Dalam Jeruji Masa Lalu

Batamtoday.com

Sudah sekian lama tidak pulang kampung, rasa rindu begitu menguasai hati. Saat bus antar kota yang aku tumpangi berhenti di sebuah halte tepi jalan, dengan penuh semangat aku turun menenteng tas ransel hitam polos.

 

Aku bukan satu-satunya penumpang yang tiba di halte terakhir, ada beberapa orang juga. Tapi mereka rata-rata dijemput sanak saudara, kecuali aku. Kepulangan ini memang sengaja tidak diberitahukan, agar menjadi kejutan menyenangkan saat bertemu emak, bapak, dan Lintang adik perempuanku. Mereka pasti kaget bercampur senang saat melihat kedatanganku nanti. 

 

Kampung Meragun memang masih sejauh 5 km lagi. Selain mobil pribadi, motor atau jasa ojek, tidak ada cara lain menuju rumah kecuali ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi ojek tidak terlihat tadi, mungkin sudah pulang karena hari sebentar lagi malam.

 

Terpaksa aku pun berjalan kaki.  Menyusuri jalan aspal kasar, yang dulunya hanya berupa tanah merah. Kalau musim hujan, jalanan becek sekali. Bersyukur sekarang sudah ada pembangunan, meski masih berupa batu-batu besar yang diikat dengan cairan aspal. Itu lebih baik.

 

Langit sore yang awalnya didominasi warna orange, kini berubah kelabu dan menghitam. Malam pun datang. Wajar saja jalanan sepi, sebab ini waktunya orang-orang pulang berkumpul dengan keluarga, setelah seharian beraktivitas mengais rejeki di luar rumah. 

 

Di depan sana, pintu rumah penduduk sudah banyak yang tertutup. Semakin ke dalam, tidak lagi tampak ada rumah warga. Hanya hutan di kanan-kiri. Sementara lampu penerangan jalan juga tidak ada. 

 

Tiba-tiba aku menyesal tidak memberi tahu kepada bapak, setidaknya aku dijemput dengan ho**a agar cepat tiba di rumah. Namun, tak apalah. Suasana pasti akan meriah, tatkala aku tiba. Sambil bernyanyi dalam hati, kaki dipacu dengan riang.

 

Perlahan suara satwa malam bernyanyi menyambut kegelapan. Cicit burung berganti lagu jangkrik, sesekali ditimpali suara satwa liar lain berteriak di kejauhan. Hembusan angin mempermainkan daun-daun, gesekan yang terdengar 'bak irama lagu. Lolong anjing sayup-sayup terdengar, lirih dan sangat menyayat hati. Seperti tangis kedukaan ditinggal pergi oleh orang terkasih.

 

Setelah satu setengah jam berjalan, akhirnya aku tiba juga di depan rumah. Kampungku masih seperti dulu, warga belum menikmati aliran listrik. Selain letaknya jauh dari kota, kampung kami pun berada di bawah kaki Gunung Naning. 

 

Bagi mereka yang mampu, bisa membeli generator sebagai sumber cahaya. Sementara yang miskin, hanya memakai pelita atau obor, termasuk rumah orang tuaku. 

 

Saking senangnya ingin membuat kejutan, aku tersenyum melihat daun pintu rumah yang tertutup. Dengan rasa rindu membuncah, kuketuk pintu tanpa memanggil. Sepi! Tidak ada suara di dalam. Aku mengetuk lagi lebih keras, kali ini sambil berteriak.

 

"Assalammualaikum …, Pak! Mak!" panggilku.

 

Tetap saja tidak ada sahutan. Apa tidak ada orang di rumah?

 

"Lintang! Buka pintu, Dek!"  teriakku lagi.

 

Namun sama sekali tak ada sahutan, apalagi keluar menyambut kedatanganku. 

 

Perasaan mulai tidak enak. Aku bergegas memutar engsel pintu, siapa tahu tak terkunci. Benar saja! Pintu terbuka dan aku segera menerobos masuk.

 

"Bapak-Emak! Lintang!" panggilku lagi sambil memasuki setiap ruangan.

 

Tetap saja aku tidak menemukan siapapun. Aneh! Mereka kemana? Jika mereka bepergian, atau ke kota mengunjungi rumah paman untuk bertemu denganku, tidak mungkin obor di halaman menyala. Ruang tamu temaram, karena hanya diterangi oleh pelita minyak kelapa. 

 

Mereka pasti tidak jauh. Mungkin ke tetangga sebelah. Sejurus kemudian, aku segera keluar menuju rumah Paman Hasan. Beliau adalah tetangga terdekat dan masih saudara jauh bapak. Sama saja! Berulang kali aku mengucapkan salam, sambil mengetuk pintu, Paman Hasan tak muncul. Rumahnya juga sepi.

 

Aku penasaran. Setelah tidak mendapatkan apa pun di rumah Paman Hasan, aku menyambangi tetangga lain. Sudah 7 buah rumah yang didatangi, tapi tidak satupun yang berhasil aku temui. 

 

Dengan rasa bingung dan langkah gontai aku kembali berjalan pulang. Tiba-tiba kepala sakit, seperti ingin meledak. Pandangan mata mulai berkunang-kunang. Mungkin terlalu lelah hingga tubuhku lemas dan ambruk seketika. 

 

"Ibra! Ibra, apa kau mendengar aku?" panggil sebuah suara.

 

Sayup-sayup terdengar. Aku memicingkan mata, silau! Terlalu banyak warna putih. 

 

"Ibra, ayolah. Sudah waktunya minum obat!" 

 

Suara itu kini jelas terdengar. Seorang pria berseragam putih membantuku duduk di atas tempat tidur. Semua serba putih, begitu juga dengan pakaian kami. Semua sama! Hanya saja tangannya bebas dan aku tidak.

 

"Apakah bapak sudah pulang? Bagaimana dengan emak dan Lintang?" tanyaku pada pria itu, "Paman Hasan?"

 

Pria berseragam putih itu hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyanku.

 

"Dua puluh empat tahun sudah berlalu, tapi kau masih belum bisa menerima kenyataan itu!" ucapnya padaku, "wajar saja! Bukan hanya keluargamu, bahkan seluruh warga keturunan pendatang sedaerahmu dihabisi karena perang suku itu. Kau satu-satunya yang selamat, karena sedang sekolah di kota."

 

#Ceritamisteri