Pengabdian Pemandi Jenazah

Foto : Galamedianews.com

Kematian merupakan akhir kehidupan, dan sering kali, ada cara Tuhan memberi peringatan dari kematian untuk yang masih hidup.

***

Aku terpaku, menemukan tamu yang mengetuk pintu di depan rumah adalah Bu Isna, ustazah sekaligus orang yang paling disegani beberapa kampung daerahku. 

"Masya Allah, Bu Isna? Monggo, mari masuk!" Aku tergopoh, salah tingkah. Melihat keadaan rumah berantakan. Kusingkirkan beberapa mainan anakku yang bercecer tak karuan, memberinya tempat untuk duduk. Meski aku merasa tak enak dan sungkan, ia tetap duduk di sofa bututku begitu saja, tak memedulikan keadaan. 

Aku menunduk dan mengatur posisi tubuhku sesopan mungkin, duduk agak menjauh darinya. 

"Ngapunten, ada apa nggeh?" tanyaku penasaran.

"Bu, Halimah. Maaf, sebelumnya jika mungkin terlalu grusa-grusu. Tapi saya nggak mau basa-basi, sebenarnya sudah lama saya mau menyampaikan ini." Bu Isna menampakkan mimik yang begitu serius, terlihat dari ketegangan sorot mata dan gerak tubuhnya yang bersiap dan fokus padaku. 

"Mm ... begini, saya mau mengajak sampean jadi partner pemandi jenazah. Sekali lagi mohon maaf, saya sudah sepuh, Bu. Kalau nggak ada penerusnya, siapa yang bakal mewarisi ilmu yang tak biasa ini." 

Deg! Jantungku seolah kehilangan irama, tercekat. Apa Bu Isna tidak salah pilih orang? Kurasa, ilmuku belum mumpuni untuk menerima tawaran sulit ini. Aku bingung, terdiam. Ia menggeser tubuhnya mendekat, memegang tanganku, tersenyum penuh arti. 

"Saya sudah istikharah sebanyak tiga kali, dan hasilnya, dua kali saya bermimpi wajah yang sama. Wajah Bu Halimah, tak salah lagi." Kubenamkan wajah ke bawah semakin dalam, mengernyit. 

"Jangan ragu, saya juga tak mau salah pilih orang. Kalau tidak dengan petunjuk dari Tuhan, saya nggak akan berani." Ia membuka tas dalam himpitan lengannya, mengambil sebuah buku dan memberikannya padaku. Gemuruh di dada rasanya ingin memberontak, namun rasa sungkan lebih membuatku manut tanpa membantah. 

Kutatap buku dengan judul 'Tata Cara Memandikan Jenazah' yang ditaruh di atas telapak tanganku. Kugenggam erat buku itu, meneguk ludah yang terasa menghalangi napas di kerongkongan. Tanganku mulai gemetar, tak tahu harus menjawab apa. 

Bu Isna berdiri, kudongakkan kepala ke atas menatap wajahnya yang begitu teduh. Aku bergeming, ia mengusap bahuku, mulai melangkah pergi dan mengucap salam tanpa memberiku kesempatan untuk membantah apalagi menolak. 

"Wa'alaikum salam ...," jawab seseorang dari dalam rumah, suamiku. Ia membuyarkan lamunan, menaikkan dagu menatapku, alisnya bertaut penuh tanya. Aku menghela napas sebentar. Lantas, memberi buku dalam genggaman padanya. Ia terperangah, matanya berpaling pada sosok Bu Isna yang berjalan dan hampir menghilang dari depan rumah. Dilihatnya buku itu kembali, seakan tahu maksudku tanpa perlu penjelasan. 

***

Seharian pikiranku jadi tak tenang, kacau. Aku, ibu lima orang anak, dengan latar pendidikan pesantren mendominasi. Mungkin, ini yang menjadi acuan Bu Isna memilihku. Padahal, murid didikannya banyak. Beberapa ustazah dengan nama besar di kampung juga tak kurang. Mengapa harus aku? Wanita yang bahkan tak pernah disebut orang dalam tiap pengajian dan acara religi.

Kegelisahan ini membawa otakku berkelana hingga ke alam mimpi. Saat malam hari, aku merasa terbangun berada di sebuah rumah indah. Tak mewah, tetapi begitu nyaman. Kulihat anak-anakku bermain riang bersama suami di ruang tengah. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, aku semakin merasa asing. Rumah siapa ini? 

Penasaran, kulangkahkan kaki menuju pintu depan rumah. Ketika di ambang pintu, aku terkaget melihat suasana sekitar rumah. Ternyata, rumah ini berdiri tepat di tengah kuburan. Namun, ada perasaan aneh berdesir dalam hati. Aku merasa begitu damai menatap sekeliling, bahkan senyuman terus mengembang di bibir ini. Syahdu sekali. 

Namun, tepukan halus di pipi membangunkanku. Bola mataku segera berputar menangkap pemandangan, ini baru benar rumahku. 

"Kenapa? Kamu tidur sambil senyum-senyum sendiri," tanya suamiku keheranan. 

"Aku mimpi aneh, Mas. Punya rumah di tengah kuburan." Ia tersenyum, seperti puas. 

"Itu sebuah pertanda, Halimah. Kamu harus menerima permintaan Bu Isna." 

"Harus ya, Mas." Ia mengangkat tubuhnya bersandar pada kayu ranjang. Menatapku lekat. 

"Bu Isna itu bukan orang sembarangan, kamu tahu sendiri, 'kan. Tak mungkin beliau salah orang mengembankan tugas mulia ini." Kugenggam tangan suamiku erat.

"Aku takut, Mas. Apa aku bisa menjalaninya? Ini berat, apa Mas juga ridho?" Ia memejamkan mata, mengangguk. Tak menjawab apa pun lagi. Seolah mengikhlaskan. 

Dengan nasehat dari suami, kulakukan salat istikharah untuk memantapkan hati. Berharap mendapat jawaban pasti dari Sang Ilahi. 

***

Hampir tiga hari sejak kedatangan Bu Isna, aku masih saja ragu. Belum juga kutemukan titik terang dari istikharahku tiap malamnya. Hingga akhirnya, malam keempat, aku bermimpi bertemu Bu Nyai saat mondok dulu. Ia tak berkata apa pun, hanya duduk di atas amben seraya melipat sebuah kain jarik. Ketika kudekati dirinya, kain itu diserahkan padaku sembari tersenyum merekah. Kain itu harum bunga, bercampur kapur barus. Kuterima dengan takzim, mendekapnya penuh rasa haru. 

Aku terbangun dengan keadaan bingung, mencerna arti mimpi itu. Tuhan ... jika memang ini amanat dari-Mu, hamba ridho, berilah hamba ketegaran untuk melalui proses ini. Kuembuskan napas berat, akhirnya ada sedikit keyakinan untuk menerima semua ini. 

***

Keesokan harinya, sebuah pengumuman orang meninggal menggema dari speaker surau-surau kampung. Debar jantungku berpacu, saat kudengar yang meninggal adalah seorang perempuan. Tuti Ainiyah. 

Tak lama berselang, Bu Isna menjemput. Namun, aku masih ragu. Memilin-milin ujung jilbabku resah. Ia terus merayu dan menyemangatiku. Aku bahkan belum sempat membaca buku pemberiannya. Tetapi, dulu waktu di pondok aku memang pernah mengikuti pelatihan fardhu kifayah bersama Bu Nyai. 

"Aku percaya, Bu Halimah sudah siap meski tanpa membaca. Sampean ini alumni pondok, ilmunya sudah lebih dari cukup." Kugenggam jari jemariku sendiri. Memantapkan hati yang masih terombang-ambing. 

"Mari ...!" Ia memberiku sebuah tas jinjing hitam besar, mungkin berisi peralatan kebutuhan pemandian. 

Suami dan kelima anakku hanya mengangguk, seolah memberi izin. Kuterima tas itu dengan perasaan berkecamuk, berusaha ikhlas. Lantas berjalan pasrah, menuju rumah duka. 

***

Ketika menatap tubuh si mayit yang terbaring di hadapan, tubuhku gemetar. Kulihat kondisi mayat dengan kulit melepuh gosong. Kata keluarganya, si mayat sudah lama menderita penyakit kulit, tubuhnya kurus kering. Menyisakan kulit dan kerangka seperti mumi. Aku beristighfar tanpa henti, menatap tubuh semengerikan ini. 

Kumulai tugas ini dengan mendekatkan mulut sembari berbisik, "Assalammualaikum, Bu Tuti, maaf saya mau memandikan sampean. Izinkan saya mensucikan tubuh ini." 

Dibantu Bu Isna, aku mengucap niat memandikan jenazah, menggucurkan air pertama kali sebagai thaharah. Kemudian diikuti rangkaian urutan pemandian dengan tetap menutupi tubuhnya dengan jarik. Lantas, mengakhiri ritual dengan memberi wudu pada jenazah. 

Bu Isna mengacungkan jempol, seolah memberi apresiasi sebab tugas perdanaku begitu sempurna, lancar. Aku sendiri tak tahu, bagaimana bisa telaten dan cekatan tanpa diperintah. Semua mengalir seperti sudah ada di kepala. Aku bersyukur, meski tak mudah menata hati, nyatanya semua beres tanpa cela. 

Beliau bahkan memberiku kesempatan untuk memimpin acara tahlil bersama ibu-ibu pelayat. Aku mendengar kasak-kusuk di telingaku, mereka saling berbisik. Aku tahu, mereka mungkin belum bisa menerima, merasa diriku tak layak. Namun, aku bersyukur, tutur dan perintah dari Bu Isna akhirnya dapat membungkam mulut-mulut mereka. 

***

Malam harinya aku bermimpi kembali, begitu seram. Kulihat wajah mayat perempuan yang kumandikan tadi pagi. Ia menangis sembari menatapku sendu, seolah meminta pertolongan. Suara tangisnya yang menyayat dan terkadang melengking, membuatku berjingkat dan terbangun berkali-kali, bermandikan peluh. 

Hal ini bahkan terjadi berulang-ulang. Setiap kali habis menjalankan tugas, mimpi-mimpi buruk itu selalu datang. Aku hampir menyerah sebab terlalu parno dan ketakukan. Beruntung suamiku begitu sabar, ia terus menyemangati dan memberi motivasi.  Sampai kueluhkan segalanya pada Bu Isna, beliau memberiku bacaan-bacaan dan pegangan yang akhirnya membuatku lebih tenang dan ikhlas. 

Semakin ke sini, tugas-tugas selanjutnya mulai terasa ringan, meski tak bisa dipungkiri ada perasaan was-was dan takut. Belum lagi tiap jenazah punya masalah sendiri-sendiri, beragam bentuk jenazah terkadang menciutkan nyali. Ada yang busuk, korban kecelakaan, bahkan mayat berbelatung menjadi tantangan tersendiri bagiku.

Banyak kejadian aneh yang sering kali terjadi ketika jenazah hendak dimandikan. Katanya, kelakuan semasa hidup biasanya sangat berpengaruh saat mengalami kematian, tetapi aku dan Bu Isna selalu menutupi setiap aib keluarga mereka, dengan hanya memendamnya sendiri. 

Aku semakin bertambah yakin dan tatag, menjalani profesi baru sebagai mudin pemandi jenazah wanita. Sampai kapan pun akan kuabdikan diri membantu proses kewajiban sesama manusia, tanpa pandang bulu. Hanya kesabaran dan keikhlasan hati saja yang dapat menguatkan diri. Karena pekerjaan ini, tidak sembarang orang inginkan dan bisa melakukannya.


#ceritamisteri