Serum Ajaib untuk Anai

Serum Biru (ist)

 

Aku mengenalnya dengan nama Anai. Entah kenapa orang tuanya memberi nama gadis yang sebaya denganku itu, seperti serangga buta pemakan kayu. Dari fisiknya, dia sebenarnya cantik. Tubuhnya semampai dengan kulit kuning langsat. Rambutnya ikal tergerai sepunggung. Alisnya tebal, namun membentuk lengkung sabit di atas kelopak mata yang sama sekali tidak buta.

Ayah dan ibunya adalah pasangan ilmuwan kaya raya. Tak heran jika mereka memiliki sebuah laboratorium besar, lengkap dengan semua peralatan untuk penelitian. Yang kutahu, saat dulu bermain dengan Anai, di rumahnya banyak tamu datang untuk memesan obat atau cairan yang ditempatkan di tabung-tabung kecil berwarna bening. Kata Anai, itu obat untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya.

Meskipun saat kecil aku akrab dengan Anai, tak pernah sekali pun gadis cantik itu mengijinkanku masuk ke kamarnya. Tapi, pernah tak sengaja, sempat kuintip kamarnya. Bukan sebuah kamar seorang gadis menurutku. Tidak ada kasur dengan bedcover warna pink. Tidak ada boneka atau apa pun yang identik dengan anak perempuan. Tempat tidurnya berupa tabung besar dengan kabel-kabel yang terhubung dengan tabung lain, yang entah berisi apa. Yang kudengar hanya bunyi seperti luapan air mendidih. Semua peralatan di dalamnya canggih. Persis seperti lagu qosidah dengan judul Tahun 2000.

Sejak lulus SMA hingga lulus kuliah, aku jarang berkunjung ke rumah Anai lagi. Dia lebih pendiam. Sikapnya yang introvert, membuatnya tak memiliki banyak teman.  Tapi beruntung, karena fisiknya yang sempurna, Anai diterima bekerja sebagai karyawan di salah satu bank swasta di kota kami.

Sama seperti dulu. Rumah Anai masih banyak tamu dengan kendaraan mewah terparkir di halamannya yang luas. Mungkin, orang tua Anai masih melayani pembuatan serum untuk penyakit yang saat ini sedang santer dibicarakan orang. Ingin sekali kukunjungi teman kecilku itu. Namun karena dia sibuk, sebagai karyawan bank, dia lebih sering pulang larut malam.

-oo0oo-

Berita koran pagi menggegerkan seantero kota. Sebuah bank dibobol rampok. Uangnya ludes tak bersisa. Konon polisi tidak menemukan jejak kejahatan. Karena tak satu pun satpam di sana terluka. Bahkan, semua brankas dan laci tetap utuh terkunci. Anehnya, uang-uang itu raib begitu saja. Rekaman CCTV pun tidak menemukan gerak-gerik mencurigakan di dalam bank saat terjadi kasus perampokan.

Desas-desus  hal gaib sedang menyatroni kota, merebak. Setiap orang mulai waspada menjaga seluruh uangnya. Khawatir rumah mereka dijadikan sasaran, setiap orang meminta bantuan orang tua Anai untuk membuat obat penangkalnya. Dengan senang hati orang tua Anai melayani. Setiap orang mendapatkan satu tabung kecil berwarna bening, berisi cairan berwarna biru terang. Dengan petunjuk sang ilmuwan, cairan itu dicampur dengan air dan disemprotkan di seluruh bagian rumah.

Kotaku berubah menjadi kota mati. Semua orang ketakutan kehilangan harta yang telah dikumpulkannya. Biasanya, saat senja muda-mudi duduk di taman kota, sekarang sunyi. Mereka memilih mendekam di rumah.

Sore itu, aku berjalan menyusuri trotoar yang telah lengang. Nampak beberapa orang buru-buru pulang setelah checklock keluar dari kantor atau pabrik-pabrik tempat mereka bekerja. Angin sore begitu gersang menimpa wajahku yang mulai kedinginan. Di seberang jalan, nampak Anai keluar dari sebuah bank. Tumben dia tidak pulang selarut biasanya. Sedikit basa-basi, kucoba memanggilnya. Siapa tahu dia mengajakku pulang dengan mobil mewahnya.

Tak disangka, gadis cantik itu membalas sapaku. Jemarinya yang lentik melambai memintaku mendekat. Tak kubuang kesempatan langka, bergegas kuseberangi jalan yang telah benar-benar lengang. Anai menawariku tumpangan untuk pulang. Aku mengangguk mengiyakan. Dalam hatiku berharap, Anai akan membagikan serum penangkal tindak kejahatan. Sayang, hingga sampai di pagar rumah, tak sepatah kata pun keluar dari bibir ranum Anai. Hanya senyum, yang bagiku agak aneh, melengkung di wajah cantiknya.  

Setelah pertemuanku dengan Anai sore itu, berturut-turut kejadian aneh terjadi. Banyak orang melapor ke kantor polisi, uang mereka hilang. Kasusnya hampir mirip dengan kejadian bank yang kehilangan semua uang nasabahnya. Setiap orang di kotaku, memiliki CCTV. Sejak kejadian menimpa bank swasta, pemerintah di kotaku memberikan peralatan CCTV lengkap, yang langsung terhubung dengan monitor di kantor polisi. Mungkin untuk memberi jaminan keamanan serta kenyamanan bagi warganya. Namun, meskipun ada CCTV, orang-orang tetap membeli serum pencegah tindak kejahatan. Hanya beberapa orang saja yang tidak membeli. Termasuk aku. Karena harga yang tidak terjangkau oleh isi dompetku.

Matahari mulai menyembunyikan wajahnya di balik gunung. Tenggelam jauh ke dalam lembah, mengubah warna kotaku menjadi gelap seketika. Beruntung kotaku adalah kota modern. Semua infrastrukturnya didisain menyesuaikan perubahan alam. Jika matahari telah terbenam, maka lampu-lampu jalan otomatis menyala terang.

Aku duduk di ruang tengah. Ditemani secangkir teh dengan aroma kayu manis menguar. Sembari kunyalakan monitor CCTV, denting piano Love Story mengalun dari YouTube yang kuputar di gawai, membuatku terbuai. Namun sebuah gerakan aneh di layar monitor membuatku kembali konsentrasi. Alunan Love Story segera kumatikan. Di luar, nampak sesosok semampai memasuki pagar rumahku. Tubuhnya dibalut  pakaian dan jaket kulit panjang berwarna gelap.  Kakinya terbungkus sepatu boot berwana senada. Di lehernya melingkar syal rajutan. Wajah itu tak asing. Si cantik Anai sedang mengendap-endap masuk rumahku.

Dadaku berdebar. Suara detak jantung menjadi gemuruh mirip genderang perang ditabuh. Aku diam mematung. Mengamati gerak-gerik sahabat kecilku pada layar di depanku. Ajaib. Setelah di depan pintu, Anai tidak memutar knop pintu. Tubuhnya tiba-tiba mampu menembus daun pintu tebal rumahku. Mulutku terkunci rapat. Sepertinya, Anai tidak tahu bahwa aku melihat semua gerak-geriknya.  Dia mulai beraksi mengulurkan tangan ke dalam lemari yang tetap terkunci. Begitu aneh, tangan itu tahu di mana uang tabunganku tersimpan. Gerakannya tidak cepat. Dia begitu tenang mengumpulkan harta yang dicuri.

Tak kalah cepat, tanganku segera menghubungi nomor kantor polisi melalui pesan whatsapp. Beruntungnya, selain CCTV, nomor aduan yang polisi sediakan sudah dapat membaca alamat rumah pengirim pesan.

Anai masih menikmati menghitung harta rampasannya saat mobil polisi berhenti di depan rumah. Aku bergegas menuju pintu depan. Membukanya dan menyilakan polisi masuk untuk segera meringkus pencuri yang sedang menyatroni rumahku. Dengan sigap petugas kepolisian menangkap Anai. Gadis cantik sahabat kecilku.

Setelah kejadian di rumahku, polisi menggerebeg rumah ilmuwan, orang tua Anai. Dari keterangan polisi, ternyata Anai sejak kecil telah diprogram menjadi makhluk yang bisa menembus kayu, dinding beton, bahkan besi. Dengan begitu, Anai bisa membantu mengumpulkan harta untuk orang tuanya. Dan cairan serum yang dijual, ternyata adalah zat yang mampu mengaburkan sorot kamera CCTV,  menjadi tak kasat mata. Sehingga, tindak kejahatan Anai tak terpantau alat canggih sekali pun.

Sungguh tindak kejahatan bisa terjadi di mana-mana. Maka waspadalah.

-oo0oo-

#sciencefiction

 

SW2K, 05032012

Alaskembang