Senja di Jembatan Bacem

ilustrasi Jembatan

Pertengahan Desember 2015

Senja itu, langit kota Solo lumayan mendung. Namun  Awan hitam tampak bergulung-gulung di langit. Walau biasanya musim hujan baru mencapai puncaknya pada Januari dan Februari.

Aku mengendarai mobilku menuju ke rumah Pak De Joko di Sukoharjo.  Tujuannya ingin sowan sekaligus mengabarkan rencana melamar Tuti, gadis pujaan hatiku minggu depan.  Walau bisa melalui telepon, tampaknya lebih mantap datang sendiri ke sana.

Ketika baru saja melewati lampu merah perapatan Jalan Gajah Mada dan Jalan Selamet Riyadi, hujan rintik-rintik sudah mulai membasahi bumi.  Suasana lalu lintas lumayan ramai, maklum sedang jam pulang kerja.  Walau demikian perjalanan tetap lancar walau aku harus lebih hati-hati karena jalan yang mulai agak licin dan sebagian tergenang.

Namun hujan kian lama kian deras dan ketika memasuki kawasan Solo Baru, hujan lebat bak dicurahkan dari langit membuat aku harus lebih waspada lagi berkendara. Jarak pandang bisa kurang dari dua atau tiga meter. Dan langit kian gelap walau waktu baru menunjukkan pukul 5 lewat sedikit.

Aku terus berkendara hingga mendekati Jembatan Bacem yang melintas di Bengawan Solo.  Air sungai sendiri masih tergolong aman karena sudah cukup lama hari tidak hujan. Tetapi mengapa perasaanku selalu tidak nyaman setiap kali melewati jembatan ini.

Sambil mengendarai kendaraanku perlahan, sesekali aku melihat ke air sungai Bengawan Solo. Namun lamunanku harus terentak dan rem harus kutekan kencang-kencang karena tiba-tiba di depanku ada seorang perempuan yang sepertinya terjatuh di jalan yang basah.  Untung mobil berhenti kira-kira setengah meter di depan tubuh perempuan itu. Yang jelas aku tidak menabraknya karena dia sudah terbaring di jalan di bawah derasnya hujan sehingga aku terkaget dan berhenti mendadak.

Mau tidak mau aku keluar mobil di tengah hujan, mencoba membangunkan perempuan yang tampak masih sadar namun berkali-kali mengucapkan maaf kepadaku.

“Maaf Mas, saya terjatuh ketika menyeberang,” katanya ketika aku membimbingnya ke tepi jalan.  Karena aku berada di tengah jembatan, aku segera meminta perempuan itu naik ke dalam mobil bersamaku dan mungkin mengantarnya ke tempat yang lebih aman.

Begitu dia telah duduk di sampingku di dalam mobil, baru aku perhatikan lebih detail perempuan ini. Ternyata masih muda berusia dua puluh tahunan dan memakai gaun agak panjang di bawah lutut. Rambutnya panjang dan diikat di belakang membentuk kuncir. Seluruh tubuhnya basah kuyup terguyur hujan.

“Mbak mau ke mana?” tanyaku lagi penasaran.  Kasihan juga melihat gadis muda lumayan cantik kehujanan sendirian di tengah jalan begini. Barangkali aku bisa mengantarnya, dalam hati.

“Nama saya Minah,” kata gadis itu sambil terus memandang wajahku dengan takjub dan heran. "“Saya sepertinya mengenal Mas,” lanjutnya.

Aku tersenyum masam sebagai jawab. Pikiran buruk sempat melintas. 

Gadis itu kemudian terdiam. Perasaanku semakin tidak enak. Namun karena kasihan aku tidak memaksanya hendak ke mana. Aku hanya menjalankan kendaraan secara perlahan karena hujan masih lumayan deras.

“Maaf, saya mau ke rumah Pak De dekat-dekat sini,” kata gadis itu lagi

“Nama saya Tomo.  Baiklah saya antar saja,” kata saya karena kasihan melihat kondisi gadis itu.

Kendaraan terus berjalan perlahan. Rasanya sudah sekitar 30 menit sejak saya ketemu Minah di Jembatan Bacem.  Hujan sudah reda, dan matahari sudah mau tenggelam.  Namun saya merasa aneh karena merasa tidak mengenal daerah ini.

Saya mengalami disorientasi lokasi.  Saya cek hape saya. Tidak ada sinyal dan lokasi GPS masih menunjukkan sekitar jembatan Bacem. Di manakah saya berada? Sekilas, jalan, rumah, dan kendaraan serta pakaian orang yang ada di sekitar bagaikan dari masa lampau. Bagaikan di tahun 1960-an dan agak cocok dengan pakaian Minah.

“Mas berhenti di sini”, kata Minah. Rumah Pak De saya dekat sini. Saya tidak berani pulang ke rumah karena takut kena tangkap lagi. Terima kasih sudah menolong saya. Kata Minah. 

Karena saya sedikit bingung. Akhirnya Minah mengajak saya ikut ke rumah Pak Warto, yang merupakan Pak De Minah sekaligus sesepuh di desa ini. Kami berjalan masuk beberapa ratus meter ke jalan kampung sementara mobil saya parkir di tepi jalan.  Rumah-rumah di sini masih khas model kampung-kampung di Jawa Tengah era tahun 1960-an. 

Saya diperkenalkan dengan Pak Warto dan kemudian menceritakan tujuan saya ke Sukoharjo. Tetapi kemudian dilarang oleh Pak Warto karena situasi malam yang cukup berbahaya. Menurut nya banyak penangkapan pada malam hari di kawasan ini. Dan bisa saja saya jadi korban salah tangkap.

“Nak Tomo, wajah kamu sangat mirip dengan Mas Jito, calon suami Minah,”ujar Pak Warto ketika Minah tengah membuat kopi di dapur untuk dihidangkan bagi kami. Karena Minah berhasil lolos, dalam waktu dekat mereka  akan pergi ke mengungsi ke Jakarta atau kota lain karena sudah tidak aman buat mereka di sini.

Saya dipersilahkan menginap di bale di ruang depan dan besok pagi saja melanjutkan perjalanan mencari rumah Pak De saya.  Malam itu saya habiskan di rumah Pak Warto yang bahkan tidak mempunyai aliran listrik. Saya seakan terlempar ke masa lampau.

Desember 1965

Minah, seorang gadis yang berasal dari Desa di sekitar kawasan Jembatan Bacem, yang melintas di atas Sungai Bengawan Solo, baru saja diciduk karena dituduh terlibat sebagai anggota Gerwani. Minah memang aktif dalam beberapa organisasi kesenian yang mungkin dianggap dekat dengan organisasi yang dianggap terlarang itu.

Dalam penangkapan dimana Minah sedang dibawa menuju ke tahanan, kendaraan yang membawa Minah mengalami gangguan dan mogok tepat di atas jembatan Bacem. Jembatan yang kala itu memunyai reputasi sangat mengerikan karena dijadikan tempat pembantaian para tahanan. Konon mereka yang ditahan di kamp di Sasono Mulyo, di Kraton Solo akan dibon atau di interogasi dan banyak yang dihilangkan di jembatan ini.

Hujan deras dan mobil yang mogok memberi kesempatan buat Minah. Dia nekat menjatuhkan diri ke jalan dan kemudian berlari sekencang-kencangnya. Hingga akhirnya lepas dari kejaran orang yang menahan.

Ketika dia terbangun, sudah ada di dalam mobil bersama seorang pemuda yang mengaku bernama Tomo dan mirip dengan Mas Jito, calon suaminya.

Desember 2015

Saya  terbangun ketika matahari sudah lumayan tinggi. Saya ternyata tertidur di dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Lokasinya sendiri masih tidak jauh dari Jembatan Bacem. Saya bingung, dimana Minah dan Pak Warto yang dijumpainya semalam.  Apakah saya  hanya bermimpi

Saya akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke Sukoharjo. Tidak sampai 20 menit, saya pun sampai di rumah Pak De Joko. Saya mengecek hape yang ternyata sudah lowbatt. Kebetulan saya lupa membawa powerbank.

“Tomo, ke mana saja kamu kemarin. Janjinya datang ke sini, namun saya hubungi hapemu ternyata tidak aktif,” protes Pak De Joko ketika mempersilahkan saya duduk.

Saya kemudian menceritakan apa yang terjadi semalam. Pak De Joko terdiam setengah tidak percaya. Dan tak lama kemudian dia berkata.

“Tomo, kemungkinan besar gadis yang kamu temui semalam bernama Minah itu adalah nenekmu sendiri. Kamu tidak mengenalnya karena beliau meninggal sebelum kamu lahir.  Mas Jito yang dibilang mirip kamu juga adalah kakekmu. Beliau juga sudah meninggal sebelum kamu lahir."

27 Februari 2021

#ceritamisteri