Asrama Philip Ex

Ilustrasi Pixabay

Scott Van memilih tinggal di Asrama Philip Ex Academy, sebuah private high school terbaik yang ada di Amerika. Ia mengambil Jurusan Teknik Kimia. Yang berarti Scott akan menciptakan hal baru dari cairan zat kimia. 

 

Sempat terpikir ketika ia masih kecil, bersama Paman Will di sebuah taman. Mereka berkeliling mengitari pepohonan yang rimbun. Cuaca pun mendung, tiba-tiba hujan turun lebat sekali.

 

Ada petir menyambar menimbulkan aliran listrik yang begitu hebat. Pohon Cemara tumbang menghalangi perjalanannya.

 

"Paman Will, apakah manusia bisa menciptakan aliran listrik?"

 

Paman Will terdiam sesaat, dirinya bukan seorang ilmuan, ataupun seorang profesor yang bisa menjelaskan hal rumit seperti ini. Scott kecil terlalu pintar bereksperimen. Pola pikirnya melampaui batas sampai ia tumbuh dewasa. Scott bisa mendapatkan beasiswa yang begitu mengagumkan. Kuliah di Kampus Philip Ex Academy yang terkenal di Amerika. 

 

Keesokan harinya kehidupan di dalam kelas dihiasi dengan seorang instructor dan 12 mahasiswa yang sama-sama duduk di meja oval. 

 

Scott memulai memperkenalkan diri.

 

"Halo semuanya, nama Saya Scott Van. Saya berusia 21 tahun dan lulus dari SMA Dickinson. Sejak kecil, saya tinggal di New Jersey. Sebenarnya saya bukan jenis orang yang bisa dengan mudah bicara di depan umum seperti ini, namun saya berusaha mengatasi rasa gugup itu." 

 

Scott Van lalu bercerita tentang ketertarikannya pada Laboratorium Kimia. Dia memiliki tujuan untuk keliling dunia dan merasakan budaya yang benar-benar berbeda.

 

Jonathan menanggapi Scott. Yang melenceng dari pembahasan.

 

"Scott untuk apa kau selalu membawa buku setebal itu? Bukankah hari ini adalah kelas diskusi, bukan untuk membahas teori ilmiah."

 

"Jonathan, itu hak Scott. Sebaiknya kamu menghargai privasi teman," pungkas Sang Dosen

 

"Ok."

 

Sang Dosen sangat mengenal pribadi mahasiswanya. Kemampuan Jonathan yang mahir dalam sebuah praktek. Tapi, dia kurang dalam memberi penjelasan dalam teori hasil diskusi. Jonathan malas mencatat penjelasan dari Sang Dosen. Tampak dari lembaran kertas bukunya masih terlihat baru.

 

Tepat jam satu siang, bel berdering waktunya makan siang. Namun, Scott memilih pergi ke Perpustakaan. Hanya untuk mencari buku James Watt. Ia menelen ludah, ketika mengetahui ruangan sepi.

 

Scott memberanikan diri memasuki lorong yang panjang. Dinding-dinding yang kusam itu bisa berubah. Ketika Scott menekan tombol open. Berubah menjadi rak buku yang begitu tinggi. Dari garis bawah berderet rapi membentuk rel yang panjang. Buku-buku ilmiah terpajang di deretan rak sampai ke atas. Atap ruang kini sudah bercahaya oleh lampu Cristal. Sungguh gaya ruangan nampak mewah meski terkesan kuno. 

 

Sayangnya dari buku-buku yang Scott pilih. Buku yang ia cari belum juga ditemukan. Tiba-tiba dari lubang fentilasi timbul tiupan angin. Membuat buku yang diletakkan paling atas turun menimpa kepala Scott.

 

Ia mendesis kesakitan. Kemudian Scott meraih buku itu ke dalam dekapan tangan. 

 

"Cat Experiment, Merry Jane." 

 

Scott membaca judul buku tersebut. Lalu, membuka beberapa paragraf awal. Yang membuatnya kaget, lewat buku tersebut ia bisa menghidupkan kucing yang telah mati dari aliran listrik. Namun, aliran listrik tersebut didapat dari petir yang menyambar. Bukankah eksperimen ini yang selama ini Scott cari.

 

Scott Van menunggu musim dingin datang. Ini saatnya, waktu hujan turun di malam hari. Ia keluar ke halaman belakang asrama. Mengenakan pakaian dobel dibalut dengan jas hujan. Membawa tas koper berisi peralatan eksperimennya. Termasuk kawat-kawat yang ia dapatkan dari hasil mencuri. Terpaksa ia lakukan, begitu pun dengan kucing Lorents. Yang terkubur di taman asrama. Scott bongkar. Ia yakin eksperimennya akan membuahkan hasil malam ini. 

 

Scott merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Tapi, kenapa saat ia berbalik tak ada orang? Mungkin hanya perasaannya saja. 

 

Ia merasakan udara begitu dingin. Petir sesekali berirama. Beradu dengan detak jantungnya. Scott begitu berani menghadapi tantangan. Menciptakan sesuatu yang berbeda. Akan membuat namanya melambung di Amerika. Seorang mahasiswa teknik kimia yang begitu keren. Scott membayangkan pujian dari teman-temannya. Selangkah lagi, angan-angan itu akan tercapai.

 

Jonathan muncul dari persembunyiannya.

 

"Scott, apa yang akan kamu lakukan dengan Lorents?" 

 

"Itu bukan urusanmu."

 

Scott melangkah lebih cepat agar Jonathan tidak lagi mengikutinya. Namun, Jonathan tampak penasaran. Dengan derap langkah seribu ia menyusul Scott. Menarik lengannya hingga tubuh Lorents terlepas dari dekapan Scott.

 

Emosi Scott tak terkendali. Akhirnya, ia meninju perut Jonathan. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Jonathan yang tengah terkapar ke semak-semak. Tak ada yang bisa menghalangi impiannya.

 

Tubuh Lorents sudah diletakkan pada meja buatannya. Cairan yang terbuat dari campuran cuka yang telah diawetkan. Scott menumpahkan cairan tersebut ke kerangka kucing. Potongan kerangka kulitnya sudah disatukan kembali. Dengan cara dijahit. Kabel kawat sudah terpasang di bawah meja. Tinggal menunggu petir datang. Maka remote control di tangan Scot yang akan mengendalikan. Agar Lorents dapat hidup kembali.

 

Dalam hitungan, satu, dua..

 

"Tidak!"

 

Bukan tubuh Lorents yang tersambar petir. Justru tubuh Scott yang gosong karena percikan api. Remote control belum berfungsi. Ternyata ada kabel yang tersangkut di dalam koper. Pada saat bersamaan. Scott masih memegang koper tersebut. Dan, petir menyambut telapak tangannya. Terjadilah aliran listrik yang begitu cepat. Yang mengakibatkan Scott tumbang karena hasil uji coba eksperimennya sendiri.

 

***

 

TAMAT

 

#sciencefiction

 

PML, 5 Maret 2021