Peringatan Kematian

Foto : okezone.com

 

"Nduk...nduk, kowe ki nduwe bojo koyo ra nduwe bojo. Opo-opo njaluk wong tuwo!" samar-samar terdengar suara menyindir seorang wanita paruh baya bertapih jarit bercorak lurik.

Seorang wanita muda di ujung sebuah kamar tak berpintu menjawab, "Yo mboten ngoten to buke, kulo namung nyuwun tulung sepisan mawon." 

Sambil marah dan melempar beberapa lembar uang berwarna merah sang ibu mengingatkan, "Nyoh, sesok eneh kongkonen kuwi bojomu supoyo kerjo, ojo lingguh ae isone!" 

Disisi kamar yang lain, seorang laki-laki hanya bisa menundukkan kepala di atas sebuah kursi roda. Hatinya tak kalah tersayat dan nyeri dari wanita yang tengah menangis di ujung kamar sempit itu. Mereka berdua adalah sepasang suami-istri sebut saja Narto dan Yayuk. Mereka merelakan diri menahan malu sebab tuntutan hidup yang semakin sulit, apalagi semenjak Narto yang harus duduk di kursi roda dan tidak mampu bekerja lagi.

Keesokan paginya, suara rintik hujan dan hangatnya kopi turut menemani Narto duduk termenung sendiri. Ia duduk di depan jendela  yang terbuka, sambil menatap nanar ke depan. Seolah sedang menghitung jumlah rintik hujan yang turun. Tanpa bergeming, tiba-tiba lelehan air mata meluncur dari mata tajamnya. Ia hanya terus diam sampai tengah hari tiba. Dalam hatinya ia membayangkan seandainya kejadian buruk saat itu tidak menimpanya pasti kondisinya tidak seburuk ini. 

Tak berapa lama, angin berhembus begitu kencang menerpa laki-laki kurus itu. Membuat tengkuknya ikut bergidik. Dalam hati tiba-tiba ia menjerit, meminta dirinya sendiri untuk mengakhiri semua penderitaan yang dirasakan. Terlihat sebilah pisau tajam sudah ada di genggaman setelah ia berhasil mengambilnya susah payah dari dapur. Tanpa aba-aba ia tertawa sendu dengan air mata yang masih terus menetes.

"To...Narto, kowe ki ra onok gunane dadi wong lanang, isamu mung ngrepoti bojo, ra iso opo-opo," ucapnya meratapi sambil menggores pergelangan tangannya dengan pisau yang dia genggam.

Setelah itu pandangannya menjadi gelap. Bibir dan tubuhnya terasa dingin dan kaku. Yang mampu ia rasakan hanyalah rasa hangat yang meleleh dari pergelangan tangan. Sampai ia sama sekali tidak merasakan apapun.

Tiba-tiba mata terpejamnya terasa silau seolah memintanya membuka mata. Ketika matanya terbuka, ia merasa berada di sebuah tempat yang tak asing baginya. Sebuah kamar ukuran 3x3, dengan poster The Beatles tepat menutup celah jendela. 

Meski ia merasa tidak asing dengan tempat tersebut tapi ia kebingungan, dimana sebenarnya dirinya. Tiba-tiba kamar yang tak seberapa besar itu perlahan menjadi gelap. Cahaya yang awalnya masih bisa masuk melalui celah-celah kecil jendela perlahan menghilang. Saat itu ia mulai bisa merasakan ada orang lain bersamanya. Samar ia mendengar suara tangisan, berganti suara raungan dan tawa pilu. Ketika ia melongok ke arah pintu terlihat seorang pria yang sangat dia kenal, itu adalah dirinya yang lain. Pria itu mulai memutih rambutnya. Duduk di kursi Roda membelakangi Narto.

"Sopo kowe ?" Dengan napas yang masih menderu Narto memberanikan diri bertanya.

Ketika lelaki di atas kursi roda itu menghadapnya, sontak Narto berteriak sekuat tenaga. Ia melihat wajah tuanya penuh belatung dan sudah tak berbentuk. Narto berdiri dan berlari mencari jalan keluar. Ia merasakan tubuhnya sekarang mampu digerakkan, tidak seperti sebelumnya yang tidak bisa apa-apa. Akhirnya ia mampu membuka pintu, dan ketika ia keluar ia merasa seperti terjatuh ke sebuah lubang hitam yang sangat dalam. Lubang itu seolah tak memiliki dasar, dia benar-benar ketakutan. Sesampainya di dasar lubang ia merasakan tubuhnya terhempas ke tempat yang begitu keras. Di rasakannya tempat itu semakin sempit dan membuatnya kehilangan napas dan tidak mengingat apa-apa lagi.

Kemudian ia terbangun lagi di sebuah kamar bercat putih dengan bau khasnya, itu adalah rumah sakit. Dia melihat sekeliling, tak ada siapapun. Kecuali tubuhnya yang membujur kaku sendirian. Samar-samar ia mendengar teriakan pilu meminta tolong. Narto mencoba mencari arah suara. Ketika ia mencoba keluar dari pintu ruangan tersebut, ia hanya bisa melihat sebuah kegelapan. Ia terus berjalan sampai ia menjumpai tubuhnya penuh luka. Ia diseret paksa ke sebuah tempat yang tidak pernah dia tahu. Tidak berapa lama dia melihat seorang wanita dengan tali mengait di lehernya meraung meminta tolong. Di sebelahnya ia menjumpai seorang lagi, kali ini seorang pria paruh baya dengan tubuh rusak penuh luka seperti bekas terjatuh. Kembali dia dengar lelaki itu menjerit meminta tolong.

Narto berharap bisa keluar dari tempat gelap nan mengerikan itu. Ia mencoba menutup matanya rapat-rapat. Sampai akhirnya ia merasakan perih di pergelangan tangan. Ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Matanya kembali terbuka dan ia merasakan sebuah terang yang menenangkan. Ia melihat sudah banyak orang berkumpul di rumahnya yang tak terlalu besar. Badannya telah terbungkus kain kafan seolah siap dimakamkan.

Ia melihat istrinya menangis dan mengucap syukur melihatnya membuka mata. Narto masih kebingungan atas apa yang menimpanya. Kemudian datang salah seorang yang dituakan di kampung bernama Mbah Sapto menghampiri. Dengan sigap dibantunya Narto untuk bangun dan berganti pakaian, lalu membaringkannya di atas dipan dari bambu. Mbah sapto lalu mengelus kepala Narto. 

Dari mulutnya terdengar nasihat, "Le...uwong iku kudu iso nrimo takdire Gusti Alloh, ora oleh mblayang, mengko maleh dibisiki setan supoyo nglakoni seng ora apik."

Setelah mendengar nasihat itu ia begitu bersyukur karena Sang Kuasa masih memberikannya kesempatan hidup. Ia sungguh merasa sangat menyesal karena sempat ingin mengakhiri hidup.

Kehidupan lelaki yang menginjak kepala tiga ini memang memilukan. Dia adalah tulang punggung keluarga dengan kondisi orang tua yang tak kalah lebih memilukan. Dari usia yang bisa dibilang belia dia sudah harus banting tulang menggantikan posisi ayahnya yang terbujur kaku tak berdaya karena penyakit yang diderita. Impiannya sangat besar, namun lenyap begitu saja. Keputusannya menikahi seorang wanita yang dicintai tak berakhir bahagia. Karena sebuah kecelakaan kerja membuatnya lumpuh total. Keputusasaan dan rasa tidak terima menanggung ketetapan Sang Kuasa membuatnya begitu frustasi sampai laki-laki itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun Sang kuasa masih begitu mencintainya, melalui peristiwa ini Narto tahu bahwa mengakhiri hidup bukanlah solusi atas apa yang di rasakannya. Sungguh begitulah Sang Kuasa memberi peringatan melalui cara-Nya.


#Ceritamisteri