Marisa

Grid.id

Pukul 23:33 waktu setempat, Marisa mendadak terbangun. Rasa haus tiba-tiba menyerang, tenggorokannya terasa kering dan panas. Saat meraih gelas di meja samping tempat tidur, ternyata kosong. Dengan kesal dia bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas menuju dapur. Setelah menuangkan air putih ke dalam gelas, mineral itupun ditenggak tuntas seketika. 

 

Tetapi dahaga tak mereda, Marisa masih kehausan. Dua, tiga, hingga lima gelas air putih sudah direguk. Tetap saja rasa haus tak mau hilang. Padahal perutnya mulai kembung. Perempuan itu gelisah. Dia berpikir untuk mencari minuman dingin dan segar. Saat membuka lemari es dan menemukan sekotak jus kemasan, langsung diraih dan meminumnya dari wadah. Sungguh tak habis pikir, setelah itupun dia masih kehausan.

 

"Ada apa denganku? Mengapa begini?" 

 

Marisa berkata kepada diri sendiri. Kegelisahan menyelimuti hati. Dada berdegup kencang, nafasnya tersengal seperti kekurangan oksigen. Perempuan itu bergegas keluar rumah, berharap mendapat udara segar. Setelah tiba di teras, angin berhembus menerpa wajah tirusnya. Rambut panjang bergelombang hingga ke pinggang meriap-riap dipermainkan bayu. 

 

Bulan purnama penuh, suasana di sekitar sepi. Lolong anjing terdengar menyayat hati di kejauhan, seperti memanggil dirinya. Tetap saja, udara terbuka tidak banyak membantu. Marisa masih haus, pikirannya semakin kusut seperti orang yang ketagihan obat-obatan terlarang. Dia kebingungan. 

 

Perempuan yang masih kuliah semester 6 di sebuah Universitas itu kembali ke dalam rumah. Semua anggota keluarga sudah tidur pulas. Hanya dia saja yang mondar-mandir tak jelas di dalam rumah. Sebentar ke kamar, lalu ke dapur, kemudian kembali ke teras depan rumah. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dengan mengendarai mobil ayahnya tanpa tujuan.

 

Kota besar memang tidak pernah tidur. Walau jalanan lebih lengang malam hari dibanding siang, tetap saja masih banyak pedagang kaki lima yang berjualan. Begitu pula dengan penikmatnya. Tanpa disadari Marisa tiba di alun-alun kota. Setelah memarkirkan mobil, dia turun dan berjalan ke arah bangku taman yang terdapat di alun-alun. 

 

Hawa dingin tidak dapat menembus kulitnya. Marisa hanya mengenakan T-shirt merah muda, dipadu dengan celana jeans hitam. Bahkan dia hanya memakai sandal jepit berbahan kulit sintetis. Tubuhnya bergetar karena masih merasakan haus yang menyiksa.

 

"Malam, Mbak!" sapa seorang pemuda kira-kira berusia dua puluhan padanya.

 

"Ma-ma-malam!" jawab Marisa sendat.

 

Entah mengapa dia merasa sulit berbicara. 

Saat membalas sapaan, Marisa tidak menatap wajah lawan bicaranya. Matanya justru tertuju pada leher si pemuda. Entah mengapa dia begitu tertarik pada urat nadi yang dialiri darah segar. 

 

"Mbak menunggu seseorang?" tanya pemuda itu lagi.

 

"Ti-tidak!" jawab Marisa singkat. "Saya hanya cari angin."

 

"Oh, baiklah. Saya pamit dulu ya, Mbak!" 

 

Marisa mengangguk, pemuda itu hendak berlalu sambil menenteng gitarnya. Mungkin dia hanya pengamen jalanan yang kebetulan lewat. Begitu pemuda itu berbalik badan, seolah ada hasrat yang mendorong Marisa untuk mendekati dari belakang. Kedua tangannya mengembang ingin mencengkeram tubuh pemuda itu, namun urung. Dia menggelengkan kepala sesaat, seolah-olah membendung keinginan yang tak terkendali. 

 

Marisa memutuskan kembali ke mobil memacu kendaraan ke arah lain tanpa tujuan pasti. Tetapi, baru saja beberapa ratus meter berkendara, perempuan itu melihat sebuah kecelakaan. Seorang pengemis tergeletak di jalan, dengan kondisi kepala pecah bersimbah darah dilindas sebuah mobil. Pelaku malah melarikan diri. 

 

Marisa menghentikan kendaraan tak jauh dari tubuh korban. Di sekitar sepi, mungkin karena malam kian meninggi. Dia berhenti bukan karena merasa simpati. Namun ada hal lain yang menarik perhatiannya. Darah! Ya … darah. Seketika rasa haus kembali menggelegak di dalam tubuhnya. Dia turun dari mobil berjalan mendekati korban. Menatap penuh nafsu pada cairan kental yang masih merembes dari tubuh tak berdaya. 

 

Detik selanjut, Marisa bersujud di samping tubuh korban dan menopang kepala yang bocor dengan kedua tangannya. Bau anyir justru membuat dahaganya kian memuncak. Tanpa ragu, mulut Marisa menadah darah yang mengalir. Dia seperti menikmati minuman ternikmat di dunia. Ajaib! Kini dia terpuaskan. Marisa meninggalkan tubuh yang tak bernyawa begitu saja, masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.

 

°°°

 

Keesokan malamnya, Marisa ada janji bertemu dengan dosen pembimbingnya di laboratorium kampus. Prof. Satarrudin sedang menunggu hasil laporan senyawa yang pernah diuji oleh mereka seminggu lalu.

 

"Kamu sudah datang?" tegur sang dosen saat melihat mahasiswinya tiba, "bagaimana hasilnya?"

 

"Saya tidak tahu!" jawab Marisa ketus.

 

"Apa maksudnya kamu tidak tahu?" Prof. Satarrudin heran. 

 

Pria paruh baya bertubuh tinggi dan sedikit gemuk menurunkan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Sambil menatap ke arah Marisa, kening lebar dan separuh kepalanya yang botak berkerut.

 

Marisa tidak menjawab. Dia terus berjalan ke arah Prof. Satar (begitu dia dipanggil). Suara langkah kaki beralaskan Kiteen Heels hitam polos, mengetuk-ngetuk lantai marmer laboratorium. Terdengar menggema nyaring di ruangan. Setelah mereka saling berhadapan, perempuan itu menatap mata dosen pembimbingnya tajam.

 

"Mana laporan yang saya minta?" tanya dosennya datar.

 

"Bapak ingin tahu hasilnya?" Marisa balik bertanya.

 

"Tentu saja!" 

 

Sekali terkam, mulut Marisa melekat di leher Prof. Satar. Aksinya membuat Pria bertubuh tinggi itu tak sempat mengelak, sebab cabikan gigi mahasiswi itu telah melumpuhkan dirinya. Darah segar mengalir deras ke dalam tenggorokan Marisa yang dihisap penuh dendam. Setelah korbannya lumpuh, didorongnya tubuh itu ke lantai laboratorium dengan kasar.

 

"Kamu menjadikan saya kelinci percobaan. Sekarang, rasakan akibatnya!" dengus Marisa bengis.


 

#sciencefiction