Bingkai Kusam, Demensia

Pixabay.com

Bingkai kusam itulah yang mengulik kembali catatan silam bersama kakek. Terkadang rindu ini kerap kali melanda. Aku berniat membuka bingkai yang telah usang itu. Sekarang. Yang sudah tertata rapi di dalam lemari kaca. 

Perihal kisah tentang riwayat kakek semasa hidupnya.

Sebelum sang surya tergeser oleh waktu. Melalui alunan lagu Ebiet yang bersenandung merdu dari dalam radio berkarat. Kakek seringkali mengajuk. Meski suaranya terbata-bata dan terdengar lirih. Aku diam-diam mendengarkannya.

Bahkan kebiasaan Kakek itu dibawa saat sedang bekerja, menanam sayuran, mencangkul tanah perkebunan. Lalu, jika Kakek sudah lelah, akan bertengger di bawah pohon mangga. Bermukim di lembaran daun pisang. 

Kemudian aku datang untuk membawakan Kakek makan siang. Di dalam rantam, berisi nasi dan lauk pauk. Menemani Kakek, bersenandung bersama.

"Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika di tanahku terjadi bencana. Bapak ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini," dan berhenti di bait yang tak  hafal. Kakek akan mengusap keningku. Dengan perasaan haru.

Lagu yang menciptakan kesedihan, akan perenungan umat manusia. Tentang sebuah bencana. Saat tsunami Aceh. Memakan banyak korban jiwa. Beruntung Kakek bukanlah salah satu korban dari peristiwa tersebut. Walaupun ada riwayat hidupnya. Kakek pernah bekerja di Aceh. Tapi, Beliau mengundurkan diri dari pekerjaan. Memanjat pohon kelapa, untuk memetik buahnya. Kakek sampai terpeleset hingga tak sadarkan diri. 

Sayangnya Kakek mengalami Demensia, pengurangan memori otak. Kakek tidak mengingat apa-apa. Beliau selamat. Setiap kali ingin berbincang tentang pengalaman Kakek ketika bekerja di sana. Emak pasti akan melarang untuk mengungkit kembali kisahnya.

Namun, setelah aku beranjak remaja sifat keingintahuanku semakin memuncak. Aku mencari tahu penyakit Kakek. Dari mulai arti Demensia. Yang merupakan sindrom yang mengacu pada penurunan otak. 

Akibatnya ingatan Kakek menurun atau bisa berarti pikun. Sampai kondisi pada perubahan mental serta sangat emosional. Jika penyakit Kakek bertambah parah karena usia Kakek bertambah. Bisa saja Kakek akan lupa dengan keluarganya. Dan aku takut Kakek juga melupakan cucu kesayangannya.

Di usia 70 tahun, Kakek. Ketakutanku menjadi kenyataan. Kakek pergi menghilang, tanpa sepengetahuan Emak. Sampai tak memakai sandal. Menapaki bumi tercinta. Tanah perkampungan. Jalannya membungkuk, tertatih-tatih. Letih. Bermukim di tanah pekarangan milik Pak Karsa.

Tiba-tiba Kakek berbicara sendiri. Yang kudengar Kakek menolak menyantap hidangan. Padahal yang kulihat tidak ada siapapun di sana. Masih bingung apa yang hendak Kakek lakukan? Diam-diam aku bersembunyi di balik ayan. 

Kakek menolak dengan cara halus, karena ia sedang berpuasa. Tapi, setelah waktu berjalan lama. Kakek mengamuk. Seorang diri. Bagaimana ini? Segera aku mendatangkan Emak.

Yang berakhir, aku berurai air mata. Emak memasung dua kaki Kakek di dalam ruang kamar yang sempit. Bukan Emak tidak sayang. Hanya takut kewalahan. Keseringan Kakek keluar tanpa izin. Emak kuatir Kakek lupa akan jalan pulang. 

Penyakit Kakek semakin parah, rapuh tak berdaya. Kulitnya yang semakin mengeriput, kurus. Membuat hati ini iba. Aku berusaha menyuapi semangkok bubur. Berharap bisa tandas. Namun, napsu makan Kakek menipis.

Sesuap bubur, dimuntahkan, membuat sisa bubur berceceran ke mana-mana. Aku bahkan mencium bau busuk. Seperti kentut, kotoran manusia. Yang telah mengering berhari-hari. 

Aku mengerti, mengapa Kakek sampai memakan kotorannya sendiri? Emak yang terkadang sibuk oleh pekerjaan rumah tangga. Kakek yang suka mengamuk jika kamarnya sedang dibersihkan. Beliau tak bisa membedakan mana makanan mana kotoran yang harus dibuang. Kau tentu tahu. Apa yang akan terjadi? Jika manusia sudah memakan kotorannya sendiri. Meminum air seni. 

Kakek mengamuk lagi. Pasungnya minta dilepaskan. Ia meneriakkan satu nama. 'Dewi Lanjar'. Meminta tolong berulang kali. Hingga suaranya tercekat. Beliau terdiam lama sekali.

Saat kudekati, ternyata nafas Kakek sudah tiada. Aku menatap ke langit-langit atap. Yang begitu gelap. Bayangan Kakek di ruang itu sempat terlihat. 

Beliau pergi tak seorang diri, ia bersama seorang Dewi yang cantik jelita. Menembus dinding. Dalam ketidaksadaran. Aku menjawab salam, kepergian mereka. 

TAMAT

Pemalang, 25 Februari 2021

#ceritamisteri