Elegi Tak Berujung

Ilustrasi by Pinterest

Dulu aku membeli apartemen ini karena tertarik tempatnya yang terpencil, jauh dari keramaian pusat kota. Gedung ini adalah pengungsian yang tepat saat otak sedang tumpul inspirasi. 

Suara gemuruh ombak, aroma laut, kicau camar dan juga rona keemasan saat matahari tenggelam itu surga yang sempurna. Sesuatu yang sangat sulit kudapat akhir-akhir ini. Semenjak namaku tertera dalam daftar tiga pianis berbakat di seluruh Asia. Kini hidupku tak lebih dari budak lembar-lembar kontrak kerja. 

Namun dari atas balkon lantai tujuh belas ini awal dari kesepianku yang tak berujung. Tempat pelarian saat berada di titik jenuh kehidupan glamor seorang artis. Aku lebih suka tinggal berlama-lama di sini, menggauli grand piano yang kubawa serta dan deretan nada bisa mengalir mudah. Sudah banyak karya yang terlahir dari tempat ini. 

Tapi ada rasa tidak nyaman, tiap kali nyonya paruh baya itu menatapku tajam, selalu menunjukkan wajah masam juga sirat rasa tidak senang dari awal kepindahanku ke mari. Ia penghuni lama unit apartemen di ujung koridor lantai pertama persis di sebelah tangga darurat. Sering kali kami tidak sengaja bertemu dan jelas-jelas ia tidak suka saat aku mulai dekat dengan penghuni baru gedung ini. Sudah sering ia memperlihatkan itu secara terang-terangan.

Seperti halnya dua hari lalu. Ia sengaja membuang muka saat berpapasan di selasar arah parkiran. Sekilas ada ancaman tersirat dari balik lensa tebal yang bertengger di hidung yang tak begitu mancung.

Kembali Nyonya Sharon memalingkan muka saat beradu pandang dengan manik mata dinginku. Aku tahu, ia tidak suka jika aku mendekati Carla, gadis muda yang baru saja pindah dan kini tinggal di seberang unit apartemenku. Andai saja dia mengerti betapa aku kesepian, salahkah jika aku kembali punya teman setelah Rien tak menggubrisku.

Mungkin saja Nyonya Sharon masih menyimpan dendam atas cucu perempuannya yang patah hati karena terlalu mencintaiku. Tapi bukankah tidak adil jika hanya aku yang disalahkan, aku juga menderita tidak hanya cucunya saja. Kini aku seperti gelembung yang terkatung-katung.

Sebenarnya tidak pernah ada magsud sedikit pun untuk menyakitinya. Hanya saja segalanya sudah terlanjur,  keputusan tolol telah merenggut semuanya, dan kini gadis itu merana. Rien baik, gadis dengan rambut coklat berombak serta kelopak mata lebar dan dekik pipinya yang menawan. Selain juga perhatian Rien yang sempat menyentuh hati, tapi karena rasa takut kehilangan ia berubah menjadi posesif.  Membuatku tidak punya banyak ruang untuk bernafas, seperti terpenjara sementara sebagai artis aku harus berinteraksi dengan fansku yang sangat beragam. 

Rien tidak menyangka ternyata hidupku tak semenakjubkan dugaannya. Aku hanya lelaki rapuh yang tidak tahan tekanan. Orang-orang hanya membutuhkanku untuk kepentingan mereka saja, bahkan kini aku tidak punya hak atas diriku sendiri. Memprihatinkan, bukan hidup seperti ini yang aku inginkan tapi semua sudah terjadi, bisa apa sedang aku tidak kuasa untuk memutar ulang waktu.

Aku masih ingat malam itu saat aku dan Rien berdebat dan menuntut aku mengambil keputusan antara dia atau pekerjaan tapi aku tidak memilih keduanya. Justru ada sesuatu yang lebih menarik, sebuah kebebasan semu. Kini membuatku terperangkap dalam kesepian tak berujung. Seperti elegi yang selalu aku mainkan.

Saat ini, setelah sekian lama baru aku menemukan Carla, pemain biola berparas biasa saja tapi entah kenapa ia terlihat istimewa di mataku. Tiap kali dia mampu membuatku terhanyut oleh irama gesekan biolanya dan aku kembali seperti hidup. Melodinya mampu melemparku ke masa lalu. Di mana aku adalah idola yang digandrungi gadis-gadis dan itu menjadi pemicu kecemburuan Rien. Ia selalu marah saat aku tidak punya waktu untuknya, hingga pertemuan hanya dihiasi pertengkaran. Kelelahan itu yang membuatku pergi, dan membuatnya patah hati. 

Beberapa kali aku berusaha menemuinya, tapi ia bahkan tak mengenaliku lagi. Lalu kenapa ia tak bosan menulis surat cinta untukku, serta penyesalan dalam segores luka. Perempuan memang sulit dimengerti, dengusku kesal.

"Pergiii!!!" teriak Rien histeris. Ia seperti ketakutan, ia tidak mau melihat ke arahku. Apakah ia membenciku karena tidak memilihnya? Entahlah. 

"Rien, ini aku, Dave," sergahku putus asa, ia tidak menghiraukanku justru menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan tubuh kurus itu bergetar memeluk lutut. Berulang kali Rien mengusirku. Sejak saat itu aku berhenti menemuinya, memupus harap ingatannya akanku. Namun sesekali aku masih datang menyelinap saat para perawat gangguan mental asik menonton acara klasemen liga spanyol sehingga mereka tidak terusik oleh kedatanganku. Suka saja berlama-lama memandang wajah tenang gadis itu saat pulas. Rien masih sama cantik, bibirnya yang serekah kelopak mawar selalu memabukkanku. Demi cinta aku harus melepas Rien, membiarkannya damai. 

Tanpa disadari hatiku kini jatuh pada Carla, pada melodi-melodi ciptaannya. Beberapa malam lalu aku memberanikan diri berterus terang padanya tentang perasaanku. Carla tidak menolak meski masih ada keraguan di sorot matanya, dia hanya butuh waktu. Tak bosan aku menatapnya, suka sekali melihat cara Carla menikmati pasta yang sebenarnya ia masak untukku. Tapi aku tidak berselera, biar saja bagianku dingin tak tersentuh. Sungguh, kerlip matanya mengalihkan duniaku. 

Aku sedang tidak minat untuk terlalu memikirkan apa yang akan terjadi esok, hanya ingin menikmati kebersamaan dengannya. 

Dua hari ini aku tidak nampak sosoknya, ada serbersit rindu menelusup. Rindu akan alunan melodi biolanya, juga senyumnya. Sampai sore ini pun belum juga terlihat tanda-tanda dia pulang, membuatku kelimpungan. Mungkin saja dia ada konser di luar kota, pikirku. Dia kan pernah cerita kalau banyak undangan manggung menjelang tahun baru. Mengingatkan kesibukanku sendiri beberapa tahun lalu saat karier masih naik daun. 

Untuk menghilangkan kebosanan menunggunya, aku berusaha menghabiskan malam dengan memainkan grand piano kesayanganku. Aku tahu banyak penghuni lain yang teganggu oleh alunan nada-nadaku saat malam kian meruncing, biarkan saja. Suasana senyap, hanya denting sendu dari tarian jemariku yang terdengar. Ku lirik jam dinding yang tertutup sarang laba-laba dan terlihat enggan menggerakkan jarumnya, seakan lelah menghitung waktu. Pantas saja, rupanya sudah hampir dini hari. 

Derit pintu menyita perhatianku sejenak. Perlahan terkuak, dua sosok itu berdiri membeku. Ada rasa jengah ketika wajah Carla tiba-tiba pias tak berkedip menatapku. Sementara wanita yang seumuran ibu itu hanya sekilas melepas pandang,
"Jangan ganggu dia, Dave. Carla gadis baik, ingat! Cukup Rien saja dan biar adil, aku ingin Carla tahu siapa kamu sesungguhnya, setelah malam ini segala keputusan ada di tangannya. Aku tidak akan ikut campur lagi," tekan Nyonya Sharon ketus. 

Aku bergeming sejenak, menghentikan jemariku menekan tuts hitam putih di depanku dan bergeser menghadap mereka. 

"Haramkah jika aku jatuh cinta padanya? Aku kesepian dan ini menyedihkan," pungkasku perih.

"Huuuhh!!" Hanya 
dengusan Nyonya Sharon terlontar sebagai jawaban pertanyaan yang ia pikir sangat konyol. Aku menoleh tanpa ekspresi ke arah mereka berdua yang masih berdiri di ambang pintu, mungkin tak ada keinginan untuk masuk, biarlah. Sedangkan jemariku kembali menari lincah memainkan elegi tak berujung karya terakhir sebelum aku memutuskan pergi. 

Tak berapa lama tubuh Carla ambruk disusul pekikan panik Nyonya Sharon. Ekspresi serupa saat pertama kali aku menemui Rien dengan wajah hancur setelah  terjun dari balkon. Rien tak mengenaliku, mungkin juga Carla nantinya. Kesepianku abadi. Hanya elegi tak berujung pengisi jiwaku yang  akan selalu kesepian. 

#KisahMisteri