Untuk Setiap Potongan

Serupa Bayangan

Empat puluh hari berlalu. Rumah besar berlantai dua tepat di seberang rumahku kini kosong. Istri kedua telah pulang ke rumah keluarganya pasca meninggalnya sang suami. Pohon sawo tumbuh kian besar dan tinggi. Menyisakan kengerian tersendiri. Menurut beberapa cerita, pohon sawo menjadi tempat yang nyaman untuk mahkluk kasat mata bermain-main atau tinggal.

“Pohon sawo jadi ditebang Zis!" tanya pak RT saat mendatangi rumah Azis

“Jadi pak, tebang setengah saja pak,” jawab Revan istrinya Azis yang saat itu sedang mengandung 6 bulan, calon anak pertamanya.

Minggu pagi Pak RT memenuhi janji untuk menebang pohon sawo. Azis anak bungsu pemilik rumah, tinggal tak jauh dari rumah orang tuanya yang telah tiada. Saat Pak RT bertanya Azis masih tertidur.

Menurut penglihatan batin Ayah Revan, pohon sawo itu harus di musnahkan karena menurutnya menjadi tempat demit untuk bermain. Meski Azis dan Revan berfikiran moderat namun tetap mematuhi keinginan ayahnya.

Sedang pemilik pohon sawo Abah Elon orang tua Azis, semasa hidupnya merawat dan menjaga pohon sawo itu dengan sepenuh hati. Saat pesta pernikahan Azis. Abah Elon tetap memepertahankan pohon sawo meski mengganggu keindahan dekorasi pengantin. Saat Abah Elon meninggal barulah pohon sawo itu bisa di musnahkan.

Sehari sebelum pohon sawo ditebang. Aku yang tinggal di seberang pohon sawo merasakan kejanggalan. Angin seperti berhenti bertiup. Udara dingin menusuk serasa membekukan pembuluh darah. Kabut begitu pekat. Sayup aku dengar suara perempuan menangis lirih. Sesekali tangis itu terdengar seperti senandung. Mimpi buruk itupun datang menyusup ke kedalaman tidurku. Menyisakan ketakutan bagai tak berakhir.

Pak RT sedang memperkirakan bagian-bagian mana yang mau ditebang. Setelah pasti, mulailah dia menebang satu demi satu dahan sawo yang sedang lebat berbuah. Baru setengah jalan tiba-tiba Azis datang.

“Tebang semua yah Pak RT”

Tergopoh-gopoh Azis ikut memunguti sawo dari dahan yang telah ditebang. Begitu antusiasnya melihat sawo-sawo yang sebagian matang di pohon. Pak RT segera melakukan pekerjaannya dengan cepat. Sampai tersisa dahan paling bawah dekat akar.

“Sisanya aku kerjakan besok yah, Zis.”  Seraya melihat ke langit sore.

Sebuah bayangan perempuan berdiri di sudut kamar Revan. Rambut panjang hingga menyentuh lantai. Memandang tajam penuh amarah. Air liur yang berupa tetesan-tetesan berwarna hitam berbelatung itu jatuh di lantai kamar.

“Kau telah merusak tempatku bermain.” Suara itu lebih mirip geraman.

Revan yang sedang terlelap tidur tiba-tiba terbangun. Menjerit histerits sambil memegangi perutnya yang buncit. Panik, Azis segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun malang tak dapat di tolak. Janin yang baru enam bulan itu tak bisa di selamatkan. Semua isinya keluar menjadi potongan-potangan tak beraturan, yang terlihat utuh hanya pada bagian kaki sang janin.

Sedang bayangan perempuan di pojok kamar Revan tersenyum penuh kemenangan. Air liur beraroma darah menetes membasahi lantai.

#ceritamisteri#