Jodoh untuk Ning

Ilustrasi/jodoh

Ning tertegun, untuk yang kesekian kalinya dia harus kehilangan orang yang dicintai. Bukan karena tidak ada kecocokan, tapi sekali lagi kekasihnya meninggalkan tanpa alasan yang menurutnya bisa diterima akal. Tanpa ada pertengkaran, tanpa ada perselisihan, bahkan sehari lampau semua baik-baik saja, bercengkerama dan tertawa merangkai asa bersama.

"Benarkah apa yang dikatakan Pakde Roso?" batin Ning berperang. Sebagai perempuan modern yang sudah mengenyam pendidikan hingga meraih gelar sarjana, rasanya konyol jika masih mempercayai hal-hal klenik yang menurutnya tak masuk dalam logika.

*

Perempuan berdarah Jawa itu menghela napas panjang, tujuh tahun sudah kepergian Herry suaminya. Kepergian yang tiba-tiba dan mengagetkan banyak orang, membuat Ning terpukul, kehilangan yang mendadak membuat Ning menutup hati rapat-rapat dari cinta yang mrngetuk. 

Bukan waktu yang singkat, perjalanan panjang dan berliku harus dilalui seorang diri, jatuh ... bangun, susah dan bahagia silih berganti menyapa, hingga akhirnya Ning menyerah dan memutuskan untuk membuka hati kembali agar hidupnya lebih tertata.

"Maafkan Ning, Mas, jika Ning membuka hati untuk cinta yang lain,  bukan karena Ning tak setia, tapi Ning harus melanjutkan hidup, semoga kelak kita akan bertemu lagi di Jannah-Nya." Ning mengusap photo Herry yang masih bertengger rapi di meja riasnya.

Tiga tahun setelah kepergian Herry suaminya, perempuan bertubuh mungil itu menjalin hubungan dengan Prasetyo ... rekan sekantornya. Kepala Divisi yang membawahi bagian pemasaran tempat Ning. Hari-hari Ning berubah ceria, senyum bahagia kembali menghias wajah cantiknya, mata bulatnya berbinar kembali menyongsong harapan yang tengah dianyamnya. Tak butuh waktu lama, keduanya pun memutuskan untuk mengarungi mahligai rumah tangga. 

Namun, kurang dari satu bulan akad digelar, Pras mengalami kecelakaaan yang menewaskannya. Seperti juga kepergian Herry yang tiba-tiba, tanpa firasat apapun, Ning harus kehilangan untuk kedua kalinya. 

"Yang sabar, ya, Nduk," ucap Pakde Roso ketika Ning pulang ke kampung untuk menenangkan hatinya. 

"Kenapa harus seperti ini, Pakde?" ungkap Ning kesal, tak hendak menyalahkan takdir, meski terlalu sakit harus kehilangan untuk kedua kalinya.

"Mungkin belum jodoh, Nduk," hibur kakak kandung ayahnya yang telah meninggal itu.

"Tapi kenapa Mas Pras harus pergi tiba-tiba?" isak Ning, menyandarkan  kepala pada bahu laki-laki paruh baya yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri.

"Tidak ada yang bisa meramalkan kematian, dia datang tanpa diundang, kapan saja dan di mana saja jika sudah menjadi ketetapan," ujar pakde menenangkan. 

"Ning tahu itu, hanya saja Ning masih belum ikhlas, kepergian Mas Pras terlalu mendadak, tanpa pertanda apapun." Ning terisak lirih. Tangan kekar pakde mengusap rambut Ning, sesungguhnya ada sesuatu yang ingin dikatakan, tapi bukan waktu yang tepat, apalagi kondisi Ning masih terguncang.

Waktu pun bergulir cepat, kesibukan telah membuat Ning mampu menyembuhkan lukanya dengan cepat. Pertemuannya dengan Gusti yang dalam tempo sekejab telah menyatakan keseriusannya dalam menjalin hubungan, membuat hidup Ning kembali berwarna.

Gusti melamarnya setelah tiga bulan perkenalan mereka. Bahkan Ning sudah diperkenalkan pada orang tua Gusti, jalan menuju ke pelaminan terbentang mulus, dalam waktu dekat Ning akan mengakhiri status lajangnya.

"Akhirnya Ning bisa menikah juga," gumam Ning tersenyum bahagia, jemari lentiknya mengusap kebaya putih yang dipersiapkan untuk akad, resepsi juga sudah direncanakan semeriah mungkin.

"Semoga pernikahan kita kekal ya, Mas," harap Ning sambil memeluk kebaya kesayangannya.

Sore itu sepulang kerja ponsel Ning bergetar, dengan sekali usapan pada layar, terbaca sebuah nama yang membuat Ning tersenyum meluahkan rindu. Namun, senyumnya lesap demi membaca pesan pada aplikasi hijau.

[Maafkan Mas karena tidak bisa melanjutkan hubungan kita, pernikahan kita batal karena keluarga Mas tidak menyetujui hubungan kita. Semoga kamu menemukan pengganti Mas yang lebih baik.]

Seketika lutut Ning terasa lemas, tubuhnya ambruk ke lantai, air mata membanjir tak terbendung.

"Ning salah apa, Mas?" isaknya, berulang ditekannya nomer si pengirim pesan, tapi hanya nada sambung tak diangkat yang menjawab.

"Kenapa kamu tega, Mas? Apa salah Ning?" raung perempuan itu kalap, hatinya teramat perih. Bergegas disekanya air mata, tanpa merapikan riasannya kembali, Ning melarikan mobilnya menuju rumah Gusti. 

Hati Ning makin lantak saat menemukan rumah laki-laki yang nyaris menjadi  suaminya kosong, sebuah tulisan "Dijual" tergantung di pagar berwarna hijau tersebut. Malam turun perlahan, gelap menyelimuti hati Ning yang hancur bagai serpihan tak berbentuk. 

"Kenapa harus terjadi lagi, pakde?" protes Ning disela isak, "apa Ning tidak berhak bahagia? Kenapa selalu harus kehilangan saat bahagia sudah di depan mata?"

"Ada hal yang harus kamu ketahui, Nduk," ucap Pakde Roso hati-hati, Ning menyusut air matanya, menatap pakdenya tak mengerti.

"Di alam senesta ini ada makhluk ciptaan Allah yang lain yang tak tampak oleh pandangan mata manusia. Mereka memiliki ruh seperti halnya makhluk hidup, tapi mereka tidak memiliki raga hingga seringkali mereka mencari tempat untuk tinggal." Pakde Roso menjelaskan ujarnya yang membuat Ning membelalakkan mata tak percaya.

"Bukan Ning nggak percaya, Pakde, tapi Ning lebih percaya sama Allah. Kalau hingga saat ini Ning belum bisa berjodoh lagi, itu memang Allah belum mengizinkan, bukan karena ada Genderuwo yang menyukai Ning dan bersarang dalam tubuh Ning," bantah Ning tegas, antara tak percaya dan merasa konyol ketika pakdenya yang bisa melihat dengan mata batin itu mengatakan penyebab kegagalan cintanya.

"Jodoh, rezeki dan mati ada dalam seranai Allah, ketetapannya merupakan hak prerogatif Sang Pencipta," lanjut Ning bersikukuh.

"Memang benar Ning sakit hati, terluka, marah, karena selalu gagal menikah,  tapi bukan berarti Ning mengingkari takdir-Nya, Ning hanya butuh waktu untuk bisa menerima semua ujian ini, bukan malah mencari prmbenaran dengan hal yang tidak bisa diterima akal," 

"Manusia itu ciptaan Allah yang paling sempurna, dianugerahi akal dan pikiran hingga mampu berpikir dengan logika," lanjutnya lagi menyanggah penjelasan Pakde  Roso.

Pakde Roso yang merupakan tetua spriritual di kampung kelahirannya hanya mampu menggelengkkan kepala. Apa yang tampak oleh mata.batinnya memang bukan seseuatu yang bisa diterima akal, apalagi oleh Ning, perempuan yang lulus sarjana dengan predikat terbaik dan kini menduduki jabatan tinggi di sebuah perusahaan BUMN di ibukota. 

Laki-laki paruh baya itu mengembuskan napas berat, bagaimana menjelaskan pada keponakannya bahwa dalam dirinya bersemayam makhluk dari alam lain yang menyukainya sejak lama, makhluk itu hidup dan bersarang dalam tubuh Ning, mencintai Ning tanpa disadari, dan rasa cemburunya membuatnya tak rela bila Ning mencintai laki-laki lain.

Namun, kejadian demi kejadian yang dialami datang berulang,  terutama dalam kehidupan percintaannya membuat ragu mulai menyapa, sedikit demi sedikit menggoyahkan bangunan imannya yang kokoh terbentuk sejak di Madrasah.

"Jangan-jangan yang dikatakan Pakde Roso benar," gumam Ning, "tapi apa tidak sirik jika percaya dengan hal demikian?" 

Tekadnya ingin membuktikan bahwa kata-kata Pakde Roso tidak benar. 

"Apa Pakde bisa membuktikan jika ada makhluk dari alam lain yang menyukai Ning?" desak perempuan bertubuh mungil itu di suatu sore,  kakinya dijulurkan hingga setengah bersandar pada balai-balai bambu.

"Kamu sering merasa pegal, kesemutan, seperti memikul beban di bahu sebelah kiri, bukan?" tandas pakde. Ning menatap pakdenya tak percaya, memang hal itu sering ia rasakan, hanya saja selama ini berpikir faktor kelelahan. Perlahan perempuan berkulit kuning itu mengangguk.

"Kamu juga sering mimpi dikelilingi laki-laki yang tak tak jelas wajahnya," tambah pakde, sekali lagi Ning mengangguk.

"Saat kamu bersama laki-laki yang kamu cintai, kamu sering tiba-tiba merasa kesal, uring-uringan tanpa sebab?" Lagi-lagi Ning mengangguk.

"Makhluk itulah penyebabnya, Nduk," tegas pakde.

"Makhluk apa, Pakde?"  Ning mulai goyah, apa yang dikatakan pakdenya semua benar, takut mulai mengusik. 

"Genderuwo."

Ning membelalak, mulutnya ternganga tak percaya, selama ini ia menganggap itu hanya dongeng konyol yang tak masuk akal. 

"Apakah dia ...?" ragu Ning berujar.

"Genderuwo itu sejenis jin yang tingkatannya sedang, bahkan tergolong rendah. Namun, memiliki sifat usil, dan sebagaimana makhluk laki-laki memiliki ketertarikan pada perempuan, makhluk satu ini sangat posesif jika sudah menyukai wanita. Sifat usilnya sering mencelakai siapa saja yang membuatnya cemburu."

"Jadi selama ini ...." 

"Ya, makhluk itu sudah lama menyukaimu, Nduk, bahkan dia bersarang di tubuhmu, dia tak mau melepaskanmu, tak rela jika kamu bersama laki-laki lain."

"Lalu apa yang harus Ning lakukan, Pakde?" Ning menatap pakdenya takut, semua keyakinannya terpatahkan oleh fenomena yang dialami.

"Bisa dikeluarkan, tapi agak berat karena dia sudah berpuluh tahun bersarang di tubuhmu."

"Tapi bisa, kan, Pakde?" cecar Ning dengan nyali yang makin ciut.

"Insyaa Allah, berpegang teguhlah pada kuasa Allah," ujar pakde meyakinkan, diusapnya punggung tangan Ning menguatkan.

Atas bantuan seorang ustad, Ning menjalani ruqyah, berharap makhluk yang menganggunya pergi dari tubuhnya. Bukan hal yang mudah, karena makhluk itu tampaknya tak mau melepaskan Ning. Perlawanan yang cukup keras membuat Ning kesakitan, bahkan tak jarang dihantui mimpi buruk yang membuatnya stress. Tubuh Ning makin susut, matanya cekung tanda kurang tidur, karena proses ruqyah yang sangat melelahkan.

Langit berselimut mendung sejak pagi, seolah bumi enggan bernyingkapnya. Ning berjalan sedikit tergesa, tekadnya sudah bulat ingin mengakhiri rasa sakit yang terus mendera akibat proses ruqyah yang tak kunjung menunjukkan hasil.

"Pakde, mohon izinkan Ning," pinta Ning dengan sorot mengiba. Laki-laki paruh baya itu seketika mengerutkan alis, matanya tak percaya menatap Ning tajam.

"Hal itu tidak mungkin, Nduk," tolak pakdenya.

"Ning tahu, tapi tak ada pilihan lain, Ning capek dengan semua ini," bantah Ning.

"Bertahanlah, anakku! Tak lama lagi semua akan selesai," rayu pakde meyakinkan.

"Ning capek, Pakde."

"Istighfar, Nduk! Masih ada cara lain untuk bahagia, jangan melanggar kodrat!" Pakde meninggikan suaranya, kesabarannya diuji saat Ning memohon dengan tatap mengiba berurai air mata.

"Jika dengan cara itu Ning bahagia dan merasa dicintai, apa salah jika Ning memutuskan untuk menikah dengannya?" 

"Tapi ...."

"Dia telah menjaga Ning bertahun-tahun, bahkan dia  telah membuktikan cintanya dengan tak mau melepaskan Ning, itu artinya dia adalah jodoh untuk Ning," pungkas Ning tegas, "Jika pakde tak mengizinkan Ning, maafkan Ning jika tetap memilih dia."

"Ning ...," teriak pakde menahan agar tidak pergi.

Ning beranjak tak menghiraukan pakde yang terus berteriak menahannya.  Tangan Ning menggenggam erat sebuah tangan kekar berbulu yang sejak tadi tak bergeser sedikitpun dari sisi Ning. Tubuh tinggi besar hitam itu memeluk Ning, memapah tubuh mungil perempuan yang dicintainya itu keluar dari rumah pakde, menembus malam gelap nan pekat. Ning mungkin benar, makhluk itu telah menjaganya berpuluh tahun, cintanya tak sedikitpun membuatnya beranjak dari Ning meski dihalangi  agar terpisah. Ning pun iklhas dan menyerah jika itu adalah jodoh untuknya.

Sidoarjo, 24 Februari 2021

#cerita misteri.