Sukati

Sumber: Pinterest

Nama saya Sukati. Kata Ibu, nama itu adalah nama pemberian mendiang Kakek. "Su artinya indah. Dan Kati artinya perempuan." Begitu Ibu menjelaskan perihal nama saya.

"Apakah Ibu senang mempunyai anak seperti aku?" tanya saya suatu hari seraya menatap wajah Ibu dalam-dalam. Ibu mengangguk. Lalu menuntun tangan mungil saya menuju kamar tidur.

"Ya, Ibu sangat senang, juga --- sayang."

"Kanapa?"

"Karena kamu cantik seperti Bunga Sepatu." Ibu mengangkat tubuh saya lalu hati-hati menidurkan di atas ranjang.

"Kenapa mesti Bunga Sepatu, Bu? Bukankah Bunga Mawar jauh lebih indah?" saya kembali menatap wajah Ibu. 

"Mawar dipenuhi duri, Nak. Itu bisa melukai." Ibu tersenyum. 

"Oh, ya. Bagaimana dengan Bapak? Apakah ia juga menyayangi Sukati?" saya bertanya lagi. Ibu tertegun sejenak. Mendadak saya melihat sekelebat mendung melintas di matanya.

"Tentu! Bapakmu tentu sangat menyayangimu," bisik Ibu seraya membetulkan letak selimut yang tersingkap di ujung kaki saya. Mendengar jawaban Ibu saya merasa lega. Setidaknya saya tahu bukan hanya Ibu yang menyayangi saya. Ada pula Bapak --- laki-laki yang mengukir jiwa raga saya, yang sama sekali tidak pernah saya kenal sosok maupun raut wajahnya.

***
Nama saya Sukati. Saya bukan lagi gadis kecil. Saya mulai tumbuh dan berkembang seperti Bunga Sepatu yang ditanam Ibu di halaman samping rumah. 

"Sukati sudah besar, ya. Cantik seperti masa muda Sukesi." Seorang tetangga memuji saya ketika kami berpapasan.

"Kurasa Sukati jauh lebih cantik dari Sukesi." Seorang tetangga lain menimpali.

"Ya, semoga saja nasib Sukati tidak seburuk nasib ibunya yang ...."

Sungguh. Saya tidak ingin mendengar kelanjutan gunjingan itu.

***
Nama saya Sukesi. Saya anak tunggal yang tinggal berdua saja bersama Ayah di sebuah perkampungan terpencil. Ibu saya sudah lama berpulang karena sakit.

Tujuh belas tahun lalu saya menggegerkan seluruh  warga kampung dengan melahirkan bayi perempuan yang cantik, dibantu oleh bidan setempat tepat pada saat bulan purnama sedang bersinar penuh.

Meski awalnya Ayah marah besar ketika mengetahui anak gadisnya yang pendiam dan suka menanam Bunga Sepatu itu tiba-tiba melahirkan bayi tanpa suami, toh, akhirnya hati Ayah luluh juga. Bahkan Ayah-lah orang pertama yang menggendong dan mengazani bayi mungil saya sekaligus memberinya nama Sukati.

Ketika Sukati berusia dua puluh satu hari Ayah terjatuh di kamar mandi. Terjadi pendarahan serius di kepalanya. Sempat saya larikan ke rumah sakit namun di tengah perjalanan jiwa Ayah tidak tertolong. Ayah mengembuskan napas terakhir sebelum saya sempat berterus terang kepadanya siapa lelaki yang telah menghamili saya hingga membuat Sukati lahir.

Ya. Nama saya Sukesi. Saya tahu orang-orang sibuk menggunjingkan diri saya serta berpikir hal-hal buruk mengenai kehidupan saya. 

Sementara waktu terus bergulir seperti air sungai yang meluncur turun dari punggung gunung menuju kaki lembah. Tanpa bisa dicegah. Begitu juga dengan anak perempuan saya. Sukati. Ia telah tumbuh menjadi gadis jelita. Kiranya purnama benar-benar telah manjing ke raganya.

Ini memasuki tahun ke tujuh belas saya membesarkan Sukati. Sudah saatnya saya berterus terang kepadanya perihal rahasia yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati.

Ya, saya harus memberi tahu siapa sesungguhnya Bapak kandung Sukati.

Maka ketika bulan purnama sedang ndadari, saya bangunkan Sukati dari tidur lelapnya. Saya bimbing tangannya menuju halaman samping rumah. Di mana saya kerap menanam Bunga Sepatu tepat di bawah pohon Beringin yang tumbuh merindang.

"Ibu ingin memberi tahu sesuatu padamu, Sukati. Duduklah di sampingku." Saya mulai membakar dupa di tangan kiri saya. Aromanya yang nyegrak membuat Sukati terbatuk-batuk sejenak.

"Ibu, bolehkah aku menyampaikan sesuatu terlebih dulu?" Sukati menyela ragu. Saya mengangguk kecil. 

"Bu, aku --- hamil."

Sontak saya melempar dupa yang masih menyala tepat ke arah sosok hitam yang berdiri gagah di bawah rerimbun Pohon Beringin. Sementara Sukati masih berdiri memegangi  perutnya yang membuncit.

Di langit, purnama mendadak menyala redup.

#ceritamisteri

#kisahmisteri