lebih banyak yang turun setelah berkunjung ke kelenteng.  Aku ingat dulu tidak ada deretan patung Buddha di jalan menuju ke kelenteng ini.  Nama 10 000 Buddha konon didapat dari kumpulan ribuan patung Buddha kecil yang ada di dekat altar utama di dalam kelenteng. 

Aku terus mendaki. Sudah lebih 10 menit dan sesekali, aku harus berhenti beristirahat di sela-sela patung Buddha sambil mengambil napas. Usia memang tidak bisa dibohongi. Kalau dulu aku sanggup berlari tanpa henti sampai ke atas, sekarang harus berhenti beberapa kali dan baru sampai sekitar dua pertiga jalan menuju kelenteng.

“Tommy, Tommy,” tiba-tiba suara merdu seseorang memanggil.   Suara ini tampak tidak asing seakan-akan pernah aku kenal dari masa lampau. Namun suara siapa?  Sejenak aku memalingkan wajah dan memandang ke sekitar. Ke sela-sela antara deretan patung Buddha, Namun tidak ada siapa-siapa.  Sejenak bulu roma mulai berdiri. Suasana sepi dan mencekam,

Akhirnya aku berjalan lagi mendaki sekitar 10 anak tangga.

Tommy, Tommy,” suara perempuan yang sama kembali memanggil dari antara deretan patung Buddha.  Aku kembali melihat ke sana-kemari. Namun tetap tidak ada siapa-siapa. Kali ini aku sempat mendengar suara derap kaki berlari ke atas.  Kemudian aku berjalan menaiki beberapa puluh anak tangga lagi hingga bangunan kelenteng  sudah terlihat di kejauhan.  Namun tetap tidak ada siapa-siapa. Suasana tetap sepi dan kian mencekam.

Ah mungkin hanya halusinasi atau perasaanku saja, Tidak ada siapa-siapa. Aku terus menaiki beberapa puluh anak tangga terakhir dan kemudian sampai di halaman kelenteng yang dalam bahasa lokal disebut Man Fat Tsz

Ketika aku berjalan menuju ke bangunan utama, kembali suara perempuan yang memanggil namaku bergaung di telinga.  Walau tidak ada siapa-siapa aku terus mengikuti suara itu. Aku masuk ke ruangan utama tempat ribuan patung-patung Buddha kecil dipajang di dinding.  Di sini, dari balik dinding ada suara perempuan memanggil: “Tommy, Tommy.

Suasana kian mencekam, Aku sendiri heran, mengapa siang itu hampir tidak ada orang lain di kelenteng yang biasanya cukup ramai ini.. Apakah aku sedang  bermimpi atau ada di alam sadar? Kucubit pipiku perlahan dan terasa sakit yang lumayan sehingga dipastikan aku tidak sedang bermimpi, Kemudian, aku keluar dari ruangan utama dan menuju ke halaman samping.  Di sini terdapat Kwan Im Pavillion  yang terlihat sangat indah dengan patung Dewi Welas Asih berwarna putih di bawah sebuah gazebo beratap merah yang ditopang lima buah tiang.  

Dari balik patung Sang Dewi, kembali suara perempuan itu memanggil. Aku berjalan mendekat dan suaranya kian jelas. ‘Tommy, Tommy.”  Sekonyong-konyong dari balik patung itu muncul sosok perempuan muda cantik berbusana kuning bak seorang dewi  turun dari kahyangan.

Sejenak aku terkaget.  Tidak membayangkan akan bertemu lagi dengan gadis dari masa lampau yang pernah mengisi dan menyinari hatiku dulu.  

“Jeany, Is that you?” tanya saya dalam bahasa Inggris. Aku memang selalu berbahasa Inggris terhadap gadis yang pernah memberiku banyak kebahagian dan kehangatan ini. Maklum karena aku tidak bisa berbahasa Kanton dan dia tidak bisa berbahasa Indonesia.

Jeany yang wajahnya sama sekali tidak berubah sejak hampir tiga puluh tahun tidak bertemu denganku langsung memelukku sambil menangis.

Agustus 1989

Sudah sekitar satu minggu aku dan teman sejawatku, Lukman berada di Hong Kong. Rencana nya kami akan tinggal sekitar satu tahun dalam rangka penelitian di Hongkong Chinese University.  Salah satu obyek penelitian kami adalah menciptakan pil atau obat anti aging yang bisa membuat manusia menjadi awet muda.

Setiap akhir pekan, kami sering jalan-jalan berkeliling ke berbagai wilayah Hong Kong. Kebetulan Sabtu siang itu, saya dan Lukman sedang tamasya di kawasan Sha Tin dan berkunjung ke Ten Thousand Buddhas Monastery.  Di sini, secara tidak sengaja  saya berkenalan dengan seorang gadis Hong Kong bernama Jeany Kwok.

Singkatnya saya kemudian berteman dekat dengan Jeany.  Dia  tinggal di sebuah apartemen di kawasan Sha Tin sehingga membuat diri ini sering beranjangsana ke sini, terutama saat akhir pekan.  Selama hampir setahun di Hongkong, hubunganku dengan Jeany kian dekat.

Agustus 1990, tibalah waktunya aku harus kembali ke tanah air.  Aku tidak tahu apakah akan kembali ke Hongkong lagi. Tetapi di hari perpisahan aku mengajak Jeany ke kelenteng 10 Ribu Buddha dan di depan altar berjanji :

“Jeany, aku akan datang lagi tahun depan. Aku akan melamar kamu dan mencoba membujuk orang tuaku  agar setuju mempunyai menantu orang Hongkong.” Demikian janji manis yang kuucapkan sambil memeluk Jeany mesra..

Aku kemudian memberikan sebuah pil hasil penelitian kepada Jeany dan berkata bahwa kalau dalam beberapa tahun ke depan aku tidak datang, minumlah pil ini, dan siapa tahu di tahun berikutnya ketika aku  datang,  aku masih akan tetap mengenalinya karena dia akan tetap awet muda.

Sejak hari itu, aku tidak pernah datang lagi ke Sha TIn, walau beberapa kali sempat bertandang ke Hong Kong. Aku bahkan mulai melupakan Jeany dan kemudian menikah dengan perempuan lain.

Agustus 2019

Sambil menangis di pundakku, Jeany kemudian bercerita bahwa pada Agustus 1991 dia datang dan menungguku di Ten Thousand Buddhas Monastery yang ada di Bukit Po Fook ini.  Namun aku tidak muncul.   Sejak itu, setiap tahun di bulan Agustus dia selalu datang dan menungguku dengan setia walau aku tidak pernah menampakkan diri.  Pada tahun kelima dia minum pil itu sesuai saranku agar wajahnya tetap awet muda.. 

Aku mendengarkan cerita Jeany setengah tidak percaya. Karena pil yang dalam penelitian itu sendiri sebenarnya merupakan proyek yang gagal. Namun aku diam saja dan rasa kantuk mulai menyerang diriku. Aku merasa setengah tertidur sementara Jeany melanjutkan cerita.

Pada 1997, Jeany tetap setia datang ke bukit ini.  Ketika dia sedang naik ke bukit, hujan turun sangat lebat selama beberapa jam. Tubuhnya terjatuh dan tertimpa tanah longsor serta tidak pernah ditemukan walau kelenteng ini kemudian direnovasi. Sejak hari itu, Jeany hidup dalam keabadian dengan wajah tetap muda di sela-sela deretan patung Buddha.

Tiba-tiba aku terentak ketika seseorang membangunkan diriku. Aku ternyata tertidur di depan patung Dewi Kwan Im.  Jeany sudah tidak ada lagi di depanku.

Ketika aku pulang menuruni jalan, suara Jeany yang terus memangil masih terngiang di telinga.

"Tommy, Tommy.

6 Maret 2021

#sciencefiction