Momentum Waktu

Ilustrasi pixabay.com

Mendung menggelayut di atas langit. Tiba-tiba hujan turun, sedang Amanda masih dalam perjalanan pulang. Alas sepatunya menginjak jalanan becek, alhasil pakaiannya basah kuyup.

"Lain kali aku akan membawa payung dari rumah."

Tapi, terkadang cuaca selalu berubah. Langit mendung bukan berarti hujan. Tak kala pagi tadi terlihat cerah. Sore pun berubah gerimis. Ia pun berhenti di sebuah Halte. Menunggu Bus berhenti sejenak. Hanya saja yang ditunggu tak kunjung datang. 

Momentum waktu berubah di mana saat ia bersama kekasihnya. Datang menjemput dengan sebuah sedan, yang mulus. Berwarna hitam. Sepadan dengan jas yang ia kenakan. Mendekat ke arahnya, berlindung dengan payung yang ia bawa dari rumah. 

"Manda, seharusnya kamu kasih kabar. Jadi, aku bisa datang menjemput," Ujarnya.

Amanda bukan gadis manja. Yang selalu mengandalkan pria. Akan tetapi, di mana pun Amanda berada pria berhidung mancung itu selalu muncul di hadapannya.

Amanda tidak butuh bantuan orang lain, ia terbiasa hidup mandiri. Semenjak bapak ibunya pergi ke pangkuan Tuhan. Mas Arya kekasihnya adalah sahabat sedari kecil. Ia diberi amanat untuk menjaga Amanda. Selalu mengatur hidupnya dan berperan seperti orang tua. Karena usianya pun memang terpaut jarak. 

Amanda yakin. Jika dirinya telah siap, Mas Arya akan membawanya ke tahap serius. 

Tapi, jujur. Dirinya belum siap membina rumah tangga untuk sekarang. Dia berhasil mengulur waktu sedemikian rupa. Mencari alasan sederhana, sampai usianya sudah beranjak 25 tahun. Ia merasa bodoh. Perempuan mana sih, yang menolak membina rumah tangga. Terlebih kepada pasangan yang sudah sangat mapan, dan tampak tampan.

Bagi Amanda rumah tangga harus betul-betul matang dipersiapkan. Membangun pondasi, agar tiang rumah tangganya dapat berdiri kokoh saat diterjang ombak.

Dua tahun berjalan, perhatian Mas Arya berubah kepada Amanda. Awalnya, mungkin biasa saja bagi Amanda. Lama-lama cinta Amanda goyah. Karena sebuah kenyataan pahit. Yang baru ia ketahui sekarang.

Soudara sepupu dari jauh berkunjung ke rumah Manda.

"Ini berkas warisan Orang tua mu."

Hanya sebentar, lalu Soudaranya pamit. Amanda membuka berkas di dalam map merah. Di sana tertulis hak miliknya. Warisan peninggalan orang tua. Tapi, tunggu. Apa Ayahnya tidak salah mencatat? Syarat untuk mencairkan jumlah uang dalam buku tabungan. Atas persetujuan Mas Arya. 

Amanda bergegas mendatangi rumah pemilik mata salju. Untuk meminta kejelasan. Sayang pintunya tertutup rapat. Manda terpaksa menyelinap masuk dengan kunci cadangan. Apartemennya. Di dalam Mas Arya sedang bersama Sekretarisnya. Terdengar suara Mona sedang berbincang, bicaranya begitu jelas.

"Kapan Mas Arya meninggalkan Amanda?"

Mas Arya terdiam. Kesabaran Mona memuncak, sebagai kekasih yang tak dianggap. Ia butuh kepastian.

"Apa kau yakin akan menikahinya?"

"Ya, dengan begitu. Aku akan mudah membuatnya.."

Manda tak tahan mendengar kelanjutan ucapan Mas Arya. Mungkin bisa saja salah paham. Justru, goresan luka yang dibuat, terlalu sakit. Ia bersumpah kepada Tuhan. Lebih baik mereka mati tergilas waktu. 

Kemudian kabar terdengar di media massa. Peristiwa kecelakaan yang merenggut keduanya terlalu cepat.

Gerimis sore menyadarkan lamunannya. Peristiwa kecelakaan itu masih menghantuinya. Tergambar dalam ingatan. Langit pun terlihat kusam. Oleh cerita misteri kehidupan indah yang telah pudar.

Ada sebuah penyesalan. Seharusnya waktu bisa diulang kembali. Ia tak ingin merasakan cinta dan sakit. Ucapan Manda membuat mereka kalap. 

Ia merintih pada langit. Sebagai saksi bisu yang tak pernah surut. Menggigil dalam keheningan. Muncul Bus lukisan abstrak. Yang akan meluncur ke daerah terpencil. Puncak Mentari.

Amanda memilih naik. Satu-satunya Bus yang membawanya kembali. Menjauh dari kenangan masa silam. Melewati deretan pepohonan, serta rumah-rumah di pembatas jalanan. Di pinggir setapak pejalan kaki.

Perempuan itu melihat pria yang mirip dengan Mas Arya. Menenteng payung, menggandeng perempuan berambut panjang. Masuk ke dalam mobil sedan. Melaju di samping Bus yang Amanda naiki. 

Berbelok ke arah kiri, ketika lampu berubah warna merah. Meluncur dengan cepat, menghalangi Bus yang melaju. Hingga..

Dessss!!

Kecelakaan pun terjadi, mobilnya remuk. Mengeluarkan percikan api. Terbakar. Jantung Amanda berdetak kencang menyaksikan peristiwa dua tahun silam yang diulang lagi akibat ucapannya.

Menariknya, Amanda seperti sedang menonton film action. Yang berperan sebagai sutradara adalah dirinya sendiri. 

***

Pemalang, 4 Maret 2021