Percakapan Satu Malam

Kin

Ardhito Pramono mengoceh di udara. Sementara itu, sepasang suami istri duduk dengan tenang di sofa panjang, di dalam kamar mereka. Langit gelap dihuni beberapa butir bintang bersinar berani.

“Kita perlu bicara,” kata sang suami, tadi siang.

Hari ini adalah bulan ketiga pernikahan mereka. Kenapa mereka sampai butuh bicara dengan atmosfer canggung sebagai bumbu? Masalahnya, mereka tidak memiliki masalah sama sekali. Terlalu manis, hingga logika keduanya malah merasa terganggu.

“Aku juga mikirnya begitu,” jawab si istri lega. Dia ternyata memang menginginkan percakapan malam ini.

Pernikahan diawali dengan rencana orang tua masing-masing, bahkan sebelum pasangan ini lahir ke dunia. Benar, mereka dijodohkan. Tidak ada penolakan karena keduanya juga berpikir kalau mencari sendiri malah bakal lebih merepotkan.

Pendidikan, visual, hingga kepribadian, kerabat melihat mereka memiliki kecocokan hingga bernilai 90 persen.

Memasuki bulan kedua, sang suami, Afin, melihat warna lain pada istrinya, Ilia. Ilia sudah berusaha menutupi segalanya, namun gagal. Lucunya, warna yang sama juga ada pada Afin. Oleh karena itu, malam ini keduanya diserang antusiasme janggal.

“Untuk malam ini aja, mari kita ngomong jujur,” saran Afin. Dia menyodorkan kaleng soda kepada istrinya.

Ilia menerima benda itu, membukanya, lalu menegak sedikit. “Iya, kita memang harus terbuka. Jujur, aku juga udah lama pengen punya kesempatan ngomong sama kamu. Tapi, enggak paham juga, kok nyari waktu bisa sesusah ini.”

Afin mengangguk. “Aku udah ngunci pintu dan matikan semua lampu, kecuali yang di teras balkon. Dengan begini, enggak bakal ada yang ganggu kita.”

Keduanya diam sebentar. Ada keengganan soal siapa yang harus memulai.

Afin berdeham. “Aku duluan.”

Ilia mengangguk. “Iya.”

“Siapa laki-laki yang kamu ajak ke sini seminggu lalu? Celana dalamnya ketinggalan di dekat pintu dapur.”

Ilia mengembuskan napas kesal. Perasaan bersalah menderanya. “Maaf.”

Afin menggeleng. “Kamu pasti enggak nyadar. Aku yang nyelipkan celananya ke dalam sampah yang kubakar.”

“Terima kasih.”

“Kamu harusnya lebih hati-hati.”

“Maaf, aku memang masih sering ceroboh.” Ilia memukul pelan kepalanya sendiri.

Afin tersenyum kecut. “Sekarang giliranmu.”

Ilia menatap wajah suaminya. “Ngomong-ngomong soal ceroboh, kamu juga gitu. Aku enggak sengaja liat kamu gandengan sama seseorang di daerah cewek-cewek malam. Cuma perlu sekali liat, aku yakin teman berpakaian super ketatmu itu salah satu cewek di sana.”

Kini giliran Afin yang memasang raut menyesal. “Biasanya, aku bisa ketemu sama mereka di wilayah yang lebih tertutup. Malam itu aku enggak sabaran.”

Ilia tertawa menang. “Maaf, aku bukannya ngolok. Enggak bisa dibayangin kalau sampai yang lihat kamu malam itu malah anggota keluarga kita. Kamu bisa mati.”

Si istri menyerahkan soda miliknya kepada sang suami.

“Selama kita menikah, ada berapa laki-laki yang kamu bawa ke rumah?” tanya Afin sambil mengusap cairan soda di sudut bibirnya.

Ilia menatap ke arah balkon. “Empat.”

“Banyak banget! Kamu memang sinting.”

“Kamu sendiri?”

“Lima.”

Ilia menggapai ke samping, lalu mencubit lengan suaminya. “Sekarang siapa yang sinting?!”

Keduanya tergelak. Hubungan mereka yang manis, namun penuh kehati-hatian pun berubah warna. Kini yang tersisa hanyalah manisnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini.

Tawa reda, dan mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk sesaat.

“Cewek itu kamu apakan?” Ilia menelengkan kepala.

“Enggak mudah, tapi aku berhasil ngajak dia ke rumah lama nenek. Kamu tahu aja, ‘kan? Udah dua tahunan nenek pindah ke rumah orang tuaku karena dia sakit-sakitan. Rumahnya kosong, tapi enggak ada rencana buat dijual atau disewakan.”

Ilia mengangguk.

“Mungkin karena enggak sabaran, aku menghabisi cewek itu tepat di teras rumah. Untungnya, malam itu keadaan di sekitar sepi, terus lampu teras juga enggak dinyalakan.”

Ilia melotot. “Laki-laki memang terlalu santai. Udah dua pekan, ya? Aku rasa memang enggak ada yang lihat kamu waktu itu. Tapi, please, jangan diulangi. Kamu bisa ngundang lalat sampai ke aku juga.”

Afin menangkupkan kedua tangan. “Maaaf..”

“Ck! Aku enggak punya hak juga sih. Celana dalam sialan itu buktinya.”

Afin terlihat bersemangat. “Kamu sendiri, mereka kamu apakan?”

Ilia menunjuk ke balik punggung mereka, ke arah halaman belakang rumah. “Mereka udah kutanam dengan baik. Tenang aja. Ah! Soal celana dalam. Jangan berpikiran jorok, ya. Karena masalah penguraian, aku selalu membakar semua pakaian atau benda-benda bawaan mereka.”

Afin tergelak lagi. “Kamu harus bilang terima kasih ke aku, ingat!”

“Iya, iya, terima kasih, Tuan Afin.”

Suara mesin kendaraan mengisi ruas gang selebar tiga meter di depan rumah. Bunyi cecak sesekali terdengar dari ruang tengah. Di hadapan mereka, ponsel milik Ilia bergetar di atas meja.

“Siapa?” tanya Afin.

“Ini? Ah, dia laki-laki kelima yang mau kuajak ke rumah. Tadi udah kubilang batal, tapi dia keras kepala banget. Dasar! Dia harusnya bersyukur karena umurnya nambah dikit.”

“Aku saranin sih jangan diajak ke sini lagi. Halaman rumah enggak cukup luas.”

“Iya, aku juga mikirnya gitu. Menurutmu bagusnya di mana?”

“Di rumah nenekku aja. Lokasinya lebih ke pinggir kota, ‘kan? Halamannya juga luas. Asal enggak keseringan, kamu enggak bakal ketahuan.”

Ilia tertawa pelan. “Kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya aku enggak bakal ngapa-ngapain untuk beberapa tahun ke depan. Bahaya terasa lebih kelihatan gara-gara orang ceroboh ada di dekatku.”

Afin tersenyum. “Nyindir nih? Aku janji enggak bakal serampangan lagi. Beneran deh.”

Ilia mengernyitkan bahu tak peduli. “Fin, apa kamu masih punya rahasia?”

Walaupun ragu, Afin mengakuinya. “Iya, ada satu.”

“Apa?”

“Sebenarnya, aku mau kamu buat jadi yang terakhir.”

“Haah??”

“Wow! Jangan marah dulu. Itu cuma rencana. Aku enggak bakal nyentuh kamu. Sumpah!”

“Kenapa aku??”

“Enggak ada alasan khusus. Cuma itu sih, aku penasaran sama sensasinya. Tapi, aku janji enggak bakal jalani rencana yang satu itu. Kita satu spesies soalnya. Jadi, tolong jangan marah.”

“Enggak, enggak, aku enggak marah.” Ilia mengibas-ngibas tangannya. “Aku cuma kaget karena kita punya ide yang sama. Kamu juga bakal jadi yang terakhir. Tahun ini, lima udah cukup buatku.”

Afin terdiam sebentar, lalu terbahak kemudian. “Yaa ampun, Lia, kita memang pasangan yang hebat.”

Ilia ikut tertawa ketika melihat suaminya tergelak hingga jatuh ke lantai.

“Kamu itu mengerikan, Afin,” kata Ilia dengan sisa tawa masih menyela omongannya.

Tawa Afin mereda. “Kamu lebih mengerikan, Ilia.”

Alunan musik pop-jazz masih mengalir di udara. Dari luar, rumah pasangan itu tampak biasa. Tingkat dua, tembok dinding bercat abu-abu dengan atap genting hijau daun, dan dikelilingi pagar besi setinggi dua meter. Selain itu, mereka juga suka menyapa tetangga di sekitar.

Kalau saja manusia lain mendengar percakapan mereka malam ini, entah dunia siapa yang bakal hancur. Mereka, atau malah milik orang-orang yang mendengar kenyataan tersebut.

Namun untungnya, semua rahasia sudah aman. Sikap jujur pasangan ini menguntungkan keduanya. Saat ini dan malam-malam berikutnya pasti bisa mereka jalani seperti biasa.

__

#ceritamisteri