Mahakarya Terakhir

Ilustrasi

Sudah kulampiaskan seluruh emosi ke dalam kanvas di depanku, namun tak mampu lagi bagiku membuatnya indah. Imajinasi yang selama ini kupunya telah pergi entah ke mana. Aku putus asa. Menderita setengah mati. Bagaimana bisa kusebut diriku pelukis, apabila tak mampu lagi tangan ini menciptakan sebuah estetika? Kuletakkan begitu saja kuas yang kupegang, membiarkannya jatuh ke atas lantai kusam karena debu. Aku duduk bersandar di sudut ruangan yang makin terlihat suram, sambil memegang sebotol anggur merah yang tinggal sedikit. Entah untuk yang keberapa kalinya aku merenung lagi. Jalan hidup yang selama ini kupilih, yang membuatku sampai ke puncak kejayaan, justru membawaku jatuh ke dalam lubang kesengsaraan.

Semuanya terjadi sekitar satu tahun yang lalu, setelah aku berhasil mengadakan pameran terbesar penanda puncak kejayaanku. Saat itu, aku begitu terlena akan harta dan wanita, sampai-sampai tak pernah lagi kupandangi aset terbesarku sebagai seorang seniman; kuas cat dan palet warna. Tibalah hari saat aku mulai ingin melukis lagi, tetapi semuanya sudah terlambat. Bagaikan singa yang kehilangan taringnya, aku tak lagi punya gairah. Tanpa kusadari, hasratku akan seni perlahan hilang tatkala aku sibuk dalam kemewahan hidup. Awalnya, kupikir hal semacam itu adalah hal biasa dan hanya berlangsung satu atau dua hari saja. Tapi nyatanya, sampai detik ini pun aku masih belum bisa pulih. Kesialan itu membuatku harus rela kehilangan semua harta yang sudah susah payah kudapatkan demi melangsungkan kehidupan penuh penderitaan. Sekarang yang kupunya hanyalah studio kecil berisi alat-alat lukis yang tampak sangat menyedihkan.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menghabiskan malamku dengan bermabuk-mabukan. Keputusasaan yang tak henti-hentinya mengusik batin ini membuatku tak lagi memikirkan tabungan yang semakin menipis. Tak ada lagi gunanya aku mempertahankan kehidupan menyedihkan ini. Biarpun harus mati kelaparan, tidaklah apa-apa bagiku kehilangan kesadaran, sehingga tak lagi terpikir akan semua penderitaan. Setiap hari, aku bangun dari tidurku saat matahari sudah memuncak, lalu kembali minum-minum sampai lewat tengah malam. Begitu dan begitu lagi. Terus menerus. Tanpa sadar aku pun banyak kehilangan berat badan. Tampangku semakin kacau dan menyedihkan dengan rambut dan janggut yang semakin panjang tak terurus. Juga tak terlihat sama sekali cahaya kehidupan dari sorot mataku.

Suatu hari sehabis tengah malam, aku tergeletak di depan bar langgananku lantaran terlalu mabuk. Tak terasa saat tiba-tiba aku mulai terjaga, matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Udara yang amat dingin subuh ini tak mengizinkanku terlelap lebih lama di sini. Dengan kepala berat aku memaksa bangkit, lalu berjalan terhuyung melintasi jalanan yang masih dijejali kabut tak begitu tebal. Saat tengah melintasi sebuah taman yang berada tak terlalu jauh dari studio tempatku tinggal, tak sengaja pandanganku teralihkan padanya; gadis albino yang menawan hati. Baru kali ini, sepanjang hidupku, aku berjumpa dengan gadis seanggun dia. Kebulaian tubuh, wajah, hingga rambutnya terlihat memesona dan menyilaukan mata. Gadis itu memang tampak pucat, namun bagiku, di situlah letak indahnya. Berjalanlah aku sedikit mendekat, lalu semakin terpesona tatkala tanpa sengaja menatap matanya yang merah menyala, penuh akan gairah. Oh, sungguh mata terindah yang pernah kulihat! Aku bergeming. Bergetarlah seluruh badanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kurasakan kalau jantungku seperti ditarik kuat ke bawah. Ada gejolak hasrat yang kembali hadir dari dalam diriku melalui dirinya. Hasrat yang selama ini menghilang dariku; Hasratku akan seni.

Aku sadar akan penampilan menyedihkanku saat ini, namun keanggunan gadis itu berhasil membius hatiku sehingga hilanglah rasa malu. Tak begitu lama sampai akhirnya aku tertegun saat tahu kalau posisiku saat ini sudah sangat dekat dengannya. Semakin jelaslah terlihat bentuk wajah gadis itu. Hidungnya begitu mungil dan menggemaskan, tampak cocok dengan bibir lembutnya yang berkilauan. Jangan tanya lagi bagaimana bentuk matanya. Dari jarak sebegini, terlihat jelaslah olehku pancaran kecerdasan dari sana. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengetahui siapa sosok menawan itu sebenarnya. Dialah Liana, gadis albino jelita pembangkit hasrat melukisku yang telah lama tiada.

Hari-hariku bersama Liana bagaikan titik balik dari keterpurukan kembali menuju puncak kejayaan. Begitu banyaknya kesamaan yang ada pada diri kami, membuatku berpikir kalau dialah satu-satunya belahan jiwa ini. Tutur kata Liana begitu sopan dan lembut, tak pernah satu kali pun—selama kami bersama—dia meninggikan suaranya, apalagi tersulut amarah. Kecerdasannya juga tak kalah menggairahkan dari parasnya. Dari kecerdasan itulah, diikuti dengan kepiawaian berbicara dan selera humornya yang unik, membuat segala macam obrolan kami terasa begitu menyenangkan. Aku menyukai semua tentang Liana; mulai dari kepribadian hingga paras dan lekuk tubuhnya. Namun ada satu hal yang paling membuatku jatuh cinta, yakni ketertarikannya yang begitu besar terhadap seni. Meski sudah cukup lama bersama Liana, aku tak kunjung tahu mengenai asal-usulnya, keluarganya, alasannya berada di tempat pertamaku menemukannya, bahkan juga nama belakangnya. Namun semua itu bukanlah masalah yang berarti bagiku karena, oh Tuhan, aku sungguh mencintai Liana!

Berada di dekatnya membuat jari-jemariku kembali bebas mencoret kanvas-kanvas yang sudah lama terbengkalai. Inspirasi, aspirasi, atau apa pun itu namanya, tak henti-hentinya membanjiri pikiran dan jiwaku. Aku begitu bersemangat, sampai-sampai lebih dari setengah lusin karya seniku rampung hanya dalam waktu satu bulan saja. Bahkan aku sampai pernah menciptakan yang kata mereka adalah sebuah mahakarya. Bagaikan malaikat pemberi keberuntungan, kehadiran Liana membuat lukisan-lukisanku mendapatkan respons yang luar biasa baik dari beberapa galeri seni besar yang kukenal. Mereka—galeri seni itu—pun berlomba-lomba untuk kembali bekerja sama denganku. Semua yang terjadi membuat beban finansialku berangsur-angsur pulih, lalu tiga bulan setelahnya, aku dan Liana akhirnya resmi menikah.

Berkat Liana, aku tak lagi terlena akan harta, apalagi wanita. Sosok Liana bagiku sudah menyatu sempurna dengan jiwa dan ragaku. Tak bisa terbayangkan olehku akan jadi seperti apa hidup ini tanpa kehadirannya. Meski keuanganku saat ini tidaklah sebanyak sebelumnya, namun kehidupanku dengan Liana lebih terasa menyenangkan. Kami menempati sebuah rumah kecil yang nyaman di pinggir sungai besar nan indah—berjarak dua puluh menit dari lokasi salah satu galeri seni kenalanku. Aku sengaja memilih rumah di tempat yang jauh dari keramaian ini lantaran ingin mendapatkan ketenangan bersama Liana, juga demi mempertahankan hasrat melukisku. Selama menjadi pelukis, aku tak pernah mau menyetujui sistem representation contract—kontrak representasi—dengan galeri, karena menurutku, kontrak semacam itu hanya akan menghilangkan kebebasanku berkarya. Kerja sama yang kulakukan dengan galeri biasanya bersistem kontrak konsinyasi—consignment contract, atau dengan kata lain menitipkan beberapa lukisanku untuk dijual di galeri itu sampai batas waktu tertentu.

Memiliki kebebasan berkarya membuatku banyak menghabiskan waktu bersama Liana. Dan karena itu, gairah seniku semakin hari semakin menggebu-gebu. Tanpa sadar, hari-hariku berikutnya selalu penuh akan coretan warna-warna indah pada kanvas. Aku tak lagi memanfaatkan waktu luangku bersama Liana, hingga lama-kelamaan, dengan perlahan sosoknya seakan menjauh dariku. Biar begitu, masih saja aku tak sadar akan dirinya yang seperti menghindariku itu. Suatu pagi, setelah bangun tidur, aku langsung tenggelam lagi dalam pekerjaanku. Biasanya di saat seperti ini Liana pasti mengantarkan makanan ke studioku, dan setelah itu dia pun duduk manis sambil menatap takjub pekerjaanku. Dan pagi ini, dia memang mengantarkan makanan seperti biasa, namun entah kenapa dia tak lagi menatap takjub diriku yang sedang bekerja. Aku tak tahu di mana dan sedang apa dirinya lantaran terlalu fokus dengan lukisanku, dan setelah rampung ketika malam mulai menyelimuti langit, Liana sudah tertidur pulas.

Di balik senyuman, semakin hari ketertarikan Liana akan diriku, apalagi seni, semakin memudar. Meski begitu, Liana tetaplah gadis yang sangat baik hatinya. Dia tak pernah mengungkapkan perasaan terselubung itu padaku. Dia selalu saja tersenyum tanpa sekali pun pernah memperlihatkan emosi lain yang dirasakannya. Dan berkat itulah aku tak pernah menyadari segala perubahan dalam diri Liana. Aku masih begitu sibuk dengan profesiku, hingga suatu saat ketika aku baru sempat memperhatikan Liana-ku, semuanya sudah terlambat. Kebahagiaanku perlahan runtuh lantaran gadis yang paling kucintai itu tiba-tiba jatuh sakit. Perawakan Liana semakin hari menjadi semakin kurus. Suhu tubuhnya amat panas layaknya terbakar. Wajah menawannya yang pucat terlihat semakin gersang tanpa cahaya. Dia begitu lemas, sampai-sampai hanya dapat berbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Sudah lebih dari selusin dokter yang kubawa kemari untuk memeriksa Liana-ku, namun dokter-dokter itu selalu saja mengatakan hal yang sama dan menyakitkan hati; Liana tak lagi dapat tertolong.

Sudah berminggu-minggu sejak Liana-ku jatuh sakit dan menderita. Dan hampir di setiap malamnya aku tak dapat membendung kepedihan ini. Aku terlalu takut akan pikiranku sendiri yang mengatakan kalau Liana akan segera pergi untuk selamanya. Sekonyong-konyong ingatlah aku akan janji yang sampai sekarang belum sempat terpenuhi; janji untuk melukis sosok indah Liana-ku. Air mataku dengan deras bercucuran, aku sangat menyesal lantaran begitu terlena dengan profesiku sebagai pelukis. Tak mau aku memejamkan mata malam ini sambil terus mengawasi dengan iba kondisi memprihatinkan Liana. Kugenggamlah dengan erat tangan gadis yang kucintai itu, dan ketika fajar mulai timbul, dia pun tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Oh, Liana-ku, dia telah pergi untuk selamanya.

Sungguh aku tak percaya, pikiranku tak kuasa memahami peristiwa yang paling menyedihkan dalam hidupku. Kehilangan sosok Liana membuat hatiku tercabik-cabik rasanya. Begitu sengsaranya nasibku ini, hingga menangislah aku sejadi-jadinya meratapi kehidupan yang kembali dengan keterpurukannya. Memori-memori indah tentang kebersamaanku dengan Liana terus menghantui poros otakku tanpa henti, menjadikanku hilang arah. Kudekaplah Liana-ku dengan erat, sebelum mengangkatnya pergi ke dalam studio lukisku. Kududukkan badannya di atas kursi tak jauh dari kanvas, menyanggahnya dengan tali agar tubuh lemasnya tidak merosot turun. Tanganku bergetar saat mengambil sebotol anggur merah, meneguknya banyak-banyak sebelum meletaknya ke lantai untuk mengambil kuas cat dan palet warna. Aku pun duduk bergeming sesaat sambil terus memandang gundah sosok Liana yang telah tiada.

Kemudian kulukislah paras indah Liana-ku yang menyayat hati kecil ini ke dalam sebuah kanvas kosong. Kuhamburkan cat pada ujung kuas kepedihan akan perginya gadis yang sangat kucintai. Kematian Liana masih menjadi ketidakpastian yang menawan hati. Aku resah, masih tak percaya akan kepergiannya yang begitu cepat terjadi. Jantungku seakan digenggam dan diremaskan, hingga terasa amat menyesakkan. Tak mampu rasanya aku bernapas, tak mampu juga aku melawan jeritan kekecewaan. Kucoba untuk memuntahkan rasa sakit dalam tubuhku, namun ia hinggap lagi. Semakin dalam rasa sakitnya memasuki jiwaku dan merasukinya, kemudian bersembunyi hingga timbullah lagi kepedihan ini. Meski begitu masih saja kulukiskan paras menawan Liana-ku tanpa henti. Bagaimana hidupku bisa sesengsara ini? Harus bertahan dengan kepahitan yang begitu menyayat hati. Oh Tuhan, tolong aku! Bawa kembali Liana-ku!

Aku meneguk lagi minumanku hingga habis. Tersiksanya batin ini membuat pikiranku semakin liar. Aku tak dapat lagi mengontrol diriku. Kuas di tanganku mendadak patah, tapi kubiarkan saja kuas itu jatuh dan tergeletak di lantai sebelum mengambil lagi yang baru. Aku terlalu fokus pada kanvas dan sosok tak bernyawa Liana-ku, sampai-sampai tak menyadari kalau kakiku menginjak botol anggur merah hingga pecah, membuat telapak kakiku terkoyak dan berdarah. Namun masihlah tanganku tak henti-hentinya bergerak bebas hingga malam pun kembali menjelma. Saat tadi kuputuskan untuk melukisnya, aku mendandani Liana dengan gaun merah favoritnya. Namun sial, rupanya cat merahku sudah tak lagi bersisa. Aku berdecak dan berteriak parau, lalu terdiam saat tiba-tiba kepikiran sesuatu. Aku mengambil pecahan botol di lantai, lalu menggores panjang lenganku. Tampak di situ rembesan darah yang tak henti-hentinya keluar. Ini dia warna merahnya! Gejolak pikiranku kali ini semakin liar, dan semakin banyak pula aku membutuhkan warna merah di lukisanku. Kugores lagi lenganku beberapa kali di tempat yang sama, hingga luka yang kuderita begitu dalam dan tampak mengenaskan. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan rasa sakitnya. Tanganku masih terus melukiskan paras cantik Liana lagi dan lagi dengan warna merah yang berasal dari darahku sendiri.

Gelap malam seakan tertawa sinis, menghina karya seniku tentang Liana. Sekujur tubuhku pun bergetar bukan main. Dan ketika sakit di dadaku terasa makin menyesakkan, terlihatlah mata merah Liana yang menatap kosong ke arahku. Aku terperanjat. Oh tidak, apa aku sudah gila? Senyuman kakunya itu masih terlihat indah bagiku. Aku memang sudah gila! Hasratku kembali lagi, semakin menggelora kali ini. Tanganku terus dan terus melukis tiada henti, dan tepat sebelum fajar merangkak naik, selesai jugalah lukisan pertama dan terakhirku tentang Liana. Ini adalah mahakarya! Aku pun jatuh berlutut. Tubuhku semakin lemas karena banyak kehilangan darah. Dalam berkunangnya pandanganku, terdengarlah suara lembut yang memanggil-manggil namaku. Dengan terhuyung aku mengikuti arah panggilan itu, lalu terjatuh tak berdaya dalam pangkuan Liana. Aku pun tertawa getir, agak lama, sebelum jemari lemahku membelai lembut rambut putihnya. Tunggulah aku, Liana-ku. Kita akan bertemu lagi.