Michiko

Ilustrasi/michiko


Seorang gadis kecil berdiri di depan  pintu masuk pesawat, tanpa canggung  membaur bersama  para pramugari dengan senyum mengembang, menyambut ramah penumpang pesawat Jepun Air Lines dengan tujuan Paris. Cuaca dingin di bandara Narita, Tokyo tak sedikitpun menyusutkan keriangan gadis sepuluh tahun itu. Binar mata cerianya telah membuatku jatuh cinta, karena dia begitu mirip dengan Michiko, putri tunggalku yang meninggal dalam kecelakaan pesawat dua tahun silam.

Proses boarding akhirnya selesai, semua penumpang telah menempati kursi masing-masing. Entah, seperti ada bisikan aku kembali berdiri merapikan bagasi. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada gadis kecil itu.

Ada perasaan yang berdesir saat menatapnya, meski sekilas tak ada yang aneh, seperti kebanyakan gadis  kecil lainnya. Dari wajahnya terlihat jelas gadis kecil itu berdarah campuran Jepang dan Perancis, dengan mata bulat kebiruan khas Eropa dan kulit kuning bersih khas Asia.

"Hello." Aku berujar dalam sapa. Gadis kecil itu menoleh sesaat padaku, mengangguk dan tersenyum tipis dengan bibir memucat, 'Mungkin ia kedinginan,' batinku

Aku kembali mengempaskan pantat di kursi, menegakkan sandarannya sebelum pesawat lepas landas. Namun, ketika aku menoleh lagi gadis kecil itu sudah tidak ada.  Aku cuma mengangkat bahu acuh, 'Mungkin gadis kecil itu sudah kembali bersama orang tuanya,' batinku

Beberapa menit kemudian pesawat dengan nomer penerbangan JL212  tujuan Paris bersiap lepas landas, lampu tanda mengenakan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi telah dinyalakan. Para kru dan awak pesawat memeriksa kesiapan penumpang satu persatu, membantu penumoang lansia dan anak-anak memasang sabuk pengaman dengan benar.

Desing mesin pesawat makin keras, pesawat bergerak makin cepat tanda sebentar lagi akan meninggalkan landasan dan bunyi tombol peringatan posisi take off sudah diperdengarkan. 

Saat lampu kabin dimatikan, sekilas  aku melihat gadis kecil itu berdiri di tengah kabin. 'Sedang apa dia di sanna?' batinku penuh tanda tanya, 'bukankah saat take off  seharusnya semua penumpang harus duduk di tempatnya masing-masing?'

Pesawat mulai mengudara dan lampu kembali dinyalakan, tanda mengenakan sabuk pengaman juga sudah dipadamkan,  aku menoleh ke arah kabin, tapi tak mendapati siapapun berdiri di sana, kosong. Bahkan para kru pesawat telah kembali ke ruangannya. 

Para penumpang pun mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing.  Namun, rasa penasaran mengusikku, gadis kecil di pintu masuk tadi telah mengoyak kembali luka lama yang telah mengering. Luka kehilangan yang kukubur bersama kenangan tentang Michiko, gadis kecilku buah cinta dengan Kanaya. 

Aku berusaha mengalihkan pikiran dengan membuka-buka buletin yang kuambil dari bagian belakang sandaran kursi. Perjalanan panjang kembali ke negara tempatku bertugas akan membosankan dan  melelahkan, tapi kembali seperti ada bisikan untuk menoleh ke arah kabin. 

Gadis kecil itu lagi, sepertinya dia tengah asik bermain dengan bonekanya. Wajahnya terlihat sedikit pucat jika diamati, tapi senyum riang yang selalu melekung indah di bibirnya yang juga sedikit pucat membuat wajah blasteran Perancis - Jepang itu terlihat cantik. Sikap periang dan ramah, seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang pesawat Jepun Air Lines tujuan Paris. Tawa renyah menghias wajah dengan lesung pipi yang menambah elok parasnya.

Ada gelenyar panas yang merayapi hatiku, seakan aku menemukan Michiko hidup kembali pada sosok gadis itu, seandainya benar dia adalah Michiko yang telah pergi dua tahun silam ....

Entah pada menit keberapa, pilot mengumumkan bahwa kemungkinan akan mellewati badai awan dan turbulensi bisa saja terjadi, karena saat ini sedang terjadi wind shear, hujan badai yang kecepatan anginnya berubah sangat cepat, sehingga pesawat bisa menghantam awan ataupun tekanan udara yang tidak stabil. 

Lampu kabin kembali dimatikan, tombol mengenakan sabuk pengaman, melipat meja dan menegakkan sandaran  diperdengarkan bersamaan dengan lampu darurat menyala. Meski kru dan para Pramugari mengatakan agar tidak panik, ketika Pilot mengatakan akan menaikkan ketinggian sesuai arahan  pihak Air Traffic Control untuk menghindari turbulensi, tapi pekik ketakutan beberapa penumpang, terus bersahutan. Wajah-wajah pias terus menyebut nama Tuhan melafalkan bermacam doa.

Hal tersebut makin menambah panik para penumpang, anak-anak mulai menangis. Beberapa Pramugari berusaha menenangkan dengan berbagai kiat yang sering mereka lakukan untuk menenangkan sang anak. 

Suasana masih  terasa mencekam, meski pilot telah mengumumkan bahwa situasi sulit telah  terlewati, tapi untuk keselamatan sabuk pengaman tetap disarankan untuk tetap dikenakan. 

Lagi-lagi gadis kecil itu muncul di kabin, tampil bak pahlawan berjalan ke sana ke mari mendampingi pramugari dan awak pesawat menenangkan tangis  bocah-bocah seusianya yang ketakutan. Dengan lincah ia mengurai cerita dan senda gurau yang mengubah tangisan ngeri menjadi tawa ceria hingga suasana tegang pun  mencair.

*

Siang itu dua tahun silam, dengan maskapai yang sama aku melepas kepergian Michiko -- putri kesayangan yang lebih dari sepuluh tahun kunantikan kehadirannya bersama Kanaya, perempuan berdarah Jepang yang telah memasung cintaku. 

Tepat di awal musim semi, saat salju mulai mencair dan bunga sakura bermekaran, Kanaya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan di usia kehamilan yang baru menginjak tujuh bulan. Syukurlah bayi mungil kami dapat diselamatkan.

"Selamat, bayi Anda perempuan, cantik seperti ibunya," ujar perawat menyerahkan makhluk mungil ciptaan Tuhan yang sangat indah. Dadaku bergetar hebat saat menatap wajahnya, tersungkur dalam ungkapan syukur yang luar biasa atas karunia yang Tuhan beri. 

Namun, rasa syukur itu sedikit memudar saat mengetahui bahwa anak perempuan kami yang berwajah cantik seperti bunga Sakura dengan pipi kemerahan itu tidak sempurna.

Michiko terlahir memiliki kelainan jantung, karena belum cukup umur ketika dilahirkan, tapi cinta dan perhatian luar biasa yang diberikan Kanaya membuatnya tumbuh seperti gadis cilik lainnya. Meski keadaan Michiko berbeda, tapi Kanaya tak pernah memperlakukan Michiko istimewa, hingga gadis kecil itu tumbuh seperti layaknya bocah normal seusianya.

Wajah cantik dengan lesung pipi terpahat sempurna, sepasang mata bulat  kebiruan bernaung di bawah alis yang melengkung indah, kulitnya yang kuning bersih diwarisi dari ibunya membuatnya seperti boneka porselin yang cantik.

Michiko tumbuh menjadi gadis periang dan disukai teman-temannya, meski memiliki kelainan jantung yang membuatnya tak bisa kelelahan, tapi prestasi di sekolahnya cukup membanggakan untuk disejajarkan dengan teman sebayanya.

Di mana pun berada Michiko selalu menjadi penenang, membawa keceriaan dan selalu menghibur dengan canda dan cerita lucu yang seolah tak pernah tiris mengalir dri ucapnya.

"Dia gadis yang hebat," ungkap gurunya, "kami semua sangat menyayangi Michiko."

"Semoga sikapnya yang kadang terlalu aktif tidak merepotkan kalian," kilahku meragukan sikap Michiko yang menurutku cerewet dan kadang sok tua di hadapan teman-temannya.

"Sama sekali tidak, justru kami semua sangat menyayangi Michiko. Dia selalu peduli dengan kesulitan teman-temannya, tak segan membantu murid lain yang kurang memahami pelajjaran, bahkan Michiko selalu datang paling pagi menyambut teman-temannya di depan kelas."

Aku mengacak rambut kecokllatan putri kecilku dengan bangga. Sikap peduli dan ringan tangannya menurun dari mamanya.

Dalam hidup kesempurnaan tidak selalu berpihak, pernikahanku dengan Kanaya harus diuji saat aku mendapat penempatan tugas di Perancis. Hubungan jarak jauh yang hanya lewat alat komunikasi sering membuat kami saling merindukan.

Menjelang ulang tahunnya yang ke sepuluh, Michiko merengek pada Kanaya untuk mengunjungiku di Paris agar dapat berkumpul merayakan ulang tahunnya. Meski awalnya berat karena Kanaya juga sulit mendapatkan izin dari perusahaannya, tapi dengan diplomasi pada pimpinan akhirnya berhasil mengantongi izin cuti beberapa hari.

"Thanks, Mom," ucap Michiko dengan rona berseri, berulang gadis kecil itu mengecup pipi mamanya. "Akhirnya aku bisa merayakan ulang tahun bersama Daddy."

Kanaya hanya tersenyum balas mengecup pipi ranum yang selalu kemerahan bila tertawa. 

"I love you, Mom. Daddy sudah berjanji akan mengajakku jalan-jalan berkeliling kota Paris, rasanya sudah tidak sabar melihat kemegahan menara Eifel dari dekat." Matanya menerawang  dengan sorot penuh binar bahagia. 

"Tentu sayang, kita akan berkeliling Paris bersama Daddy." Kanaya tersenyum dalam ujjar, "sudah lama kita tidak melakukannya, pasti akan menyenangkan."

Hari-hari selanjutnya adalah penantian yang penuh harapan bagi Michiko. Wajahnya  berseri ceria setiap kali menghitung mundur tanggal keberangkatan yang telah ditetapkan.

Namun, tidak ada yang mengetahui rencana Tuhan, Kanaya mendapat tugas mendadak dihari menjelang keberangkatan ke Paris. Tanggung jawab kemanusian tidak memungkinkan untuk ditinggalkan.

"Maafkan, mommy," ungkap penyesalan Kanaya sambil mengelus rambut kecokllatan putrinya. Gadis itu bergeming, menyembunyikan telaga di matanya.

"Kita bisa berangkat akhir musim semi mendatang," hibur Kanaya, berharap putri kecilnya mengerti. 

"Mom, aku sudah sangat rindu sama Daddy, bolehkn jika aku pergi bersama Nanny. Nanti Mommy bisa menyusul setelah tugas selesai," rengek Michiko mengiba. Kanaya menghela napas napas, selama ini tak pernah melepas gadisnya pergi jauh sendirian, tapi melihat kekecewaan Michiko, perempuan berhati lembut itu tak tega menolaknya.

"Mommy akan bicara pada Daddy, jika Daddy mengizinkan kamu boleh pergi bersama Nanny." Kanaya berkilah dengan harapan aku tak meloloskan izin. 

"Biar aku yang menelepon Daddy," ujar gadis itu, tangannya bergerak cepat merebut ponsel dari tangan mamanya. Kanaya yang terkejut terlambat bereaksi. Tak sampai lima menit sudah tersambung. Dadaku berdesir saat suara yang biasa ceria itu mengiba manja.

"Please, Dad," rengeknya berulang. Aku menghela napas panjang, terjebak dalam pilihhan yang sulit, Tokyo - Paris bukan rentang jarak yang dekat, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kesehatannya ... mempercayakan pada Nanny, pengasuhnya rasanya berat sekali, tapi rengekan Michiko menggoyahkan ketegasanku,  akhirnya aku berucap memberikan restu yang disambut pekik girangnya di seberang sambungan telepon.

"Thanks, Dad, I love you so much," soraknya girang yang ditutup dengan suara kecupan pada layar ponsel.

Hari yang dinantikan pun tiba, melalui percakapan video Michiko mengabarkan bahwa dia dan Nanny pengasuhnya sejak bayi telah berada dalam pesawat, beberapa menit sebelum pesawat mengudara. Siapa sangka itu adalah terakhir kali aku melihat senyum di wajah cantiknya.

Pesawat dengan nomer penerbangan JL234 mengalami kecelakaan sesaat sebelum mendarat di Bandara Charles de Gaulle ketika salah satu sayapnya menabrak gunung  D' izooard. Tayangan berita tentang pesawat terbakar dan  meledak, hingga tak ada penumpang yang selamat, membuatku tergugu dalam raung pilu, lutut ini seakan tak mampu menyangga bobot tubuhku, bayangan senyum ceria Michiko menari-nari dalam benak, membuatku makin hancur lantak dalam penyesalan. Kalau saja aku tak mengizinkannya terbang ke Paris, kalau saja bersabar sedikit waktu menunggu mamanya ... 

Aaargh, aku hanya bisa tenggelam dalam sesal yang tidak perlu, karena tidak mungin menyalahkan takdir, bahkan hingga air mata ini mengering tak akan mengembalikan Michiko dalam hidupku.

*

Tombol peringatan mendarat telah diperdengarkan. Aku menyusut air mata yang membanjir tanpa dapat kutahan. Mengucap sebaris doa untuk Michiko, semoga dia tenang di alam sana. 

Namun, saat pesawat telah mendarat sempurna di bandara Rossy, di antara penumpang yang berdesakan turun dari tangga pesawat, aku tak menemukn gadis kecil mirip Michiko, sosok itu menghilang.

Baru aku menyadari bahwa sejak take off dari Bandara Narita, aku tak melihat gadis kecil itu bersama orang tuanya. Aneh, bagaimana mungkin bocah sepuluh tahun melakukan perjalanan lintas benua, lintas samudra seorang diri, tanpa pendamping. Entah, tiba-tiba aku begitu ingin melihatnya lagi, gadis itu seolah mampu mengobati rinduku pada Michiko, dan aku telah jatuh hati padanya. 

Kaki ini telah menjejak di tangga terakhir,  rasa penasaran mengaduk-aduk perasaan, membuatku menoleh sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkkan pesawat. Hatiku berdesir, jantungku berdegub kencang, gadis itu ... berdiri dua depa di belakangku, senyumnya mengembang saat kedua netra kami bertemu, jemari kecilnya melambai.

"Daddy." 

Suara itu nyaris membuatku tersungkur dalam gelenyar rasa tanpa bisa kuartikan.

Sidoarjo, 26 Februari 2021