Mimpi Kecil Sang Penari Seblang

Ilustrasi/mimpi

Tari Seblang adalah ritual unik warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten, Banyuwangi yang digelar setiap bulan Syawal sesuai kalender Jawa.  Tarian yang diadakan setahun sekali ini, merupakan bagian dari upacara adat yang oleh penduduk setempat disebut sebagai  ritual bersih desa Suku Osing Banyuwangi. Dalam ritual yang sarat dengan nuansa mistis ini,  sang penari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hal itu  membuatnya bisa menari enam jam tanpa lelah selama tujuh hari berturut-turut.

*

Nur termenung bingung saat dihadapkan pada dua pilihan sulit. Tadi saat di sekolah, Bu Atma -- wali kelasnya mengatakan bahwa dirinya termasuk salah satu siswi yang terpilih mengikuti lomba cerdas cermat di Kabupaten setelah Hari Raya. Artinya selama beberapa hari Nur akan berada di Kabupaten untuk mengikuti lomba. Di saat yang sama, dia juga terpilih untuk menari Seblang.

Sebagaimana ketentuan yang berjalan turun temurun, penari Seblang harus gadis yang belum menstruasi dan mempunyai pertalian darah dengan leluhur Seblang. 

Kali ini penari yang ditunjuk untuk membawakan tari Seblang bulan Syawal mendatang adalah Nuryati. Bahkan, Nur yang merupakan penari generasi ke 30 dari sekian banyak penari Seblang, sudah dua kali ditunjuk jadi penari. 

"Apa nggak bisa dicarikan penari lain, Pak? Bukankah banyak anak-anak perempuan sini yang bisa?"  Bu Atma mencoba bernegosiasi dengan tetua desa.

“Ritual ini rutin digelar setiap lebaran, dan penarinya tidak bisa sembarangan, penarinya harus ada hubungan darah dengan leluhur Seblang, Mbah Ketut. Kalau nggak memiliki persaudaraan nggak bisa jadi penari,” tegas Pak Mardi menjelaskan.

"Jadi harus Nur yang menari?" tanya Bu Atma lagi.

"Iya, Sekarang di desa sini yang jadi penari Nur.  Sudah dua tahun ini Nur jadi penari," lanjut Pak Mardi.

"Tidak bisa dicarikan pengganti?" ujar Bu Atma lagi.

"Penari dipilih tidak sembarangan karena  untuk mendapatkan penari Seblang, sebelumnya para tokoh agama dan sesepuh desa setempat sudah melaksanakan proses meditasi dan meminta petunjuk di makam Mbah Ketut, leluhur Seblang."

"Apa juga tidak bisa diganti hari atau dimundurkan beberapa hari?" Bu Atma mulai putus asa, kecil harapannya untuk menyertakan Nur dalan lomba di Kabupaten, padahal Nur murid yang cerdas dan sangat diandalkan

"Ritual tarian Sablang sudah ada sejak ratusan tahun, dan diadakan mulai tanggal tiga Syawal. Nggak bisa dimajukan atau dimundurkan karena ritual ini  sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki serta diberikan keselamatan oleh yang Maha Kuasa," papar Pak Mardi.

“Ini 'kan budaya warisan nenek moyang, jadi harus dilestarikan agar tidak hilang. Tarian ini juga untuk keselamatan dan tolak bala agar terhindar dari marabahaya. Kalau tidak dilaksanakan, khawatir akan terjadi apa-apa di desa kita,” pungkas Mardi.

Bu Atma menghela napas berat, sebenarnya bukan ia tidak paham dengan ritual turun temurun ini. Perempuan yang lahir dan dibesarkan di  desa Olehsari itu tahu, tari Seblang yang mirip dengan ritual tari Sintren Cirebon dan ritual Sanghyang Bali itu merupakan tradisi yang sudah cukup tua hingga sulit dilacak asal mulanya. Menurut catatan yang pernah dia baca,  penari Seblang pertama diketahui bernama Semi yang juga pelopor Gandrung pertama masih ada kekerabatan buyut dengan neneknya  Nur.

Namun, saat ini ada hal lain yang juga penting untuk kemajuan anak-anak didiknya di desa. Para generasi muda, mereka bukan hanya dituntut meneruskan tradisi leluhur, tapi juga menjadi generasi cerdas yang kelak memajukan bangsa. Hanya saja, kali ini waktu tidak berpihak pada Nuryati -- bocah cerdas di sekolah yang kebetulan terpilih menjadi penari Seblang.

Nur hanya diam, jika sudah demikian tak ada yang bisa mengubah keadaan, memilih salah satu bukan jalan keluar, tidak mungkin mundur dari penari Seblang karena menyangkut keselamatan warga masyarakat desa.

"Maafkan, Ibu," ujar Bu Atma, mengusap rambut Nur yang menunduk pasrah. Gadis itu hanya tersenyum tipis, meredam kecewa, pupus harapannya bisa mengikuti lomba cerdas cermat di kabupaten yang sudah lama dia impikan.

"Mudah-mudahan lomba yang akan datang waktunya tidak berbarengan hingga kamu bisa ikut," hibur Bu Atma. Sekali lagi Nur hanya mengangguk.

Hari berganti cepat, menjelang pelaksanaan ritual tari Seblang, Nur sebagai penari terpilih diberi ritual berupa kekuatan magis yang membuatnya mampu menari setiap hari selama enam jam selama tujuh hari berturut-turut tanpa lelah. 

Saat yang dinanti tiba, warga telah berkumpul di balai desa, panggung telah berdiri megah.  Nur bersiap mengikuti ritual yang telah jauh hari dipersiapkan oleh para tetua desa. Aura mistis mulai terasa dengan menguarnya aroma dupa yang mengiringi proses pembuatan ongklok, semacam mahkota khusus yang dibuat  menggunakan daun pisang muda di bagian depan dan bunga-bunga di atasnya.  

Ongklok ini akan dikenakan oleh Nur, dipasang melingkar di kepala hingga wajahnya tertutup oleh rumbai-rumbai daun pisang. Hal ini sengaja untuk membuat para penonton penasaran dengan wajah sang penari. Terutama para penonton pria.

Setelah Ongklok terpasang di kepala Nur, selanjutnya sang tetua adat mulai mengasapi penari Seblang dengan asap dupa sambil mengucapkan mantera agar roh leluhur masuk ke dalam tubuh Nur. Gending Lukinto ... yang konon dipercaya oleh masyarakat sebagai pemanggil arwah atau kekuatan ghaib untuk datang ke ritual Seblang, mulai ditabuh mengawali proses masuknya roh ke dalam tubuh gadis berusia dua belas tahun itu.

Sinden dan penabuh musik yang masih mempunyai ikatan darah dengan penari seblang sebelumnya mulai melantunkan 28 lantunan gending.

Selanjutnya tetua adat menggoyangkan tubuh Nur ke kanan dan ke kiri untuk mrmastikan roh sudah masuk ke dalam tubuhnya. Seketika nampan bambu yang dipegang Nur jatuh,  tubuhnya terjungkal ke belakang, menandakan  sudah kerasukan roh.

Nur mulai  menari berputar mengitari panggung selama tiga hingga empat kali secara terus menerus, tidak ada gerakan yang pakem seperti layaknya tarian tradional lain,  gerakannya spontan mengikuti  roh yang  telah memasuki tubuhnya. Sesekali para tetua desa ikut menari di belakangnya.

Setelah proses awal ritual tari sempurna, tetua desa membagikan kembang tujuh rupa kepada para penonton yang konon dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit dan membuang rasa sial dalam jiwanya. Para penonton pun bersuka cita memperebutkan kembang yang konon dipercaya memiliki tuah tersebut.

Tibalah pada puncak acara yang ditunggu, bagian paling menarik yang selalu disambut meriah.  Dalam keadaan kerasukan, Nur mengajak penonton untuk menari bersama dengan melempar selendang ke arah penonton. Mereka yang terkena lemparan selendang harus naik ke panggung untuk menari bersama selama beberapa waktu.  

Kali ini lemparan tepat mengenai Aat, pemuda desa yang telah lama menyukai Nur.  Setelah beberapa putaran mereka pun bersalaman, selanjutnya dilanjutkan lemparan berikutnya, demikian seterusnya hingga sore hari sampai acara selesai.  Ritual akan diulang selama tujuh hari berturut-turut.

*

Pagi yang cerah, masyarakat kembali pada rutinitas. Nur merasa tubuhnya begitu lelah, sambutan dan pujian yang disematkan tak membuatnya berbangga hati, meski terpilih menjadi penari Seblang adalah suatu kehormatan yang mulia dan diimpikan banyak gadis seusianya, tapi Nur tak sedikitpun berbangga hati. Ada yang menyesak setiap kali melakoni ritual yang mengharuskannya menanggalkan semua keinginannya.

"Hai," sapa seseorang dari balik pagar. Nur menoleh, mendapatkan sebentuk wajah tengah tersenyum padanya.

"Boleh aku masuk?" tanya sipemilik wajah itu lagi, Nur tersenyum tipis lalu mengangguk 

"Aku membawa kabar gembira untukmu," ujar laki-laki itu, mengambil tempat di samping Nur yang tengah selonjor di balai-balai bambu. 

"Kabar apa?" Mata Nur sedikit berbinar.

"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke kota," ujar Aat menatapnya penuh arti.

"Aku ... ke kota?" Nur bertanya tak mengerti.

"Bergegaslah, Bu Atma menunggumu," lanjut Aat.

"Aku tak mengerti," ragu Nur berujar.

"Bersiaplah cepat, waktu kita tak banyak, aku akan menjelaskan di perjalanan nanti." Aat berkata tegas, seakan menyerukan titah. Nur masih bergeming ragu.

"Aku sudah minta izin pada ayahmu, jadi bergegaslah, kita berangkat sekarang. Ada mobil yang bisa memberi kita tumpangan sampai ke kabupaten." lanjut Aat menjelaskan. 

Mendengar ayahnya telah mengizinkan, Nur bergegas menyiapkan diri, meski belum mengerti untuk apa dia harus ke kabupaten bersama Aat, keponakan Bu Atma, tapi Nur menebak pasti ada hubungannya dengan Bu Atma dan perlombaan itu.  Ya ... perlombaan itu, hati Nur berdebar, harapnya timbul melupakan lelah tubuhnya karena berhari-hari mengikuti ritual tari.

Bu Atma menyambut Nur dengan senyum merekah, dipeluknya Nur dengan penuh rasa syukur.

"Alhamdulillah, Nur. Ini memang rezekimu," ucap Bu Atma riang.

"Karena masalah teknis lomba diundur tiga hari dari tanggal yang ditentukan. Keberuntungan memang milikmu, Azizah mengundurkan diri karena sakit typus dan harus opname. Sekarang kamu bersiap, ya," ujar Bu Atma bersemangat. Nur yang masih bingung menoleh pada Aat, laki-laki yang sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan itu mengangguk sambil mengacungkan jempol padanya. 

Nur merasa lega, senyum melengkung di bibirnya, hatinya bersorak, mimpinya untuk bisa mengikuti lomba akhirnya terwujud. Segera diraihnya seragam yang telah disiapkan Bu Atma dan bergegas memakainya. Tak sampai lima menit, Nur telah bergabung bersama dua orang teman sekelasnya, Hasna dan Yayan.

Tepuk tangan riuh bergema tiap kali mereka berhasil menjawab pertanyaan, acungan jempol Bu Atma dan Aat dari kursi penonton makin memompa semangat Nur dan teman-temannya. Mereka akhirnya berhasil membuktikan bahwa anak desa bukan tak bisa berprestasi. 

Gelar kemenangan pun mengubah stigma tentang keterbelakangan dan keterpurukan anak-anak desa Olehsari. Sebuah desa kecil yang terkenal kental dengan mistisnya telah membuktikan bahwa mereka pun memiliki generasi muda yang cerdas dan memiliki tekad untuk maju membangun kehidupan yang lebih baik seperti mimpi kecil Nuryati. 

Sidoarjo, 28 Februari 2021
#cerita misteri