Duit Tiban

No Copyright by Canva

Tidak ada kejahatan yang sempurna, kita sering mendengar istilah demikian. Sama halnya kisah ini, kalian tak perlu berpikir bagaimana semua terjadi. Hanya saja untuk warning kedepannya lebih berhati-hati.

Gadis ranum yang belum genap berusia empat belas tahun tersebut hanya dapat membuka mata. Terkadang napasnya tersengal seperti ada sesuatu yang menindih dadanya. Tidak bersuara dan tidak dapat berinteraksi dengan sesiapa pun. Sang Kakak hanya dapat meruntuki diri, sebab hal ini terjadi juga lantaran dirinya. Meski tahu kematian dan kehidupan adalah garis tangan Tuhan. Ini yang dilupakan oleh sang Kakak.

Tamparan matahari siang seakan mengamini pengendara jalan untuk melakukan aktifitasnya. Diremas kuat tangan Alia, adik bungsunya, “Andai saja aku kuat menekan rem, pasti tabrakan beruntun tak terjadi pada kita, Nok,” sesal sang Kakak pada tubuh adiknya yang hanya mendelik tak berkedip.

Kecelakaan naas tersebut terjadi ketika sang Kakak menjemput sepulang sekolah. Padahal biasanya Alia pulang-pergi sekolah dengan berjalan kaki. Melewati gang kelinci yang dapat menyingkat jalan menuju rumah.

Kecelakaan naas ini terjadi di sekitaran rawon Yuk Ning, yang sangat terkenal. Bahkan untuk memburu semangkok rawon, para pembeli harus menyerahkan kupon antrean yang nantinya dipanggil. Beberapa orang sengaja membeli double. Sebab enggan mengantre jika ingin tambah. Yuk Ning tutup setiap hari Selasa, dan kebetulan Alia juga kakaknya kecelakaan di hari yang sama. Motor sang Kakak remek; lampu depan, bamber motor pecah dan skok motor lepas. Sang Kakak hanya luka memar dan lecet di bagian siku, sedangkan adiknya tergolek lemah tanpa bergerak.

Hanya teriakan yang terdengar dari mulut sang Kakak, melihat keadaan adiknya. Setelah tiga hari berada di ICU rumah sakit. Pihak keluarga memilih membawa pulang. Selain tidak dicover pihak asuransi milik pemerintah sebab kecelakaan masuk ke jasamarga. Juga karena semakin hari tagihannya terus membengkak.

Orangtua Alia melaporkan kecelakaan anaknya pada pihak sekolah. Untuk meminta kompensasi terhadap pendidikan Alia saat terbaring koma. Jika dikatakan koma, tetapi matanya masih terbuka. Napasnya juga masih normal. Hanya saja untuk bertahan hidup Alia harus menggunakan selang infus sebagai penambah cairan, dan spet pada selang untuk memberikannya makan.

Genap enam hari pasca kecelakaan pihak sekolah beserta perwakilan siswa yang berjumlah lima orang, termasuk dua guru yang hadir. Menyerahkan amplop berisi uang sebagai rasa peduli kemanusiaan dan juga perhatian terhadap teman kelasnya.

Ibunda Alia tampak lebih tegar daripada ayahnya, sebab ketika sampai di sana yang menyambut dan banyak berbicara adalah ibunya. Sang Ayah lebih banyak berdiam diri menyimak obrolan di ruang tamu.

Rupanya hangat matahari tidak berlaku pada kamar 3x3 meter yang di dalamnya terbaring Alia dengan mata terbelalak, tanpa berkedip dan bersuara. Dinginnya ruang kamar seperti ber-AC, hawa yang tercipta seakan berbeda dengan ruang tamu. Seolah ingin berbicara ketika Angga teman sekelasnya memegang tangan Alia. Genggaman Alia seakan isyarat berbicara, ada makna lain yang ingin dimengerti. Angga membekap mulutnya sendiri, tubuhnya bergetar dan air matanya tumpah-ruah. Gagap tak bisa mengeluarkan suara. Genggaman Alia diempaskan kasar, tak kuat Angga memuntahkan mual yang tak berisi apa-apa. Hanya suara yang seru-menyeru dari perut yang ingin terus dimuntahkan.

Salah satu guru menghampiri, dan berusaha menenangkan Angga, tetapi hanya gelengan kepala yang sanggup Angga berikan. Berharap gurunya tersebut segera membawa keluar dan pamit kepada keluarga Alia.

Setelah ketegangan Angga berangsur membaik, justru Alia yang tetiba berteriak-teriak, sayangya hanya kata “Aaaa ... aaa ....” Memekakan telinga yang mendengar, bagai kesakitan yang teramat dalam. Akan tetapi, bagaimana bisa membantunya, jika dokter saja telah menyatakan Alia dalam keadaan koma.

Seusai pihak sekolah datang ke kediaman Alia, giliran anak buah Yuk Tin—pemilik rawon tempat Alia kecelakaan—datang memberi santunan.

“Ngapunten, Pak, Buk ... Ibu kalian Bapak mboten saget mertaaken,” (“Permisi, Pak, Buk ... Ibu dan Bapak tidak dapat hadir,”) ucapnya membuka obrolan.

Ayah Alia semakin bingung sebab kehadiran dua orang anak buah pemilik rumah makan rawon Yuk Tin datang berkunjung. Apa hubungan dengan semua ini?

“Sebentar, sebentar ... Mas, lah njenengan ke sini kenapa dan butuh apa?” jawaban Ayah Alia masih dalam kebingungan.

Gesture tubuh kedua lelaki tersebut semakin menggamangkan keadaan. Jika tujuannya jelas setidaknya dapat diterima oleh keluarga Alia, selaku korban kecelakaan.

“Niku, Ibu kalian Bapak Cuma menghaturkan rasa keprihatinan korban kecelakaan yang kebetulan terjadi pas di depan rumah makan,” ungkap seorang lelaki yang lebih tinggi dari teman yang berada di sampingnya.

Perlahan dibukanya bingkisan yang diletakkan di atas meja kaca. Ayah Alia memeriksa isinya. Begitu terperangah terhadap isi lembaran uang yang tersegel bank beberapa bundel.

“Gak masuk akal, Mas!” Geram Ayah Alia kepada kedua utusan Yuk Tin, “Saya semakin tidak mengerti, bukannya menolak, hanya saja ini terlalu berlebihan.”

“Te-tetapi kami hanya diutus menyerahkan saja, Pak,” jawab keduanya. Lantas mereka pamit pulang dengan segera.

Ayah Alia masih bergeming, menatap undukan uang yang masih dalam tas kertas berlapis amplop cokelat. Akan tetapi, tidak dengan sang Ibu, sebab ingin kesembuhan anaknya. Berusaha negosiasi kepada suaminya, berharap bahwa uang kemanusiaan yang ada di hadapannya dapat bermanfaat untuk kesembuhan Alia.

***

Hangat mentari masih melingkupi pagi ini, di sekolah rame membahas tentang keadaan Alia. Akan tetapi, tidak dengan Angga. Sebab selepas pulang menjenguk Alia justru Angga demam tinggi.

Angga seperti tertidur ayam, sebentar bangun untuk berceracau apa yang dia lihat, sebentar tertidur dengan mulut yang bergetar ketakutan. Orangtua Angga justru bingung dengan keadaan anaknya, sebab berangkat dalam keadaan sehat dan pulang justru sakit.

Paman Angga yang juga mengerti metafisik merasa ada sesuatu yang hadir dalam alam bawah sadar keponakannya. Berbekal ilmu yang dia miliki perlahan mencoba melihat apa yang terjadi.

Pergolakan Angga untuk menceritakan tentang ketakutannya. Paman berusaha memberi air putih yang telah dibacakan doa-doa. Berharap sedikit memberi manfaat.

Ada hasil dalam ikhtiarnya, Angga telah sadar dalam tidur yang tidak sempurna. Masih dalam tatapan kebingungan, sampai Angga enggan untuk ditinggal sendiri. Dia tak mau bersekolah, dan berharap Alia dapat ditolong.

“Ditolong, kenapa, Le? Alia sakit apa?” tanya Paman sembari memijit kaki keponakannya.

Mata Angga menelisik dalam, sebelum menjawab dia mengambil napas panjang, lalu diembuskannya perlahan.

“Aku takut, Lek. Benar-benar serem lho yang tak lihat.”

Pandangan Angga seakan meyakinkan Paman, bahwa yang dia rasakan sesuatu yang menakutkan. Paman menenangkan Angga dengan meyakinkan dirinya untuk terus mendampingi. Peluh masih bertengger di kening Angga, sisa-sisa mimpi yang terus mengejarnya seakan nyata.

“Lek, saat aku njenguk Alia di rumahnya. Tiba-tiba tangan Alia mencengkram kuat, dia seakan berbicara sama aku. Sedangkan aromanya sudah berbeda, seperti darah ayam yang sudah lama dibiarkan. Banyak mahluk yang gak jelas sedang mencabik-cabik Alia, di dadanya juga ada yang menduduki. Mereka melotot ke arahku, dan aku muntah karena mereka melemparkan sesuatu yang diambil dari organ bagian dalam perut Alia. Semua tampak nyata.”

Paman membeliak, tak percaya dengan yang diceritakan keponakannya. Dilihat dari penuturan kisahnya, seakan yakin bahwa sakit Alia bukan hanya sakit biasa, melainkan ada hal metafisik yang belum diketahui penyebabnya.

“Le, kalau Paklek mau ikhtiar ngobatin temenmu boleh, ndak?”

“Kalau bisa, monggo, Lek.”

Berbekal informasi yang diberikan oleh keponakannya, sang Paman bertandang ke rumah Alia. Pastinya ingin membantu semaksimal mungkin apa yang bisa diusahakan.

Keluarga Alia menyambut dengan baik, setidaknya usaha terus berjalan. Walau jawaban pasti hanya Tuhan yang maha segalanya.

Tatapan Alia semakin kosong, jauh dari sebelumnya. Meski saat ini telah dapat berkedip, tetapi tetap tidak dapat berkomunikasi. Ploy hitam di bawah mata semakin menebal, pipinya telah menyusut ke dalam. Hingga tulang selangka tampak cekung pada dua bahunya. Beberapa orang pintar coba menyembuhkan, hanya saja belum jodoh kesembuhan.

Lelaki berperawakan tinggi dengan jampang di dagu terus merapal doa. Alia semakin berontak, teriakannya mengiris hati. Rasa sakit yang tak sanggup diucapkan, hanya air mata yang terus bercucuran. Sesekali tangannya menggenggam dan mencengkram kuat. Seakan Alia menolak ketika Paman membacakan ayat suci Alquran.

“Maaf, ada yang tahu bagaimana sebelum kejadian?” Paman membuka obrolan.

Sang Kakak yang selalu jadi teman curhat menceritakan, bahwa adiknya Alia sempat menemukan uang yang digulung menggunakan daun pandan. Beberapa telah dibelanjakan, dan sisanya masih dia pegang. Cerita ini belum pernah diungkapkan oleh sang Kakak, sampai pada Paman yang bertanya.

Bisa disimpulkan oleh Paman, bahwa sebenarnya Alia terkena tiban duit atau uang tiban yang bertujuan untuk mencari korban.

Paman hening sejenak, mengolah kata untuk tidak menyakiti kedua orangtua gadis belia yang sedang bertaruh nyawa.

“Ada surga, ada neraka, ada pagi pasti ada malam. Ada kehidupan juga pastinya ada kematian. Hanya saja keluarga Dek Alia harus ikhlas apapun yang telah digariskan, sebab semua diatur oleh Allah.”

Akhirnya Paman yang sedari tadi berusaha menyembuhkan Alia, memberi catatan kecil dalam kertas yang tadi dituliskannya untuk keluarga Alia.

Wajah Ibunda Alia semakin memerah, matanya mengembun dan ketabahan menguatkan untuk membacakan potongan ayat suci Alquran pada anak gadis semata wayangnya. Genggaman tangan yang mencengkram tiba-tiba mengendur dan katup mata tertutup sempurna. Suara teriakan bersahutan dalam kamar [.]

Malang, Maret 2021

#ceritamisteri

#kisahmisteri