Pembalasan Itu Akan Sampai Juga Waktunya

Ilustrasi. Foto oleh Nastasya Day/ Pexels

Aku hanya melihat dari kejauhan, api yang berkobar-kobar melahap rumah tua itu. Teriakan-teriakan, orang-orang berlarian berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Suara-suara cemas, mengkhawatirkan sepasang suami-istri penghuni rumah tua itu.                                                     

Tapi rasanya sudah terlambat. Api sudah sangat besar. Selain itu, di dalamnya banyak barang-barang yang mudah terbakar: kain-kain tua, kertas-kertas, juga ceceran bensin. 

Aku tahu. Tentu saja tahu, karena aku pernah bertahun-tahun tinggal di dalamnya. 

***

Aku seperti melihat kembali gambar-gambar berlarian cepat ke masa lalu. Pasangan muda yang serasi -- cantik dan tampan --, cukup berada. Setidaknya dengan keberadaan rumah gedung yang mereka tempati, dan mobil dalam garasi. 

Mereka menunggu setahun. Ah, masih baru. Dua tahun, belum juga. Tahun ketiga pasangan itu mulai gelisah. Menginjak tahun kelima, tidak juga. 

Pada tahun ketujuh wajah pasangan itu berseri-seri. Mereka menggendong bayi yang masih merah. 

"Orang tua gila, bayi dibuang di tempat sampah. Barangkali hasil selingkuh, barangkali ibunya seorang perempuan nggak benar. Lonte," suara si perempuan. 

"Kasihan. Kita asuh saja. Kita beri nama apa dia?" tanya sang suami. 

"Bagaimana kalau kita beri nama, Angel?"

***

Aku kemudian tahu perkembangan  Angel. Tentu saja tahu, karena aku begitu dekat dengan mereka. Begitu dekat. 

Angel amat disayang oleh orang tuanya  yang baru. Namun, pada usia sepuluh tahun segalanya berubah. Usaha orang tua angkatnya bangkrut. Dan suasana dalam rumah mendadak muram. Takada lagi keceriaan seperti dulu. Nyaris takada hari tanpa pertengkaran, saling menyalahkan, dan berhamburan kata-kata kasar. 

Angel tak mengerti. Namun, ia mengingatnya. 

Angel takut, semakin takut, karena kini kedua orang tuanya melihat dirinya. Angel menjadi pelampiasan kemarahan. 

"Gara-gara kehadiranmu semuanya berantakan. Anak sial!"

Selanjutnya kata-kata anak sial, anak setan, lonte, dan nama-nama binatang selalu didengar Angel. Angel tak mengerti kenapa orang tuanya menyebut kata-kata itu terhadapnya. Tapi Angel mengingatnya. 

Dan kekerasan fisik. 

"Ampun, Mi!"

"Aku bukan mamimu, anak setan!"

"Mana asbak?!" teriak papinya. Karena tidak cepat menunjukkannya, maka tapak tangan Angel dijadikan asbak. Percuma saja Angel meraung, karena ini membuat papi maminya semakin menjadi-jadi. Pun, suaranya takkan terdengar dengan tetangga lain. Rumah tempat tinggalnya berjarak cukup jauh dengan para tetangga. 

Gambar-gambar itu begitu jelas. Aku tahu, tentu saja tahu. 

Angel kabur dari rumah. Tapi cepat ditemukan mami papinya. Sebagai hukuman, Angel dikurung di kamar belakang; dua hari tak diberi makan. Angel menjerit-jerit mohon ampun. Ini malah membuat kedua orang tuanya semakin marah. Kedua tangan dan kakinya diikat. Belum cukup, mulutnya di-lakban agar suaranya takterdengar keluar. 

Angel hanya menangis tak mengerti. Namun, ia mengingatnya. Angel tak mengerti, kenapa ia menjadi tumpuan kesalahan. Kedua orang tuanya seperti terpuaskan setelah menyiksa dirinya. 

Bertahun-tahun! 

Usia Angel kini 17, delapan belas? Angel tak mengingatnya. Yang ia rasakan tubuhnya kurus dan bau, rambutnya kasar. Kulitnya pun pucat, karena takpernah tersentuh sinar matahari. 

Suara-suara yang terdengar pun hanya suara-suara kedua orang tuanya. Penuh cacian, kemarahan, yang ditujukan pada dirinya. Pernah suatu kali ia mendengar suara, mungkin tetangganya. 

"Ke mana Angel, jarang kelihatan?"

"Dia tinggal di rumah neneknya." Itu suara maminya. 

Sesudah itu takada lagi suara-suara yang menanyakan keberadaan Angel. 

Angel sendiri, di kamar belakang menjadi sosok yang penuh curiga,  ketakutan. Tubuhnya langsung gemetar bila terdengar suara-suara tapak kaki menghampiri kamarnya. Tidak! Ia tidak gila. Ia masih bisa mengingatnya. Semuanya. Dan menyimpan lava dalam bola matanya, yang sewaktu-waktu dapat ia ledakkan. 

Untuk itu ia harus bertahan untuk hidup, walau makan seadanya, dilempar ke kamarnya. 

***

Aku tahu itu. Tentu saja tahu. Gambar-gambar itu selalu berputar di Kepalaku. 

***

Pada suatu malam -- gambar itu begitu jelas -- mami dan papinya lupa mengunci kamarnya. Angel berdebar-debar menunggu. Kamar yang lembab membuat tapak tangannya semakin dingin. 

Kini saatnya! 

Suara-suara. 

Angel merasakan dua orang memasuki ruangan. Seperti biasanya, dengan tubuh limbung; mabuk. Kemudian suara tubuh ambruk. 

Angel menahan nafas. Takada pergerakan. Hening. 

Perlahan Angel membuka kamarnya. Dengan langkah sepelan mungkin ia melihat ke ruang tengah. Menguar aroma minuman. Dilihatnya mami dan papinya terkapar. Mami papi? Masihkah pantas kedua orang ini disebut mami papinya? 

Angel tersadar. Ia harus bertindak cepat. Dengan sisa tenaga yang ada ia ke belakang mencari tali, atau apa saja untuk bisa sebagai bahan pengikat. Dengan cepat pula mengikat kedua tangan dan kaki kedua orang tua angkatnya. 

Ia mengingatnya, karena begitu dulu mami dan papinya mengajarkan. Mulut yang dilakban. Ah, bukankah ia hanya mempraktekkan apa yang diajarkan orang tuanya? 

Cukup? Belum! Ia harus mengumpulkan tenaga dulu. Maka dicarinya makanan di kulkas. Ada sisa roti dan buah-buahan. Angel makan dengan sangat rakus. Sudah lama ia tak merasakan ini. 

Setelah dirasa tenaganya sudah pulih, Angel bergerak cepat. Ia mengumpulkan dan menumpukkan pakaian, kertas-kertas di sekeliling kedua orang tuanya. 

Entah setan mana yang merasukinya, ia seperti mendapat tenaga lebih. Angel mencari ke gudang sisa-sisa bensin, oli, dan disiramkan ke tumpukan kain itu. 

Bukan. Tidak seperti itu. Angel mengingatnya. Ia ke kamar mandi, dan membawa seember air, disiramkannya ke wajah mami dan papinya. Ia hanya mempraktekkan apa yang dilakukan orang tua angkatnya terhadap dirinya. 

Benar. Mami papinya gelagepan tersadar. Mereka terlihat marah. Tapi takbisa bergerak dan bersuara. Tengkuk mereka meremang saat melihat tatapan Angel yang dingin, juga tumpukan kain mengelilingi mereka. 

Angel melihatnya. Mengingatnya. Mata itu, wajah itu, sama dengan mata dan wajahnya dulu, saat memohon-mohon minta ampun penuh ketakutan. 

Angel mengingatnya. 

Suara Angel terpatah-patah, serak. "Aku tidak bisa memilih lahir di mana, dari orang tua siapa, dan siapa yang membesarkanku. Aku di rumah ini juga bukan atas kehendakku. Mengapa kalian memperlakukanku seperti itu?" Berkata begitu Angel mendekat, dan memeluk orang tua angkatnya. Mencium pipi mereka. "Terima kasih," suara Angel lirih. 

Mami papi Angel terlihat mengeluarkan air mata. Angel juga. Kemudian Angel bangkit, melemparkan sesuatu ke tumpukan kain. Letikan api. 

Dengan cepat api menyambar tumpukan kain yang sudah tersiram bensin. Dengan cepat pula Angel keluar dan mengunci pintu. Menjauh. 

Di kejauhan Angel melihat api semakin membesar. Tak lama terlihat tetangganya keluar berlarian, berusaha memadamkan dengan peralatan seadanya. Suara-suara cemas, mengkhawatirkan keadaan penghuni rumah. 

Tapi rasanya percuma saja. Di dalam rumah itu banyak tumpukan kain dan kertas, serta ceceran bensin. 

***

Aku tahu. Tentu saja tahu. Gambar-gambar itu begitu jelas berputar di kepalaku. Aku sudah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. 

Aku mengingatnya. Aku, Angel! 

***

Lebakwana, Maret 2021.