Sang Kuncen

Sumber: Burrard n Lucas fotografi

"Aku kekal, seperti rasa cintaku pada Sanjana!"

Gunung Pandawan, Borneo.

Angan kerapkali membawa rasa perih, kala memoriku mengingat gunung itu. Laksana ada sembilu yang mencabik hati, tak berdarah, tapi terasa sakit!

Gunung Pandawan adalah cinta nan berduri, sekaligus tempat kenangan pahit yang selalu mengingatkanku akan sebuah nama: Sanjana. Bahkan setelah hampir sepuluh tahun, bayang wanita ayu itu belum bisa terlupa. Masih jelas terngiang suara, indah senyuman, dan juga tangisannya.

Sanjana, gadis yang telah kunikahi itu adalah wanita secantik bidadari, berkulit kuning langsat, berambut ikal dan penuh misteri.

Iya!

Misteri karena aku tak pernah tahu dari mana gadis itu berasal, tapi cintaku kepadanya ... sungguh begitu kekal!

***
Namaku Ambu, usia sekarang 39 tahun. Aku adalah kuncen (jurukunci) Gunung Pandawan, pekerjaan yang diwarisi turun temurun dari para leluhur. Gunung ini sangat keramat, karena dulunya merupakan tempat bersemedi salah satu begawan sakti yang berasal dari tanah Banjar. Di situ ada bekas petilasan, telaga, serta sebuah pohon beringin (kariwaya) besar yang juga dikeramatkan.

Pohon beringin inilah ... akar mula dari semua masalah! 

Penghuni pohon itu bernama Datu Nilam, manusia yang telah mati lalu menjelma menjadi macan gaib karena kesaktiannya. Entahlah, orang zaman dulu katanya banyak yang sudah mati, tapi bisa tetap hidup dengan mewujud menjadi roh binatang. Salah satunya adalah Datu Nilam.
Terlepas dari itu semua, sebagai kuncen aku diharuskan memberi makan sang datu setiap malam satu Safar alias setahun sekali. Itu adalah ritual abadi yang dilakukan semua kuncen terdahulu, kemudian diteruskan kepadaku. Ritual yang sama sekali tak boleh terlewatkan, apa pun alasannya. Entah ini benar atau tidak, kelestarian alam di situ katanya berkat perlindungan dari sang datu, itu kata bapak dan ibuku sewaktu mereka masih hidup. Sebagai anak lelaki satu-satunya, aku hanya bisa menyanggupi titah mereka, untuk melanjutkan tanggungjawab yang diwariskan.

Kepala babi, kembang setaman, serta ketan hitam adalah makanan untuk Datu Nilam. Makhluk yang satu ini kadangkala menampakkan wujudnya sebagai puteri nan jelita, tetapi tiada garis lekuk di bawah hidung. Dia akan datang bila aku memanggil saat memberinya makan, atau bisa pula karena dia sedang ingin bertandang ke pondokku.

Perjanjian keramat yang dilakukan oleh leluhurku dengan sang datu adalah hubungan timbal balik. Datu Nilam diberi makan, sedangkan kami diberi kecukupan. Iya, akan kutemui batu permata--intan--setelah memberi makan sang datu, itu lebih dari cukup menyambung hidup. Ditambah lagi semua keturunan kuncen akan diberi kesaktian; kami bisa mengobati penyakit orang, khususnya penyakit nonmedis alias gaib.

Banyak orang yang datang untuk berobat, bahkan sesekali aku dipanggil ke kampung mereka. Uwak Lanjar, itu adalah nama panggilanku. Terkenal sebagai dukun sakti yang menjaga Gunung Pandawan.

***
Waktu berlalu seolah tak terasa, sudah pula memakan masa mudaku. Keinginan untuk punya pasangan hidup tentulah telah sejak lama kumiliki, tapi sunyi. Mungkin karena ketiadaan elok rupa atau karena kehidupanku yang penuh dengan hal mistik, tak seorang pun perawan kampung yang mau mendekat. Rata-rata mereka takut saat melihat aku datang.

Sesungguhnya, mudah saja bagiku memelet salah satu dari mereka. Namun, Ambu bukanlah lelaki seperti itu. Cinta bagiku harusnya suci, tanpa intrik, tanpa klenik! Sampai akhirnya kutemukan satu kejadian yang mengubah segala prinsip itu. Rupanya kecantikan seorang gadis bisa juga meluluhkan keteguhan hati. Seorang bidadari, akhirnya diturunkan oleh Sang Dewa.

Aku pun ... menemukan cinta!

Kala itu, matahari sudah naik sepenggalah. Aku yang sedang mencari binatang buruan di hutan, tiba-tiba terkejut karena melihat sesuatu. Tampak satu tubuh wanita terbujur kaku, terbaring bersisian dengan telaga. Pakaiannya compang-camping dengan beberapa mata luka di sekujur tubuh. Seperti habis dikoyak-koyak, karena ada luka cakar di sana. Memang, di sini masih banyak ditemui binatang buas. Sepertinya si wanita ini menjadi korban anjing liar.
Meski sempat terheran-heran. Tubuh wanita itu kudekati. Sangat cantik! Itu yang pertama kali terlintas di pikiran, dan untungnya dia masih hidup. Tampak dadanya yang membusung masih bergerak naik turun. Kemudian tak menunggu waktu lama, dengan bergegas kubawa dia ke pondok.

Aku, ingin mengobati lukanya.

***
Wanita itu siuman. Kerjap matanya menelisik ke sekitar ruangan. Pondokku memang tak seberapa besar, hanya terbuat dari bambu dan kayu. Sederhana, tetapi apik!

"Aku di mana?" ucapnya.

"Di pondokku!" Kujawab dengan cepat. Mata si wanita memandang dengan bias ketakutan.

"A-abang siapa? Aku si-siapa?" tanyanya lagi. Wanita itu masih berbaring, menahan perih dari lukanya yang sekarang sudah kuberi ramuan obat.

"Aku ...."
Aku sempat kebingungan akan pertanyaan darinya. Lalu, "Aku Lanjar, suamimu!"

"Suami?"

"Iya!"

"Aku ini kenapa?" Si wanita mulai memperhatikan lukanya.

"Hmm. Sebaiknya kau istirahat dulu, Sanjana. Abang kira besok pagi lukamu akan sembuh, sudah kuoles ramuan obat serta jampi-jampi," ujarku, merasa sedikit salah tingkah karena sudah berdusta.

Wanita itu lalu diam tak menjawab. Ternyata ... dia kembali pingsan.

Tutian mandurisa
Buka padang mandurasi
Tartutup hati mirah
Tarbuka hati putih
Rubuh rabah badan si Fulanah
Runduk kasih malihat padanku
Kuuurrr 
Hai Adam Nurhayati! 
Angkau yang perkasa
Gunung tinggi dapat malingkang
Laut luas dapat mahayau
Angkau kupinjam dangan sakarang
Ambilkan ruh nila SANJANA
Kapadaku ....

Kuembus wajah wanita yang pingsan itu, dengan mantera-mantera!

***
Tawa Sanjana merebak, ketika kuajak dia bercanda tatkala kami berenang mandi di telaga. Telaga itu tak seberapa dalam, berair jernih dan menyegarkan.

Tepat lima bulan Sanjana bersamaku, dia belum juga ingat akan masa lalunya. Aku sendiri tak pernah mengusik atau bertanya lebih jauh. Sekarang, dia milikku. Terlihat begitu bahagia karena merasa "suaminya" ini setampan Arjuna. Iya, manteraku membuat Sanjana lupa akan segalanya. Bak hewan digembala, ia menurut segala apa yang kuminta. 

Namun, rasa cinta mulai tumbuh subur di hati. Menjadi sebuah dilema; apakah lebih baik kuakhiri semua? Membatalkan segala mantera, lalu membiarkan dia untuk pergi menjauh?
Ah, entah!
Nyatanya, aku belum mau kehilangan Sanjana.

"Bang Lanjar, Adik ingin sekali makan rusa!" Sanjana meminta ketika kami sudah naik dari telaga. Senyum Sanjana yang indah membuatku menganggukkan kepala, menyanggupi untuk pergi berburu siang nanti. Padahal, hewan rusa sudah agak susah didapat. Namun, tak apalah! 

Sanjana, sedang hamil muda.

***
Berburu rusa memang membutuhkan keahlian tersendiri. Binatang satu ini punyai indera penciuman yang tajam. Aku harus pintar-pintar membaca arah mata angin.

Cahaya temaram, sedikit gelap. Sinar matahari seperti tak sanggup menembus rimbun belantara tempatku sekarang. Memang, aku harus menjelajah lebih ke dalam. Rusa sudah sangat sulit dicari di pinggiran hutan.
Berbekal pengalaman bertahun menjelajah, tak sedikit pun ada perasaan takut tersesat. Hutan Gunung Pandawan sudah menjadi ibu bagiku, tak akan melukai. Namun, tiba-tiba ....

Kreessskk!
Kreessskk!

Terdengar suara seperti orang sedang memakan daging dan tulang. Nyaring.
Aku langsung bersiaga. Tampak seseorang dengan punuk di punggung sedang duduk di balik pohon. Rupa nenek-nenek. Dia sedang asyik menyantap sesuatu.
Ah, rupanya dia menyantap seekor rusa!

Aku lalu langsung menyembunyikan badan. Menyadari bahwa itu adalah Takau: makhluk gaib paling kuat di mayapada.
Rasa takut seketika menjalar di hati. Aku diam dengan kaki gemetar. Apalagi saat melihat makhluk itu tiba-tiba menghentikan makannya. Sisa tubuh rusa yang sudah tercabik dia lempar ke tanah. Makhluk itu kemudian memperhatikan sekitar. Dia seperti mengendus-endus sesuatu. 

Celaka!

Kini dia menoleh ke arahku!

"Hai, Andika yang datang tak diundang, keluar!" Makhluk itu berseru. Suaranya serak khas nenek-nenek.

Tak mau mati, aku tak mau keluar!

Hihihihihihi ....

"Aku tahu siapa Andika! Keluar atau kupaksa!" Dia mengancam setelah tadi tertawa begitu mengerikan.

Aku kemudian keluar, menyadari bahwa bersembunyi atau lari pun akan percuma saja.

"Rebah ramu angkau berdiri ramu aku. Rebah syarak angkau berdiri syarak
aku. Aku mengambil baja sejengkal dalam diri Andika!" Si Takau teriakkan mantera, untuk merundukkan jiwa.

Namun, entah kenapa timbul keberanianku secara tiba-tiba.

"Hantu raya jembalang raya. Datang angkau dari hutan raya. Kembalilah angkau ke hutan raya. Angkau jangan bertemu anak sidang manusia. Jika bertemu anak sidang manusia. Tunduk angkau tujuh kali kapada aku!" Seperti tak ada pilihan, kubalas dia dengan mantera pengusir.

"Huh, Jandah! Untunglah aku kenal Tuan Andika. Kalau tidak, tentu sudah kujadi mangsa!"

"Tulah bila angkau memangsa aku. Aku tahu asal diri angkau! Api Kursani, anak Raja Unuk!"

Takau kemudian melangkah, mendekat. Wajah hantu yang menjelma nenek buruk rupa itu terlihat tersenyum.

"Andika orang berani! Apa maksud datang ke sini?"

"Mencari rusa, biniku yang meminta."

"Hihihihi ... itu rusa sudah ada, kenapa tak diminta?" tanya makhluk itu, mulutnya menyeringai. Sementara tangannya yang panjang, memegang pelan kepalaku.

Aku hanya diam. Hati mulai kembali sawan. Sadar, bahwa nenek hantu itu pasti bisa mudah mengalahkanku dengan kesaktiannya. Aku mulai pasrah, tapi rupanya makhluk itu seperti dapat membaca pikiranku sekarang.

"Angkau gemetar!? Heh, tapi kali ini Andika beruntung karena aku kenal Tuanmu dengan baik. Sekarang silakan bawa sisa rusa itu. Pulang, jangan lagi menoleh ke belakang!" ujarnya sembari membaca beberapa mantera gaib. Lalu bayang tubuh yang mengerikan itu mulai terlihat samar, kemudian hilang tak berbekas menjelma halimun.
Halimun tipis, yang tiba-tiba saja mulai melingkupi hutan itu.

Tinggal aku yang bingung setengah mati. Berdiri memandang bangkai rusa yang tergeletak bersimbah darah.

Ngeri.

***
Aku pulang hampir senja. Terlihat wanita yang kucinta sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya terlihat senang saat melihat apa yang kubawa.

"Daging rusanya sudah Abang bersihkan, Adik bisa langsung memasaknya," ujarku, sembari tersenyum simpul.

Sanjana melompat kegirangan, lalu membawa daging itu ke dapur untuk dimasak. Tak lupa ia mendaratkan ciuman mendadak. Masih ada desir aneh kala bibir yang merah alami itu menyentuh pipiku. Padahal sudah seringkali Sanjana memberikan bibirnya untuk dikecup. Ah, cinta memang membuat hati seseorang jadi lebih berbunga. Malam ini, pasti lebih mesra dari malam biasanya.

***
Malam telah meruncing. Tubuh Sanjana terbaring di sebelahku. Dia tampak pulas tidur setelah tadi kami berpacu dalam kenikmatan dunia.

Sementara rasa kantuk belum lagi menjeratku. Malam ini seperti ada yang aneh. Udara lebih dingin dan suasana terasa hening. Tiada burung malam yang berbunyi. Jangkrik pun seperti menyepi. Firasatku mengatakan, akan ada seseorang yang datang.

Benar saja.

Tiba-tiba jendela kamar terbuka dengan sendirinya. Seraut wajah nan jelita tampak memandangku dari luar. Itu Datu Nilam.
Tak ingin membangunkan Sanjana, aku beringsut perlahan dan langsung berjalan keluar rumah. Datu Nilam datang pastinya ada maksud tertentu. Ini belum waktunya dia diberi makan.

"Ambuu ...." Datu Nilam menyebut namaku dengan suara lirih, setelah aku berada di hadapannya.

"Datu?"

"Kau lancang!"

"Lancang apa, Datu?"

"Kenapa berani menyimpan wanita di rumahmu?"

"Itu istriku. Bukan simpanan, Datu." Aku sedikit bergidik karena melihat mata Datu Nilam bersinar ungu.

"Aku sudah memilihmu, Ambu. Kau keturunan ke tujuh, kuncen bestari yang akan menjadi pengantinku! Tak boleh seorang pun yang bisa merebut!"

"Hahh? T-tapi ...?"

"Sebentar lagi bulan Safar. Kali ini aku tak mau babi. Aku ingin wanita itu sebagai hidangan! Jangan gegabah untuk menolak. Atau kuhancurkan duniamu!" ancam Datu Nilam. Dia tak menunggu jawaban, tubuh eloknya langsung menghilang begitu saja. Suasana dingin langsung berubah. Hawa gerah membungkam seketika.
Rasa takut dan terkejut, membuat kaki ini bagai tak bertulang. Aku pun roboh ke tanah. Merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Datu Nilam.

Pengantin yang bestari?

Sanjana?

***
Sudah setengah perjalanan. Aku membawa pergi Sanjana dari Gunung Pandawan. Matahari yang terhalang awan hitam, menandakan hujan sebentar lagi akan turun. Aku tak peduli! Sanjana harus selamat dari kematian. Rasa cintaku lebih dari segalanya. Tekad hati sudah sangat membaja.

"Kita istirahat di sini, Adik!" kataku, menyuruhkan Sanjana untuk berhenti. Di depan kami berdiri sebuah pohon besar, dengan lubang seperti gua di bagian bawah; gua akar.

"Kita mau ke mana, Bang?" tanya Sanjana.

"Kita akan pergi jauh, Abang akan buatkan mahligaimu di tempat lain. Kita akan hidup bahagia di situ, sampai tua!"

Aku memeluknya. Menyembunyikan rasa takut dan debar hati nan gelisah.
Sementara hujan mulai jatuh. Kami pun berteduh. Gemuruh resahku seperti mengalahkan hawa dingin yang menerpa. Sanjana begitu tenang di pelukanku. Hening. Tiada percakapan lagi setelah itu. Kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

***
Gila!

Ada yang berubah dalam diri Sanjana. Aneh dan menakutkan. Sejak kami berada di tempat persembunyian--sebuah ceruk yang jauhnya memakan waktu dua hari perjalanan--Sanjana kerap berlaku di luar batas kewajaran; seperti hantu Takau, sekarang dia begitu senang memakan hewan hidup-hidup.

Suatu pagi kulihat, bidadariku itu begitu menikmati, ketika memakan seekor anak babi dan meminum darahnya hingga mengering.

Hiih! Aku hampir tak kuasa bergerak!

Mengintip tingkahnya membuatku bingung kala itu. Mata indah milik Sanjana berubah jadi terlihat mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari mata serigala. Gigi taringnya memanjang dan tampak lebih runcing. Namun, anehnya ketika sudah selesai makan, Sanjana terlihat jadi biasa saja. Dia seperti tak menyadari apa yang sudah dilakukannya.

Ah, sungguh ini tak benar.

Seakan tak percaya, hatiku dilanda tanya ....

Apakah ini karena ulah sang datu, ataukah karena Sanjana sudah memakan rusa sisa hantu itu?

Oh, Dewa, apa yang mesti kuperbuat sekarang? Tak bisakah Kau bantu aku?

***
Waktu berlalu dan ternyata Dewa tak mau mendengar segala pintaku.
Suasana malah kian cekam. Sanjana sudah berubah jadi sosok yang menakutkan. Bulu berwarna hitam mulai tumbuh di lengan dan kakinya. Telinga sedikit meruncing dan di bibir menyembul taring. Lebih parahnya lagi, Sanjana tak lagi mengenaliku sebagai suami. Mungkin karena kesaktian serta mantera pengasihku telah sirna, akibat sudah membangkang Datu Nilam.

Tak ada pilihan lagi selain memasung tubuh wanita itu dan mengurungnya di ceruk. Aku takut dia lari dan hilang ke dalam hutan. Sementara rasa takut jikalau Datu Nilam datang masih sangat menghantui. Aku bingung sekali, tak tahu harus bagaimana selain terus berdoa kepada Dewa.

Nafsu makan Sanjana pun semakin membesar. Dia sering berteriak ketika lapar. Sering pula mengentakkan kaki dan mengaum laksana macan. Membuat rasa takutku mencuat naik. Panik!
Akhirnya setiap hari aku harus pergi berburu--hewan apa pun yang kutemu. Itu kulakukan untuk memuaskan rasa lapar Sanjana yang tak kunjung reda. Sementara hati ini, penat dirundung nyeri. Melihat wanitaku seperti itu!

***
Sudah setengah harian aku pergi berburu, sebentar lagi senja. Wilayah hutan di sekitar ceruk memang sepi penghuni, jarang ada binatang yang besar. Sekarang hanya beberapa ekor tupai dan burung yang kudapat. Senjata sumpit yang kubawa bagai kehilangan tuahnya. Susah sekali mengenai sasaran.

Lalu kuputuskan untuk pulang saja. Berharap hasil buruan yang sedikit itu, cukup membuat Sanjana kenyang sementara. Namun, ketika langkahku hampir sampai ke mulut ceruk, ternyata ada seseorang yang sudah menunggu.

Datu Nilam!

Wanita hantu itu ditemani seekor macan berwarna hitam di sampingnya. Macan itu terdengar menggeram. Bersikap siaga, seakan sudah siap maju 'tuk menerkam.

"Ambu!" Datu Nilam memandangku dengan sorot mata yang aneh. Seperti ada amarah bercampur api cemburu di sana. 

Rasa takut kuat menyelinap, bukan hanya karena melihat mata yang aneh itu, tetapi juga karena membayangkan apa yang mungkin terjadi pada wanitaku. Tiada suara apapun terdengar dari dalam ceruk. Aku takut, Datu Nilam sudah membunuh Sanjana.
"Kau memilih untuk pergi! Kau kira aku tak sanggup mencari?" Datu Nilam terdengar begitu marah. Langkahnya mulai mendekatiku, diiringi oleh macan hitam yang terus saja menggeram.

Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah. Kupegang erat sumpit--bermata tombak--milikku. Bersiap-siap, jikalau ada serangan mendadak.

Datu Nilam kemudian menoleh ke arah macan itu, dia seperti berbicara sebentar.


Aku, sudah bersiaga dan merapal mantera kebal untuk perlindungan;


"Kain kindusin
Banang baginda
Tujuh lapis babat pinggang
Pucuk api naraka jahanam
Lapisakan ka badanku ...."


***
Raaarrgghhh!


Macan hitam mulai menyerang. Meski ada rasa gentar di hati, aku tak ada pilihan lagi selain bertahan. Tak peduli dia gaib atau bukan, aku tak mau mati tanpa melawan. Sementara Datu Nilam hanya diam di tempatnya. Seperti sangat menikmati pertarungan itu.
Berkali-kali tubuhku kena cakar. Berkali-kali pula si macan tertusuk oleh tombak. Dia mengincar leher, aku mengincar jantung! 
Racun pada tombak membuat macan itu jadi hilang tenaga, dia kurang sigap saat ujung tombakku mengena jantungnya. Macan lalu terkapar, kemudian mati!

Hihihihihihihihi!

Suara tawa Datu Nilam yang melengking kuat, membuatku jadi merinding. Suara tawa itu terdengar tiba-tiba, tepat saat aku mencabut tombak dari macan miliknya.

"Aku puasss ... aku puasss ... Ambuu, hihihihihihi!" Datu Nilam tertawa lagi.

"Puas a-apaa?" tanyaku.

"Tengoklah! Tengok siapa korban tombakmu itu!"

"Sa-sanjanaa!?"

"Hihihihi. Iya, ambil tulahmu! Terkutuklah angkau jadi macan, Ambu! Akan kubiakan kau hidup abadi. Biar aku bisa menikmati kehancuranmu!" seru Datu Nilam, sebelum tubuhnya pergi lenyap. Menyisakan derai tawa aneh yang bergaung dan ... hilang.


***
Oi, sungguh pahit! Rasa cintaku pada Sanjana tak bisa berkurang biar sedikit. Bayang tubuh Sanjana yang beku dan terhunjami oleh luka tusuk, masih kerap datang mengganggu. Sepuluh tahun sudah, hidupku yang menyedihkan terlewati tanpa dirinya. Rindu amat menyiksa, tapi ingin mati tak pernah bisa. Malah tiap saat rasa haus akan darah terus membelenggu. 

Perih!

Terkutuklah hidupku hingga kini. Manusia abadi yang sudah membunuh cintanya sendiri. Datu Nilam pun tak pernah muncul setelah kejadian hari itu, ia membiarkanku hidup merana, terbalut rasa sesal yang mendalam, dan menjadi sesosok macan.

Macan hantu yang hina dina!

Dan tak sanggup membalas kematian Sanjana. Ah! Gila, ada yang terbakar sekarang. Dahaga aneh ini kembali menyerang.

Arrghh!

Darah ... aku h-hausss!

Arghh, bagaimana ... "Haruskah aku ke kota dan meminum darah anak manusia?"

-selesai-

#ceritamisteri

#kisahmisteri