Gadis Kecil di Belantara Kaki Gunung Wayang

Ilustrasi Hutan di Gunung Wayang-Google Image

Jalur Pangalengan merupakan salah satu favorit para pendaki saat ingin mencapai puncak Gunung Wayang. Khususnya mereka yang lebih menyukai perjalanan penuh tantangan. Menerobos belantara dengan pepohonan besar yang rapat dan penuh onak duri. Padahal ada satu jalur lain yang lebih mudah. 

 

Namun, bila ada jalan sulit, mengapa harus memilih yang mudah. Betul, kan?

 

Aku tinggal tepat di tengah hutan itu selama bertahun-tahun. Membuatku hapal benar di mana saja titik-titik rawan yang membuat para pendaki kerap kehilangan arah. Terutama pecinta alam yang belum begitu berpengalaman. 

 

Mereka kebingungan, bahkan kompas dan peta tak lagi berguna. Menebak arah dengan panduan posisi matahari pun hampir tak mungkin. Rindang dari pepohonan besar yang menjulang menutupi hampir seluruh bagian hutan. 

 

Seperti saat ini, seorang lelaki muda berbalut jaket gunung tebal dan sepatu safety sedari tadi memutar tubuhnya. Tampaknya ia belum dapat memutuskan ke arah mana harus berbelok. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk layar GPS

 

Aku mendekat beberapa langkah untuk meyakinkan perkiraanku. Bukan pada orangnya. Namun, untuk menaksir harga dari seluruh perlengkapan mendaki yang ia pakai. Entah sudah berapa kali aku menjual barang serupa dengan berbagai merk ternama.

 

Sudah saatnya aku melakukan tugas. Mengeluarkan pendaki itu dari kebingungan. Bukan benar-benar menolong. Hanya sekedar menawarkan hubungan timbal balik. 

 

Aku tak keberatan, tentu saja. Maksudku, ayah pernah bilang kalau hutan ini selalu menyediakan apa yang kita butuhkan. Hal itu sudah terbukti beberapa kali.  Sekarang aku kembali menemukan pendaki yang tersesat. Tepat saat sedang mencari makanan untuk ayahku.

 

"Nyasab, ya, A?" Bukan menjawab, pemuda itu malah terhenyak demi melihatku.

 

Seperti yang sudah-sudah, mereka yang kutanya baik-baik pasti malah ketakutan. Mungkin di pikirannya aku adalah sejenis makhluk jejadian yang hidup di tengah hutan. Mengingat, aku hanyalah gadis kecil dengan usia belum genap tiga belas  tahun.

 

Demi meyakinkan pemuda itu, aku mendekat. Lalu meraih tangannya agar menyentuh kepalaku. Lihat, aku manusia sama sepertimu.

 

"Besok saya bisa tunjukin  jalan ke perkampungan di bawah. Kalau sekarang mah, sudah terlalu gelap. Gimana,  kalau malam ini  Aa menginap dulu di rumah saya?"

 

Tanpa banyak protes, lelaki muda itu mengikuti langkahku. Bahkan tangan kecilku tetap dia genggam. Sarung tangan yang dia pakai basah. Sama seperti pakaian lain yang dia kenakan, termasuk sepatu. Berarti nanti aku harus mengeringkan semua terlebih dahulu.

 

Aku bercerita padanya tentang rumah kami yang memiliki banyak kamar. Bangunan lama dengan gaya Eropa klasik. Seperti layaknya istana. Namun, banyak orang tak setuju. Mereka lebih suka menyebut dengan 'Villa Angker' sudahlah, lagipula aku tak peduli.

 

Sebelum mempersilakan duduk, aku menyodorkan keranjang padanya. Dia paham dan langsung membuka kupluk gunung, syal, jaket tebal, sarung tangan yang seluruhnya berwarna merah. Warna kesukaanku. Serta sepatu hitam yang tak kalah keren.

 

"Pasti Aa lapar? Kalau iya, berarti harus ditahan sampai pagi. Di sini gak ada makanan."

 

Dia lalu mengeluarkan sebatang coklat dari carrier merahnya. Aku tersenyum senang sambil berterima kasih. Tangannya masih terus merogoh lebih dalam dan mengeluarkan berbagai makanan instan. 

 

Sebagai balasan aku menghidangkan teh panas. Aroma daun teh keringnya masih tercium. Ayah yang mengajarkan aku cara menyeduh teh dengan benar. Di sini, teh tubruk didapat dengan mudah. Beberapa pegawai perkebunan sering menjual pada kami.

 

Si pendaki terlihat sudah merasa sangat lelah. Dia berkali-kali menguap. Minum teh memang dapat membuatmu segera mengantuk. Apalagi dengan teh buatanku itu. 

 

"Aa tidur di kamar ini, ya."

 

Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali. Sangat berterima kasih. Aku bilang, justru aku yang harus berterima kasih. Sebab di saat butuh makanan, dia kutemukan.

 

Perutku begitu kenyang, aku yakin akan dapat tidur lelap malam ini. Begitu pun ayah, tak akan lagi mengeluh karena perut yang keroncongan. Selama beberapa hari ke depan aku bisa merasa tenang.

 

-o0o-

 

Ayah adalah seorang ilmuwan hebat, itu menurutku. Namun, lagi-lagi banyak orang yang tidak setuju. Maksudku, mereka menganggap ayah hanyalah ilmuwan gila yang gagal. Sehingga memilih mengasingkan diri di tengah hutan. 

 

Ibu berpihak pada mereka. Atau mungkin orang-orang itu yang berpihak pada ibu. Mereka sama saja. Perempuan yang sangat kusayangi ini lama-lama tak tahan. Dia memilih untuk meninggalkan ayah. Satu koper pakaian ditambah satu tas jinjing besar diseretnya keluar dari istana ini. 

 

Dia berkata, ayah semakin aneh. Siapapun tak akan tahan hidup bersama ilmuwan gila yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi monster. Kata-kata itu sangat menyakitkan bagiku. Ayahku, dia adalah ilmuwan hebat. Bukan monster. Meski sesekali sering terdengar berteriak dan melemparkan benda-benda di kamar kerjanya. 

 

Bagiku, itu wajar saja. Saat gagal mengerjakan tugas dari guru, akupun sering melempar kertas dan alat tulis karena kesal. Ayah pernah bilang bahwa dia sedang meracik serum untuk mengobati penyakit langka. Aku yakin saat dia berhasil, maka semua orang akan berterima kasih.

 

Ibu berjanji akan kembali untuk menjemputku. Itu ia katakan saat aku bersikeras menolak ikut. Kemudian aku hanya menatap lekat punggungnya yang kian menjauh dengan hati yang teraduk. Membayangkan, apalagi nanti kata mereka tentang diriku. 

 

Kawan-kawan di sekolah, tidak ada yang mau berteman denganku. Menganggap aku aneh, sama seperti ayah. Padahal guru-guru sering memberikan pujian tentang kecerdasanku. Lama kelamaan, aku akhirnya memilih mengurung diri di rumah. Sama seperti ayah. 

 

Semenjak ibu pergi, aku harus melakukan semua tugas sendirian. Mengurus diriku, sekaligus menjaga ayah. Menyediakan makanan agar pria yang begitu aku cintai ini tidak sampai kelaparan. Hanya agar ayah tetap hidup. Walau kerap aku melihat keputusasaan di binar matanya yang redup. 

 

Sebenarnya aku kebingungan, mengenai cara untuk mendapatkan makanan. Namun, aku ingat kalau ayah sering berkata bahwa hutan ini selalu menyediakan apa yang kami butuhkan. Maka sekali lagi aku menyusuri hutan, sambil terus mengucap harap.

 

Belum lagi menerobos lebih dalam, seseorang terlihat melambai dari kejauhan. 

 

Ibu. 

 

Ia kembali, tapi aku tetap tak hendak ikut. Sebab itu aku harus membuat ibu tak terpisah lagi dari ayah. Selamanya.

 

"Gak usah pamit dulu sama  ayah, Neng. Kita langsung pergi saja!" Aku tahu ibu masih takut bila harus berhadapan dengan ayah.

 

"Neng cuma mau ngambil barang-barang. Ayah gak akan tahu, lagi sibuk di ruang kerja. Ibu gak perlu khawatir, atuh." 

 

Kedua mataku menatap ibu penuh harap. Seraya mengaitkan jemari pada pergelangan tangannya agar ia mau masuk ke dalam rumah. Akhirnya ibu mengiyakan, aku sangat gembira. 

 

Tanpa membuang waktu ibu segera membantu memasukkan pakaianku ke dalam ransel. 

 

"Tunggu sebentar, Bu. Ada yang harus Neng ambil di ruang tengah." 

 

Tanpa menunggu jawaban aku melesat keluar kamar. Menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya. Setelah beberapa saat, terdengar juga suara ibu memanggil namaku sambil menggedor-gedor pintu. Disusul suara gaduh dari beberapa benda yang terjatuh ke lantai. Aku menyumpal telinga dengan earphone. Tidak ingin mendengar lebih jauh keributan yang akan terjadi.

 

Maafkan aku karena telah berbohong. Aku hanya tak ingin ibu pergi lagi meninggalkan kami. Sekarang ibu telah kembali bersatu dengan ayah. Selamanya. 

 

-o0o-

 

Suara dari ruang kerja ayah terdengar lebih berisik dari biasanya. Terdorong rasa khawatir, aku mengintip dari celah pintu. Ternyata benar apa yang dikatakan ibu tempo hari. Tentang monster.

 

Selagi menyerukan teriakan panjang, perlahan seluruh tubuh ayah ditumbuhi bulu. Saat kedua tangan yang menutupi wajahnya terbuka, terlihat jelas matanya yang berubah merah menyala. Dua taring tumbuh memanjang di antara bibir. Telinganya meruncing. Beriringan dengan tubuhnya yang kian membesar. Bahkan tumbuh ekor yang panjang menjuntai dari bagian belakang tubuhnya. Suara geraman yang sejak tadi terdengar berganti menjadi auman panjang. Meraung-raung.

 

Bagaimanapun dan seperti apapun keadaan ayah. Aku tetap mencintainya. Maksudku, meski sudah berubah menjadi makhluk mengerikan. Dia tetap saja ayahku. Jangan sampai ia pergi dari rumah ini, seperti ibu.

 

Seperti yang pernah dikatakan ayahku, hutan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan. Termasuk makanan. Benar saja, tidak sedikit dari para penjelajah itu yang tersesat saat mendaki. Aku senang menjalin hubungan timbal balik dengan mereka. Selama keuntungan ada di pihakku.

 

Beberapa waktu kemudian, nama mereka akan muncul dalam berita orang hilang. Benar-benar tanpa jejak. Tentu saja karena para pendaki itu aku ajak ke istanaku. Mereka sangat berterimakasih karena telah aku bantu. Kalian tahu kan, sebenarnya itu tak perlu.

 

Maksudku, seharusnya akulah yang berterima kasih pada mereka.

###

 

#ceritamisteri

#aniwijaya0711