Cakar-Cakar Agni

Cakar-Cakar Agni

Agni tidur dalam kotak pengangkut, menikmati hangatnya sinar matahari yang menerobos kaca jendela mobil, melewati kisi-kisi kawat dan jatuh ke tubuhnya. Setiap helai bulunya kini terisi ion listrik statis.

Alas tidurnya berupa handuk tua yang kasar, dan dia sangat nyaman. Sesekali roda melindas gundukan perintang jalan membangunkannya dari setengah tidur, dan dia mendengar manusia di kursi depan mobil berbicara.

Agni hanya sedikit memahami bahasa manusia, yang dipelajarinya sejak dia masih kucing muda. Tapi dia suka mendengarkan suara mereka. Satu lebih tinggi dan satunya lebih rendah, bergantian , membuat melodi yang harmoni.

Dia menyukai kedua manusia itu. Mereka memperlakukannya dengan baik setelah menyelamatkannya dari gedung dengan dinding sel penjara sempit beberapa minggu lalu.

Setelah mobil berhenti, Agni merasakan kotaknya terangkat. Dia dibawa keluar dari mobil yang hangat ke cuaca panas musim kemarau yang berangin, dan memasuki udara dingin sebuah gedung ber-AC.

Dia bisa mencium semua jenis hewan berbulu di sini—kucing, anjing, hewan pengerat. Begitu banyak jenis hewan pengerat! Tikus dengan ekor kaku dan hamster yang bermain-main dengan bola bulu. Agni bahkan bisa mencium aroma bulu kehitam-hitaman yang menyenangkan.

Namun, di balik itu semua dia mencium rasa takut. Begitu banyak ketakutan. Bau itu meresap di hidungnya dan mengental di perutnya, menjadi ketakutannya sendiri.

Bulu-bulunya merinding, tegak di sepanjang tulang punggungnya, dan mengembang di ekornya. Mengumpulkan ion dari kelembapan udara. Dia merasakan percikan listrik di bulunya terurai. Listrik statis yang mentah dan liar.

Manusia penyelamatnya meletakkan kotak pengangkut, dan salah satu dari mereka duduk di sampingnya.

Hidung seekor anjing besar mengendus ke kisi-kisi kawat, tetapi manusia itu mendorong kepala si anjing menjauh. Agni meradang marah dan dia pun meludahi moncong si anjing. Dia gelisah.

Anjing itu mundur menjauh, terhina oleh sikap kasarnya dan berkata, "Wow! Aku tak ingin berada di sini!"

Manusia tidak bisa memahami kata-kata anjing itu. Mereka hanya mendengar bunyi menggonggong dan menyuruh anjing besar itu diam. Tapi Agni mengerti.

Manusia tidak harus belajar mengerti bahasa hewan lain, tapi hewan lain tahu bahwa mereka perlu belajar memahami manusia. Ini diperlukan untuk keselamatan mereka.

Agni melebarkan telinga segitiganyanya ke samping. Dia harus fokus mencari tahu di mana dia berada. Mengapa manusia membawanya ke sini? Tempat apa ini? Dan mengapa semua hewan takut?

Manusia dengan suara rendah masih duduk di sampingnya, tapi dia bisa mendengar manusia dengan suara lebih tinggi dari seberang ruangan, berbicara dengan orang lain. "Berapa lama waktu yang dibutuhkannya memotong kukunya?" manusianya bertanya.

Orang lain menjawab: "Anda bisa menjemputnya jam empat sore. Dia akan pusing dan sakit selama beberapa hari, tapi besok malam dia sudah bisa berjalan lagi. Dan dia akan kembali ke dirinya yang dulu pada akhir pekan jika Anda merawatnya dengan baik."

Agni tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi dia tidak suka bunyinya.

Dia mengeluarkan kukunya dan melihat ujung runcing dan tajam melengkung keluar dari bulu halus oranye di cakarnya.

Cakarnya adalah bagian dari dirinya. Dia tidak akan menyerah. Tidak ada yang boleh mengambilnya darinya.

Perasaan gelisah menyebabkan ion listrik di bulunya mendesis. Dia merasa panas karena marah. Manusia lain itu membawa kotaknya ke sebuah ruangan. Agni merasa melayang, yang aneh.

Dia tahu dia aman di dalam kotak bersama handuk tuanya, tapi dia juga bisa merasakan dunia berayun bebas di luar sana. Dan ketika mereka tiba di pintu ruangan baru, manusia bersuara tinggi mengintip melalui kisi-kisi di atas kotaknya dan membujuknya dengan kata-kata mesra. Jantungnya berdebar-debar bagai pemantik api di dalam dirinya, membuatnya jungkir balik berkali-kali. Wajah manusianya tampak begitu baik dan tidak berbahaya, penuh kasih.

Bagaimana mereka bisa membawanya ke sini? Bagaimana mereka bisa meminta seseorang untuk memotong cakarnya? Bagaimana bisa kebencian terlihat seperti cinta?

Marah dan frustrasi, listrik statis di tubuhnya membara, dan dia tidak pernah lebih merasakan keberadaan cakarnya. Dia bisa merasakannya. Dia bisa merasakannya seperti api yang menyala dengan kekuatan hidupnya.

Gumpalan api yang lahir membentuk garis tipis bak bulan satu Ramadan. Cakar-cakarnya adalah kekuatannya, dan dia akan melindungi mereka dengan segala cara.

Kedua manusianya pergi, dan manusia asing itu membuka bagian atas kotaknya. Jeruji kisi-kisi logam membalik, dan tangan manusia asing itu masuk dengan jarum panjang. Jarum perak itu mencoba menusuk kulitnya!

Agni berguling telentang dengan gesit, membalikkan cakarnya ke atas. Kukunya terulur. Dia menggeram dan menebas. Cakarnya yang tajam bergerak bagai api bersamaan dengan amarahnya yang meledak. Bulu-bulunya melepaskan ion menjadi tarian nyala api. Api yang nyata.

Cakarnya menyala panas membara, seperti pusat nyala lilin. Panas api oranye mengenai ujung lengan baju manusia asing. Jas putihnya terbakar, membuatnya menarik lengan mereka mundur sambil berteriak.

Jarum yang tadinya akan menusuk kulitnya tanpa izin jatuh berdentang di lantai keramik.

Agni melompat keluar dari kotaknya bagai bola api diterbangkan angin, memancarkan gelombang panas. Dia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan.

Agni melompat dari meja tempat kotak pengangkutnya diletakkan. Saat matanya melirik ke belakang, handuk tuanya sedang menyala. Dia menyukai handuknya dan sebentar lagi benda itu akan hilang. Kebebasannya jauh lebih berharga dibandingkan sebuah handuk tua.

Manusia asing itu berlari ke wastafel di sudut ruangan dan mengalirkan air ke lengannya. Kemudian dengan cerobohnya dia mencoba memercikkan sedikit air ke Agni, tetapi apinya terlalu panas, terlalu terang untuk diredupkan hanya dengan beberapa percikan air dingin. Air itu langsung menguap menjadi kabut asap.

Agni kini bola api yang hidup.

Berhadapan dengan panasnya yang membara, manusia itu lari keluar dari ruangan, meninggalkan pintu terbuka di belakang punggungnya.

Agni menyusul keluar dari ruang, melintasi lorong, dan kembali ke ruang masuk tempat resepsionis. Kaki apinya melangkah anggun, mengabaikan manusia-manusia berjas putih yang bergegas mengelilinginya.

Anjing besar yang menyapa Agni sebelumnya sudah pergi, tetapi ada kucing dan anjing lain bersama manusia mereka. Bagi mereka, Agni tampak seperti bola api berbentuk kucing.

Udara mendesis di sekelilingnya. Ion-ion membentuk medan elektromagnet yang menyebabkan alarm meraung.

"Keluar dari sini. Bawa manusia kalian jika kalian menyayanginya."

Tentu saja anjing dan kucing dengan tali pengikat di leher atau di dalam gendongan tidak dapat berbuat banyak. Tapi manusia-manusia mereka yang ketakutan bergegas keluar dari gedung, menyeret anjing atau menggendong kucing mereka.

Agni mengangkat satu kakinya, lalu dengan anggun menyentuh kain pelapis kursi-kursi. Cakarnya yang berapi menggores membuat bahan mewah pelapis sofa berkobar dalam tarian panas membara.

Dia membiarkan ekornya menyentuh tumpukan majalah di meja ujung, dan kertasnya langsung berkobar. Cakar-cakar Agni menyentuh sekenanya ke mana pun dia melangkah, dan pada saat dia mengikuti yang lain keluar dari gedung, klinik dokter hewan telah membara dalam balutan bahang merah kuning oranye..

Panas tidak mengganggu Agni. Dia menyukai panas. Panas membuatnya merasa nyaman dan kuat.

Dia menyusuri jalan, merencanakan hidup baru untuk dirinya sendiri. Seekor kucing tanpa manusia yang akan  menyakitinya.

Di kejauhan dia mendengar sirene. Petugas pemadam kebakaran mungkin datang dan memadamkan api yang dibuatnya. Tapi tidak ada yang akan memadamkan api dari cakarnya.

 

Bandung, 5 Maret 2021


Sumber ilustrasi

#sciencefiction