Memburu Zombie di Desa Kukus

Ilustrasi rumah di desa. Foto: ist

Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tetapi cerita Sarman begitu meyakinkan. Rasanya tidak mungkin hanya fiksi atau karangan dia saja, karena ini menyangkut desaku. Jika berbohong tentu dengan mudah akan terbongkar.

Oh iya, Sarman juga lumayan misterius. Aku sudah lama tidak bertemu, mungkin 15 tahun. Dulu waktu beranjak remaja aku sering diajak Sarman ke tempat-tempat angker. Dia paling suka mengunjungi tempat yang dianggap wingit sekedar untuk membuktikan keberaniannya. Maklum, di antara teman-teman sekampung, Sarman paling kucel dan dijauhi sehingga mungkin ingin menonjol di bidang berbeda.

Setelah selesai kuliah dan kerja di kota, aku tidak pernah lagi bertemu Sarman. Terlebih setelah keluargaku pindah ke kota. Aku tidak ingat lagi pada sosoknya. Teman-teman dari kampung yang kebetulan bertemu di media sosial juga tidak pernah menyinggung soal Sarman.

Tetapi kemarin mendadak dia muncul. Aku sempat heran bagaimana Sarman tahu alamat rumahku. Bahkan aku sempat tidak percaya karena penampilannya jauh berbeda. Masih agak kumal, wajahnya brewokan, namun pakaiannya lumayan rapi.

Setelah Sarman menceritakan beberapa hal yang dulu kami lakukan bersama, barulah aku percaya. Kami mengobrol hingga larut malam.

“Ada zombie di kampung kita,” ujar Sarman usai menceritakan beberapa kejadian mistis.

Aku tergelak. Bukan meremehkan, namun karena teringat pada kebiasaanku dulu. Usai kami mengunjungi tempat angker, aku pasti akan melebih-lebihkan cerita agar penduduk desa yakin Sarman memang pemberani. Sekarang justru Sarman yang mendramatisir cerita.

“Hanya kamu yang bisa mengusir,” lanjut Sarman tanpa peduli dengan reaksiku.

Malam kian larut. Gelas kami sudah kosong. Aku bergegas ke dalam, dan membuat kopi untuk kedua kali.

Katika aku kembali ke depan, Sarman sudah tidak ada. Beberapa kali aku panggil namanya dan mencari ke sekitar rumah, sosoknya tidak tampak lagi.

Mengapa Sarman pergi tanpa pamit? Marah karena aku kurang menanggapi cerita soal zombie? Mustahil. Sarman tahu persis, aku tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu. ada kegaiban, tetapi itu wilayah iman, bukan untuk dibuktikan atau dinalar.  

Sejak malam itu, aku mulai memikirkan cerita Sarman. Tepatnya pada  kehadirannya yang tiba-tiba dan kepegiannya tanpa pamit.

“Ibu tidak tahu, tetapi pernah mendengar desas-desus itu. Sejak kepulangan anak gadisnya, banyak terjadi keanehan di rumah Pak Jane,” ujar Ibu setelah mendengar ceritaku.

Aku benar-benar bingung. Bukankah di Indonesia tidak ada zombie? Dari berbagai tulisan yang aku baca di internet zombie hanya ada di Amerika, Eropa dan Afrika. Atau di film Korea yang sempat bikin heboh itu.

Jangan-jangan Sarman terpengaruh cerita film. Tetapi bagaimana dengan ibu? Beliau sudah sepuh dan sepertinya tidak pernah nonton film Korea.

Entah kebetulan atau memang sudah ditunjuk, aku mendapat cuti dari kantor. Padahal permintaan cuti sudah aku ajukan sejak beberapa bulan lalu dan selalu ditolak tanpa alasan. Meminta hak cuti di kantorku memang sangat sulit. Bahkan lebih mudah meminta kenauikan gaji daripada cuti.

Setelah berunding dengan ibu, aku memanfaatkan cuti dari kantor untuk jalan-jalan desa. Tujuan utamanya tentu karena dorongan rasa penasaran akan cerita Sarman. Ketika aku ceritakan kepada Re- tunanganku, dia sangat antusias dan memaksa ikut.

“Pasti cewek itu terkena virus zombie,” ujar Re.

“Virus zombie?”

Re mengangguk tanpa memberikan penjelasan. Ia sepertinya menahan informasi yang ingin aku ketahui agar diperbolehkan ikut. Aku pun menyerah dan terpaksa memasang wajah memelas ketka meminta izin pada ayah Re yang super kaku.

Berdua Re, aku pulang ke desa. Dari Jakarta kami sengaja naik kereta malam menuju Semarang. Menjelang pagi kami sampai di stasiun Tawang. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan bus. Cukup jauh, sekitar tiga jam perjalanan. Kami sampai di Desa Kukus tepat menjelang siang. Aku sempat hanyut oleh kenangan di sepanjang jalan yang kini sudah banyak berubah.

Namun rumah Pak Jane tidak banyak mengalami perubahan. Dulu termasuk rumah paling mewah di desaku. Sekarang sudah ada saingannya. Rumah baru di ujung jalan masuk terlihat masih baru dan lebih mewah.

Dari portal berita yang sempat aku baca sebelum pergi, Desa Kukus pernah terpilih sebagai desa terbaik di Jawa Tengah. Dalam berita itu juga disertakan foto Pak Jane tengah mengangkat piala di depan Gubernur.

***

Setelah berkeliling, menyusuri jalan desa, aku menilai penghargaan itu memang layak diberikan. Bukan hanya bersih, jalan-jalan di Desa Kukus juga asri. Sungai kecil di belakang desa yang dulu keruh, kini tampak jernih dan banyak ikannya.

Rupanya akan ada pemilihan kepala desa. Di setiap perempatan jalan terpampang beberapa poster calon kepala desa. Bukan dipaku di pohon tetapi ditempel pada papan pengumuman yang dibuat oleh desa. Sungguh menarik, dan bisa dijadikan percontohan bagi desa lain.

“Mas Prio?”

Aku berbalik dan mendapati perempuan parobaya tengah menatapku dengan ragu-ragu. Aku buru-buru mengangguk.

“Ibu siapa ya?”

Setelah memperkenalkan diri, perempuan itu langsung nyerocos tanpa bisa dihentikan. Bu Miah, demikian dia memperkenalkan diri, mengajak kami ke rumahnya. Tidak lama kemudian tetangga berdatangan. Karena sudah sore, Bu Miah, menyuruh kami menginap.

”Sudah tidak ada kendaraan ke kota,” katanya.

Aku sebenarnya ingin bertanya tentang Sarman. Bahkan tujuanku juga ingin menemuinya untuk membuktikan kebenaran ceritanya. Tetapi entah mengapa, setiap kali aku hendak bertanya soal Sarman, warga langsung menimpali dengan cerita lain.

***

Malam datang begitu cepat. Jam 8 suasana sudah sangat sepi dan gelap. Lampu jalan hanya ada di depan beberapa rumah.

Kondisinya belum banyak berubah, gumanku sambil mengitari halaman. Ketika aku hendak ke jalan, Bu Miah memanggil dan menyuruhku masuk.   

“Jangan keluyuran setelah Magrib!” pesannya. Nadanya tidak lagi ramah.

Kesempatan itu aku manfaatkan untuk mendesaknya. “Tujuanku ke sini justru mengetahu isu ...”  

“Isu itu ada sejak anak bungsunya pulang dari luar negeri,” potong Bu Miah. “Saya tidak tahu apakah dia sekolah apa kerja di Inggris.”

“Berarti benar, dia terkena virus zombie!” sambar Re.

“Sudah ada kejadian mayat hilang,” lanjut Bu Miah. Suaranya semakin rendah. “Bahkan Jono, yang kerja di kebun Pak Jane, hilang dan sampai sekarang belum ditemukan. Demikian juga Sarman...”

“Sarman?” potongku antusias.

“Dia ditemukan meninggal di belakang rumah Pak Jane. Tinggal tulang tanpa daging padahal darahnya masih segar.”

“Ka...kapan Sarman meninggal?” tanyaku mulai tergagap.

“Dua bulan lalu.”

“Apa?!” pekikku saking terkejutnya.

Jadi siapa yang datang ke rumahku, dua minggu lalu? Sekilas aku menceritakan soal kedatangan Sarman. Re yang semula terlihat sangat berani, langsung menciut. Demikian juga Bu Miah dan anak-anaknya.

Malam itu aku tidur di ruang tamu, sementara Re tidur di kamar putri sulung Bu Miah. Terbayang wajah Sarman saat kecil. Mungkinkah saat ini sedang mengamatiku?

Aku bergidik. Namun tekadku untuk membuktikan kebenaran desas-desus zombie di rumah Pak Jane semakin kuat. Ini amanah dari Sarman. Aku tidak boleh mengabaikan. Mungkin Sarman tidak ingin ada korban lagi.

Esoknya aku dan Re kembali menyusuri desa. Bu Miah wanti-wanti supaya kembali ke rumahnya. Rupanya Bu Miah masih terhitung saudara dari ibu, meski aku bingung bagaimana urutannya. Rasanya semua orang di desa bersaudara dan aku tidak ingin memperjelas hubungan persaudaraan itu karena takut menyinggung perasaan Bu Miah.

Aku sempat mampir di warung lotek Yu Jum. Di mataku, Yu Jum seperti tidak berubah. Meski badannya gemuk dililit jarit, tetapi gerakannya tetap lincah.

Sayangnya aku sama sekali tidak mendapat cerita tentang zombie di rumah Pak Jane. Beberapa kali aku dan Re menyinggung soal itu, warga yang tengah menikmati pecel atau menunggu pesanan, tidak mau menanggapi. Beda hal jika aku tanya soal lain. Mereka sangat antusias memberikan tanggapan.

“Nanti malam aku mau mengintip rumah Pak Jane,” bisikku pada Re ketika meninggalkan warung lotek Yu Jum.

***

Setelah memastikan Re masuk kamar, aku menyelinap keluar. Dengan bantuan cahaya bulan, aku mengendap-endap di sekitar rumah Pak Jane. Tidak seperti tumah-rumah di Jakarta yang berpagar tinggi, rumah Pak Jane dibiarkan tanpa pagar. Bahkan pintunya masih terbuka.

Mungkinkah sengaja untuk menangkap mangsa? Aku bergidik. Tidak ada kelebat bayangan orang atau sesuatu yang bisa menjadi penanda. Lampu di ruang tengah cukup redup, namun aku bisa memastikan tidak ada siapa pun di sana.

Sudah kepalang tanggung, pikirku. Jika terpergok pemiliknya, aku bisa beralasan sedang tersesat.

“Silakan masuk!”

Suara penuh tekanan itu tidak terlalu keras. Namun sudah cukup membuat jantungku berdebar lebih kencang. Rupanya pemilik rumah sudah mengetahui kedatanganku. Atau bahkan sedang menungguku? Tetapi itu bukan suara Pak Jane!

“Bapakku masih di kantor polisi. Dituduh membunuh Kang Sarman!”

Kembali aku terlonjak. Dia bisa membaca pikiranku? Aku memusatkan pandangan pada sosok yang tengah berdiri tepat di tengah ruangan. Mataku beradu dengan gadis mungil yang juga sedang menatapku.

Namun perlahan wajahnya mulai berubah, persis seperti zombie yang ada di film-film. Dengan lanagkah gontai, dia mulai mendekat. Aku terjajar di belakang daun pintu yang kini telah terkunci. Siapa yang mengunci?

Perempuan mungil itu kian mendekat. Aku mengumpulkan sisa keberanian. Aku yakni bisa mengatasi. Bahkan aku pernah mengalahkan lawan yang tubuhnya jauh lebih besar. Percuma berlatih taekwondo jika tidak bisa mengalahkan makhluk kerempeng ini, pikirku.   

Namun  sebelum perempuan mungkil itu mencapai jarak pukul, seseorang berkelebat dari pintu belakang. Konsentrasiku langsung buyar melihat kedatangan Re dan Bu Miah. Mereka mendekati gadis mungil anak Pak Jane dan bersiap menyerangku secara bersama-sama.