Skandal Lipat Ganda Uang

Gambar Satu Peti Uang (ist)

Wajahnya sembab. Hidung memerah, sedang matanya menjadi sipit karena hampir seluruh kelopaknya bengkak. Nampaknya perempuan paruh baya itu terus saja menangis. Tapi apa daya, aku tak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya.  

-oo0oo-

            Sebenarnya, aku tidak sengaja tinggal di tempat ini. Sebuah rumah besar bergaya klasik, dengan banyak ruangan. Di bagian depan, terdapat sebuah teras luas, mirip pendopo. Tiang dan kusennya terbuat dari kayu jati tua yang berusia hampir seratus tahun. Dengan polesan pernish, membuatnya makin mengkilat dan molek dipandang. Lantainya dari batu marmer berwarna putih keabuan. Sejuk di mata dan dingin pada kaki telanjang. Di dindingnya, banyak pusaka terpajang. Aroma mistis menguar membuat bulu kuduk meremang. Rumah itu adalah milik dukun terkenal. Dukun pelipat ganda uang.

            Bermula dari bisnis tokek yang menguras seluruh isi rekening, membuatku terdampar menjadi seorang asisten praktik perdukunan. Ah, bukan asisten. Tepatnya  sebagai penjaga buku tamu di rumah besar itu. Tugasku hanya mencatat nama tamu yang membutuhkan jasa penggandaan uang dan membantunya menyiapkan kegiatan ritual. Selebihnya, adalah urusan tuan pemilik rumah besar.

            Siang itu kemarau, ketika seorang perempuan paruh baya datang bersama anak gadisnya. Dilihat dari tampang dan perawakannya, dia adalah seorang sinden dalam pertujukkan wayang. Dari membaca info di koran dan iklan radio, perempuan yang selanjutnya kukenal dengan nama Yatemi itu datang. Aku tidak tahu apa yang Bos dan Yatemi bicarakan di dalam. Sekali lagi, aku hanya penjaga buku tamu di luar ruangan.

            Setengah jam berlalu. Yatemi dan anak gadisnya keluar dari salah satu ruangan. Kembali menemuiku sembari meminta tolong untuk menyiapkan persyaratan ritual yang akan dilaksanakan nanti malam.

            “Mas, tolong bantu saya mencari bunga cempaka. Atau kalau tidak bisa, tolong carikan orang yang bisa mengantar saya. Nanti akan saya beri imbalan sepantasnya.”

            Mendengar permintaan dan tips yang dijanjikan Yatemi, kusepakati untuk membantunya mencari uborampe ritual. Tugas sebagai penjaga buku tamu, kutitipkan pada teman yang nasibnya sama sepertiku. Butuh tempat berteduh dan makan selama di perantauan.

            Dengan kendaraan Yatemi, aku menjadi pengemudi yang mengantarnya berkeliling. Sepanjang perjalanan, Yatemi menceritakan berbagai syarat untuk rangkaian ritual yang akan dilakukan. Ternyata tak hanya bunga cempaka. Yatemi harus menyiapkan seekor burung gagak, ayam cemani, hingga kambing kendit –kambing putih yang di perutnya terdapat warna hitam melingkar seperti ikat pinggang-.Semua tergantung berapa banyak uang yang diinginkan Yatemi.

            Setelah sedikit kupancing, Yatemi dengan gamblang menceritakan keinginannya menggandakan uang. Padahal, dari peninggalan mendiang suaminya, ia telah memiliki rumah, mobil, bahkan sebuah toko bunga. Katanya, agar usahanya tidak kalah saingan, ia butuh modal lebih untuk mempertahankan.   

            Tidak mudah mendapat syarat yang dibutuhkan Yatemi. Yang kami temukan hanya bunga cempaka, seekor cemani, dan burung gagak. Kambing kendhit sangat susah didapat. Karena tidak semua kambing yang kami dapati seperti ciri-ciri yang diminta Bos Dukun.

            Demi memperlancar ritualnya, Bos Dukun memberi Yatemi solusi sebagai pengganti syarat kambing kendhit. Yatemi cukup menyediakan dana sebesar lima juta rupiah, maka ritual akan berjalan tanpa kendala.

            Ritual pertama berjalan lancar. Malam dengan udara semilir, membawa perasaan semakin tenang. Tidak ada pertanda aneh yang muncul. Aku menemani Yatemi dan anak gadisnya duduk bersila di depan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Di dalam ruangan itu, hampir seluruhnya terlindung oleh  kain penutup keranda. Terbuat dari beludru, kain itu kemungkinan usianya lebih tua dari pada umurku. Warnanya pudar dan lusuh. Bordir emas yang menghias, sama sekali tidak nampak cemerlang.

            Dari ritual pertamanya, Yatemi mendapat sebuah selendang berwarna hijau pekat. Setelah usai, Yatemi kembali menghadap Bos Dukun untuk petunjuk ritual berikutnya.

            Seminggu setelah ritual pertama, Yatemi dan anak gadisnya datang lagi. Seperti saat ritual pertama, Yatemi meminta tolong padaku mengantarnya menyiapkan semua persyaratan. Kali ini, yang kami peroleh hanya bunga cempaka dan burung gagak. Ayam cemani dan kambing kendhit tidak kami dapatkan. Sebagai gantinya, Yatemi harus menyediakan uang tujuh juta rupiah. Demi keberhasilannya, Yatemi menyanggupi permintaan Bos Dukun.

            Ritual ke dua kami laksanakan. Lagi-lagi aku menemani perempuan berbadan sintal itu duduk di depan ruangan yang sama seperti ritual pertama. Kali ini hawanya berbeda. Aroma kemenyan yang menguar, membuat dadaku sesak karena terlalu banyak menghirupnya. Di tengah ritual, tiba-tiba muncul penampakan di antara pintu dan kain penutup keranda. Rambutnya tergerai panjang. Lingkar matanya hitam. Salah satu tangannya menggenggam satu lak uang berwarna merah bergambar Sukarno-Hatta –senilai sepuluh juta rupiah-. Bulu kudukku meremang saat makhluk itu memanggilku dengan suara lirih. Bukan memanggil Yatemi. Sontak aku berdiri menjauh dan mengakhiri ritual yang bagiku adalah gila.

            “Seharusnya Mas tadi mendekat dan mengambil uangnya,” rutuk Yatemi saat tahu aku memutuskan pergi.

            Wajahnya kecewa. Tapi aku tak peduli dengan urusan Yatemi. Aku hanya sekedar menemaninya.

            Seminggu berikutnya, Yatemi datang lagi untuk ritual ke tiga. Seperti biasa, uborampe harus kami siapkan. Tapi sayang. Kali ini, Yatemi hanya mendapat bunga cempaka. Yang lain tidak. Lagi-lagi Bos Dukun memberi solusi. Yatemi harus menyiapkan dana lebih besar. Karena di ritual ke dua Yatemi sempat melihat satu lak uang yang hampir didapatnya, maka permintaan Bos Dukun dengan mudah diluluskan Yatemi. Dua puluh juta rupiah. Hanya nominal secuil jika dibanding ratusan juta rupiah yang dijanjikan.

            Dengan sedikit paksaan, karena aku mulai enggan menemani, akhirnya kami kembali duduk bersila di depan ruangan seram bertutup kain keranda. Kali ini, Yatemi menjanjikan sejumlah uang yang bagiku cukup untuk ongkos pulang.

            Di tengah ritual, bukan lagi makhluk berambut panjang yang mencul di balik kain. Tapi jelas namaku dipanggil untuk ke dalam ruangan gelap lagi pengap. Dengan berat hati, kuloloskan permintaan Yatemi.

            Sedikit gusar aku melangkah. Kusibak perlahan kain penutup keranda berwarna kusam. Jantungku berdegup kencang. Di dalam ruangan itu kosong. Hanya sebuah lampu templek bersinar di tengah nampan berisi bunga melati dan aneka makanan.Tapi di salah satu sudutnya, berdiri makhluk besar. Ia mengenakan sarung bermotif seperti papan catur. Wajahnya seram. Matanya melotot hampir keluar. Gigi taringnya panjang. Di tangannya tergenggam beberapa gepok uang. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke luar. Menjauhi ruangan dan Yatemi yang melihatku keheranan. Lagi-lagi Yatemi kecewa, karena aku tidak berani mengambil uang dari raksasa itu.

            “Pasti jumlahnya lebih besar dari sebelumnya kan, Mas?”

            Aku membisu. Yatemi tidak membayangkan betapa jantungku akan lepas saat melihat wajah seram yang siap melumatku.

            “Kesempatanku tinggal sekali saja. Tolong bantu, ya!”

            Lagi-lagi Yatemi mengiba. Ia datang lagi untuk ke empat kalinya. Memberiku uang yang ia janjikan. Kuhitung memang cukup untuk ongkosku pulang. Katanya, ia telah menjual rumah. Karena syarat dari Bos Dukun yang harus dipenuhi Yatemi. Hari itu, adalah ritual terakhir. Satu peti uang telah siap untuk diambil, jika Yatemi mampu melewati tantangan.

            Kali ini, Yatemi ikut masuk ke dalam ruangan pengap bertutup kain keranda kusam. Selain aroma kemenyan, ada bau melati yang menusuk hidung. Di antara remang, kulihat tujuh sosok terbujur kaku. Ketujuh sosok itu dibalut kain kafan lengkap dengan tali pocongnya. Aku bergegas lari. Namun tidak dengan Yatemi. Dia menyelesaikan ritual sendiri. Demi uang satu peti.

            Ritual gila. Umpatku dalam hati.

            Sesaat setelah ritual usai, Yatemi keluar dengan senyum puas. “Tinggal menunggu waktu, Mas,” katanya seraya menghela napas.

            Esok hari, Yatemi datang lagi menagih janji pada Bos Dukun. Namun sayang, masih diulur untuk datang esok hari.

            Aku sudah memutuskan untuk berhenti. Berpamitan pada Bos Dukun bahwa aku memilih pulang ke kampung halaman. Saat aku melintas ruangan utama dengan pajangan banyak pusaka, kulihat Yatemi dan anak gadisnya duduk tak bersemangat seperti awal kami berjumpa. Wajhnya sembab. Janda beranak satu itu menangis karena janji Bos Dukun tak kunjung ditepati. Rumah terjual. Uang habis. Sedang janji uang satu peti tak nampak sama sekali.

            Di perjalanan pulang, kuingat pesan Ibu. Jangan terpedaya dunia. Sesungguhnya semua adalah bagian dari nafsu. Semakin dikejar, semakin tak puas hatimu, semakin rakus jiwamu. Astagfirullah hal’adziim.

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

-oo0oo-

SW2K, 05032021

Alaskembang