Bermain Darah

Ilustrasi: pixabay

 

Pontianak, 1989

Kupandangi cairan merah yang menitik keluar, dari luka di ujung jariku yang tertusuk jarum pentul barusan. Betapa indah warnanya, kental pula.  Lalu kudekatkan jari tersebut ke mulut, kuisap perlahan-lahan,  berusaha mencecap darah yang tak seberapa banyak itu. Sedikit asin menurutku, tidak enak. Menurut buku cerita yang pernah kubaca di kios penyewaan buku milik Ayah, ada makhluk bernama Drakula yang senang mengisap darah manusia. Saat itu kupikir rasa darah pastilah enak,  mungkin mirip cokelat susu kesukaanku. Ternyata  aku keliru. 

Meskipun demikian aku tetap  penasaran. Aku ingin menyentuh, membaui, mencecap lebih banyak. Bisa tidak, ya, itu kulakukan tanpa membuat badanku terluka dan sakit? Darah siapa yang boleh kumainkan? Aku termenung-menung memikirkannya. 

Hingga di suatu pagi, tanpa sengaja aku melihatnya. Waktu itu aku bermaksud menumpahkan sisa susu dalam gelas ke bawah gertak depan rumah kami. Pada mulanya aku terkejut, ada sesuatu berwarna merah mengambang di genangan air. Kukira itu darah. Cepat-cepat kupanggil Ibu untuk menanyakannya, lupa dengan niat semula. 

"Oh, itu bukan darah, tapi lintah," sahut Ibu. 

"Lintah itu apa, Bu?" kejarku, antusias. 


"Binatang yang suke makan darah kitak. Kau lihat, kan, warnenye? Itu karna darah yang udah die minom. Itulah makenye jangan kau berani turun ke tanah situ sembarangan, kalau tadak mau dihisap lintah!" Panjang lebar Ibu memberi penjelasan sekaligus peringatan padaku. Aku bergidik, tapi masih ingin tahu. 

"Kalau dihisap lintah, apa kita bisa mati, Bu?"

"Bise lah, kalau lintahnye banyak. Udah sana, siap-siap pergi sekolah! Pagi-pagi malah nanyak lintah pula," pungkas Ibu dengan galak. Aku menurut, walau benak masih sibuk memproses pengetahuan baru. 

Dari informasi yang kudapat kemudian,  lintah mengisap darah dengan cara menempel pada bagian kulit yang terbuka. Hal yang mudah mereka lakukan karena tubuh mereka kecil. Kebetulan rumah kami berdiri di atas rawa gambut, dan dikelilingi pepohonan serta semak belukar, mirip hutan. Maka tak heran menjadi salah satu habitat mereka. Aku saja yang baru tahu. Tetapi tak mengapa, justru kebetulan sekali aku menemukan lintah di dekat sini. Mereka bisa memuaskan rasa ingin tahuku.

Sore itu, aku putuskan menjalankan aksi secara diam-diam.  Penuh semangat, aku tiarap di pinggir gertak.  Ada dua ekor lintah sedang berbaring tenang di bawah sana. Kata 'berbaring' kugunakan, sebab dalam bayanganku itulah pose mereka jika hidup sebagai manusia.

Setelah kuamati, tubuh mereka mirip kapsul yang pernah diminum Ibu. Entah yang mana kepala, mana ekor mereka. Hmm, benarkah tubuh mereka berisi darah? 

Aku menyauk seekor lintah menggunakan tutup pulpen yang kupegang terbalik. Hati-hati kunaikkan ia ke atas gertak, pas di depan wajahku. Tanpa air, lintah itu mengerutkan tubuh. Cepat-cepat kuludahi ia. Benar saja, dalam genangan ludah si lintah kembali segar. Aku semakin antusias, lalu memutuskan duduk.

Selanjutnya aku mengiris-iris tubuh makhluk itu menggunakan bagian lancip dari tutup pulpen tadi, hingga terburai. Rupanya benar! Lintah berasal dari darah. Aku merasa asyik sekali. 

"Mita! Ape kau buat, hah?" tiba-tiba Ibu muncul dari belakangku. Sontak aku berhenti. 

"Beraninye kau maen lintah? Mau kenak gigit ke?!" Suara Ibu terdengar murka. 

"E-eh, iye, Bu, ini Mita udahan," sahutku gugup.

Akhirnya di bawah omelan Ibu, aku hentikan permainan. Ibu lalu menyuruhku mandi dan pergi ke langgar.

Malam hari tiba. Sekira jam 9 waktunya kami tidur. Hanya ada satu kamar di rumah, jadi kami berempat tidur bersama. Ayah, dan Ibu tidur di atas ranjang. Sedangkan aku, dan adikku Dimas,  tidur beralaskan kasur busa di lantai. Tak seperti biasa, mataku sulit terpejam. Rasanya gelisah tanpa sebab. Di luar kamar gelap, karena Ayah telah mematikan lampu ruangan tengah.

Mendadak di tirai kamar aku melihat beberapa sosok bayangan menyeramkan. Kepala mereka bertanduk, mulut menyeringai menampakkan gigi-gigi taring, dan mereka memelotot kepadaku.
 
"AAAH!" jeritku spontan. Sontak Ayah terbangun kaget, disusul oleh Ibu. 

"Ada apa, Mita?!" seru Ayah. 

Aku tak mampu menjelaskan, selain menunjuk-nunjuk ke arah tirai kamar dengan penuh kengerian. Ayah segera memburu ke arah yang kutunjuk. Aneh. Begitu Ayah mendekat, sosok-sosok tadi langsung menghilang. 

"Tuh, ndak ada apa-apa. Kenapa kamu menjerit?" bingung Ayah. 

"AAAH! Itu! Itu di tirai, di belakang Ayah!" tunjukku kembali histeris. Mereka kembali muncul saat Ayah membelakangi tirai. 

Karena penasaran Ayah lalu memeriksa hingga ke luar kamar, menyalakan lampu ruang tengah, memeriksa ke setiap sudut rumah hingga ke dapur. Tak lama Ayah kembali.

"Tak ada apa-apa, Mita. Sudahlah, kamu tidur lagi sana." Kemudian Ayah kembali memadamkan lampu ruang tengah. 

Namun aku tetap menangis ketakutan. Karena bayangan-bayangan menyeramkan itu masih terlihat olehku. Ibu menyadari ada yang tak beres. Ia menggapai ke arahku, dan memelukku. 

"Ya ampun, badannye panas, Mas," beritahu Ibu pada Ayah. Mereka saling berpandangan cemas. 

"Kamu tidur di atas sini, Mita," putus Ayah sambil menuntunku naik. Aku masih menangis ketakutan. 

Kemudian aku diapit Ayah dan Ibu. Setelah itu Ibu mengambil Al-Quran dan membacakan beberapa ayat suci. Ayah menenangkanku. Tangisku mereda. Beberapa saat kemudian 
suasana kembali tenang. Orangtuaku kembali mengajak tidur. Tak lama terdengar dengkuran Ayah.

Namun mataku tetap nyalang. Pandanganku tertuju pada langit-langit, dinding, dan berakhir di lemari baju yang menempel dengan ranjang. Di situ aku mendapati sesuatu muncul begitu saja. Napasku tercekat. 

"Bu, Ibu, ... Ada lin-lintah!" Aku menggoyang-goyang tubuh Ibu. 

"Hah, mane lintah?" 

Ibu dan Ayah terduduk di kasur. Mereka terlongong, di depan mata mereka menyaksikan seekor lintah merayap tertatih-tatih di alas rak lemari berwarna putih; pemandangan yang ganjil dan kontras. Kami bertiga sama-sama membeku seolah tersihir. Lalu tanpa aba-aba gerakan lintah melambat, makin pelan, dan akhirnya berhenti sama sekali tepat sebelum tiba di kasur, menyisakan jejak darah.  Ayah mendengus keras, dan kami tersadar dari keterpanaan. 

Ibu memelukku. "Mita, inilah akibatnya gara-gara kau mainkan lintah tadi sore, tuh! Kawan si lintah ndak terima dengan kau," sesal Ibu. Hatiku terasa mencelos, hal ini sama sekali tak terpikirkan olehku. 

"Main lintah? Mita? Kapan?" Ayah menuntut penjelasan. Setelah Ibu menceritakan secara ringkas, Ayah geleng-geleng kepala tanda prihatin dan kecewa.

Aku merebahkan kepala di dada Ibu. Tak terasa sudah lewat tengah malam. Syukurlah tak ada lagi kejadian ganjil hingga pagi menjelang. (*)

Cilacap, 010321

(Seperti diceritakan oleh Mita--nama samaran--tentang pengalamannya semasa kelas 3 SD).

Keterangan bahasa Melayu Pontianak:
Gertak: jembatan kayu 
Kitak : kalian 
Tadak: tidak 

#ceritamisteri