Selamat Datang Pemburu Harta Karun

Ilustrasi/Ist

Sejak lama perairan Indonesia menjadi incaran para pemburu harta karun. Diperkirakan ada ribuan kapal pembawa harta benda jarahan maupun upeti yang karam di dasar laut.

Selama ini harta karun itu aman karena pemerintah melarang perburuan harta karun. Bahkan Michael Hatcher, yang terkenal sebagai pemburu harta karun dasar samudera, dijadikan tersangka oleh Kepolisian Indonesia setelah mengangkat artefak dari kapal Titanic dari Timur di perairan Cirebon.

Namun kini melalui Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal,  para pemburu harta karun dipersilakan untuk berlomba mencari harta karun di Indonesia.  Perburuan harta karun masuk dalam klasifikasi bidang usaha pengangkatan benda berharga asal muatan kapal yang tenggelam.

Dengan diberlakukannya aturan tersebut, dipastikan tidak lama lagi para pemburu harta karun dari berbagai penjuru dunia akan berdatangan ke perairan Indonesia.  

Di samping dampak positifnya di mana pemerintah akan mendapat manfaat dari harta karun yang ditemukan melalui pengenaan pajak, perlu juga mewaspadai ekses negatifnya. Bukan rahasia lagi, bahkan di antara para pemburu harta karun ada pantangan untuk menghindari kutukan atau karma dari “penghuni” kapal yang telah ratusan bahkan ribuan tahun berada di dasar samudera.

Jangan sampai, karena ingin mendapatkan banyak harta karun, lantas mengabaikan hal-hal yang mungkin tidak masuk akal di era internet, namun masih dipercaya oleh sebagian lainnya.

Berikut beberapa penemuan harta karun di perairan Indonesia yang sempat menghebohkan dunia, dikutip dari liputan6.

Harta Karun Tsunami Aceh

Hari itu, Fatimah menyisiri rawa-rawa di Desa Gampong Pande, Aceh. Ia sedang mencari tiram. Tiba-tiba matanya melihat benda kotak yang teronggok di antara kubangan lumpur.

Kotak itu ditutupi koral dan tiram. Saat memukul permukaannya, untuk mengambil tiram, benda itu tiba-tiba terbuka.

Perempuan itu kaget bukan kepalang. Sebab, isi kota tersebut ternyata koin-koin emas yang bertuliskan aksara Arab.

"Koin-koin itu tumpah ketika ia membuka peti itu," kata Abdullah, penduduk Gampong Pande, seperti dikutip dari Daily Mail, yang memuat artikel itu pada 2013.

Harta karun tersebut ditemukan dekat kuburan kuno yang keberadaannya dikuak gelombang tsunami dahsyat yang melantak Aceh pada 2004. Koin yang ditemukan diperkirakan berasal antara tahun 1200 hingga 1600 Masehi.

Gelombang gergasi mengangkat makam kuno yang berisi jasad penguasa pada Abad ke-13 yang dimakamkan bersama harta benda miliknya.

Sebelum tsunami terjadi, tak ada warga yang berani mengusik makam yang dikeramatkan tersebut. Khawatir arwah mendiang bakal balas dendam.

Harta Karun Fatimah

Tumpukan harta karun terbaring di dasar laut Indonesia selama lebih dari 1.000 tahun. Sebanyak 270 ribu objek termasuk kristal, permata, keramik, porselen Tiongkok, mutiara, dan emas ditemukan para penyelam di sebuah bangkai kapal dari Abad ke-10 yang berjarak 80 mil dari Pelabuhan Cirebon, antara pulau Kalimantan dan Pulau Jawa.

Keberadaan kapal di kedalaman 56 meter itu awalnya dilaporkan para nelayan yang menjala ikan di sekitarnya. Ekskavasi dilakukan antara April 2004 dan Oktober 2005.

Tim penyelam harus melakukan 22 ribu perjalanan dari kapal barang tersebut untuk mengambil muatannya.

Para penyelam ini adalah bagian dari anggota tim hasil kolaborasi antara dua perusahaan, yakni Cosmix Underwater Research Ltd dengan perusahaan lokal, PT Paradigma Putra Sejahtera.

Pemburu harta dari Belgia, Luc Heymans ikut serta dalam pencarian warisan nenek moyang itu.

Di antara benda berharga yang ditemukan adalah batu permata besar yang konon milik Dinasti Fatimiyah.

Berdasarkan catatan sejarah, Dinasti Fatimiyah mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad. Fatimah merupakan putri bungsu Nabi Muhammad dari istri pertama, Khadidjah.

Nilai total harta karun itu pada 2010 diperkirakan Rp 720 miliar. Namun, pelelangan pada tahun itu sepi peminat. Tak ada yang berniat menawar.

Gara-garanya, tak ada peminat yang menyerahkan uang jaminan sebesar 20 persen dari harga limit atau sekitar US$ 16 juta. Uang jaminan atau deposit itu cukup tinggi karena harta karun itu dilelang dalam satu paket.

"Sekitar 90 persen harta terdiri atas keramik," kata Aris Kabul, dari pihak komite lelang, seperti dikutip dari BBC.

Cirebon adalah destinasi awal para pedagang Muslim di Nusantara. Menurut para ahli sejarah, Islam datang ke wilayah Indonesia pada Abad ke-12.

Temuan tersebut juga diharapkan memecahkan misteri mengapa raja-raja Jawa Abad ke-10 pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur,  demikian menurut John Miksic, sejarawan maritim di National University of Singapore, seperti dikutip dari New York Times.

Indonesia dikenal sebagai 'kuburan kapal' pada masa lalu. Baru sekitar 500 bangkai bahtera yang telah ditemukan hingga saat ini, ribuan lainnya masih belum diketahui posisinya.

Titanic dari Timur

Pemburu harta dari Belgia, Luc Heymans ikut serta dalam pencarian warisan nenek moyang itu.

Di antara benda berharga yang ditemukan adalah batu permata besar yang konon milik Dinasti Fatimiyah.

Berdasarkan catatan sejarah, Dinasti Fatimiyah mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad. Fatimah merupakan putri bungsu Nabi Muhammad dari istri pertama, Khadidjah.

Nilai total harta karun itu pada 2010 diperkirakan Rp 720 miliar. Namun, pelelangan pada tahun itu sepi peminat. Tak ada yang berniat menawar.

Gara-garanya, tak ada peminat yang menyerahkan uang jaminan sebesar 20 persen dari harga limit atau sekitar US$ 16 juta. Uang jaminan atau deposit itu cukup tinggi karena harta karun itu dilelang dalam satu paket.

"Sekitar 90 persen harta terdiri atas keramik," kata Aris Kabul, dari pihak komite lelang, seperti dikutip dari BBC.

Cirebon adalah destinasi awal para pedagang Muslim di Nusantara. Menurut para ahli sejarah, Islam datang ke wilayah Indonesia pada Abad ke-12.

Temuan tersebut juga diharapkan memecahkan misteri mengapa raja-raja Jawa Abad ke-10 pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur,  demikian menurut John Miksic, sejarawan maritim di National University of Singapore, seperti dikutip dari New York Times.

Indonesia dikenal sebagai 'kuburan kapal' pada masa lalu. Baru sekitar 500 bangkai bahtera yang telah ditemukan hingga saat ini, ribuan lainnya masih belum diketahui posisinya.

Saat karam pada 6 Februari 1822, sebagian besar dari 1.600 awak dan penumpangnya meninggal dunia.

Jasad manusia juga ditemukan di dalam bangkai kapal. Namun, para penyelam -- yang berasal dari Indonesia -- tak berani mengusiknya. Mereka percaya, siapa saja yang berani mengusik para mendiang bakal kualat.

Kargo yang diangkat dari Tek Sing kemudian dilelang di Stuttgart, Jerman pada November 2000.

Gara-gara itu, Michael Hatcher diburu oleh kepolisian Indonesia lantaran dituduh telah menjarah artefak-artefak berharga di perairan Nusantara.

Bangkai Kapal Harta Belitung

Sebuah kapal layar jenis dhow mengarungi lautan dari Afrika ke China sekitar 830 Masehi. Namun, saat berlayar pulang ia tenggelam di titik 1,6 kilometer dari lepas pantai Pulau Belitung.

Tilman Walterfang, seorang direktur perusahaan beton asal Jerman ikut andil menemukan harta karun bernilai jutaan dolar itu. Ia menyelam ke dasar lautan.

"Saya mendarat di apa yang tampak seperti bagian terumbu karang biasa," kata Walterfang kepada majalah Jerman Der Spiegel.

"Benar-benar mirip gundukan bawah air seukuran sebuah bukit kecil yang terbentuk dari puluhan ribu keping keramik yang terawat dengan baik."

Harta karun itu punya  makna sejarah besar sehingga pihak Shanghai, Singapura, dan Doha di Qatar saling berlomba untuk membelinya.

Sekitar 60 ribu artefak dikumpulkan tim Walterfang dari dasar laut, termasuk kendi minuman anggur, mangkuk teh dengan pola timbuk dari emas, piala perak, juga piring berusia 1.200 tahun.

Bangkai kapal ini berkontribusi terhadap dua penemuan besar bagi para arkeolog, yakni koleksi artefak tunggal terbesar dari zaman Dinasti Tang yang ditemukan di puing-puing kapal, yang dikenal dengan sebutan "harta karun Tang".

Yang kedua adalah kapal dhow Arab, yang melahirkan gagasan baru bahwa hubungan perdagangan antara Arab dan Tiongkok telah terjalin pada periode tersebut.